Ekonomi
( 40792 )Menhub Perkiraankan 107 Juta Orang Mudik Nataru
Risiko Terulang Masalah Ekspor Benur
Pergi dari Tabungan, Mengalir ke Surat Utang
Tarif Cukai Rokok Lebih Tinggi Mengintai di 2024
Ekonomi Hijau Akan Menyokong PDB
Perekonomian Indonesia perlu segera beralih dari yang mengandalkan ekonomi ekstraktif ke ekonomi hijau. Sebab, ekonomi ekstraktif yang masif akan merusak lingkungan. Sementara saat ini Indonesia masuk dalam 10 negara penghasil emisi terbesar di dunia. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menargetkan indeks ekonomi hijau pada 2045 mencapai 90,65%, dengan pangsa energi baru terbarukan (EBT) dalam bauran energi primer mencapai 70%.
"Penerapan ekonomi hijau perlu perubahan dan harus didukung oleh ekosistem yang baik," kata Amalia Adininggar Widyasanti, Deputi Bidang Ekonomi Kementerian PPN Selasa (19/12).
Kepala Greenpeace Indonesia Leonard Simanjuntak mengatakan, momentum pemilihan umum 2024 dapat digunakan sebagai katalis untuk mempercepat transisi ekonomi hijau di Indonesia.
"Perlu ada komitmen politik yang kuat dari pemerintah serta calon presiden dan wakil presiden agar Indonesia mampu mengurangi ketergantungannya terhadap industri ekstraktif," kata Leonard.
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, pendapatan masyarakat akan meningkat jika transisi ekonomi hijau dilakukan.
Bhima bilang, pekerja di sektor konstruksi, perdagangan dan industri pengolahan serta pertanian akan mendapat manfaat paling besar dengan adanya transisi ekonomi hijau. Tak hanya itu, pendapatan dari sektor pengadaan listrik dan gas, industri pengolahan, juga akan terdorong.
Berdasarkan hitungan Celios dan Greenpeace Indonesia, transisi ekonomi hijau diperkirakan memberikan peluang positif bagi output perekonomian dalam negeri sebesar Rp 4.376 triliun. Peralihan ini juga diprediksi memberikan tambahan produk domestik bruto (PDB) sebesar Rp 2.943 triliun dalam 10 tahun ke depan.
UNTR Makin Panas di Bisnis Panas Bumi
Aksi korporasi salah satu lini bisnis Grup Astra, yakni PT United Tractors Tbk di ranah energi baru terbarukan (EBT) masih terus berlangsung. Terbaru, perusahaan dengan kode saham UNTR ini menambah kepemilikan saham di perusahaan listrik panas bumi, yakni PT Supreme Energy Sriwijaya.
Dalam keterbukaan informasi, di Bursa Efek Indonesia (BRI) Selasa (19/12), UNTR mengumumkan amandemen terhadap rencana perjanjian pengambilan bagian alias
subscription agreement
atas saham Supreme Energy Sriwijaya oleh perusahaan terkendali milik UNTR. Perusahaan tersebut yakni PT Energia Prima Nusantara (EPN).
Pada 18 Desember 2023, Energia Prima Nusantara telah menandatangani amandemen terhadap subscription agreement dengan PT Supreme Energy dan PT Supreme Energy Sriwijaya. Ini terkait dengan perubahan rencana pengambil bagian saham.
Berdasarkan amandemen, Energia Prima Nusantara berencana akan mengambil bagian saham-saham baru dalam Supreme Energy Sriwijaya sebanyak 984.127 saham baru.
Nilai tersebut setara dengan 49,6% dari total saham yang dikeluarkan oleh Supreme Energy Sriwijaya kepada Energia Prima Nusantara. Adapun total nilai keseluruhan dari pengambil bagian ini sebesar US$ 51,87 juta atau setara Rp 804,01 miliar.
Sara K. Loebis, Sekretaris Perusahaan United Tractors menyatakan, penambahan saham Supreme Energy Sriwijaya diputuskan berdasarkan pertimbangan bisnis. Yakni untuk meningkatkan keterlibatan United Tractor di bisnis listrik panas bumi alias geotermal.
Adapun akuisisi ini menandakan masuknya UNTR ke bisnis panas bumi, sekaligus melebarkan sayap UNTR ke bisnis non batubara. Supreme Energy Sriwijaya merupakan salah satu pemegang saham PT Supreme Energy Rantau Dedap (SERD). Ini adalah perusahaan pemegang izin panas bumi dengan kapasitas 2 x 49 megawatt (MW) yang telah beroperasi. Lokasinya berada di Kabupaten Lahat, Kota Pagar Alam dan Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatra Selatan.
Bank Syariah Terbesar Kedua Siap Meluncur
Teka-teki nama bank syariah yang akan dicaplok Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) untuk digabung dengan unit usaha syariahnya akhirnya terjawab sudah. Seperti diberitakan sebelumnya, unit syariah BTN akan digabung dengan Bank Muamalat.
Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) saat ini tengah memproses rencana penggabungan tersebut. Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan, pembicaraan merger tersebut kini sedang berlangsung. Jika tak ada aral melintang, penggabungan ditargetkan bisa rampung pada Maret 2024.
Erick menyatakan, kementerian sudah mengadakan pertemuan dengan Menteri Agama dan pemegang saham Bank Muamalat, yakni Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH). "Gabungan antara BTN Syariah dan Bank Muamalat akan menjadi alternatif bank syariah dengan kemungkinan aset bisa masuk dalam 16 besar secara global," kata Erick, Selasa (19/12).
Penggabungan Bank Muamalat dan unit usaha syariah (UUS) BTN bakal menghasilkan bank syariah terbesar kedua di Indonesia, setelah Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI).
Sebelumnya, Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengakui telah mengirimkan surat ketertarikan untuk mengakuisisi saham dua bank syariah sejak November lalu.
Sementara itu, Kementerian BUMN juga masih terus melanjutkan pencarian calon investor baru untuk BSI. Dari roadshow yang sudah dilakukan ke negara-negara Timur Tengah, sudah ada calon investor yang berminat masuk ke bank tersebut.
Erick mengatakan, Kementerian BUMN hanya menawarkan 10%-12% saham BSI. "Memang dalam roadshow ini, mereka ingin lebih dari 10%. Kalau bisa, mereka ingin 15% hingga 20% jadi strategic partner. Ini yang mungkin pemegang saham seperti BNI, BRI, Bank Mandiri masih perlu saling curhat," ungkapnya.
Pendiri Dapen BUMN Wajib Berkomitmen
JALAN TENGAH EKSPOR KONSENTRAT
Progress positif pembangunan smelter tembaga yang dicapai PT Freeport Indonesia dan PT Amman Mineral Nusa Tenggara tidak serta-merta membuat kedua perusahaan itu tenang menjalankan bisnisnya di dalam negeri. Perkara produksi smelter yang harus melalui peningkatan secara bertahap atau ramp-up hingga mencapai kapasitas penuh menjadi ganjalan bagi Freeport Indonesia dan Amman Mineral. Pasalnya, keduanya mesti memikirkan monetisasi konsentrat tembaga yang telah diproduksi, tetapi belum bisa diolah di smelter tersebut. Pemerintah dan kedua perusahaan tersebut perlu segera mencari jalan tengah agar penumpukan konsentrat yang belum bisa diolah tidak menimbulkan dampak luas bagi pendapatan negara dan perekonomian masyarakat. Oleh karena itu, perpanjangan izin ekspor konsentrat tembaga yang disertai dengan penyesuaian bea keluar bisa menjadi solusi yang diambil pemerintah untuk menjaga keberlangsungan industri hulu pertambangan mineral nasional. Menurut Kementerian ESDM, izin ekspor konsentrat tembaga Freeport Indonesia dan Amman Mineral hanya berlaku mulai Juli 2023 hingga Mei 2024. Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia Rizal Kasli berpendapat, pemerintah perlu memberikan tambahan waktu bagi Freeport Indonesia dan Amman Mineral Nusa Tenggara untuk mengekspor konsentrat tembaga hingga smelter yang dibangun oleh kedua perusahaan tersebut mencapai kapasitas produksi maksimal. Saat ini, sebenarnya sudah ada Peraturan Menteri Keuangan No. 71/2023 tentang Penetapan Barang Ekspor yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar.
Berdasarkan aturan yang ditandatangani pada 12 Juli 2023 itu, tarif bea keluar untuk konsentrat tembaga bagi perusahaan dengan progres smelter 70%–90% dikenakan sebesar 7,5% pada periode 17 Juli–31 Desember 2023, dan naik menjadi 10% pada periode 1 Januari–31 Mei 2024. Sementara itu, untuk perusahaan dengan progres smelter di atas 90%, bea keluar yang dikenakan sebesar 5% pada periode 17 Juli–31 Desember 2023, dan naik menjadi 7,5% pada periode 1 Januari–31 Mei 2024. Di sisi lain, VP Corporate Communication Amman Mineral Nusa Tenggara Kartika Octaviana menjelaskan bahwa hingga kini perusahaan berupaya mengakselerasi pengerjaan smelternya agar bisa mencapai target pemerintah. Sementara itu, Freeport McMoran sejak jauh-jauh hari telah menyoroti perkara izin ekspor konsentrat tembaga yang bakal berakhir pada Mei 2024 dan bertepatan dengan tenggat perampungan smelternya. Dalam conference call yang dilakukan perusahaan, Presiden Freeport-McMoRan Inc. Kathleen Quirk mengatakan pihaknya masih perlu mengekspor konsentrat tembaga dalam jumlah tertentu saat periode ramp-up smelter Manyar di Gresik hingga akhir tahun depan. Di tempat terpisah, Presiden Direktur Freeport Indonesia Tony Wenas sempat berharap Pemerintah Indonesia mengerti dengan kondisi pembangunan smelter di lapangan, sehingga mau mengabulkan permintaan perusahaan untuk memperpanjang izin ekspor konsentrat tembaga hingga akhir 2024. Anggawira, Ketua Umum Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batu Bara, berharap ada win win solution terkait dengan persoalan ekspor konsentrat tembaga selepas 2024. Adapun, Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengaku belum pernah melihat langsung permintaan perpanjangan izin ekspor tembaga dari Freeport Indonesia maupun Amman Mineral Nusa Tenggara. Hal itu membuat pemerintah enggan memberikan komentar lebih jauh terkait dengan hal tersebut.
FASILITAS KREDIT BANK : EMITEN PERTEBAL MODAL KERJA
Menjelang akhir 2023, sejumlah emiten meracik strategi untuk memenuhi kebutuhan likuiditas pada tahun depan. Fasilitas pinjaman perbankan menjadi opsi yang ditempuh sejumlah emiten kendati dibayangi oleh tren suku bunga tinggi.
Berdasarkan catatan Bisnis, sedikitnya sembilan emiten menandatangani perjanjian fasilitas kredit bank dalam sebulan terakhir. Mayoritas berencana menggunakan dana segar dari perbankan untuk modal kerja. Teranyar, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) meraih fasilitas pinjaman dengan plafon US$197 juta dari PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA). Fasilitas tersebut dijamin a.l. dengan aset perseroan. Susan Chandra, Sekretaris Perusahaan Dian Swastatika Sentosa, mengatakan fasilitas pinjaman yang ditandatangani pada 18 Desember 2023 itu rencananya akan digunakan untuk membiayai keperluan umum emiten energi Grup Sinar Mas tersebut. Kebutuhan itu mencakup untuk modal kerja perusahaan dan entitas anak.“Penerimaan fasilitas pinjaman ini dapat menyebabkan rasio utang terhadap ekuitas perseroan meningkat sebesar 12,4%,” paparnya dalam keterbukaan informasi, Selasa (19/12). Masih di Grup Sinar Mas, anak usaha PT Golden Energy Mines Tbk. (GEMS) juga menarik pinjaman bank pada akhir November 2023. Sekretaris Perusahaan GEMS Sudin SH mengatakan fasilitas pinjaman diraih PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI). Lebih terperinci, PT Borneo Indobara (BIB) mengantongi fasilitas kredit modal kerja dengan limit Rp1,95 triliun dan PT Barasentosa Lestari (BSL) meraih fasilitas modal kerja maksimal Rp225 miliar.
Sekretaris Perusahaan TAPG Joni Tjeng menyampaikan fasilitas kredit modal kerja diraih 14 anak usaha perseroan dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) senilai Rp200 miliar. Sementara itu, Direktur Keuangan JARR Temmy Iskandar menjelaskan perseroan melakukan adendum perjanjian kredit investasi senilai Rp500 miliar dengan Bank Mandiri setelah pelaksanaan merger antara PT Jhonlin Agro Lestari dengan perseroan.
Fasilitas kredit bernilai jumbo juga baru-baru ini digenggam oleh emiten tambang batu bara milik Prajogo Pengestu, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN). Adalah tiga bank jumbo, yakni Bank Mandiri, BCA, dan BNI menyalurkan kredit sindikasi kepada CUAN. Direktur Utama Petrindo Jaya Kreasi Michael mengungkapkan perseroan bersama dengan entitas anak yaitu PT Mareta Persada dan kreditur telah menandatangani perjanjian fasilitas kredit berjangka dan revolvingsindikasi dengan nilai fasilitas maksimal Rp3,51 triliun dan tenor 72 bulan. Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi mengatakan biaya yang harus dikeluarkan emiten untuk menggalang dana lewat emisi surat utang maupun kredit bank saat suku bunga masih tinggi akan sangat besar.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









