Karpet Merah bagi Pelancong Asing
Industri pariwisata berangsur pulih ke kondisi sebelum
pandemi Covid-19, berkat meningkatnya jumlah kedatangan wisatawan mancanegara
di seluruh dunia setelah sejumlah negara mencabut pembatasan dan membuka diri.
China yang terkenal dengan pembatasan superketat menjadi negara terakhir yang
membuka pintu kembali pada turis asing, Maret 2023. China sadar perekonomiannya
melemah karena pariwisata anjlok selama pandemi. China lantas menggenjot jumlah
pelancong asing dengan menawarkan berbagai kemudahan, antara lain, kemudahan pengurusan
visa, penurunan biaya visa, pemberlakuan visa elektronik (e-visa), digitalisasi
proses sebelum bepergian, dan pemberian bebas visa pada negara-negara tertentu.
Laporan Organisasi Pariwisata Dunia PBB (UNWTO) pada November 2023 menyebutkan,
situasi pariwisata internasional akhir 2023 mendekati kondisi sebelum pandemi.
Data terbaru menunjukkan 975 juta wisatawan mancanegara (wisman) bepergian pada
Januari- September 2023, meningkat 38 % dibandingkan periode yang sama pada
2022. Berbagai destinasi wisata dunia rata-rata menerima 22 % wisman lebih
banyak pada triwulan III-2023 dibanding tahun sebelumnya.
Banyaknya wisman yang datang meningkatkan penerimaan
pariwisata internasional, mencapai 1,4 triliun USD pada akhir 2023. Pada 2019, penerimaannya
sekitar 1,5 triliun USD. Dari seluruh negara di dunia, negara-negara di Timur Tengah
tahun ini menjadi satu-satunya kawasan yang melampaui tingkat kedatangan wisman
2019. Kunci keberhasilannya adalah fasilitasi visa, pengembangan destinasi
baru, investasi pada proyek-proyek baru terkait pariwisata, dan penyelenggaraan
acara-acara besar. Eropa yang menjadi tujuan wisata terbesar di dunia (56 %
total wisman dunia) pulih berkat wisman yang kebanyakan dari AS. Begitu pula Afsel.
Hanya Asia dan Pasifik yang tertahan di 62 % dari tingkat sebelum pandemi,
karena lambat membuka diri kembali untuk perjalanan internasional. Salah satu
contohnya China. Thailand memberlakukan bebas visa, spesifik bagi wisman dari
China, Kazakhstan, India, dan Taiwan, yang berlaku sementara, pada 25 September
2023-29 Februari 2024. Mereka mendapat masa tinggal 30 hari. Alasan Thailand
memilihChina sebagai target utama karena lebih dari 10 tahun wisman China
mendominasi wisatawan ke Thailand. Jumlahnya hampir 11 juta pada 2019 dan
menyumbang 27,6 % seluruh kedatangan wisman sebelum pandemi. Thailand menyadari
industri pariwisata adalah satu-satunya mesin ekonomi yang tersisa untuk
menghasilkan pendapatan dengan cepat.
Memperpanjang masa tinggal juga dapat memacu pengeluaran
pariwisata. Malaysia, misalnya, memperpanjang masa tinggal bagi warga Hong Kong
menjadi 90 hari dari semula 30 hari. Sementara Vietnam merevisi masa tinggal bebas
visa menjadi 45 hari dari semula 15 hari untuk negara-negara tertentu. Korsel
juga menyederhanakan prosedur masuk dan memberi izin tinggal hingga 30 hari
untuk mendongkrak pariwisata dan belanja dalam negeri. Jepang mengambil langkah
”lebih berani” dengan rencana mengizinkan pengusaha asing tinggal di Jepang
selama 2 tahun meski belum ada tempat usaha atau belum menanamkan investasi apa
pun. Situs Nikkei, 30 Oktober 2023, menyebutkan, kebijakan ini untuk membantu
mereka memulai bisnisnya dengan meringankan persyaratan tempat tinggal. Langkah
ini sekaligus mendorong perekonomian Jepang dengan menyuntikkan talenta
internasional. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023