Ekonomi
( 40733 )Indonesia Butuh ”Ledakan” Investasi
Dilansir dari Reuters, Kamis (11/1/2024) Deputy Chief
Economist Bank Dunia Ayhan Kose menyebutkan, fokus laporan Prospek Ekonomi
Global 2024 adalah China yang diperkirakan akan mengalami perlambatan ekspansi
ekonomi daripada 2023. ”Terdapat beberapa tantangan yang dihadapi China,
termasuk penurunan belanja konsumen, masalah struktural seperti populasi yang
menua, dan tingginya tingkat utang,” ujarnya. Kose menilai, untuk menjaga
pertumbuhan ekonomi, negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, membutuhkan ”ledakan”
investasi, termasuk penanaman modal asing (PMA). Sebab, negara-negara yang
mengalami percepatan investasi sering kali memperoleh keuntungan ekonomi tak
terduga. Di tengah perlambatan ekonomi global, negara-negara berkembang perlu
menerapkan paket kebijakan komprehensif dalam kerangka fiskal dan moneter,
untuk memperluas perdagangan lintas batas dan arus keuangan, meningkatkan iklim
investasi, dan memperkuat kualitas institusi.
Dalam laporan bertajuk ”Prospek Ekonomi Global”, Bank Dunia
memproyeksi pertumbuhan ekonomi global akan melambat ke angka 2,4 % pada 2024.
Artinya, pertumbuhan ekonomi dunia melambat selama tiga tahun beruntun. Bank
Dunia menyebutkan, perlambatan ekonomi dunia 2024 merupakan akibat kebijakan
moneter ketat yang ditempuh negara-negara maju untuk mengendalikan inflasi. Imbasnya,
aktivitas investasi global akan ikut terhambat. Proyeksi perekonomian global
pada 2024 ini menjadi alarm bagi Indonesia yang mengejar realisasi investasi
langsung senilai Rp 1.650 triliun. Investasi penting demi mencapai target pertumbuhan
ekonomi 2024 sebesar 5,1-5,7 %. Berdasarkan kajian Bappenas, Indonesia selama
lima tahun mendatang butuh investasi langsung senilai Rp 45.500 triliun.
Direktur Perencanaan Makro dan Analisis Statistik Bappenas Eka Chandra Buana
mengatakan, kebutuhan investasi senilai itu untuk merealisasikan target
rata-rata pertumbuhan ekonomi 2025-2029 sebesar 5,6-6,1 %. Target pertumbuhan
investasinya 7,2 % - 7,9 %. (Yoga)
Emiten Infrastruktur Diprediksi Bertumbuh
Perusahaan di bursa yang bergerak di bidang infrastruktur
dinilai akan melanjutkan pertumbuhan sejak akhir 2023 hingga tahun 2024.
Proyeksi penurunan suku bunga dan berlanjutnya proyek pembangunan infrastruktur
menjadi katalisnya. Perusahaan tercatat di pasar modal atau emiten bidang infrastruktur
masih mencatatkan pertumbuhan positif sejak awal Oktober 2023. Indeks lebih
dari 60 saham emiten telah bertahan di level 1.500 sejak Desember 2023 hingga
awal Januari 2024 ini. Level itu secara historis tertinggi dalam 20 tahun
terakhir. Momentum ini pun dimanfaatkan beberapa perusahaan infrastruktur untuk
mendapatkan pendanaan lewat pencatatan saham perdana (initial public offering/IPO)
di pasar modal. PT Manggung Polahraya Tbk resmi melantai di Bursa Efek Indonesia
(BEI) dengan kode saham MANG, Kamis (11/1/2024).
MANG menerbitkan 762,5 juta lembar saham dengan harga
penawaran Rp 100 per saham, dengan tujuan mendapat dana Rp 76,25 miliar. MANG
juga menerbitkan 228,75 juta waran seri I dengan harga pelaksanaan waran Rp 125
per lembar. Total hasil pelaksanaan waran seri I sebanyak-banyaknya Rp 28,59
miliar. Seluruh dana yang diperoleh dari hasil penawaran umum perdana saham
akan digunakan untuk kebutuhan modal kerja, antara lain biaya pokok untuk proses
dari konstruksi gedung dan bangunan, pembangunan infrastruktur jalan, produksi
aspal hot mix dan produksi beton ready mix, serta gaji dan tunjangan. Dana yang
diperoleh dari pelaksanaan waran seri I akan digunakan untuk kebutuhan
operasional perusahaan yang berdiri sejak 1992 tersebut.
”Aksi korporasi ini jadi langkah penting untuk mewujudkan
visi ikut serta dalam pembangunan nasional bidang jasa konstruksi,” kata Dirut
PT Manggung Polahraya Tbk Ni Ketut Mariani di Gedung BEI, Jakarta. Sebelumnya,
ada PT Asri Karya Lestari Tbk yang melakukan IPO dengan kode saham ASLI pada
Jumat (5/1). Perusahaan yang banyak terlibat dalam pekerjaan fondasi hingga
struktur berat untuk pembangunan fasilitas umum itu menjadi perusahaan pertama
yang melakukan IPO pada 2024 sekaligus perusahaan tercatat ke-904 di BEI. Menurut
Dirut PT Asri Karya Lestari Tbk Sudjatmiko, pencatatan itu menjadi momentum
perusahaan untuk ekspansi usaha, kepastian pendanaan, serta tata kelola dan
prinsip keterbukaan perusahaan yang lebih baik. ASLI banyak bekerja di proyek
strategis nasional. (Yoga)
Penjualan Eceran Diperkirakan Tetap Kuat
Cuaca Ekstrem Jadi Ancaman Ekonomi Global
Aroma Bancakan Duit Proyek Strategis Nasional
Skema Baru PPh 21 Bisa Bebani Pembayar Pajak
Harga Batubara Menekan UNTR
Bank Masih Genjot Kredit
INTP Memacu Produksi Semen
Menerka Lanskap E-Commerce Pascakonsolidasi TikTok & Tokopedia
Beberapa tahun sebelum kehadiran TikTok Shop Indonesia, dunia e-commerce Tanah Air memang tengah bertumbuh. Apalagi sejak Maret 2020, Indonesia dan dunia sempat dilanda pandemi Covid-19 yang memaksa masyarakat beraktivitas online. Saat itu, e-commerce mulai dari Tokopedia (berdiri 2009), Bukalapak (2010), Blibli (2011), Lazada (2012), hingga Shopee (2015) terus memanfaatkan momentum tingginya keinginan masyarakat berbelanja online guna menghindari pandemi tersebut. Tingginya minat ini tecermin dari data Bank Indonesia (BI) yang mencatat nilai transaksi e-commerce 2021 menembus Rp401 triliun. Pada 2022 angkanya naik 19% menjadi Rp476,3 triliun, sangat besar untuk ukuran negara berkembang, pasar yang tak bisa dielakkan begitu saja oleh para pelaku e-commerce mana pun. Jika ditarik ke belakang, sebelum nama-nama besar seperti Tokopedia hingga Shopee, sudah ada para pendahulu yang bisa dibilang menjadi pionir e-commerce. Meski punya potensi sangat besar, faktanya perjalanan e-commerce Indonesia selalu mulus. Beberapa di antaranya terpaksa mengibarkan bendera putih dan melakukan PHK—sesuatu yang sangat disayangkan. Di November 2022, GoTo yang menaungi Tokopedia mulai melakukan PHK, dan di awal tahun baru 2024 Lazada pun dikabarkan akan melakukan PHK. JDID tutup per 31 Maret 2023 setelah beroperasi November 2015. Blanja.com, milik Grup Telkom dan e-Bay, tutup 1 September 2020, lalu Elevenia juga tutup per 1 Desember 2022 setelah beroperasi 9 tahun.
Salah satu wujud inovasi itu adalah tren belanja langsung via aplikasi (live shopping) yang ditawarkan TikTok Shop. Maka hadirnya kembali TikTok Shop Indonesia sejak 12 Desember 2023 dengan menggandeng Tokopedia bisa jadi merupakan game changer yang mungkin bisa membawa wajah baru di lanskap e-commerce Indonesia, lantaran mereka berhasil berinovasi via konten video pendek dan fitur live shopping yang dimanfaatkan lebih dari 6 juta pebisnis lokal dan hampir 7 juta kreator affiliate. Ketika TikTok Shop menghentikan operasi per 4 Oktober 2023 menyusul terbitnya Permendag No. 31/2023, para pengguna termasuk UMKM pun berdampak karena telah memanfaatkan layanan sejak pertama kali hadir di April 2021. Apa yang dilakukan TikTok-Tokopedia memicu perubahan lanskap persaingan e-commerce nasional ke depan. Persaingan antara Shopee dengan Tokopedia-TikTok bakal makin sengit, sementara Lazada, Blibli, apalagi Bukalapak punya pekerjaan rumah mengejar para kompetitor yang didukung ekosistem yang besar dan modal kuat. Namun, yang wajib sama-sama dilakukan semua e-commerce dalam persaingan yang sehat ini adalah: bagaimana membuat transaksi lintas negara (cross border selling) tidak membunuh UMKM, mencegah predatory pricing (jual rugi di bawah harga pasar), dan bagaimana menempatkan produk lokal menjadi jawara di negeri sendiri. Inovasi melalui live shopping tak bisa dibendung, yang perlu dilakukan pemerintah dan sudah tepat adalah membuat regulasi: Permendag 31/2023, yang memisahkan marketplace (boleh transaksi) dan social commerce (hanya etalase, tak boleh transaksi).
Di sektor telekomunikasi, integrasi bisa memakan waktu hingga setahun lebih, bahkan sinergi data pemerintahan yakni Indonesia Satu Data, butuh bertahun-tahun. Dengan begitu, tinggal bagaimana TikTok-Tokopedia memenuhi ketentuan 4 bulan itu agar mematuhi regulasi. Kepatuhan tak hanya soal sistem backend yang mesti terpisah di belakang layar, tapi juga harus dipastikan pertukaran data TikTok dan Tokopedia harus sesuai dengan UU Perlindungan Data Pribadi yang mengutamakan persetujuan pengguna. Jangan lupa, pemerintahan Presiden Joko Widodo masih punya pekerjaan rumah besar buat UMKM. Target 30 juta UMKM onboarding digital mesti tercapai di 2024. Di Oktober 2022, ada 20,2 juta UMKM onboarding digital, artinya 67% dari target. Jadi, selayaknya pemerintah dan para pemangku kepentingan bisa mendukung apa pun langkah strategis dan positif demi kemajuan ekonomi nasional dan kemajuan UMKM. TikTok-Tokopedia bisa dibilang menjadi salah satu katalis positif untuk mencapai target itu.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









