Ekonomi
( 40465 )RI Berpotensi Jadi pemain Utama Industri Halal Dunia
Bertahap Melebarkan Bisnis Kargo
Nihil Pilihan Selain Melebur
Ekspor Benih Lobster Masih Tuai Kontroversi
Pemerintah berencana menuntaskan regulasi terkait dengan
ekspor benih bening lobster pada akhir Januari 2024. Kebijakan membuka keran
ekspor benih itu sempat menuai kontroversi publik berkaitan dengan keberlanjutan
sumber daya atau plasma nutfah, serta terpukulnya budidaya lobster dalam
negeri. Salah satu program prioritas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)
dalam periode 2021-2024 adalah perikanan budidaya berkelanjutan dengan fokus
pada pengembangan komoditas unggulan, yakni udang, lobster, kepiting, rumput
laut, dan nila. Guru Besar Sumber Daya Perikanan Fakultas Ilmu Kelautan dan
Perikanan IPB University Luky Adrianto berpendapat, ekspor berupa benih sumber
daya ikan, termasuk di dalamnya benih bening lobster, seharusnya
memperhitungkan aspek neraca sumber daya ikan dan bukan hanya neraca ekspor
dalam perspektif ekonomi.
”Neraca sumber daya ikan sangat penting dalam perspektif
spasial dan temporal,” katanya, saat dihubungi, Kamis (11/1/2024). Benih bening
lobster memiliki karakteristik spasial berupa ruang yang terbatas serta
temporal dalam kaitan siklus hidup. Dengan demikian, stok lobster di suatu
lokasi tidak selalu berlimpah sepanjang tahun serta bergantung pula pada kualitas
ekosistem. Pengelolaan berbasis wilayah perikanan dinilai sangat penting untuk
memastikan keberlanjutan stok benih lobster. Menteri Kelautan dan Perikanan
Sakti Wahyu Trenggono, dalam konferensi pers ”Outlook dan Program Prioritas
Sektor Kelautan dan Perikanan Tahun 2024”, Rabu (10/1), memaparkan, payung
hukum terkait dengan kebijakan ekspor benih bening lobster sedang disusun agar
keran ekspor benih itu bisa dibuka dan memberikan manfaat bagi negara. ”Targetnya
akhir bulan ini aturan bisa selesai,” ujarnya.
Penasihat Himpunan Budidaya Laut Indonesia (Hibilindo) Effendy
Wong mengingatkan, sewaktu keran ekspor benih bening lobster dibuka pada 2020,
penyelundupan benih lobster itu masih tetap berlangsung. Sementara itu,
kewajiban bagi eksportir benih lobster untuk mengembangkan budidaya lobster di
dalam negeri terindikasi praktik manipulasi. Effendy meminta komitmen
pemerintah untuk mendorong hilirisasi perikanan dengan tidak mengeksploitasi
benih atau plasma nutfah untuk diekspor. Budidaya lobster sebagai komoditas
unggulan perikanan Indonesia harus didorong untuk berdaya saing dan menghasilkan
nilai tambah. Kebijakan ekspor benih merupakan langkah mundur budidaya lobster
di Indonesia dan, sebaliknya, hanya akan menguntungkan pembudidaya lobster di
Vietnam. (Yoga)
Indonesia Butuh ”Ledakan” Investasi
Dilansir dari Reuters, Kamis (11/1/2024) Deputy Chief
Economist Bank Dunia Ayhan Kose menyebutkan, fokus laporan Prospek Ekonomi
Global 2024 adalah China yang diperkirakan akan mengalami perlambatan ekspansi
ekonomi daripada 2023. ”Terdapat beberapa tantangan yang dihadapi China,
termasuk penurunan belanja konsumen, masalah struktural seperti populasi yang
menua, dan tingginya tingkat utang,” ujarnya. Kose menilai, untuk menjaga
pertumbuhan ekonomi, negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, membutuhkan ”ledakan”
investasi, termasuk penanaman modal asing (PMA). Sebab, negara-negara yang
mengalami percepatan investasi sering kali memperoleh keuntungan ekonomi tak
terduga. Di tengah perlambatan ekonomi global, negara-negara berkembang perlu
menerapkan paket kebijakan komprehensif dalam kerangka fiskal dan moneter,
untuk memperluas perdagangan lintas batas dan arus keuangan, meningkatkan iklim
investasi, dan memperkuat kualitas institusi.
Dalam laporan bertajuk ”Prospek Ekonomi Global”, Bank Dunia
memproyeksi pertumbuhan ekonomi global akan melambat ke angka 2,4 % pada 2024.
Artinya, pertumbuhan ekonomi dunia melambat selama tiga tahun beruntun. Bank
Dunia menyebutkan, perlambatan ekonomi dunia 2024 merupakan akibat kebijakan
moneter ketat yang ditempuh negara-negara maju untuk mengendalikan inflasi. Imbasnya,
aktivitas investasi global akan ikut terhambat. Proyeksi perekonomian global
pada 2024 ini menjadi alarm bagi Indonesia yang mengejar realisasi investasi
langsung senilai Rp 1.650 triliun. Investasi penting demi mencapai target pertumbuhan
ekonomi 2024 sebesar 5,1-5,7 %. Berdasarkan kajian Bappenas, Indonesia selama
lima tahun mendatang butuh investasi langsung senilai Rp 45.500 triliun.
Direktur Perencanaan Makro dan Analisis Statistik Bappenas Eka Chandra Buana
mengatakan, kebutuhan investasi senilai itu untuk merealisasikan target
rata-rata pertumbuhan ekonomi 2025-2029 sebesar 5,6-6,1 %. Target pertumbuhan
investasinya 7,2 % - 7,9 %. (Yoga)
Emiten Infrastruktur Diprediksi Bertumbuh
Perusahaan di bursa yang bergerak di bidang infrastruktur
dinilai akan melanjutkan pertumbuhan sejak akhir 2023 hingga tahun 2024.
Proyeksi penurunan suku bunga dan berlanjutnya proyek pembangunan infrastruktur
menjadi katalisnya. Perusahaan tercatat di pasar modal atau emiten bidang infrastruktur
masih mencatatkan pertumbuhan positif sejak awal Oktober 2023. Indeks lebih
dari 60 saham emiten telah bertahan di level 1.500 sejak Desember 2023 hingga
awal Januari 2024 ini. Level itu secara historis tertinggi dalam 20 tahun
terakhir. Momentum ini pun dimanfaatkan beberapa perusahaan infrastruktur untuk
mendapatkan pendanaan lewat pencatatan saham perdana (initial public offering/IPO)
di pasar modal. PT Manggung Polahraya Tbk resmi melantai di Bursa Efek Indonesia
(BEI) dengan kode saham MANG, Kamis (11/1/2024).
MANG menerbitkan 762,5 juta lembar saham dengan harga
penawaran Rp 100 per saham, dengan tujuan mendapat dana Rp 76,25 miliar. MANG
juga menerbitkan 228,75 juta waran seri I dengan harga pelaksanaan waran Rp 125
per lembar. Total hasil pelaksanaan waran seri I sebanyak-banyaknya Rp 28,59
miliar. Seluruh dana yang diperoleh dari hasil penawaran umum perdana saham
akan digunakan untuk kebutuhan modal kerja, antara lain biaya pokok untuk proses
dari konstruksi gedung dan bangunan, pembangunan infrastruktur jalan, produksi
aspal hot mix dan produksi beton ready mix, serta gaji dan tunjangan. Dana yang
diperoleh dari pelaksanaan waran seri I akan digunakan untuk kebutuhan
operasional perusahaan yang berdiri sejak 1992 tersebut.
”Aksi korporasi ini jadi langkah penting untuk mewujudkan
visi ikut serta dalam pembangunan nasional bidang jasa konstruksi,” kata Dirut
PT Manggung Polahraya Tbk Ni Ketut Mariani di Gedung BEI, Jakarta. Sebelumnya,
ada PT Asri Karya Lestari Tbk yang melakukan IPO dengan kode saham ASLI pada
Jumat (5/1). Perusahaan yang banyak terlibat dalam pekerjaan fondasi hingga
struktur berat untuk pembangunan fasilitas umum itu menjadi perusahaan pertama
yang melakukan IPO pada 2024 sekaligus perusahaan tercatat ke-904 di BEI. Menurut
Dirut PT Asri Karya Lestari Tbk Sudjatmiko, pencatatan itu menjadi momentum
perusahaan untuk ekspansi usaha, kepastian pendanaan, serta tata kelola dan
prinsip keterbukaan perusahaan yang lebih baik. ASLI banyak bekerja di proyek
strategis nasional. (Yoga)
Penjualan Eceran Diperkirakan Tetap Kuat
Cuaca Ekstrem Jadi Ancaman Ekonomi Global
Aroma Bancakan Duit Proyek Strategis Nasional
Skema Baru PPh 21 Bisa Bebani Pembayar Pajak
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









