Ekonomi
( 40600 )Suku Bunga Turun di Semester II
laju inflasi dunia diyakini sudah terus turun dan tekanannya juga kian mereda. Pada saat yang sama, ekonomi global diakui lebih tangguh mengadapi rezim suku bunga tinggi yang diakibatkan inflasi tersebut. Tapi, bank sentral diingatkan untuk tidak terburu-buru memangkas suku bunga sekarang. Dana Moneter Internasional (IMF) mengharapkan, suku bunga baru turun di semester II nanti. Demikian benang merah pernyataan para ekonom dan pemimpin bisnis pada hari pertama Pertemuan Tahunan World Economic Forum di Davos, Swiss, Selasa (16/1/2024). IMF memperkirakan suku bunga turun pada paruh kedua tahun ini. Berbicara pada diskusi panel "The High rate Reality" CNBC di Davos Wakil Direktur Pelaksana Pertama IMF Gita Gopinath mengatakan, masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa bank-bank sentral dunia akan menurunkan suku bunga secara agresif tahun ini." Meskipun inflasi telah turun, tugas belum selesai. kami menyoroti ketatnya pasar tenaga kerja di AS dan Eropa," ujar Gopinath. (Yetede)
Menjaga Kinerja Pedagangan dari Dampak Ketidakpastian Global
Aktivitas ekonomi global masih menghadapi risiko dan ketidakpastian, sehingga akan memberikan pengaruh terhadap aktivitas perdagangan Indonesia pada tahun ini. Berkaitan itu, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) memperkuat sinergi kebijakan guna meningkatkan ketahanan eksternal dan mendukung pemulihan ekonomi nasional. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Febri Nathan Kacaribu menjelaskan, prognosa tersebut tercermin pada proyeksi perlambatan pertumbuhan ekonomi global oleh berbagai lembaga internasional yang juga diikuti oleh moderasi harga komoditas. " Pemerintah akan terus memantau dampak perlambatan global terhadap eskpor nasional, serta menyiapkan langkah antisipasi melalui dorongan terhadap keberlanjutan hilirisasi SDA ( sumber daya alam) peningkatan daya saing produk ekspor nasional, serta diverifikasi negara mitra dagang utama," jelas Febrio. Aktivitas perdagangan Indonesia pada tahun lalu terjaga, neraca perdagangan Indonesia secara total kembali mencatat surplus sebesar US$ 36,93. (Yetede)
Istana: Mundurnya Maruara Sirait Jangan Dihubungkan dengan Presiden Jokowi
Tiga Saham Emiten Prajogo Pangestu Kompak Melesat
Tiga saham emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu yakni PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), kompak mengalami kenaikan pada penutupan perdagangan Selasa (16/1/2024). Ketiga saham ini bahkan menjadi penggerak utama indeks harga saham gabungan (IHSG), yang pada perdagangan kemarin menguat 18,78 poin (0,26%) ke posisi 7.242. Berdasarkan data RTI, saham BREN mencatat keniakan 450 poin atai 10,16% ke posisi Rp4.880. Saham emiten energi baru terbarukan (EBT) ini ditransaksikan sebanyak 30.340 kali dengan jumlah saham berpindah tangan 70,24 juta saham senilai Rp336,29 miliar. Kenaikan tinggi lainnya juga ditorehkan oleh saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA). Saham emiten kimia dan infrastruktur ini menguat 330 poin atau 10,22% ke level Rp3.560. Sepanjang perdagangan kemarin, saham berkode TPIA ini ditransaksikan sebanyak 13.831 kali dengan jumlah saham berpindah tangan 52,6 juta kembar dan total transaksi Rp 178,38 miliar. (Yetede)
Pemilu 2024 dan Arah Perekonomian Kita
Pemilu biasanya berdampak positif bagi perekonomian melalui
peningkatan konsumsi masyarakat dan lembaga nonprofit rumah tangga. Namun, di
sisi lain, hajatan lima tahunan itu cenderung mengakibatkan penurunan investasi
sehingga mendorong perlambatan ekonomi. Semakin tinggi ketidakpastian (politik),
semakin besar koreksi investasi, dan semakin dalam pula risiko perlambatan
ekonomi. Pemilu 2024, khususnya pemilihan presiden, tingkat ketidakpastiannya
sangat tinggi. Ditambah situasi global yang makin rumit, investasi diperkirakan
akan merosot tahun ini sehingga pertumbuhan ekonomi pada tahun ini berpotensi
terkoreksi. BI memperkirakan pertumbuhan tahun 2024 berkisar 4,5-5,3 %. Selain
punya implikasi pada siklus ekonomi jangka pendek (cyclical effect), pemilu
juga punya potensi memengaruhi situasi struktural jangka panjang (structural effect).
Untuk itu, diperlukan evaluasi kebijakan pembangunan selama
ini serta identifikasi perbaikan kebijakan. Pemerintahan Presiden Jokowi selama
dua periode sangat fokus pada pembangunan infrastruktur. Tentu saja arah kebijakan
ini harus dilanjutkan dengan beberapa perbaikan. Pembangunan infrastruktur
adalah syarat perlu bagi pembangunan ekonomi dan industri (hilirisasi). Namun,
itu belum cukup. Masih diperlukan pilar kebijakan lain, terutama penguatan regulasi
dan institusi serta pengembangan sumber daya manusia. Ketiganya harus dilakukan
secara komprehensif dengan proporsi yang tepat. Merujuk studi Bappenas,faktor
paling menghambat pembangunan ekonomi di Indonesia adalah regulasi dan kelembagaan.
Siapa pun presiden terpilih nanti perlu fokus pada aspek ini.
Dengan demikian, terjadi penataan menyeluruh pada aspek tata kelola, proses
kerja, serta koordinasi antara kementerian dan lembaga, ataupun koordinasi
pemerintah pusat dan daerah dalam pembangunan. Melalui perbaikan regulasi dan
kelembagaan, anggaran pemerintah yang terbatas bisa lebih efektif dan efisien guna
mendorong produktivitas perekonomian. Dengan begitu, pemilu tidak sekadar
memengaruhi dinamika perekonomian jangka pendek, tetapi juga menentukan arah pembangunan
jangka panjang. Pemerintah ke depan perlu mengakui keberhasilan pembangunan
selama ini, tetapi juga harus berani memperbaiki berbagai hal mendasar yang
perlu perubahan (Yoga)
Yang Kaya Kian Kaya, yang Miskin Kian Merana
Sejak tahun 2020, kesenjangan ekonomi di dunia semakin lebar.
Lima orang terkaya di dunia, yakni CEO Tesla Elon Musk, Bernard Arnault dari
perusahaan mewah LVMH, pendiri Amazon Jeff Bezos, pendiri Oracle Larry Ellison,
dan pakar investasi Warren Buffett, menjadi lebih kaya dua kali lipat atau 114 %
sejak 2020, berkat lonjakan harga saham. Kekayaan mereka meningkat dari 405
miliar USD, sekitar Rp 6,3 ribu triliun atau kuadriliun pada 2020, menjadi 869
miliar USD atau Rp 13,5 kuadriliun pada 2022. Tapi, sejak 2020 pula, lima miliar
orang miskin di seluruh dunia menjadi semakin miskin. Dengan serentetan krisis
yang terjadi, perekonomian dunia runtuh akibat pandemi Covid-19. Laporan
tahunan mengenai kondisi kesenjangan di seluruh dunia dari lembaga amal Oxfam ini
dipublikasikan sebelum Forum Ekonomi Dunia dimulai di Davos, Swiss, Senin
(15/1). Untuk menghitung kekayaan lima miliarder terkaya, Oxfam menggunakan
angka dari Forbes per November 2023. Oxfam merupakan konfederasi internasional
yang terdiri atas 20 organisasi yang bekerja sama dengan 90 negara untuk
membangun masa depan yang bebas ketidakadilan akibat kemiskinan.
”Dunia sedang memasuki dekade perpecahan. Dalam waktu dekat,
kita perkirakan dalam satu dekade ke depan kita akan memiliki triliuner. Setidaknya
akan ada satu orang yang memiliki kekayaan sampai seribu miliar USD. Jika tren
ini terus meningkat, upaya memerangi kemiskinan di seluruh dunia baru bisa
tuntas 229 tahun lagi,” kata direktur eksekutif sementara Oxfam, Amitabh Behar,
di Swiss. Di sisi lain, ratusan juta orang di seluruh dunia kini harus bekerja
lebih keras, dengan jam kerja yang lebih lama dan upah yang rendah. Di 52
negara yang dianalisis, upah riil rata-rata dari hampir 800 juta pekerja turun.
Mereka kehilangan 1,5 triliun USD atau Rp 23 kuadriliun selama dua tahun
terakhir, atau setara dengan hilangnya gaji selama 25 hari untuk setiap
pekerja. Orang yang miskin akan bertambah lebih banyak lagi jika perang
Rusia-Ukraina dan Israel-Hamas terus terjadi. Akibat konflik, harga energi dan
pangan melonjak dan ini sangat berdampak pada negara-negara termiskin. Ironisnya,
keuntungan bisnis justru meningkat tajam. (Yoga)
Pakaian Paling Diincar di ”Live Shopping”
177 Pengaduan Perusahaan Pialang Berjangka
Ekspor RI Tertekan Perlambatan Global
Kinerja ekspor Indonesia pada 2023 menurun dibandingkan tahun
2022. Harga komoditas unggulan yang turun, ditambah perlambatan ekonomi global,
memicu turunnya permintaan dari negara tujuan ekspor. Mengutip data BPSk, total
nilai ekspor Indonesia pada Januari-Desember 2023 mencapai 258,82 miliar USD,
turun 11,33 % dibandingkan tahun 2022 senilai 275,96 miliar USD. Kontributor
ekspor masih didominasi oleh ekspor nonmigas sebesar 242,89 miliar USD atau
93,85 % dari total ekspor, sisanya berasal dari ekspor migas yang nilainya 15,92
miliar USD. Dalam paparan kinerja ekspor-impor 2023, di Jakarta, Senin (15/1)
Deputi bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini menjelaskan,
sepanjang 2023, ada sejumlah fenomena yang memengaruhi kinerja ekspor Indonesia.
Harga komoditas unggulan penyumbang ekspor mengalami penurunan.
Harga minyak sawit yang pada Desember 2022 berada pada level
940,4 USD per metrik ton, akhir Desember 2023 turun jadi 813,5 USD per metrik
ton. Dampaknya, kinerja ekspor lemak dan minyak hewani/nabati pada 2023 merosot
23,42 % dibandingkan 2022. Nilai ekspor komoditas ini pada 2023 sebesar 28,45 miliar
USD, turun dibandingkan nilai ekspor pada 2022 di 35,15 miliar USD. Padahal,
komoditas ini berkontribusi 11,71 % pada ekspor nonmigas atau 10,99 % dari total
ekspor. Harga batubara pada Desember 2023 senilai 141,8 USD per metrik ton, merosot
dari 379,2 USD per metrik ton pada Desember 2022, membuat kinerja ekspor
batubara menurun 19,09 % secara tahunan. Padahal, kontribusinya 13,38 % total
ekspor Indonesia.
Perlambatan ekonomi negara tujuan juga menurunkan permintaan
ekspor. Perekonomian China, misalnya, yang pada triwulan tiga 2023 tumbuh 4,9 %
turun dibandingkan triwulan dua, sebesar 6,3 %. Padahal, China adalah mitra
dagang utama RI dengan kontribusi ekspor 25,66 %, senilai 62 miliar USD. Ekonom
Bank Danamon, Irman Faiz, mengatakan, kendati mencatat penurunan ekspor, Indonesia
masih mencatat surplus neraca perdagangan, 44 bulan terakhir. Namun surplus turun
dari 3,92 miliar USD pada 2022 menjadi 3,31 miliar USD pada 2023. (Yoga)
Perjuangan Menahun Menagih Hak Tanah Garapan
Setiap pergantian kepala daerah dan presiden, Gede Sutape
(71), petani Kampung Bukit Sari, Desa Sumber Klampok, Kabupaten Buleleng, Bali,
selalu gundah. Petani eks transmigran Timor Timur itu takut kehilangan lahan
garapan seluas 0,5 hektar yang menjadi sumber hidup keluarganya. Lahan itu
belum resmi jadi miliknya kendati sudah dia garap sejak 24 tahun lalu. Lahan
itu ia tanami jagung, cabai, rumput gajah, dan kacang-kacangan. Sutape mengaku,
hasil panen dari lahan itu satu-satunya sumber penghasilan untuk mencukupi
kebutuhan sehari-hari. ”Jika lahan ini diambil karena ada perubahan kebijakan,
saya sekeluarga hidup dari apa?” kata bapak enam anak dan kakek empat cucu itu
di sela rehat menanam cabai, Selasa (9/1). Nengah Kisid (60) dihantui
kekhawatiran serupa. Bercocok tanam di lahan yang belum jadi hak milik membuat
hidupnya tidak tenang. Pemanfaatan lahan di kawasan hutan produksi terbatas
(HPT) itu sewaktu-waktu bisa dialihkan dari rakyat untuk keperluan lain. Jika
itu terjadi, masa depan anak cucu bisa terkatung-katung.
”Untuk itu, kami meminta agar pemerintah menerbitkan
sertifikat lahan garapan itu atas nama warga eks transmigran Timor Timur. Lahan
itu penting bagi hidup kami saat ini hingga anak cucu nanti,” ucap Nengah.
Sutape dan Nengah merupakan bagian dari 107 keluarga transmigran Bali yang ditempatkan
di Timor Timur. Pascareferendum atau lepasnya Timor Timur dari Indonesia pada
1999, Pemerintah Indonesia meminta mereka kembali ke Bali. Lantaran sudah tak
punya tanah keluarga, eks transmigran itu ditempatkan di tempat transit Kantor
Transmigrasi, Kabupaten Buleleng. September 2000, mereka dipindahkan ke kawasan
HPT yang saat ini dikelola KLHK. Di lokasi yang berbatasan dengan Taman
Nasional Bali Barat itu, setiap keluarga mendapatkan tanah seluas 54 are atau 0,54
hektar (ha), sebanyak 0,04 ha di antaranya untuk permukiman dan 0,5 ha untuk
pertanian.
Per 4 November 2021, KLHK menetapkan Peta Indikatif
Penyelesaian Penguasaan Tanah dalam Rangka Penataan Kawasan Hutan untuk Provinsi
Bali. Dalam peta itu, kawasan eks transmigran Timor Timur ditetapkan 157,5 ha,
terdiri dari 54 ha untuk permukiman dan fasilitas sosial dan umum serta sekitar
104 ha untuk lahan pertanian. Lalu pada 30 Desember 2022, KLHK melepas 7,98 ha kawasan
HPT untuk sumber tanah obyek reforma agrarian masyarakat eks transmigran Timor
Timur. Namun, pelepasan itu baru mencakup permukiman dan pekarangan, tak termasuk
lahan garapan. Saat ini, masyarakat eks transmigran Timor Timur didampingi
Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) meminta pemerintah melepas tanah sisanya
yang seluas 149,52 ha, mengingat tanah tersebut, terutama lahan pertanian,
merupakan sumber utama penghasilan masyarakat eks transmigran Timor Timur. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









