Ekonomi
( 40465 )Program Tol Laut Perlancar Distribusi Logistik
Melonjak 613% Impor Beras RI Tembus 3 Juta Ton di 2023
Ancang-ancang Lonjakan Tarif Kargo
Utak-atik Perpanjangan Trayek Kereta Cepat
Ogah Bisnis Terkubur Pajak Hiburan, Gugat Aturan Menjadi Pilihan
Awas Bumerang dari Kenaikan Pajak Hiburan
Surplus Menyusut, Defisit Transaksi Berjalan Melebar
Utang Jumbo Menjerat Emiten BUMN Konstruksi
MENCEGAH KENDUR MANUFAKTUR
Industri pengolahan sedang terimpit di sana-sini. Tingginya inflasi menahan permintaan di pasar global. Adapun, tertatihnya daya beli membatasi pemesanan di pasar lokal.Buktinya, kemarin, Senin (15/1), Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor industri pengolahan atau manufaktur hanya US$186,98 miliar, turun 9,26% dibandingkan dengan 2022 yang senilai US$206,07 miliar. Ekspor sektor usaha yang berkorelasi erat dengan manufaktur pun menyusut, di antaranya pertambangan, pertanian, kehutanan, dan perikanan.Tak pelak, ekspansi pelaku industri pun terus menyusut sebagai efek dari kinerja penjualan yang kurang menggembirakan sepanjang tahun lalu.Alarm waspada ekspansi usaha juga tecermin dari menyusutnya pendanaan baik melalui utang luar negeri (ULN) maupun di dalam negeri.Bank Indonesia (BI) mencatat, posisi ULN swasta pada November 2023 senilai US$196,2 miliar, terkontraksi 3,2% (year-on-year/YoY), lebih dalam dibandingkan dengan kontraksi pada bulan sebelumnya sebesar 2,3% (YoY).Kontraksi pertumbuhan ULN itu bersumber dari lembaga keuangan dan perusahaan bukan lembaga keuangan yang masing-masing 6,1% dan 2,5%. Dalam Survei Permintaan dan Penawaran Pembiayaan Perbankan yang dirilis BI, pada November 2023 terjadi penyusutan kebutuhan pembiayaan korporasi. Hal itu tecermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) pembiayaan korporasi yang turun yakni dari 15,7% menjadi 14,9% pada November 2023. Pembiayaan industri pengolahan pun merosot dari 3,1% menjadi 1,8%.Sayangnya, dua faktor yang melandasi hal itu adalah penurunan kegiatan operasional karena lemahnya permintaan domestik dan pasar ekspor. Kalangan pelaku industri pun berharap pemerintah memberikan stimulan tambahan agar mampu memacu produktivitas manufaktur nasional.
Pelaksana Tugas Harian Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Yukki Nugrahawan, mendorong pemerintah untuk menstimulasi kebijakan dan fasilitas ekspor pada negara-negara yang memiliki perjanjian perdagangan bebas serta membuka pasar nontradisional baru.Tak hanya kemudahan prosedur ekspor untuk menggenjot kinerja, pemerintah juga perlu mendorong peningkatan program pemberdayaan produk ekspor, serta pembukaan akses pembiayaan agar sektor manufaktur lebih menggeliat.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani, mengatakan turunnya ekspor manufaktur lantaran pertumbuhan ekonomi negara tujuan utama yang melemah, seperti China, Uni Eropa, dan Amerika Serikat (AS).
Sementara itu, langkah pemerintah sejauh ini lebih tertarik untuk meningkatkan kinerja ekspor manufaktur dengan penghiliran, alih-alih perbaikan ekosistem industri yang berorientasi ekspor. "Sehingga peningkatan kinerja ekspor manufaktur kita juga lebih sulit dan perlu waktu lebih panjang," katanya.Menurut Shinta, selain penghiliran, pemerintah juga perlu menciptakan ekosistem industri manufaktur yang berorientasi ekspor.Sementara itu, Asisten Gubernur Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono mengatakan, perubahan posisi ULN dipengaruhi oleh berbagai hal. Di antaranya adalah faktor pelemahan mata uang dolar AS terhadap mayoritas mata uang global termasuk rupiah.
Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet, mengatakan insentif tambahan amat mendesak lantaran ekspektasi perlambatan global berlangsung cukup lama.Menurutnya, ada tiga langkah yang perlu dilakukan pemerintah yakni memberikan insentif pajak untuk sektor tertentu, reformasi struktural, peningkatan kualitas infrastruktur, serta dukungan pembiayaan.
Direktur Center of Economic and Law Studies Bhima Yudhistira, menambahkan pemerintah mengoptimalkan restrukturisasi kredit dan menyediakan perpanjangan untuk industri pengolahan.
Memacu Ekspor Manufaktur
Industri manufaktur di dalam negeri menghadapi tekanan yang tak ringan. Sejumlah sektor penopang ekspor seperti industri pengolahan, pertambangan, pertanian dan perkebunan mencatatkan kinerja yang turun secara tahunan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekspor manufaktur pada 2023 tercatat senilai US$186,98 miliar atau turun 9,26% dari 2022 yang sebesar US$206 miliar. Padahal industri manufaktur selama ini konsisten menjadi kontributor terbesar dalam capaian nilai ekspor nasional. Bahkan, laporan safeguardglobal.com menyebutkan Indonesia masuk 10 besar penyumbang produk manufaktur dunia, yang sekaligus satu-satunya negara Asean dalam daftar tersebut. Berdasarkan publikasi itu, Indonesia berkontribusi sebesar 1,4% kepada produk manufaktur global. Posisi 10 besar ini merupakan kenaikan yang berarti, karena pada 4 tahun yang lalu, Indonesia masih berada di posisi 16. Tentu saja posisi yang baik tersebut rentan tergerus mengingat tekanan besar di industri manufaktur Indonesia juga diperkirakan berlanjut pada 2024 ini. Ekspansi para pelaku bisnis industri manufaktur pada tahun ini berpotensi tidak segemilang tahun sebelumnya. Hal itu tecermin dari penurunan utang luar negeri korporasi yang menjadi sinyal tertahannya ekspansi manufaktur.
Selain itu, gebyar tahun politik yang berlangsung di dalam negeri dan daya beli masyarakat yang lesu termasuk melemahnya harga komoditas unggulan ekspor asal Tanah Air, turut memicu pelemahan ekspansi tersebut. Faktor geopolitik internasional juga menahan geliat industri manufaktur. Kalangan pengusaha telah waswas sejak permintaan global untuk produk asal Indonesia yang menurun pada 2023. Ketidakpastian ekonomi global memang memiliki dampak besar. Selain itu, produk unggulan ekspor seperti komoditas mineral seperti batu bara hingga minyak sawit mentah mengalami penurunan nilai pada perdagangan global. Kondisi ini kontras bila dibandingkan dengan 2022. Tentu pemerintah tidak bisa tinggal diam. Kerja keras dan langkah inovatif sangat dibutuhkan untuk menggairahkan kembali industri manufaktur sebagai salah satu primadona penggerak ekonomi nasional ini. Selain itu, upaya peningkatan nilai tambah dan daya saing industri dilaksanakan melalui program sertifikasi tingkat komponen dalam negeri, dan melanjutkan penghiliran sumber daya alam di industri berbasis agro, industri berbasis bahan tambang dan mineral, serta industri berbasis migas dan batu bara. Namun, semua itu membutuhkan keterlibatan pelaku usaha pula. Bagi para pebisnis, memacu ekspor nonmigas sesuai target 2,5%—4,5% di 2024 tetap memerlukan intervensi, stimulus dan bantuan.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









