Ekonomi
( 40827 )Pasar Ponsel Global Rebound, Samsung Rebut Posisi Apple
Para Pengembang Properti Kumpulkan Pendapatan Rp 97,46 Triliun
Segmen Perumahan Menjadi Otot Penjualan Gapuraorima
Ekspor Hasil Kehutanan Tembus USD 3,5 Mikiar
Apa Penyebab Macet Mudik Lebaran 2024
Antrean Panjang Pelabuhan Penyeberangan
Tafsir Keliru Hak Menguasai oleh Negara
Donasikan Bukumu Sekarang
Rendahnya literasi masyarakat Indonesia bukan cuma karena
minat baca, melainkan ketersediaan buku yang tidak merata. Karenanya, sejumlah
orang memilih bergerak mendonasikan buku untuk mendekatkan akses bacaan ke
masyarakat. Jarum jam belum menunjukkan pukul 09.00 saat Hardoni (33) tiba di
Halte Transjakarta Kota, Jakarta, Sabtu (13/4). Langkahnya terhenti saat melewati
lemari berbentuk trapesium di samping Taman Fatahillah. Ia sebuah buku dengan sampul
berwarna merah dari tasnya, lalu meletakkannya di rak paling bawah. Lemari buku
setinggi 1,7 meter itu dikelola Bookhive, perpustakaan bersama yang berada di
sejumlah ruang publik.
Warga tak hanya bisa membaca dan meminjam buku, tetapi juga
berdonasi buku dengan menitipkannya di lemari tersebut. Hardoni sudah familiar
dengan gerakan literasi yang digagas pada 2021 itu. ”Saya pernah lihat dan baca
di Taman Suropati dan beberapa stasiun MRT. Namun, baru pertama kali ini ikut
berdonasi buku. Semoga buku ini dibaca dan bisa bermanfaat,” ujarnya. Karyawan bank
swasta di Jaksel tersebut menyumbangkan buku berjudul Kebohongan di Dunia Maya:
Memahami Teori dan Praktik-praktiknya di Indonesia, yang sudah selesai ia baca.
Hardoni mengaku resah setiap membaca atau mendengar berita tentang rendahnya
tingkat literasi masyarakat Indonesia.
Menurut dia, ketersediaan buku yang minim menjadi salah satu
pemicu. ”Dengan berbagi buku, akan semakin banyak orang yang terliterasi. Saya
tidak punya uang untuk membeli buku-buku baru. Jadi, saya menyumbangkan buku
yang sudah habis dibaca,” tutur Hardoni. Skor membaca untuk Indonesia, menurut
Program Penilaian Pelajar Internasional atau Programme for International
Student Assessment (PISA) pada 2022, turun 12 poin menjadi 359 dibandingkan
tahun 2018 dengan skor 371. Selain itu, berdasarkan hasil Asesmen Nasional
tahun 2021, satu dari dua peserta didik jenjang SD sampai SMA juga belum
mencapai kompetensi minimum literasi. Akses warga terhadap sumber bacaan juga
minim. Standar UNESCO menyebutkan, setiap orang minimal membaca tiga buku
setiap tahun.
Namun, di Indonesia, rasio koleksi perpustakaan daerah dengan
jumlah penduduk sebesar 1:90. Artinya, satu buku ditunggu oleh 90 orang. Selain
itu, minat baca masyarakat Indonesia juga hanya 0,001 %. Berarti, cuma 1 dari
1.000 orang yang rajin membaca. Di tengah pesimisme akibat rendahnya literasi
warga, gerakan membaca terus dihidupkan. Tak cuma di taman kota, gerakan
berbagi buku juga tumbuh di halte Transjakarta dan stasiun MRT. Warga bisa meminjam
dan mendonasikan buku di rak buku yang disediakan. Gerakan ini melibatkan
berbagai pihak, mulai dari komunitas literasi hingga penerbit. Munculnya
gerakan berbagi buku menjadi oase di tengah buruknya tingkat literasi bangsa.
Gerakan ini menunjukkan kepedulian untuk mendekatkan akses bacaan kepada
masyarakat agar lebih merata. (Yoga)
Lebaran di Jakarta, Yuk Nikmati Pesona Pulau Pari
Pulau Pari di Kepulauan Seribu menjadi destinasi wisata
favorit warga Jabodetabek selama libur Lebaran. Pesona keindahan pantai pasir
putih, hutan bakau, hingga biota laut memikat wisatawan untuk datang ke pulau di
utara Jakarta itu. Setelah berlayar dua jam dari Pelabuhan Muara Angke,
Jakarta, wisatawan tiba di Pulau Pari, Minggu (14/4). Panas matahari yang terik
tak menghalangi kegembiraan para turis lokal itu. Pemandu wisata segera menyambut
dan membawa wisatawan ke homestay milik warga setempat, lalu mereka meluncur ke
Pantai Pasir Perawan. Mereka tersihir pesona pantai pasir putih yang bersih
dengan pemandangan bahari dan embusan angin yang menyejukkan. Anak-anak pun
hanyut bermain pasir di tepi pantai itu.
Ahmad Hanafiah (65), wisatawan asal Bogor, Jabar, menikmati
pesona Pulau Pari bersama keluarga besarnya, yakni istri, anak-anak, dan cucu-cucunya.
”Pulau Pari ini cukup bagus dan harganya sangat terjangkau,” kata Ahmad. Liburan
ke Pulau Pari memang sangat bersahabat bagi keluarga besar. Paket perjalanan Rp
350.000 per orang untuk liburan selama dua hari satu malam. Meskipun jumlah mereka
11 orang, harga itu masih bersahabat. Mereka mendapat paket pelesiran mengitari
sejumlah destinasi wisata di Pulau Pari, mulai dari bermain di Pantai Pasir
Perawan, Bukit Matahari, hingga Tanjung Rengge. Mereka juga bisa menikmati pengalaman
selam permukaan (snorkeling) hingga olahraga air seperti banana boat. Harga tersebut
sudah termasuk penginapan di homestay, makan tiga kali sehari, serta barbeku di
pinggir pantai.
Wisata di Pulau Pari, kata Ahmad, sangat memesona, harga
terjangkau, dan dekat dari Jakarta. Meski demikian, dia berharap pengelola
wisata di Pulau Pari meningkatkan kebersihan. Wisatawan yang cukup ramai
menjadi berkah Lebaran bagi warga lokal di Pulau Pari. Hampir semua penginapan milik
warga di pulau seluas 42 hektar itu penuh selama musim libur Lebaran karena sudah
dipesan wisatawan. Harga rata-rata paket trip (wisata) di Kepulauan Seribu Rp
350.000 per orang. Ada juga paket Rp 1 juta per orang. Bedanya, paket yang
lebih murah menggunakan kapal kayu dari Pelabuhan Muara Angke dan yang lebih
mahal menaiki kapal cepat dari Pelabuhan Marina Ancol. ”Harganya sama saja
dengan hari-hari biasa. Kami tidak aji mumpung mentang-menang lagi libur
Lebaran,” kata Reyhan, pengusaha lokal yang menyulap rumahnya menjadi homestay.
(Yoga)
Antisipasi Dampak Rupiah dan Minyak
Perekonomian dalam negeri kembali menghadapi tekanan akibat
terus melemahnya nilai tukar rupiah, menembus Rp 16.000 per USD, dan naiknya
harga minyak mentah. Pelemahan nilai tukar juga dialami mata uang banyak negara
lain, hal ini terkait erat dengan kebijakan suku bunga ditingkat global. Langkah
bank sentral AS, The Fed, mempertahankan suku bunga acuan di level 5,25-5,50 %,
sejalan dengan kondisi ekonominya. Komite Pasar Terbuka Federal menyatakan
pihaknya akan melakukan tiga kali penurunan bunga acuan tahun ini, masing-masing
25 basis poin dalam rangka menekan inflasi ke 2 %. Ketua The Fed tak menutup
kemungkinan bunga acuan akan dipertahankan selama mungkin. Ketidakpastian kapan
The Fed memangkas bunga acuan membuat tekanan pelemahan rupiah belum berakhir
Melemahnya rupiah juga dipicu meningkatnya kebutuhan Dollar
AS, untuk pembayaran dividen maupun impor BBM dan pangan, yang sifatnya
musiman. Dibanding negara Asia lain, pelemahan rupiah relatif terkendali. Kurs
rupiah saat ini juga dinilai sesuai nilai fundamentalnya. Cadangan devisa 140
miliar USD cukup solid, memadai untuk menutup 6,4 bulan impor. Namun, pelemahan
rupiah yang menembus level psikologis baru bisa memicu sentimen negatif yang
dapat kian menekan rupiah. Pelemahan rupiah membuat beban utang dalam dollar AS
pun meningkat. Kurs rupiah juga memengaruhi inflasi dalam negeri melalui barang
yang diimpor sehingga berdampak ke daya beli masyarakat, fiskal, dan
perekonomian secara keseluruhan.
Karena itu, kalangan pengamat mengingatkan pentingnya mengantisipasi
dampak ini. Apalagi, melemahnya rupiah terjadi berbarengan dengan terus naiknya
harga minyak mentah dan masih tingginya harga pangan dunia. Ini pukulan ganda bagi Indonesia sebagai importir neto minyak
dan negara yangmasih sangat tergantung pada energi fosil dan pangan impor. Harga
Brent dan WTI mendekati 100 dollar AS per barel, dan bukan tidak mungkin
kembali menyentuh 120-130 dollar AS per barel jika eskalasi konflik di Timur
Tengah sampai mengganggu jalur logistik penting minyak. Pemerintah menyatakan
harga BBM tak akan naik sampai Juni 2024.
Jika kenaikan harga minyak mentah global berlanjut, bukan tidak
mungkin Indonesia dipaksa melakukan penyesuaian harga BBM dalam negeri, dengan
konsekuensi pembengkakan subsidi energi apabila harga BBM bersubsidi
dipertahankan. Pemerintah kemungkinan harus menambah belanja sosial guna
melindungi kelompok rentan dari imbas kenaikan harga dan menerapkan kebijakan
pengendalian konsumsi BBM. Mengakhiri ketergantungan yang terlalu besar pada
komponen, barang jadi, dan pangan impor, serta mempercepat transisi energi
fosil ke energi baru terbarukan yang potensinya melimpah di dalam negeri akan
memperkuat resiliensi Indonesia menghadapi tekanan serupa di masa mendatang (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









