Ekonomi
( 40465 )PAMERAN PROPERTI : APLN Gencar Pasarkan Tenjo
PT Agung Podomoro Land Tbk. (APLN) terus memasarkan proyek baru Bukit Podomoro Tenjo di Banten dengan menargetkan kinerja prapenjualan atau marketing sales bisa menembus Rp800 miliar sepanjang tahun ini. Chief Marketing Officer Kota Podomoro Tenjo Zaldy Wihardja, menuturkan target tersebut dibidik seiring dengan tren penjualan Bukit Podomoro Tenjo yang terus membaik pascapandemi Covid-19 hingga Pemilu 2024. “Sepanjang 2024 sih target kita sekitar Rp800 miliar,” tuturnya dalam pameran properti APLN di salah satu mal Jakarta Barat, Selasa (23/4).
Perinciannya, tiga produk yang dipasarkan pada pameran yang digelar APLN kali ini yakni tipe Deluxe yang berukuran 6 x 10 m2dan 6 x 15 m2 dengan harga Rp270 jutaan yang dapat dicicil hingga 20 tahun dengan angsuran mulai Rp1,8 juta. Corporate Marketing Director Agung Podomoro Land Agung Wirajaya menambahkan APLN telah menjual hampir 6.000 unit rumah tapak di proyek Kota Podomoro Tenjo. Pencapaian itu merupakan akumulasi penjualan sejak Kota Podomoro Tenjo resmi diluncurkan pada Agustus 2020.
Di samping itu, Agung mengeklaim penjualan Kota Podomoro Tenjo tidak terdampak dengan sentimen pelaksanaan Pemilu 2024 yang rampung dilaksanakan.
Pada tahap pertama, pembangunan Kota Podomoro Tenjo difokuskan pada lahan seluas 150 hektare.
Krisis Geopolitik & Risiko Fiskal
Sebelum Israel melakukan serangan balasan terhadap Iran (19 April), IMF sebenarnya masih memberikan optimisme terhadap outlook ekonomi global selama 2024. Ini terbukti, pada World Economic Outlook (WEO) yang terbit 16 April, IMF menaikkan outlook pertumbuhan ekonomi global di 2024 menjadi 3,2% dari sebelumnya 3,1% (WEO, Januari 2024) dan 2,9% (WEO, Oktober 2023). Perbaikan outlook antara lain didorong oleh outlook ekonomi Amerika Serikat (AS) yang lebih baik, pemulihan ekonomi China dan kinerja ekonomi India yang mengejutkan (surprisingly). Kini, setelah serangan balasan Israel tersebut, memunculkan sejumlah pertanyaan: apakah optimisme tersebut masih valid?. Dampak langsung konflik Iran-Israel terhadap ekonomi Indonesia sebenarnya sangat kecil. Meskipun Iran merupakan salah satu produsen minyak dan gas bumi (migas) terbesar di dunia, impor migas Indonesia dari Iran sangat kecil. Data Bank Indonesia menyebutkan impor migas dari Iran hanya 0,01% dari total impor migas Indonesia pada 2023. Yang perlu diwaspadai adalah dampak tidak langsungnya.
Peningkatan konflik geopolitik di Timur Tengah akan memberikan dampak negatif bagi stabilitas keuangan global melalui transmisi utamanya antara lain, harga energi, gangguan rantai pasokan (supply-chain disruptions), volatilitas pasar keuangan (financial market volatility), dan meningkatnya kembali tekanan terhadap inflasi. Pada akhirnya, berbagai faktor tersebut dapat memengaruhi kalkulasi bank sentral utama dunia, seperti the Federal Reserve, yang sebelumnya berpotensi akan memangkas suku bunga acuan dalam waktu dekat. Tingginya harga minyak yang berlanjut akan memperburuk ekonomi negara-negara importir energi, seperti AS, Eropa, dan China. Dari sisi fiskal, terdapat beberapa kebijakan mitigasi yang perlu dipersiapkan, yaitu mitigasi risiko untuk mengurangi dampak (i) risiko kenaikan harga energi, (ii) risiko nilai tukar, dan (iii) risiko kenaikan harga pangan. Ketiga jenis mitigasi risiko tersebut tidak hanya penting untuk membentengi fiskal tetapi juga untuk menjaga stabilitas inflasi.
Pemerintah, misalnya, perlu menyiapkan kebijakan mitigasi risiko harga energi untuk mengurangi tekanan terhadap beban subsidi dan kompensasi energi. Ini mengingat, analisis sensitivitas pada APBN 2024 menyebutkan bahwa realisasi harga minyak mentah (ICP) yang melebihi asumsi yang ditetapkan APBN justru meningkatkan beban (defisit) fiskal. Analisis sensitivitas pada APBN 2024 menyebutkan setiap kenaikan ICP sebesar US$1 per barel di atas asumsi APBN akan meningkatkan defisit fiskal sebesar Rp6,5 triliun. Situasi ini terjadi karena realisasi lifting migas kita menurun. Di sisi lain, kebutuhan energi (khususnya BBM) masih meningkat. Kenaikan harga minyak meningkatkan biaya pengadaan BBM yang akhirnya meningkatkan beban subsidi dan kompensasi energi. Beban fiskal berupa kenaikan subsidi dan kompensasi energi akan menjadi lebih besar bila pada waktu yang sama nilai tukar rupiah melemah.
Pelemahan nilai tukar Rupiah juga telah menimbulkan implikasi berupa kenaikan bunga utang pemerintah. Selama Januari—Februari 2024, beban bunga utang pemerintah telah mencapai Rp69 triliun, naik dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp50,3 triliun dan Rp41,9 triliun pada 2022. Penerapan strategi hedging, tidak hanya perlu dilakukan pada nilai tukar. Strategi hedging juga perlu dilakukan pada komoditas untuk memastikan stabilitas harga komoditas yang diimpor. Serangkaian kebijakan mitigasi risiko fiskal di atas penting untuk didorong. Berbagai kebijakan di atas memiliki dimensi luas untuk mewujudkan stabilitas keuangan, baik di tingkat mikro dan makro. Mitigasi risiko fiskal tidak hanya menjadi tanggung jawab otoritas fiskal. Dukungan kolektif dari korporasi negara juga penting untuk memperkuat ketahanan fiskal.
Tak Gegabah Soal Pelemahan Rupiah
Rupiah sedang kurang tenaga menghadapi dolar Amerika Serikat. Kendati pada Selasa (23/4), rupiah ditutup menguat 0,10% ke level Rp16.220 per dolar AS di pasar spot, tetapi greenback masih berada di dekat level tertinggi selama 5 bulan, yang dicapai pada awal April lalu. Selain faktor dalam negeri, dinamika global juga turut memicu pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Utamanya dipicu oleh memudarnya ekspektasi investor bahwa Bank Sentral AS, Federal Reserve, bakal menurunkan suku bunga lebih awal. Hal itu membuat aliran dana ke AS pun masih deras. The Fed memang telah mengisyaratkan tak akan memangkas suku bunga acuan dalam waktu dekat. Alasannya, risiko inflasi masih membayangi. Dampak semburan uang ke perekonomian mereka, sebagai respons atas pandemi Covid-19, terhadap inflasi, masih perlu diwaspadai. Apalagi, situasi ekonomi di AS saat ini relatif stabil seiring moncernya sejumlah indikator seperti pertumbuhan ekonomi dan serapan tenaga kerja. Hal itu membuat sejumlah kalangan menilai risiko pelemahan rupiah dan sejumlah mata uang negara lain masih dapat terjadi lagi.
Sejumlah ekonom meramal Bank Indonesia akan mengerek suku bunga acuan guna mengimbangi suku bunga The Fed. Terlebih jika rupiah sampai menyentuh level Rp16.500 per dolar AS dan capital outflow terus terjadi. Kendati demikian, ada baiknya kali ini Bank Indonesia tak buru-buru mengerek suku bunga acuan untuk merespons kondisi tersebut. Selain inflasi yang terkendali, cadangan devisa juga masih mumpuni. Inflasi terkendali di level 3,05% pada Maret 2024, sedangkan cadangan devisa tercatat sebesar US$140,4 miliar, berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Sejumlah ekonom meramal Bank Indonesia akan mengerek suku bunga acuan guna mengimbangi suku bunga The Fed. Terlebih jika rupiah sampai menyentuh level Rp16.500 per dolar AS dan capital outflow terus terjadi. Kendati demikian, ada baiknya kali ini Bank Indonesia tak buru-buru mengerek suku bunga acuan untuk merespons kondisi tersebut. Selain inflasi yang terkendali, cadangan devisa juga masih mumpuni. Inflasi terkendali di level 3,05% pada Maret 2024, sedangkan cadangan devisa tercatat sebesar US$140,4 miliar, berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
DILEMA KEBIJAKAN BUNGA
Bank sentral tampaknya berada pada posisi dilematis yang amat tinggi. Gonjang-ganjing rupiah yang cukup panas dewasa ini, serta kembali meningkatnya ekspektasi inflasi akibat tersengat geopolitik Timur Tengah membuat otoritas moneter kelabakan. Berbagai strategi yang telah dieksekusi oleh Bank Indonesia (BI) sejak tahun lalu sejauh ini terbukti belum efektif menjaga stabilitas rupiah dan inflasi. Buktinya, pada penutupan perdagangan kemarin, Selasa (23/4), mata uang Garuda masih eksis di level Rp16.220 per dolar Amerika Serikat (AS). Kemudian, ekspektasi kenaikan inflasi kembali memuncak, tergambar dalam Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU), inflasi pada tahun ini diperkirakan mencapai 3,26% (year-on-year/YoY), lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi tahun lalu 2,61%. Padahal, bank sentral seolah tak pernah berhenti melakukan aksi intervensi termasuk mengoptimalkan aneka instrumen operasi moneter yang pro market. Beberapa di antaranya yaitu Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Sekuritas Valuta Asing Bank Indonesia (SVBI), Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI), serta penempatan devisa hasil ekspor (DHE) sumber daya alam (SDA) dalam negeri.
Situasi inilah yang kemudian membuka ruang bagi otoritas moneter untuk mulai menaikkan suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) hari ini, Rabu (24/4). Apalagi, pada saat bersamaan Bank Sentral AS Federal Reserve (The Fed) memberikan sinyal kuat untuk menunda relaksasi suku bunga acuan sehingga bakal diikuti oleh bank sentral di negara lain.
Di sisi lain, apabila suku bunga dinaikkan, maka hal itu akan menjadi bumerang karena berisiko membatasi akses modal di tengah tingginya gairah dunia usaha. (Bisnis, 23/4). Konsensus ekonom yang dihimpun Bloomberg pun untuk pertama kalinya sejak tahun lalu mulai terpecah. Dari 41 ekonom, 11 di antaranya memperkirakan bank sentral menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6,25%.
Analis Kebijakan Ekonomi Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Ajib Hamdani, menyampaikan pemerintah harus mempertimbangkan kondisi perekonomian dalam negeri dalam menyusun kebijakan moneter sebagai respons dinamika rupiah dan inflasi terkini. Menurutnya, dunia usaha melihat tingkat suku bunga acuan lebih baik tetap dipertahankan di level 6% untuk menjaga kesehatan ekonomi dalam negeri. Ajib menyebut, ada tiga hal yang menjadi risiko jika BI mengerek naik tingkat suku bunga acuan. Pertama, tingkat suku bunga kredit yang juga akan terkatrol sehingga menjadi beban tambahan bagi pelaku usaha. Kedua, makin berkurangnya likuiditas sehingga akan mengurangi daya beli. Ketiga, adanya potensi kenaikan indeks harga konsumen (IHK) menyusul merangkaknya harga pokok penjualan (HPP).
Kalangan ekonom pun menyadari adanya konsekuensi yang berat terhadap eksistensi bisnis apabila BI menaikkan suku bunga acuan. Akan tetapi, hal ini merupakan langkah terbaik untuk menciptakan stabilitas di tengah gejolak eksternal. Ekonom Bank Danamon Irman Faiz, melihat BI Rate sangat mungkin untuk dikatrol sebesar 25 bps mengingat mata uang Garuda sangat kewalahan menahan hantaman eksternal. Hal itu dipicu oleh tingginya ketidakpastian yang terkait dengan konfl ik di Timur Tengah dan kebijakan The Fed, serta terkurasnya cadangan devisa dalam tiga bulan terakhir.
Chief Economist PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) Banjaran Surya Indrastomo, menilai ruang kenaikan suku bunga memang terbuka, tetapi tidak untuk dieksekusi pada pekan ini.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, mengatakan jika BI Rate dinaikkan maka akan meredakan tekanan eksternal karena terjadi pelebaran positive spread dengan imbal hasil instrumen keuangan negara lainnya, sehingga instrumen keuangan Indonesia cenderung dapat menjadi lebih menarik. Adapun, dampak negatif dari aksi tersebut adalah beban imbal hasil instrumen keuangan domestik yang meningkat dan menjadi beban bagi issuers.
Sentra Produksi Tempe di Cipulir
Utang Bakal Membengkak, Defisit Melebar pada 2025
Pemerintah telah menetapkan sasaran kebijakan yang akan
dijalankan pemerintahan baru tahun depan. Kebijakan fiskal akan mengarah pada
defisit APBN yang melebar. Selain itu, rasio utang negara juga membengkak.
Kondisi itu dipandang dapat meningkatkan risiko fiskal di tengah iklim ekonomi
global yang serba tidak pasti. Gambaran arah kebijakan pembangunan itu tertuang
dalam dokumen Rancangan Awal Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2025 yang disusun
Bappenas dengan tema ”Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif dan
Berkelanjutan”. Dalam rincian sasaran fiskal tahun 2025, pemerintah menetapkan
target defisit sebesar 2,45-2,80 persen terhadap PDB, mendekati batas aman
defisit fiskal sebesar 3 % terhadap PDB yang diamanatkan UU Keuangan Ne gara.
Rentang defisit itu juga melebar dari target di PBN 2024 sebesar 2,29 % terhadap
PDB.
Selain defisit yang melebar, rasio utang pemerintah juga membengkak.
Dokumen RKP mencatat, target stok utang atau rasio utang pemerintah adalah
39,77-40,14 % terhadap PDB, naik dari target rasio utang 2024 yang sebesar
38,26 %, bahkan mendekati level rasio utang saat pandemi Covid-19 (39,4 % pada
2020 dan 40,7 % pada 2021). Target belanja RKP 2025 juga meningkat dari 14,56 %
terhadap PDB (pada APBN 2024) menjadi 16,15-17,80 % terhadap PDB. Target
belanja itu terdiri dari belanja pemerintah pusat 11,96-13,35 % terhadap PDB
dan transfer ke daerah sebesar 4,19-4,45 % terhadap PDB. RKP dan RAPBN 2025
disusun oleh pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin, tetapi dijalankan oleh
pemerintahan baru yang mulai menjabat Oktober 2024. Sesuai hasil hitung riil,
pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka mendapat suara terbanyak di Pilpres
2024. (Yoga)
Siap-siap Ekonomi Biaya Tinggi di 2024
Di tengah pelemahan rupiah yang cenderung berlanjut, BI dalam
tekanan untuk menaikkan suku bunga acuan. Namun, pilihan menaikkan suku bunga dari
posisi 6 % sejak Oktober 2023 akan mengerem pertumbuhan ekonomi. Rapat Dewan
Gubernur BI digelar Rabu (24/4) dan Kamis (25/4). Pertemuan reguler ini kembali
membahas tentang kebijakan moneter yang akan diambil BI untuk merespons situasi
perekonomian global dan domestik yang makin tidak pasti. Pada 19-20 Maret 2024,
Rapat Dewan Gubernur BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan
sebesar 6 %, suku bunga deposit facility 5,25 %, dan suku bunga lending facility
sebesar 6,75 %. Sinyal The Fed yang akan menunda penurunan suku bunga acuan di AS
dari rencana awal mendorong penguatan USD terhadap mata uang lainnya, termasuk
rupiah. Selama enam hari perdagangan berturut-turut, rupiah berfluktuasi di
atas Rp 16.000 per USD.
Merujuk data Jakarta Interbank Spot Dollar (Jisdor) pada
penutupan pasar, Selasa (23/4) rupiah kembali ditutup melemah di level Rp
16.244 per USD, terdepresiasi 20 basis poin dibandingkan penutupan sehari sebelumnya.
Mengutip CNBC, Wells Fargo Securities memperkirakan nilai tukar rupiah menuju
Rp 16.500 per USD seiring penundaan penurunan suku bunga oleh The Fed. Ahli
strategi Brown Brothers Harriman & Co bahkan memproyeksikan nilai tukar
rupiah akan mencapai Rp 17.000 per USD pada September 2024. Ada pula faktor
internal yang memperlemah rupiah, yakni peningkatan permintaan valuta asing secara
musiman setiap triwulan II, untuk pembayaran pokok utang, dividen, dan kupon ke
nonresiden.
Penguatan USD sekaligus pelemahan rupiah, berikut komplikasi
perekonomian global, akan langsung berdampak pada perekonomian nasional. Berawal
dari transmisinya pada sektor keuangan, persoalan ini akan meningkatkan beban
biaya ekonomi nasional. Biaya produksi sektor riil akan membengkak, terutama usaha
yang mengimpor bahan baku dan bahan penolong. Situasi makin pelik jika utang
untuk produksi dalam USD, tetapi penjualan barang untuk pasar domestik. Presdir
CIMB Niaga Finance (CNAF) Ristiawan Suherman berpendapat, kenaikan suku bunga
untuk menahan nilai tukar rupiah dapat berdampak pada kenaikan beban pendanaan
(cost of fund). Hal ini akan turut menyebabkan daya beli masyarakat menurun. (Yoga)
Reevaluasi dan Reaktualisasi ”Food Estate”
Optimisme Prabowo Subianto sebagai calon presiden peraih
suara terbanyak pada Pilpres 2024 tentang pencapaian swasembada pangan dalam
2-3 tahun melalui food estate, seperti diberitakan The Jakarta Post (4/3)
menandakan keberlanjutan proyek food estate jika ia resmi menjadi Presiden RI
2004-2029. Untuk menjaga kelangsungan program ini, diperlukan reevaluasi dan reaktualisasi
mendasar. Pengembangan food estate di Kalteng oleh Pemerintahan Presiden Jokowi
dilakukan sejak pertengahan 2020, dengan luas total 30.000 hektar pada awalnya,
dan direncanakan terus diperluas hingga 70.000 hektar pada 2024. Namun,
kesuksesan proyek ini terhambat karena masalah mendasar, yakni kegagalan
adaptasi varietas tanaman pangan terhadap kondisi lahan rawa dan asam, jenis
lahan yang mendominasi food estate di Kalimantan (Fahmid dkk, 2022; Marwanto, 2021).
Bukti empiris lapangan yang penting dipertimbangkan dalam
reaktualisasi food estate adalah fakta kontribusi swamp land (lahan rawan) terhadap
produksi padi Indonesia kurang dari 2 % (Hasbianto dkk, 2021). Lahan rawa dan
gambut butuh tata kelola air untuk menghindari banjir, khususnya di Kalteng
(Muhardiono, 2021), dan pengelolaan lahan asam. Ketika ini tidak bisa
diperbaiki, aktivitas usaha tani di lahan-lahan rawa, gambut, dan asam sesungguhnya
akan bertemu dengan kegagalan. Investigasi lapangan yang dilakukan peneliti
independen dan LSM menunjukkan kesalahan masa lalu (proyek lahan gambut sejuta
hektar era Orde baru) kembali terulang. Misalnya, di food estate Tewai Baru, di
Kabupaten Gunung Mas, Kalteng, perkebunan singkong membuahkan hasil panen di
bawah standar sehingga pemerintah meninggalkan lokasi tersebut.
Artinya, pengembangan singkong di lokasi itu tidak
berdasarkan kajian ilmiah memadai. Temuan lain bahwa pembukaan lahan hutan
untuk proyek food estate telah memperburuk masalah banjir dan erosi tanah, serta
memaksa perubahan praktik pertanian lokal. Ini menciptakan dampak lingkungan
yang negatif dan menghambat keberlanjutan proyek tersebut (Asia Pacific
Foundation of Canada, 26 April 2023). Hasil pantauan Walhi dan BBC Indonesia
menemukan, ada masalah terhadap 3.964 hektar (ha) lahan food estate, yakni
kehilangan tutupan pohon tanpa menghasilkan singkong. Untuk memperbaiki implementasi
food estate, langkah-langkah konkret harus diambil. Pertama, perencanaan dan
seleksi lokasi harus didasarkan pada data dan kajian ilmiah yang valid serta
memperhitungkan keberlanjutan ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan.
Kedua, penting untuk memprioritaskan tanaman yang sesuai
kondisi lahan untuk lahan rawa dan gambut, berbasis realitas ilmiah di alam
bebas bukan hanya realitas petak percobaan. Ketiga, penelitian Mc Carthy dan
Obidzinski (2017) terkait implementasi food estate di Kalimantan memberikan
masukan baik untuk di- pertimbangkan bahwa pendekatan food estate skala besar
cenderung gagal dan tidak berkelanjutan secara ekonomi, sosial, maupun lingkungan
ketika diterapkan di lahan-lahan marjinal Kalimantan. Intensifikasi berbasis petani
kecil lebih sesuai untuk konteks Kalimantan dan lebih mendukung ketahanan pangan
masyarakat setempat meskipun kontribusinya terbatas terhadap produksi pangan
nasional. (Yoga)
Di Balik Surplus Perdagangan
Neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2024 kembali surplus selama
47 bulan beruntun. Jika melihat kata surplus belaka, ekspor-impor baik-baik saja.
Padahal, ada sejumlah hal yang mesti diperhatikan dalam kinerja ekspor-impor. Apalagi,
dalam pertumbuhan PDB 5,05 % pada 2023, ekspor bersih atau ekspor dikurangi
impor menyumbang 0,66 %. Tahun lalu, ekspor tumbuh 1,32 % secara tahunan, sedangkan
impor tumbuh minus 1,65 %. Nilai ekspor pada Maret 2024 lebih rendah
dibandingkan dengan Maret 2023. Nilai impor pada Maret 2024 juga lebih rendah
daripada Maret 2023. Adapun surplus secara triwulanan, yakni Januari-Maret
2024, lebih rendah ketimbang Januari-Maret 2023. Hal ini terjadi karena ekspor
turun hingga nyaris 5 miliar USD. Sebaliknya, nilai impor pada periode itu
cenderung tetap.
Indonesia, yang bergantung pada komoditas, menanggung dampak
penurunan harga komoditas terhadap kinerja ekspor. Perekonomian China yang
belum pulih turut berperan dalam penurunan ekspor Indonesia. Permintaan rendah membuat
ekspor nonmigas Indonesia ke China merosot. Padahal, pada Maret 2024, ekspor
Indonesia ke China 22,44 % total ekspor nonmigas. Porsi ini merupakan yang
terbesar dibandingkan dengan ekspor ke negara lain. Pada Januari-Maret 2024,
mayoritas impor Indonesia berupa bahan baku atau penolong yang mencapai 72,81 %.
Sementara barang modal 17,2 % dan barang konsumsi 9,99 persen. Impor bahan baku
atau penolong pada triwulan I-2024 anjlok 21,72 % secara tahunan, sedang impor
barang modal turun 12,63 % secara tahunan.
Hal ini mengindikasikan ada persoalan dalam proses produksi di
Indonesia. Sebab, bahan baku atau penolong dan barang yang dipertimbangkan
dalam menjaga nilaitukar, antara lain keseimbangan terhadap ekspor dan impor.
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap USD akan menguntungkan eksportir, tetapi
membuat pening importir. Situasi lebih rumit akan dihadapi produsen yang
mengimpor bahan baku dan barang modal, tetapi memasarkan produknya di dalam
negeri dengan harga rupiah. Keseimbangan nilai tukar kian penting bagi
Indonesia yang mengekspor migas 3,899 miliar USD, tetapi mengimpor hingga 9
miliar USD pada Januari-Maret 2024. (Yoga)
Tanggung Jawab Produsen Plastik
Kompas.id memberitakan, bersamaan dengan Hari Bumi, 22 April
2024, Pemerintah Hong Kong,China, memberi waktu enam bulan bagi rakyatnya,
terutama rumah-rumah makan, untuk beradaptasi dan mengubah kemasan mereka
menjadi kemasan ramah lingkungan. Penerapan larangan ini menyusul pengesahan
undang-undang pada Oktober 2023. Hong Kong, wilayah di selatan China yang padat
dengan 7,4 juta penduduk, tidak memiliki sarana dan prasarana cukup untuk
mengelola sampah. Setiap tahun, Hong Kong memproduksi 4 juta ton sampah, dan plastik
menempati urutan kedua terbanyak. Kita tentu mendukung kebijakan wilayah administrative
khusus China ini untuk mengurangi plastik yang kian tak terkendali. Berbagai
penelitian sudah membuktikan dampak polusi plastik terhadap lingkungan.
Mikroplastik bahkan sudah mencemari air minum dalam kemasan.
Berdasarkan data tahun 2022 dari Statista, China tercatat
sebagai produsen terbesar plastik, yaitu 32 %, Amerika Utara 17 % dan Uni Eropa
14 %. Sejumlah negara sudah berkomitmen mengurangi penggunaan plastik dan
produksinya. Di Indonesia, undang-undang pengelolaan sampah dan peraturan
daerah sudah dibuat untuk membatasi penggunaan plastik. Reuters memberitakan,
para pemimpin global berkumpul di ibu kota Kanada, Ottawa, minggu ini, untuk
membahas kemajuan penyusunan perjanjian global pertama untuk mengendalikan
melonjaknya polusi plastik. Kebanyakan plastik murni berasal dari minyak bumi.
Banyak negara penghasil petrokimia dan plastik, seperti Arab Saudi, Iran, dan
China, menentang pembatasan produksi plastik. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









