;
Kategori

Ekonomi

( 40554 )

Kementerian Perumahan Butuh Lembaga Penyeimbang

09 Sep 2024

Pendirian Kementerian Perumahan mendapat dukungan dari berbagai kalangan pengembang, yang berharap lembaga ini dapat mengatasi backlog perumahan dan mempercepat penyediaan 3 juta unit rumah per tahun. Daniel Djumali, Sekjen Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi), menyatakan perlunya Kementerian Perumahan yang fokus pada penyediaan rumah, serta pembentukan Badan Percepatan Pembangunan Perumahan (BP3) untuk mengatasi masalah pendanaan.

Sementara itu, Rusmin Lawin, Wakil Ketua Umum Real Estate Indonesia (REI), mendukung pendirian Kementerian Perumahan dan Perkotaan untuk menyinergikan pembangunan perumahan antara wilayah perkotaan dan perdesaan. Ari Tri Priyono, Ketua Umum Himpunan Pengembang Permukiman dan Perumahan Rakyat (Himperra), menekankan bahwa pemisahan Kementerian Perumahan dari Kementerian PUPR diharapkan dapat menyelesaikan isu-isu perumahan yang selama ini kurang mendapat perhatian. Ari juga mengusulkan agar program perumahan di perkotaan lebih diprioritaskan, termasuk dengan kerjasama pemerintah dan bank tanah untuk penyediaan lahan, serta menjamin dana murah dengan suku bunga terjangkau sebagai stimulus.


Industri Keramik Mendesak Regulasi Anti-Dumping

09 Sep 2024

Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki), Edy Suyanto, mendesak agar Peraturan Menteri Keuangan (PMK) terkait Bea Masuk Anti-Dumping (BMAD) untuk keramik homogenous tiles asal China segera diterbitkan. Hal ini dikarenakan impor ubin keramik asal China yang diduga melakukan dumping telah menurunkan kinerja industri keramik nasional, dengan tingkat utilisasi yang hanya mencapai 62% pada semester I 2024, lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Edy menekankan bahwa lambatnya penerbitan PMK BMAD memberikan peluang bagi importir untuk memperbesar volume impor sebelum BMAD diberlakukan, sehingga kebijakan tersebut bisa menjadi kurang efektif. Jika BMAD segera diterbitkan, Asaki optimistis bahwa tingkat utilisasi industri keramik nasional dapat meningkat menjadi 65%—67% pada tahun ini dan terus membaik hingga 80% pada 2025.

Bandara Komodo: Korea Selatan Siap Gantikan Singapura

09 Sep 2024

Investor asal Korea Selatan melalui Incheon International Airport Corporation (IIAC) tertarik mengembangkan Bandara Komodo di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, setelah Konsorsium PT Cardig Aero Service Tbk. dan Changi Airport International gagal menjadi operator bandara tersebut. Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, menegaskan bahwa pihaknya serius mencari investor luar negeri untuk pengembangan terminal internasional Bandara Komodo, mengingat keterbatasan anggaran pemerintah. Budi Karya menyatakan, “Kami menggandeng swasta, tapi nanti akan datang investor luar untuk mengembangkan Bandara Komodo.”

Kepala Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Komodo, Ceppy Triono, juga menyebutkan bahwa saat ini pihaknya masih menunggu kebijakan lebih lanjut dari Kementerian Perhubungan terkait minat dari Korea Selatan.

Grup MAP: Asa Pemulihan Kinerja Emiten Peritel

09 Sep 2024

PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) atau Grup MAP menargetkan pertumbuhan pendapatan hingga 20% pada 2024, yang berpotensi mendorong kinerja sahamnya. Meskipun laba bersih MAPI turun 11,4% secara tahunan pada semester pertama 2024, perusahaan mencatat peningkatan pendapatan bersih sebesar 15,38% dari Rp15,59 triliun menjadi Rp17,99 triliun. Analis Bahana Sekuritas, Christine Natasya, menilai panduan pertumbuhan MAPI pada 2024 yang mencapai 18-20% menunjukkan potensi kinerja yang melampaui ekspektasi analis.

Analis lain, Christofer Kojongian dari Sucor Sekuritas, melihat harapan perbaikan kinerja MAPI pada akhir 2024, didorong oleh efisiensi biaya dan perluasan jaringan yang lebih terkendali. Wakil Presiden Direktur MAPI, Virendra Prakash Sharma, menegaskan bahwa perusahaan akan fokus pada empat strategi utama untuk mencapai target tersebut, yaitu peningkatan belanja konsumen, akselerasi penjualan merek regional, transformasi digital, dan akuisisi atau kemitraan strategis. Sharma mengatakan, “Ketika melihat pipeline merek baru dan toko yang kami buka di Indonesia dan pasar negara lain, kami percaya bisa mencapai pertumbuhan top line 20%.” Grup MAP juga mengalokasikan belanja modal sebesar Rp2 triliun untuk mendukung pertumbuhan, termasuk penambahan gerai baru.

Daya Beli Lemah: Ancaman Sosial di Depan Mata

09 Sep 2024

Sinyal meredupnya perekonomian nasional semakin nyata. Saat daya beli masyarakat kelas menengah terus melemah dan angka pemutusan hubungan kerja (PHK) menanjak, pemerintah harus segera mengucurkan insentif, termasuk pajak. Jika pelemahan daya beli tak cepat diperbaiki, bukan hanya menekan ekonomi, tapi bisa merembet ke dampak sosial. Data terbaru Mandiri Spending Index (MPI) memperlihatkan, masyarakat kelas menengah menahan belanja kebutuhan barang tahan lama, seperti fesyen. Mereka memilih irit dan menjaga tabungan sekaligus mendahulukan kebutuhan primer. Hal ini mengindikasikan daya beli kelas menengah sedang tertahan. Data itu diperkuat angka pendapatan riil atau disposable income masyarakat yang tak kunjung membaik. Dalam 10 tahun terakhir, porsi disposable income terhadap produk domestik bruto (PDB) per kapita Indonesia bergerak menurun. Pada 2014, angkanya di level 76,6% dan pada 2023 menyusut menjadi 72,7%. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN) atau Bappenas menyebut, sepanjang 2010 hingga 2023, porsi pendapatan individu yang dikeluarkan untuk konsumsi menurun. Ini bisa saja karena ada penurunan pendapatan riil masyarakat yang memang dipengaruhi kenaikan kebutuhan hidup.   

"Penurunan pendapatan riil ini menjadi salah satu tantangan pembangunan yang menjadi pertimbangan bagi kami untuk menyusun rencana kerja," terang Deputi Bidang Pendanaan Pembangunan Kementerian PPN atau Bappenas Scenaider C.H. Siahaan di hadapan Komite IV DPD RI, belum lama ini. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Mohammad Faisal menilai, masyarakat kelas menengah yang semula lebih sejahtera kini masuk kategori rentan miskin. Hal itu lantaran pendapatan mereka tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. "Jika itu dibiarkan terus-menerus, bisa mengarah kepada tingkat kriminalitas jika terjebak utang, terutama yang tak mampu membayar," kata dia, kemarin. Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin bilang, warga kelas menengah melek dan aktif secara politik. Mereka mendominasi media sosial. Jika situasi ini tak diperbaiki dan dikelola dengan baik, bisa memantik dinamika yang berujung pada krisis politik.

Kelas Menengah Masih Menahan Belanja

09 Sep 2024

Konsumsi rumah tangga pada kuartal ketiga tahun ini diprediksi masih akan tumbuh, meski belum stabil. Data terbaru memperlihatkan, konsumsi rumah tangga cenderung stagnan. Hal tersebut lantaran tak ada momentum yang bisa mengerek konsumsi selama periode Juli hingga September tahun ini. Data Mandiri Spending Index (MSI) memperlihatkan, indeks nilai belanja pada 25 Agustus tercatat sebesar 208,2. Indeks nilai belanja tersebut hanya naik tipis dibandingkan posisi Juli 2024 sebesar 205,8. Pada Agustus tahun ini, MSI tumbuh 45,5% year on year (yoy), lebih tinggi dibanding pertumbuhan pada bulan Juli yang sebesar 40,5% yoy. Tipisnya kenaikan nilai belanja pada Agustus seirama dengan penurunan optimisme masyarakat kelas bawah. Sementara warga kelas menengah dan kelas atas cenderung lebih stabil. Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro melihat, belanja masyarakat secara umum pada Agustus tahun ini stagnan, meski ada perbaikan dibandingkan bulan sebelumnya. Terlebih, belanja masyarakat di Jawa lebih lambat dibandingkan pulau lain, yang sejalan dengan penurunan kinerja manufaktur hingga maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK). Padahal, "Faktanya Jawa menyumbang porsi terbesar belanja dan penduduk nasional," kata dia kepada KONTAN, Minggu (8/9). 

Meski begitu, tren belanja yang lebih sekunder pada kelompok masyarakat ini, yang meliputi gaya hidup hiburan, hobi, olahraga dan handphone juga mengalami peningkatan. "Ada tren baru di kelas menengah, mereka mengimbangi antara pemenuhan kebutuhan dasar yang memang semakin dominan, namun tetap mempertahankan belanja yang terkait gaya hidup," tambah Andry. Secara umum, Andry masih mengharapkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada kuartal ketiga tahun ini bisa lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya. Pada kuartal kedua, konsumsi rumah tangga hanya tercatat sebesar 4,93% yoy. Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegaramemproyeksikan konsumsi rumah tangga pada kuartal ketiga tahun ini masih tumbuh di rentang 4,95% hingga 5% yoy. Namun dia melihat adanya tekanan konsumsi masyarakat di Pulau Jawa karena berkaitan dengan kontraksi sektor manufaktur. Di sisi lain, konsumsi masyarakat di luar Jawa perlu diperhatikan efek dari rebound harga komoditas yang berlangsung lebih lama dari perkiraan.

Bali Raup Rp 211,8 Miliar dari Pajak Turis Asing

09 Sep 2024

Pemerintah Provinsi Bali telah menerapkan pungutan pajak sebesar Rp 150.000 bagi wisatawan asing atau turis asing yang berlibur ke Bali sejak 14 Februari 2024. Hal ini diatur Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2023 tentang Pungutan bagi Wisatawan Asing untuk Pelindungan Kebudayaan dan Lingkungan Alam Bali. Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Bali, Tjokorda Bagus Pemayun menyampaikan bahwa hingga saat ini dana yang terkumpul dari pungutan wisatawan asing tersebut baru mencapai Rp 211,8 miliar. Menurut dia, jumlah tersebut masih belum optimal lantaran dari total jumlah turis asing yang berwisata ke Bali, baru 40% yang membayar kewajiban sebagaimana diamanatkan oleh Perda Bali Nomor 6/2023. "Sebanyak 80% hingga 90% pembayaran dilakukan sebelum mereka berangkat ke Bali. Ini artinya sosialisasi kita sebenarnya sudah cukup berhasil," ujar Tjok Bagus dalam keterangan resminya, Jumat (5/9). Ia menambahkan, belum optimalnya realisasi pungutan turis asing tersebut karena tidak adanya alat auto scanner gate di area bandara.

Berburu Penjualan di Tengah Harga Kinclong

09 Sep 2024

Emiten pertambangan emas memoles prospek bisnisnya melalui ekspansi dan penambahan cadangan. Bersamaan, para emiten ingin mendongkrak penjualan di tengah momentum tren harga komoditas emas yang masih tinggi. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) misalnya, tengah mengejar target penjualan 37 ton emas. Meningkat sekitar 30% dari realisasi tahun lalu. Hingga semester I-2024, ANTM mencetak penjualan produk emas sebesar 16 ton, naik 18% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan volume terjadi ketika harga jual rata-rata di semester pertama menanjak 14% year on year (yoy). "Inisiatif ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi operasional dan modal kerja, serta mengurangi risiko valuta asing," ujar Sekretaris Perusahaan ANTM Syarif Faisal Alkadrie, Jumat (6/9). 

PT United Tractors Tbk (UNTR) tak mau ketinggalan. UNTR membidik penjualan emas sekitar 235.000 ons pada tahun 2024. Sampai dengan Juli 2024, UNTR telah menjual 128.000 ons dari PT Agincourt Resources. Penjualan emas UNTR pada semester II-2024 bakal terdongkrak oleh kontribusi dari PT Sumbawa Jutaraya (SJR) dengan estimasi volume 15.000 ons. Sekretaris Perusahaan UNTR Sara K. Loebis mengatakan, SJR akan mencatatkan penjualan emas pada kuartal ketiga ini. Head of Corporate Communications PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) Tom Malik juga optimistis harga emas yang sudah menembus level US$ 2.500 per troi ons akan membawa dampak positif. 

Saat ini, MDKA sedang ekspansi pada pengembangan proyek emas Pani. Belum lama ini, MDKA telah menambah dana pembiayaan kepada perusahaan pengelola proyek emas Pani, PT Pani Bersama Jaya (PBJ) sampai dengan US$ 135 juta. Sehingga meningkat jadi US$ 260 juta dari sebelumnya US$ 125 juta, untuk pengembangan Fase 1. Research Analyst Stocknow.id Emil Fajrizki mengatakan, posisi harga emas yang masih di level tinggi sekitar US$ 2.400 - US$ 2.500 per troi ons akan memperbaiki margin keuntungan emiten.

Kawasan Industri Menikmati Berkah Investasi

09 Sep 2024

Sejumlah emiten di sektor kawasan industri bersiap menangkap peluang pertumbuhan bisnis di tahun depan. Ini seiring rencana Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) untuk menggenjot realisasi investasi tahun 2025 sebesar Rp 1.905,6 triliun. Direktur dan Sekretaris Perusahaan PT Pura Delta Lestari Tbk (DMAS) Tondy Suwanto bilang, emiten ini akan menangkap potensi tersebut. Menurut Tondy, realisasi investasi yang tinggi, akan berdampak positif bagi sektor kawasan industri. "Akhir tahun 2024 juga ada sentimen penurunan suku bunga Amerika Serikat, The Fed," ujarnya pada KONTAN, Jumat (6/8). 

Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama mengamini, kinerja emiten properti kawasan industri bakal terkena sentimen positif potensi penurunan suku bunga The Fed. Pelonggaran kebijakan moneter ini menciptakan peningkatan likuiditas. Dus, pertumbuhan ekonomi global bisa pulih. Analis Kiwoom Sekuritas Vicky Rosalinda menimpali, upaya peningkatan investasi yang ditargetkan pemerintah bisa menjadi angin segar bagi properti kawasan industri. Vicky mengamati, di semester I-2024, kinerja emiten kawasan industri masih positif dan cenderung tumbuh. Sentimen pendukungnya adalah tingginya permintaan lahan, yang ikut mengerek naik penjualan emiten. 

Dukungan pemerintah terhadap pengembangan kawasan industri, juga menopang penjualan emiten. Meski begitu, ada sentimen negatif yang membayangi emiten kawasan industri. Salah satunya, ketidakpastian geopolitik dan perlambatan ekonomi. Dus, Nafan belum merekomendasi saham emiten kawasan industri.

Bitcoin Berpotensi Rebound Usai Rapat Bank Sentral AS

09 Sep 2024

Harga aset kripto bergerak volatil di tengah ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang semakin kuat. Malah kecenderungannya mengalami koreksi jika melihat pergerakannya pada awal September. Menurut data Coinmarketcap, com pada Minggu (8/9), harga Bitcoin (BTC) turun 5,75% dalam sepekan terakhir ke US$ 54.634,90. Harga Ethereum (ETH) juga turun sebesar 6,55% dalam sepekan ke level US$ 2.305,14. Trader Tokocrypto Fyqieh Fachrur mencermati, secara historis September adalah bulan yang bergejolak bagi Bitcoin dengan rata-rata penurunan harga sebesar 4,78% bahkan hingga 24,6%. "Dengan kemungkinan The Fed melonggarkan kebijakan moneter berdampak positif pada harga aset kripto dan memperkuat minat investor terhadap aset berisiko seperti kripto," kata Fyqieh kepada KONTAN, Jumat (6/9). 

Di sisi lain, pelemahan dolar AS bisa menjadi katalis positif bagi harga kripto. karena investor mencari alternatif yang lebih menguntungkan. Oleh sebab itu pasca rapat The Fed pada 17-18 September, Fyqieh meramal harga kripto akan naik 3%-8% di kisaran US$ 57.433–US$ 60.286. Financial Expert Ajaib Kripto Panji Yudha mengungkapkan, jika tren pelemahan dolar terus berlanjut dan The Fed memberikan sinyal dovish, ada potensi bagi bitcoin untuk kembali naik ke level US$ 60.000 hingga US$ 65.000 dalam waktu dekat menjelang FOMC. Tapi investor mesti tetap waspada terhadap kemungkinan profit taking pasca rapat FOMC The Fed.