;
Kategori

Ekonomi

( 40554 )

Sektor Produktif Dibiayai Seni "Fintech"

10 Sep 2024

Daya beli masyarakat, terutama kelas menengah, sedang menjadi sorotan. Deflasi beruntun empat bulan terakhir, konsumsi rumah tangga yang melemah, dan porsi konsumsi terhadap pendapatan masyarakat yang menyusut memberi sinyal, perekonomian dalam keadaan tidak baik-baik saja. Bagaimana siasat industri pembiayaan alternative alias fintech lending, terutama mereka yang bergerak di bidang produktif, agar tetap bertahan? BPS mencatat, Indeks Harga Konsumen (IHK) Agustus 2024 mengalami deflasi 0,03 % secara bulanan. Deflasi terjadi sejak Mei 2024 sebesar 0,03 %, Juni 2024 sebesar 0,08 % dan Juli 2024 sebesar 0,18 %. Kondisi itu dipicu, dari sisi pasokan (supply) akibat penurunan harga pangan bergejolak atau sebaliknya, dari sisi permintaan (demand), artinya daya beli masyarakat melemah.

Dalam tiga triwulan terakhir, pertumbuhan konsumsi rumah tangga berada di bawah 5 %, lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, rata-rata pendapatan konsumen untuk konsumsi dalam Survei Konsumen BI pada Agustus 2024 memperkuat adanya indikasi pelemahan daya beli masyarakat. Pada Agustus 2024, proporsi konsumsi terhadap pendapatan 73,5 %, turun 0,3 % secara bulanan dan turun 2,1 % secara tahunan, terutama dari kelompok pe ngeluaran Rp 1 juta-Rp 3 juta per bulan alias kelas menengah bawah. Di tengah bayang-bayang pelemahan daya beli masyarakat itu, industri pembiayaan masih mampu menorehkan kinerja yang relatif baik.

Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK, Agusman, industri pembiayaan telah menyiapkan mitigasi menghadapi gejolak ekonomi, termasuk pelemahan daya beli masyarakat. Kondisi tersebut dapat dilihat dari data piutang pembiayaan dan outstanding pembiayaan. ”Tren pertumbuhan pembiayaan yang tetap terjaga memberi sinyal bahwa industri multifinance dan peer to peer lending tetap memiliki kemampuan dalam memitigasi risiko penurunan daya beli masyarakat. Diperkirakan, prospek pembiayaan, baik oleh multifinance maupun peer to peer lending, dapat terus melanjutkan pertumbuhan ke depan,” katanya dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK Agustus 2024, secara daring, Jumat (6/9). (Yoga)


Mulyani Setia Menggeluti Bundengan dan Topeng Lengger

10 Sep 2024

Bagi Mulyani, seni tradisi adalah jalan hidup. Dia setia menggeluti bundengan dan topeng lengger. Jalan yang mesti dia lalui terjal dan berliku. Namun, rasa cinta selalu menguatkannya untuk menjaga kesenian rakyat itu terus berdenyut melintasi zaman. Mulyani menata sejumlah bundengan melingkari ruang kelasnya di SMP Negeri 2 Selomerto, Wonosobo, Jateng, Selasa (3/9). Setelahnya, ia masuk ke bagian tengah salah satu alat musik yang menyerupai cangkang kura-kura besar itu, terdengarlah petikan dawai repetitif yang meneduhkan. ”Begini cara memainkannya. Tidak usah terburu-buru. Dipetik pelan-pelan saja pakai tangan kanan. Coba dirasakan iramanya,” ujar Mulyani kepada murid-muridnya. Mulyani pertama membawa bundengan ke sekolah tempatnya mengajar pada akhir 2015.

Bundengan dipajangnya di dekat gerbang masuk sekolah setiap pagi. Sesekali ia memainkannya sembari menanti bel masuk dibunyikan. Sayangnya, murid-murid hanya berjalan sambil lalu melewatinya. Mulyani tidak kehabisan akal. Sebagai guru seni budaya, dia mengusulkan budengan menjadi subtema mata pelajaran yang diampunya. Usulan itu disetujui kepala sekolah dan dipertahankan hingga kini. ”Kami satu-satunya sekolah yang mengajarkan bundengan di dunia,” ujar Mulyani, yang mengajar sejak 1998. Minat Mulyani mendalami bundengan muncul pertengahan 2015, saat menonton pertunjukan seni dalam rangka hari jadi Kabupaten Wonosobo, yang menampilkan bundengan. Ia takjub menyaksikan rangkaian bebunyian unik keluar dari alat itu.

Lebih menarik lagi baginya, bebunyian itu sering digunakan untuk mengiringi tarian topeng lengger yang ditekuninya selama ini. Langkah awalnya dimulai dengan menemui maestro bundengan, Munir, yang diminta mengajar di sanggar tari yang ia kelola bersama sejumlah rekannya, yakni Ngesti Laras. Sewaktu sanggar dibuka, peminatnya hanya dua orang. Mulyani tetap semangat menularkan virus bundengan. Jangkauan pelatihan kesenian itu diperluas hingga keluar lingkup sanggarnya. Kondisi lapangan yang ditemuinya justru memprihatinkan. Bahkan, anak-anak muda yang tinggal sekampung dengan Munir, sang maestro bundengan, tak mengenali alat musik warisan budaya tersebut.

”Bundengan ini alat musik khas Wonosobo. Kenapa tidak banyak yang bisa memainkannya? Saya tambah termotivasi belajar dan mengenalkannya. Setidaknya biar anak-anak muda ini bisa tahu,” ujar Mulyani. Mulyani nekat mengetuk pintu kantor pemda untuk menanyakan adakah kegiatan yang bisa diisi dengan penampilan bundengan. Sekarang semua terbayar. Pihaknya bekerja sama dengan sebuah hotel untuk menggelar pentas bundengan bulanan. Penampilnya anak-anak didik sanggarnya. Latar belakang Mulyani selaku penari topeng lengger memberi warna tersendiri dalam pelestarian bundengan yang ia masukkan dalam karyanya. Entah sekadar properti tari ataupun musik pengiring. Karyanya seperti, Tari Bundengan (2017), Tari Ginanjar Mulyo (2018), dan Wayang Bundengan (2018). Bersama Mulyani, bundengan juga telah dibawa melawat ke sejumlah negara, seperti Australia, Thailand, dan Jerman. (Yoga)


Jakarta Masih Jadi Jantung Pertumbuhan Pusat Perkonomian dan Investasi

10 Sep 2024
Perpindahan ibu kota negara dari Jakarta ke IKN di Penajam Passer Utara Kalimantan Timur diyakini tidak akan memudarkan pesona Jakarta sebagai pusat pertumbuhan ekonomi Indonesia. Daya tarik Jakarta sebagai pusat ekonomi dan investasi semakin besar ke depan dengan peluang melesatnya sektor-sektor andalan baru, diantaranya infrastruktur, transportasi, properti, pariwisata, pendidikan, dan kesehatan. Peran Jakarta sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dan investasi  nasional semakin kuat dengan lahirnya UU No 2 Tahun 2024 tentang Provinsi daerah Khusus Jakarta (DKJ). UU tersebut mengamanatkan  Jakarta menjadi pusat perekonomian  nasional dan pusat algomerasi. Dikelilingi daerah-daerah penyangga dengan populasi siang hari sebanyak 14 juta dan malam hari 10 juta, merupakan potensi besar untuk investasi. Saat ini, sebanyak 98% pusat korporasi besar juga ada di jakarta. (Yetede)

Pemerintah Meresmikan Merger BUMN Pengelolan Bandara Indonesia atau InJourney Airports

10 Sep 2024

Pemerintah meresmikan merger BUMN pengelolan bandara PT Angkasa Pura (AP) I dan AP II menjadi PT Angkasa Pura Indonesia atau InJourney Airports. Perusahaan hasil merger AP I dan II menjadi operator bandara terbesar kelima dunia. Peresmian tersebut disaksikan oleh Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi, Menteri BUMN Erick Thohir, Wakil Menteri BUMN Kartiko Wirjoatmodjo, Direktur Utama (Dirut) PT Aviasi Pariwisata Indonesia (InJourney) Donny Oskaria, dan Sekretaris Jenderal Kementerian Perhubungan Novie Riyanto.

Erick Thohir mengatakan, integrasi atau penggabungan Angkasa Pura  mengacu pada penggabungan Angkasa Pura pengacu pada pengalaman pemerintah yang menyatukan BUMN Pelindo Meliputi Pelindo I, II, III, dan Pelinco IV tanpa masalah berarti. "Hal ini menjadi hari bersejarah, di mana saya dan Pak Budi Karya punya komitmen memastikan bagaimana Indonesia bisa bersaing di kancah yang lebih besar melalui pengelolaan bandara. Kita punya sejarah menyatukan Pelindo tanpa ada isu seperti  lay off dan lainnya. (Yetede)

Industri Multifinance Mencatatkan Kinerja Positif

10 Sep 2024

Industri multifinance hingga 20 Juli 2024 mencatatkan kinerja yang positif dengan piutang pembiayaan tumbuh 10,53% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 494,10 triliun. Di tegah kondisi ekonomi yang menantang saat ini, perusahaan pembiayaan masih optimistis dapat memacu pertumbuhan kinerja. Pertumbuhan pembiayaan per Juli 2024 sedikit melambat dibandingkan dengan posisi Juni yang meningkat 10,27,72% (yoy), bahkan jauh lebih rendah dari Juli 2023 sebesar 16,22% (yoy).

OJK mencatat, pembiayaan modal kerja menjadi penopang pertumbuhan kinerja industri multifinance per Juli dengan peningkatan sebesar 9,43% (yoy), meskipun lebih lambat dari Juni 2024 yang naik 11,46% (yoy). Meskipun saat ini terjadi perlambatan konsumsi kelas menengah, kinerja PT CIMB Niaga Auto Finance  (CNAF) masih menunjukkan pertumbuhan yang positif. "Dimana pertumbuhan piutang pembayaran sebesar 38,28% (Agustus Rp10,29 triliun) jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 7,44 triliun," kata Presiden Direktur CNAF Ristiawan Suherman. (Yetede)

Turunnya Suku Bunga The Fed Bakal Diikuti Pemotongan Suku Bunga BI

10 Sep 2024

Momentum penurunan suku bunga the Federal Reserve (Fed funds rate/FFR) yang bakal diikuti pemotongan suku bunga BI, sudah didepan mata. Kian dekatnya pemangkasan suku bunga tersebut, akan menjadi sentimen kuat penggerak saham perbankan seiring ekspekstasi membaiknya kinerja perusahaan. Saham bank-bank besar seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) pun dipercaya masih menyimpan potensi gain hingga double digit.

"Dengan estimasi the fed memangkas suku bunga sebesar 25 basispoin (bp) di bulan September (dan 50bp untuk full year 2024/FY24), kami memperkirakan BI mengikuti langkah tersebut dengan penurunan suku bunga sebanyak 50bp. Kami berpendapat, BBRI menjadi bank yang paling diuntungkan dari skenario suku bunga ini. Bank BUMN tersebut juga akan mendapatkan dampak ganda yang menguntungkan selama siklus suku bunga rendah," kata Analis Indo Premier Sekuritas Jovent Muliadi dan Anthony dalam riset terbarunya yang dikutip Senin (9/9/2024). (Yetede)

Akselerasi Kredit Korporasi Menuju Pertumbuhan

10 Sep 2024

Perubahan strategi perbankan Indonesia, terutama bank pelat merah, yang mengalihkan fokus sementara dari sektor UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) ke sektor korporasi. Tokoh penting dalam perubahan ini adalah Sunarso, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), yang menjelaskan bahwa BRI mengurangi porsi kredit untuk UMKM dan beralih ke sektor korporasi untuk menjaga kualitas kredit di tengah meningkatnya risiko kredit macet (NPL) pada UMKM. BRI tetap selektif dengan memilih korporasi yang terhubung dengan rantai pasokan UMKM.

Novita Widya Anggraini, Direktur Keuangan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), juga menyatakan bahwa BNI mulai fokus pada kredit korporasi, meskipun tetap berkomitmen untuk memperbaiki segmen UMKM dengan penguatan credit scoring. Sementara itu, Yuddy Renaldi, Direktur Utama PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten (BPD Jabar Banten), menyebutkan bahwa meski UMKM sering kali berisiko, sektor ini masih menjanjikan jika dikelola dengan selektif.

Di sisi lain, Lani Darmawan, Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk, justru melihat segmen UMKM masih menarik, dengan pertumbuhan kredit UMKM hampir 10% YoY dan kualitas kredit yang membaik. Pendapat ini didukung oleh Efdinal Alamsyah, Direktur Kepatuhan PT Bank Oke Indonesia Tbk, yang menganggap UMKM sebagai pasar strategis dengan potensi pertumbuhan besar.

Meskipun ada pergeseran fokus ke korporasi, beberapa bank swasta tetap melihat UMKM sebagai segmen yang menjanjikan, sementara bank pelat merah lebih berhati-hati dengan mempertimbangkan risiko kredit macet yang tinggi di sektor ini.

Bisnis UMKM: Jangan Lupakan Segmen 'Wong Cilik'

10 Sep 2024

Pandemi Covid-19 membawa tantangan berat bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia, yang sempat terhenti aktivitasnya. Meskipun stimulus pemerintah melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membantu meringankan UMKM dengan kebijakan restrukturisasi kredit, kondisi bisnis mereka masih belum pulih sepenuhnya.

Stimulus Pemerintah: Stimulus tersebut mencakup perpanjangan tenor dan diskon suku bunga yang membantu bank mempertahankan laba positif, meskipun kredit macet meningkat. Namun, dengan berakhirnya kebijakan relaksasi ini pada tahun 2024, bank kini harus menambah pencadangan akibat naiknya rasio kredit bermasalah (NPL), yang tercermin dari NPL gross sebesar 2,27% pada Juli 2024.

OJK menolak perpanjangan kebijakan relaksasi kredit bermasalah kecuali untuk Kredit Usaha Rakyat (KUR), meskipun ada desakan dari bank pelat merah seperti Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), dan Bank Mandiri. Akibatnya, bank-bank besar mulai mengalihkan fokus mereka dari UMKM ke sektor korporasi yang dianggap lebih rendah risikonya.

Hal ini menimbulkan kekhawatiran tentang ketidakmerataan pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya kesenjangan antara pelaku usaha besar dan kecil. Untuk itu, dibutuhkan peran aktif pemerintah dalam memberikan stimulus lebih lanjut dan memperkuat UMKM. Selain itu, bank harus berperan dalam mendampingi UMKM agar mereka dapat kembali pulih, bukan hanya mengambil keuntungan saat sektor ini menguntungkan.

Jerat Pinjaman Online: Ancaman Bagi Generasi Muda

10 Sep 2024

Generasi Z dan Milenial, yang merupakan masa depan ekonomi Indonesia, menghadapi risiko finansial yang serius akibat penggunaan layanan pinjaman online (pinjol). Laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa hampir 40% kredit macet dari pinjol berasal dari kelompok usia 19-34 tahun. Pinjaman yang awalnya mempermudah akses ke pembiayaan justru menjadi jerat bagi mereka yang kurang memahami risiko keuangan, terutama dalam penggunaan untuk kebutuhan konsumtif tanpa pertimbangan kemampuan membayar.

Pada tahun 2023, kredit macet dari kelompok ini naik menjadi 38%, dan diperkirakan mencapai 40% pada tahun 2024. Untuk mengatasi masalah ini, OJK mendorong penerapan credit scoring, sebuah sistem penilaian kredit yang bisa mendeteksi risiko sejak awal. Pengalaman negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris menunjukkan bahwa credit scoring berbasis data dapat membantu mengurangi kredit macet.

Tokoh penting seperti Abdullah Azwar Anas, Menteri PANRB, mendorong peningkatan literasi keuangan sebagai solusi jangka panjang. Selain itu, Kementerian Pendidikan, Kementerian Agama, dan Kominfo juga berperan penting dalam edukasi keuangan melalui kurikulum sekolah, pesantren, serta platform digital yang sering digunakan oleh generasi muda. Edukasi ini perlu ditingkatkan karena survei OJK menunjukkan rendahnya literasi keuangan di Indonesia, terutama di kalangan generasi muda.

Untuk mencapai Indonesia Emas 2045, generasi Z dan Milenial harus dibekali dengan literasi keuangan yang memadai agar tidak terjebak dalam utang. Kolaborasi berbagai pihak, termasuk pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat, diharapkan dapat menciptakan generasi yang lebih tangguh secara finansial.

Parepare: Kawasan Niaga dengan Wajah Baru

10 Sep 2024

Kota Parepare di Sulawesi Selatan diproyeksikan menjadi pusat niaga baru untuk mengurangi beban Kota Makassar dan mendorong pertumbuhan ekonomi regional. Zudan Arif Fakrulloh, Penjabat Gubernur Sulsel, mendorong pembangunan infrastruktur, termasuk pusat perbelanjaan, fasilitas pendidikan, pelabuhan, dan pergudangan untuk mendukung pertumbuhan Parepare sebagai kota niaga.

Proyek Parepare Mall Apartment and Hotel (P’Mart) direncanakan oleh Pemkot Parepare untuk menarik investasi dan mempercepat pertumbuhan ekonomi. St. Rahmah Amir, Kepala Dinas Penanaman Modal Kota Parepare, menjelaskan bahwa proyek ini akan menjadi simbol pembangunan komersial dan hunian, dengan potensi besar bagi berbagai sektor bisnis seperti properti, ritel, hiburan, dan pariwisata.

Selain itu, Akbar Ali, Penjabat Wali Kota Parepare, menyebut bahwa pengoperasian kapal kargo di Pelabuhan Parepare diharapkan bisa menghemat biaya distribusi dan memperkuat konektivitas perdagangan. Menurut Muhammad Yusri Zamhu-ri, ekonom dari Universitas Hasanuddin, Parepare sedang mengubah citranya menjadi destinasi utama, dan infrastruktur yang terintegrasi akan menarik lebih banyak investor dan mendukung pertumbuhan wilayah pesisir.