;
Kategori

Ekonomi

( 40460 )

Daya Beli Lemah, Emiten Manufaktur Terpuruk

02 Oct 2024

Performa manufaktur Indonesia masih berada di zona kontraksi di tengah tren deflasi. Per September 2024, Purchasing Manager Index (PMI) Manufaktur Indonesia masih berada di bawah level 50, tepatnya di 49,2. Secara bulanan, terjadi peningkatan dari 48,9 pada bulan Agustus. Tapi, PMI Manufaktur Indonesia masih terjebak di zona merah atau kontraksi selama tiga bulan berturut-turut. Sementara itu, Indonesia kembali mencatat deflasi pada September 2024 sebesar 0,12% dibandingkan bulan sebelumnya. Deflasi ini telah terjadi selama lima bulan beruntun. Pengamat & Praktisi Pasar Modal, Agus Pramono menilai, kombinasi dua indikator itu mencerminkan kondisi makro ekonomi yang muram. Penyebabnya pelemahan permintaan. Terutama melemahnya daya beli masyarakat berpenghasilan menengah ( middle income ). 

Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi sepakat, tren deflasi dan manufaktur yang masih di zona kontraksi memberi sinyal terjadinya pelemahan permintaan. Performa emiten di sejumlah sektor rawan tertekan. Audi mengingatkan pelaku pasar mencermati perkembangan kondisi makro ekonomi di dalam negeri. Meski pada bersamaan, ada sentimen lain. Terlebih memasuki Oktober, investor mulai mengantisipasi musim rilis laporan keuangan kuartal ketiga. Founder WH-Project William Hartanto sepakat, antisipasi musim rilis laporan keuangan jadi katalis penting yang mengimbangi sentimen makro ekonomi. Dia memprediksi, deflasi dan manufaktur di zona kontraksi jadi sentimen jangka pendek. Analis Sinarmas Sekuritas, Eddy Wijaya menyatakan, investor juga perlu cermat melihat momentum. Di tengah situasi makro ekonomi dan pasar saat ini, Eddy melihat saham di sektor energi cukup prospektif. Biasanya akan terdongkrak oleh kenaikan permintaan di akhir tahun.

Layanan Spesialis: Katalis Baru Pertumbuhan

02 Oct 2024

Prospek positif kinerja PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) diperkirakan berlanjut. Ekspansi dan kesadaran kesehatan masyarakat yang meningkat menjadi pendorongnya. Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty mengatakan, di jangka pendek prospek MIKA didorong oleh sejumlah faktor. Pertama, implementasi tarif BPJS yang lebih tinggi sejak Januari 2023 diperkirakan meningkatkan pendapatan sekitar 7%-9%. Kedua, Omnibus Law Kesehatan yang disahkan pada Juli 2023 menyederhanakan proses lisensi, memungkinkan perekrutan dokter asing, dan meningkatkan pelatihan di RS. Ketiga, standar baru untuk kelas BPJS dapat berdampak positif dengan peningkatan pengalaman pasien. Analis Indo Premier Sekuritas, Andrianto Saputra berpandangan, kinerja positif MIKA akan berlanjut hingga akhir tahun. Pendapatan MIKA pada 2024 diperkirakan tumbuh 17,13% menjadi Rp 4,99 triliun, EBITDA tumbuh 22,2% menjadi Rp 1,83 triliun dan laba bersih melesat 25,98% ke Rp 1,15 triliun. 

Sementara di jangka menengah panjang, prospek MIKA juga didorong rencana perluasan Centre of Excellence (CoE) dengan fokus pada prosedur onkologi dan otak. Hal ini telah dimulai dengan dua pusat radioterapi baru di MIKA Bekasi Timur dan Kenjeran. Analis Maybank Sekuritas, Paulina Margareta mengatakan, MIKA juga akan membangun pusat stroke baru di Surabaya. Saat ini, Paulina melihat bahwa kontribusi pendapatan dari segmen CoE berkisar 15%-20%. Selain itu, ditambah dengan peningkatan kapasitas dan fokus pada layanan spesialis, MIKA diperkirakan akan dapat memenuhi kebutuhan layanan kesehatan yang meningkat. Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji menyoroti distribusi tenaga kesehatan yang kurang merata. Sehingga, ia menilai rencana di pemerintahan baru dapat menjadi kesempatan untuk berekspansi. Dengan prospek dan peluang yang positif itu, Nafan merekomendasikan accumulate buy MIKA dengan target harga Rp 3.310. Adapun Arida merekomendasikan hold MIKA dengan target harga Rp 3.280.

Infrastruktur Menanti Perubahan di Tengah Transisi

02 Oct 2024

Kinerja sektor infrastruktur diproyeksi masih akan berat di sisa tahun 2024. Sejumlah indikasi itu sudah tercermin dari kinerja indeks IDX Infrastruktur yang masih berada di zona merah. Pada Selasa (1/10), IDX Infrastruktur bertengger di posisi 1.546,80. Secara harian, indeks yang berisi 66 saham emiten di sektor infrastruktur jalan tol, telekomunikasi, tower dan infrastruktur lainnya ini mengalami koreksi 0,19%. Jika diakumulasi sejak awal tahun ini, indeks infrastruktur sudah longsor 1,48%. Research Analyst Phintraco Sekuritas, Muhamad Heru Mustofa melihat, terkoreksinya kinerja IDX Infrastruktur dipicu sentimen jelang peralihan kepemimpinan nasional pada Oktober ini. Kondisi itu menyebabkan pasar cenderung menunda investasi di sektor infrastruktur. Terlebih, berdasarkan RAPBN 2025, anggaran belanja negara untuk pembangunan infrastruktur merosot 5,5% secara tahunan menjadi Rp 400 triliun, dari Rp 423 triliun pada APBN 2024. Dus, proyek pembangunan infrastruktur pada 2025 diproyeksi menyusut. Meski begitu, kata dia, kinerja emiten infrastruktur berpotensi membaik seiring pelonggaran kebijakan moneter atau pemangkasan suku bunga di sisa paruh kedua tahun ini. Kebijakan ini berpotensi mengurangi beban bunga emiten infrastruktur. 

Pasalnya, mayoritas emiten infrastruktur memiliki beban bunga tinggi akibat tumpukan utang. Heru memperkirakan, di sisa tahun ini, emiten telekomunikasi akan menopang kinerja indeks infrastruktur. Terutama jika rencana merger PT XL Axiata Tbk (EXCL) dan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) terealisasi. Ini membuat persaingan usaha semakin sehat. Dus, kondisi tersebut berpotensi mendorong kinerja keuangan emiten telko. Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta Utama mencermati, penurunan kinerja IDX Infrastruktur dipicu beberapa faktor. Di antaranya, penurunan kinerja keuangan dan saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM). Dalam evaluasi minor BEI terhadap IDX Infrastruktur, bobot TLKM pada indeks tercatat turun dari 9,28% menjadi 9%. Jumlah saham TLKM untuk indeks juga turun jadi 2,97 miliar. "Selain itu, investasi TLKM di PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) juga masih merugi," ujar Nafan. Untuk trading, Nafan merekomendasi akumulasi beli saham TLKM, EXCL, dan WIKA dengan target harga masing-masing Rp 3.150, Rp 2.340, dan Rp 416 per saham.

Empat Bank Besar Cetak Laba Positif

02 Oct 2024

Kinerja empat bank besar di kuartal III tahun ini diperkirakan masih tumbuh positif. Jika berkaca dari hasil kinerja yang berakhir pada Agustus 2024, pertumbuhan laba bersih bank masih di atas proyeksi para analis. Menilik laporan keuangan bulanan masing-masing bank KBMI 4, yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), rata-rata laba tercatat naik single digit. Hanya PT Bank Central Asia Tbk (BCA) yang mampu mencatatkan pertumbuhan laba double digit. Laba BCA naik 14% secara tahunan menjadi Rp 35,99 triliun. Penyaluran kredit dari bank-bank KBMI 4 juga positif. Ada dua bank yang penyaluran kreditnya naik di atas industri. Sebagai gambaran, kredit perbankan secara industri tumbuh 11,4% secara tahunan menjadi Rp 7.508 triliun per Agustus 2024. 

Analis PT Indo Premier Sekuritas Jovent Muliadi, dalam riset Senin (30/9), menilai, pertumbuhan laba bank-bank KBMI 4 di atas proyeksi. Hitungan dia, secara agregat laba empat bank besar naik 7% secara tahunan menjadi Rp 120 triliun. "Pencapaian ini mengalahkan estimasi kami yang memperkirakan laba bank besar hanya tumbuh 4% dan di atas proyeksi konsesus analis yang memperkirakan laba naik 5%," kata Jovent. Kenaikan laba ini didorong pendapatan operasional sebelum provisi yang juga naik 10% secara tahunan menjadi Rp 186,01 triliun. Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi berpandangan, kinerja bank KBMI 4 menggambarkan pertumbuhan cenderung melambat. Menurut dia, ini dampak pengetatan kebijakan moneter oleh Bank Indonesia (BI). Toh, Audi melihat kinerja yang melambat ini tak banyak berdampak pada prospek saham bank KBMI 4. Ia menyukai BBCA dan BMRI karena pertumbuhan kredit solid. Sedang Jovent merekomendasikan beli BBRI, BBCA dan BMRI, dan memasang rekomendasi hold di BBNI.

Kredit Kendaraan Tetap Menjadi Andalan

02 Oct 2024

Bisnis pembiayaan kendaraan bermotor masih jadi tulang punggung sejumlah multifinance. Di tengah pasar yang masih lesu, sejumlah leasing mengatur strategi agar pembiayaan otomotif tetap menderu. Astra Credit Companies (ACC) misalnya masih mampu membukukan pembiayaan mobil sebesar Rp 26,5 triliun hingga Agustus 2024. EVP Corporate Strategic & Communication ACC Riadi Prasodjo bilang nilai tersebut tumbuh 5% dibanding periode yang sama pada tahun lalu. Dengan kondisi pasar yang masih menantang, Riadi bilang ACC terus berusaha untuk beradaptasi memaksimalkan potensi segmen pembiayaan yang masih bisa tumbuh. Misalnya dari pasar pembiayaan mobil bekas. 

Sementara itu, Direktur Utama Mandiri Utama Finance (MUF) Stanley Setia Atmadja menyebut pembiayaan mobil baru di perusahaannya masih bisa bertumbuh positif di tengah penjualan wholesale mobil nasional yang masih menukik 17,1% hingga Agustus 2024. Untuk mendorong pembiayaan mobil baru hingga akhir 2024, Stanley bilang perseroan akan melakukan sejumlah strategi. Di antaranya melakukan ekspansi jaringan, penguatan dan perluasan kerja sama dengan rekanan dealer, serta menggelar berbagai event untuk menjangkau konsumen di berbagai kota besar. Direktur Keuangan WOM Finance Cincin Lisa mengungkapkan pihaknya memilih untuk mengalihkan fokus pembiayaan ke segmen lain di tengah lesunya pasar sepeda motor baru. Selama delapan bulan pertama tahun ini , dia bilang penyaluran pembiayaan sepeda motor baru perseroan mencapai Rp 742 miliar, dari total new booking yang sebesar Rp 3,7 triliun.

MAPB Ekspansi untuk Perbaikan Kinerja

02 Oct 2024

PT MAP Boga Adiperkasa Tbk. (MAPB), emiten ritel makanan dan minuman merek internasional mengalami penurunan kinerja keuangan yang cukup dalam pada semester I-2024. Merujuk laporan keuangan keuangan, MAPB membukukan kerugian sebesar Rp 50,11 miliar pada periode Januari-Juni 2024. Kinerja itu kontras dengan laba Rp 52,64 miliar yang dicatat pada periode sama di tahun sebelumnya. Adapun, pendapatan menurun sebesar 18,68% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 1,62 triliun di semester I-2024, dari sebelumnya Rp 1,99 triliun semester I-2023. Anjloknya pendapatan ini menjadi salah satu faktor utama kerugian tersebut. Meski diterpa tantangan, Direktur Utama MAPB Anthony Valentine McEvoy mengungkapkan, perusahaan telah menyusun strategi untuk mengatasi kondisi tersebut dengan berfokus pada pemulihan dan pertumbuhan kinerja di sisa tahun 2024. "Stabilitas adalah kunci bagi seluruh tim di MAP Boga. Langkah ini diambil untuk memastikan setiap gerai yang sudah ada beroperasi dengan optimal, sambil mempersiapkan rencana ekspansi strategis," kata Anthony kepada KONTAN, Selasa (1/10). 

Beberapa gerai baru yang telah dibuka tahun ini antara lain gerai Starbucks dan Subway di Bali, serta rencana pembukaan gerai di Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia. Hingga saat ini, MAPB mengoperasikan 834 gerai yang tersebar di seluruh Indonesia. Perinciannya, 607 gerai Starbucks, 104 gerai Subway, dan sisanya gerai brand lain, seperti Krispy Kreme, Genki Sushi, Paul, Cold Stone, dan Gondiva. Di paruh kedua ini, MAPB tetap melihat potensi besar di pasar Indonesia, serta berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan layanan dengan membuka lebih banyak gerai di berbagai lokasi. Menurutnya, PT Sari Coffee Indonesia selaku perusahaan pengelola gerai Starbucks di Indonesia sepenuhnya berfokus pada pasar di Indonesia. Meskipun tidak memberikan proyeksi pertumbuhan yang spesifik, MAPB menargetkan penjualan dan stabilitas operasional di seluruh portofolio bisnisnya mulai stabil di akhir tahun ini.      

Alarm PERTUMBUHAN EKONOMI

02 Oct 2024

Perekonomian Indonesia terindikasi kian melemah seiring dengan terjadinya deflasi lima bulan berturut-turut hingga September 2024. Indikasi lain, industri manufaktur terus terpuruk, mengalami kontraksi selama tiga bulan berturut-turut, akibat melemahnya permintaan domestik dan global. Kombinasi ini menjadi alarm yang perlu diwaspadai bagi prospek pertumbuhan ekonomi ke depan. Indonesia kembali mencatat deflasi pada September 2024 sebesar 0,12 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Dengan demikian, deflasi berlangsung selama lima bulan berturut-turut sejak Mei 2024. ”Apakah ini indikasi penurunan daya beli masyarakat? Tentu untuk menghubungkan apakah ini ada kaitannya dengan penurunan daya beli masyarakat, kita harus melakukan studi lebih dalam karena angka indeks harga konsumen yang kita catat hanya berdasarkan harga yang diterima konsumen,” ujar Pelaksana Tugas Kepala Badan Pusat Statistik Amalia Adininggar Widyasanti dalam jumpa pers bulanan soal besaran inflasi yang dilakukan secara hibrida di Jakarta, Selasa (1/10/2024).

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau kembali menjadi kelompok utama penyumbang deflasi. Dalam lima bulan terakhir, komoditas daging ayam ras masuk dalam lima besar komoditas utama yang menyumbang deflasi. Kendati pada September terjadi deflasi secara bulanan, secara tahunan masih terjadi inflasi sebesar 1,84 persen.Angka ini berada pada zona bawah rentang target inflasi pemerintah dan Bank Indonesia, yakni 1,5-3,5 persen. Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies Yose Rizal Damuri mengatakan, deflasi yang telah terjadi lima bulan berturut-turut menunjukkan daya beli masyarakat masih lesu. Karena
terjadi kelebihan pasokan ko-moditas yang tidak diimbangi dengan permintaan, harga punmengalami penurunan, yang pada akhirnya memicu deflasi. Pelemahan daya beli, menurut Yose, disebabkan berbagai permasalahan struktural yang dialami dunia usaha, seperti deindustrialisasi dini dan sempitnya lapangan kerja. 

Selain itu juga masih belum efisiennya produksi akibat tingginya biaya energi hingga biaya logistik. Oleh karena itu, ia menekankan, penting sekali untuk membenahi persoalan ini. Dalam jangka pendek, pemerintah bisa memberi stimulus dengan menyalurkan bantuan sosial untuk merangsang daya beli masyarakat. Adapun dalam jangka panjang, pemerintah perlu terus membenahi ekosistem dunia usaha sehingga bisa merangsang investasi dan produktivitas serta penciptaan lapangan kerja yang masif dan berkualitas serta memberikan upah yang berk u a l i t a s. Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia, Teuku Riefky, menjelaskan, fenomena deflasi ini menunjukkan pelemahan daya beli masyarakat. (Yoga)

Mengoptimalkan Pasar Halal di Jepang

02 Oct 2024

Kedutaan Besar Republik Indonesia di negara-negara sahabat mengemban misi untuk menjalin serta meningkatkan hubungan diplomatik serta ekonomi dengan negara tuan rumah. Pada saat yang sama, mereka juga wajib memberi pelayanan optimal kepada diaspora Indonesia yang berada di sana, terlepas jumlahnya. Menurut Duta Besar Indonesia untuk Jepang dan Federasi Mikronesia Heri Akhmadi di Tokyo, Minggu (29/9/2024), mayoritas warga Indonesia yang tinggal ataupun berkunjung ke Jepang beragama Islam. Oleh sebab itu, aspek konsumsi produk halal menjadi perhatian mereka. Hal ini ditanggapi oleh komunitas pengusaha di Jepang. Mereka menunjukkan minat yang tinggi untuk berkecimpung di bisnis penyediaan makanan ataupun produk halal. Ceruk pasar ini tidak hanya untuk diaspora dan wisatawan Indonesia, tetapi juga untuk semua orang di Jepang yang berminat mengonsumsi produk halal.

Pada hari yang sama, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas berada di Tokyo. Bersama dengan Heri, ia meluncurkan Halal International Trust Organisation (HITO). Ini lembaga sertifikasi halal berbasis komunitas Muslim Indonesia. Lembaga tersebut berada di bawah naungan Keluarga Masyarakat Islam Indonesia. ”HITO dirancang khusus untuk pasar Jepang. Di sini, pasar halal terus berkembang dengan proyeksi nilai pada tahun 2024 mencapai 68 juta dollar AS,” kata Heri. Diaspora Menurut dia, pertumbuhan rata-rata per tahun pasar halal di Jepang mencapai 6,3 persen. Keberadaan diaspora Indonesia dan wisatawan Nusantara sangat berkontribusi pada ceruk pasar tersebut. Secara keseluruhan, ada 108.000 warga Indonesia yang tinggal di Jepang. Keberadaan mereka diterima dengan baik oleh masyarakat Jepang. Melihat potensi pasar ini, para pengusaha lokal membaca kebutuhan komunitas Muslim Indonesia untuk produk-produk halal, mulai dari makanan sampai barang konsumsi sehari-hari. Adanya HITO bertujuan membantu para pengusaha lokal memproduksi produk-produk halal.

Akan tetapi, program ini khusus untuk produk yang dikonsumsi di dalam negeri Jepang. Tidak untuk diekspor. ”Pada praktiknya, HITO harus memenuhi standar halal global. Patut ditekankan pula kewajiban untuk memahami dan menghormati kondisi kebudayaan serta keadaan di Jepang,” ujar Heri. Sertifikasi HITO diterapkan bukan dengan memaksa, melainkan menjadi jembatan yang mempertemukan kebutuhan komunitas Muslim akan produk halal dan etos kerja Jepang. Masyarakat negara tersebut memiliki reputasi kerja yang menjunjung kepedulian, presisi, dan mutu tinggi. Ini digabungkan dengan pemahaman mengenai ketaatan menurut agama Islam. Sementara itu, Yaqut mengatakan, ke depan, HITO juga harus bisa membuka kesempatan agar produk halal dari Indonesia bisa merambah ke Jepang. Ini akan meningkatkan mutu produk halal Nusantara sehingga bisa bersaing di pasar global. Dari aspek hubungan bilateral Jakarta-Tokyo, bisa berkolaborasi menjadi pemain penting di dalam industri produk halal dunia. (Yoga)

Optimalkan Pendidikan dengan Teknologi Digital

02 Oct 2024

Teknologi digital dapat menjadi alat dan peluang mewujudkan pendidikan publik yang inklusif dan lebih baik. Integrasi teknologi pendidikan dapat menghasilkan inklusi yang lebih besar, memperluas akses, meningkatkan pemerataan, dan mewujudkan pendidikan yang unggul. Namun, pemanfaatan teknologi digital di dunia pendidikan memerlukan navigasi dan prinsip-prinsip untuk memandu agar dapat memberikan hasil yang maksimal sambil tetap mengutamakan keselamatan dan kesejahteraan siswa dan guru. Director and Representative UNESCO Regional Office di Jakarta Maki Katsuno-Hayashikawa saat pembukaan Gateways Study Visit Indonesia di Sanur, Bali, Selasa (1/10/2024), mengakui bahwa teknologi alat yang ampuh. Namun, teknologi saja tidak akan mampu mentransformasikan pendidikan menjadi lebih baik. Transformasi digital perlu melibatkan guru, pembantu sekolah, orang-tua, dan masyarakat.

”Perlu upaya manusia dan juga teknologi. Kunjungan studi ini akan melihat dari Indonesia, bagaimana masyarakat, sekolah, dan komunitas merupakan kunci sebenarnya dari transformasi digital,” kata Maki. Indonesia menjadi tuan rumah kedua konferensi internasional Gateways Study Visit yang merupakan inisiatif UNESCO dan Undi Sanur, Bali, ini mengambil tema ”Lebih dari Intervensi Teknologi: Menavigasi Transformasi Pendidikan Indonesia”. Perwakilan 20 negara dariAsia,Afrika, dan Eropa serta sembilan organisasi pendidikan internasional belajar transformasi digital dalam dunia pendidikan di Indonesia. Maki mengatakan, pendidikan publik perlu didukung secara daring serta luring. Teknologi digital dalam pendidikan digunakan untuk melengkapi dan memperkaya layanan pendidikan secara tatap muka di sekolah.

”Saya sangat senang bahwa Indonesia dapat berbagi pengalaman mendalamnya dalam mendukung dan meningkatkan pendidikan masyarakat dengan teknologi. Selama tiga hari kedepan, peserta akan mempelajari cara negara ini menggunakan teknologi dan platform inovatif untuk mencapai kemajuan dalam pendidikan, mulai dari mendukung guru dan siswa hingga memberikan data yang lebih baik kepada pemimpin sekolah dan menjadikan pengadaan barang pendidikan lebih efisien,” tutur Maki. Menurut Maki, permintaan akan platform dan konten pembelajaran digital yang inklusif dan berkualitas akan terus meningkat. Konektivitas tentu saja penting, begitu pula konten. Pemimpin Gateways dan Kepala Pusat Inovasi Pembelajaran Global Unicef Frank van Cappell menghargai upaya Indonesia mentransfo pendidikan dengan memanfaatkan teknologi digital yang kini mulai berjalan dan membuahkan hasil, (Yoga)

Keuangan BUMN Terancam Target Dividen Rp 90 Triliun

02 Oct 2024

Pada periode akhir kepemimpinan Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir, pemerintah mencanangkan target tinggi setoran dividen perusahaan pelat merah ke kas negara pada tahun 2025 mencapai Rp 90 triliun. Angka ini lebih tinggi dari target setoran BUMN kekantong negara tahun ini sebesar Rp 85,4 triliun. Target setoran dividen BUMN sebesar Rp 90 triliun ini bahkan lebih tinggi dari pendapatan pos kekayaan negara dipisahkan yang berasal dari dividen BUMN yang sebelumnya tertera dalam Nota Keuangan dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2025 sebesar Rp 86 triliun. Dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR, Septembe lalu, Erick menyatakan, keputusan tersebut telah diresmikan oleh Badan Anggaran DPR. ”Saya baru dapat info, sudah diketuk oleh Banggar, untuk dividen 2025 kami ditargetkan Rp 90 triliun. Saya rasa ini angka yang fantastis,” ujarnya, dikutip dari kanal Youtube Komisi VI DPR. 

Di balik upaya pemerintah mempertahankan pertumbuhan setoran dividen BUMN, kas keuangan perusahaan-perusahaan pelat merah berisiko menghadapi keterbatasan untuk melakukan aksi korporasi, baik itu ruang dalam melakukan ekspansi maupun investasi. Pengamat BUMN dari Datanesia Institute, Herry Gunawan, mengatakan, target dividen raksasa yang dipatok pemerintah tahun depan cukup berisiko menghadang laju keberlanjutan bisnis mereka di tengah tekanan ekonomi global. Terlebih, ada kecenderungan memaksa BUMN menyetorkan laba di ambang batas kewajaran. ”Ada sinyal pemaksaan ke BUMN untuk setoran laba di luar kebiasaannya. Kalau dilihat dari indikator yang ada, BUMN seolah dipaksa untuk menyetorkan dividen lebih besar,” ujar Herry saat dihubungi Kompas, Selasa (1/10/2024). Hal itu tecermin dari rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) tiga BUMN penyumbang dividen terbesar pada 2023, yaitu BRI, PT Pertamina (Persero), dan Bank Mandiri.

Tahun lalu, rasio pembayaran dividen rata-rata ketiganya mencapai 26 persen, melonjak dibandingkan 2022 dan 2021 yang masing-masing 17,1 persen dan 18 persen. Oleh karena itu, dia memandang target penerimaan negara dari dividen BUMN pada 2025 ini terlalu ambisius. Terlebih target ini dicanangkan pada saat ruang investasi perusahaan pelat merah dari perolehan laba bersih juga berisiko menyempit akibat perlambatan ekonomi global. Di sisi lain, tantangan ekonomi yang kemungkinan masih berat hingga akhir tahun ini menjadikan sangat sulit bagi BUMN untuk dapat mengerek kinerjanya secara signifikan. Sebagai gambaran, empat dari tujuh emiten BUMN penghuni indeks IDX High Dividend 20 mengalami penurunan laba pada semester I-2024. ”Target dividen tersebut tidak selaras dengan kenaikan kinerjanya, khususnya laba. Jadi, ada kecenderungan pemaksaan kepada BUMN untuk menyisihkan laba lebih besar dari biasanya sebagai dividen untuk pemerintah,” kata Herry. (Yoga)