;

Mengoptimalkan Pasar Halal di Jepang

Ekonomi Yoga 02 Oct 2024 Kompas
Mengoptimalkan Pasar Halal di Jepang

Kedutaan Besar Republik Indonesia di negara-negara sahabat mengemban misi untuk menjalin serta meningkatkan hubungan diplomatik serta ekonomi dengan negara tuan rumah. Pada saat yang sama, mereka juga wajib memberi pelayanan optimal kepada diaspora Indonesia yang berada di sana, terlepas jumlahnya. Menurut Duta Besar Indonesia untuk Jepang dan Federasi Mikronesia Heri Akhmadi di Tokyo, Minggu (29/9/2024), mayoritas warga Indonesia yang tinggal ataupun berkunjung ke Jepang beragama Islam. Oleh sebab itu, aspek konsumsi produk halal menjadi perhatian mereka. Hal ini ditanggapi oleh komunitas pengusaha di Jepang. Mereka menunjukkan minat yang tinggi untuk berkecimpung di bisnis penyediaan makanan ataupun produk halal. Ceruk pasar ini tidak hanya untuk diaspora dan wisatawan Indonesia, tetapi juga untuk semua orang di Jepang yang berminat mengonsumsi produk halal.

Pada hari yang sama, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas berada di Tokyo. Bersama dengan Heri, ia meluncurkan Halal International Trust Organisation (HITO). Ini lembaga sertifikasi halal berbasis komunitas Muslim Indonesia. Lembaga tersebut berada di bawah naungan Keluarga Masyarakat Islam Indonesia. ”HITO dirancang khusus untuk pasar Jepang. Di sini, pasar halal terus berkembang dengan proyeksi nilai pada tahun 2024 mencapai 68 juta dollar AS,” kata Heri. Diaspora Menurut dia, pertumbuhan rata-rata per tahun pasar halal di Jepang mencapai 6,3 persen. Keberadaan diaspora Indonesia dan wisatawan Nusantara sangat berkontribusi pada ceruk pasar tersebut. Secara keseluruhan, ada 108.000 warga Indonesia yang tinggal di Jepang. Keberadaan mereka diterima dengan baik oleh masyarakat Jepang. Melihat potensi pasar ini, para pengusaha lokal membaca kebutuhan komunitas Muslim Indonesia untuk produk-produk halal, mulai dari makanan sampai barang konsumsi sehari-hari. Adanya HITO bertujuan membantu para pengusaha lokal memproduksi produk-produk halal.

Akan tetapi, program ini khusus untuk produk yang dikonsumsi di dalam negeri Jepang. Tidak untuk diekspor. ”Pada praktiknya, HITO harus memenuhi standar halal global. Patut ditekankan pula kewajiban untuk memahami dan menghormati kondisi kebudayaan serta keadaan di Jepang,” ujar Heri. Sertifikasi HITO diterapkan bukan dengan memaksa, melainkan menjadi jembatan yang mempertemukan kebutuhan komunitas Muslim akan produk halal dan etos kerja Jepang. Masyarakat negara tersebut memiliki reputasi kerja yang menjunjung kepedulian, presisi, dan mutu tinggi. Ini digabungkan dengan pemahaman mengenai ketaatan menurut agama Islam. Sementara itu, Yaqut mengatakan, ke depan, HITO juga harus bisa membuka kesempatan agar produk halal dari Indonesia bisa merambah ke Jepang. Ini akan meningkatkan mutu produk halal Nusantara sehingga bisa bersaing di pasar global. Dari aspek hubungan bilateral Jakarta-Tokyo, bisa berkolaborasi menjadi pemain penting di dalam industri produk halal dunia. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :