;
Kategori

Ekonomi

( 40460 )

Harapan Tinggi pada Kinerja BEI

24 Oct 2024

Pemerintahan baru yang dipimpin oleh Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka membawa optimisme bagi Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk menetapkan target kinerja pasar modal yang lebih ambisius pada tahun depan. Direktur Utama BEI, Iman Rachman, menyatakan keyakinannya bahwa pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan sebesar 8% akan memberikan dampak positif bagi emiten dan kegiatan penggalangan dana di pasar modal.

BEI menetapkan target moderat dengan proyeksi penambahan 66 emiten baru, meskipun saat ini baru tercatat 36 emiten. Iman menekankan pentingnya kualitas emiten yang terdaftar dan akan lebih selektif dalam menerima pencatatan baru. Ia berharap stabilitas politik dan perbaikan kualitas emiten akan menarik lebih banyak korporasi untuk berpartisipasi di pasar modal.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menyatakan bahwa untuk meningkatkan kualitas efek, BEI akan bekerja sama dengan pihak independen untuk menghasilkan kebijakan yang komprehensif. Sementara itu, analis pasar, Maximilianus Nico Demus, menilai bahwa kepercayaan terhadap pasar modal yang meningkat akan berkontribusi pada gairah transaksi, dengan proyeksi pertumbuhan nilai transaksi harian sebesar 10% tahun depan.

Namun, pengamat pasar modal, Lanjar Nafim, mengingatkan bahwa BEI perlu meningkatkan transparansi dan tata kelola perusahaan agar daya tarik pasar modal dapat terjaga. Hal ini penting untuk memastikan bahwa pasar saham Indonesia tetap menarik bagi investor domestik dan asing. Budi Frensidy, seorang pengamat pasar, juga menyoroti bahwa kebijakan yang bermasalah sebelumnya menjadi tantangan, sehingga perbaikan diperlukan agar pasar modal dapat tumbuh lebih dinamis dan sehat.


Pasar Modal Menunjukkan Tren Positif

24 Oct 2024

Meskipun di tengah tekanan melemahnya perekonomian global dan domestik, kinerja pasar modal Indonesia hingga bulan ini menunjukkan hasil yang cukup baik. Nilai kapitalisasi bursa mencapai Rp12.967 triliun, tumbuh 11% dibandingkan akhir 2023. Transaksi harian juga meningkat, dengan rata-rata diperkirakan mencapai Rp12,25 triliun, lebih tinggi dari tahun lalu.

Namun, fluktuasi indeks akibat faktor eksternal dan internal, termasuk konflik di Timur Tengah dan perlambatan ekonomi China, telah mempengaruhi perekonomian nasional. Daya beli masyarakat, terutama segmen menengah ke bawah, melemah dan banyak pabrikan menunda ekspansi. Meski demikian, keputusan The Fed untuk menurunkan suku bunga memberikan dampak positif, membuat indeks harga saham gabungan mencapai rekor tertinggi di 7.905,30 pada 19 September 2024.

Menteri Keuangan, yang belum disebutkan namanya dalam artikel, memberikan keyakinan bahwa proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh lembaga internasional mencapai 5% tahun ini, dengan sedikit peningkatan di tahun depan. Otoritas bursa memperkirakan pertumbuhan pasar modal yang lebih besar pada 2025, dengan target jumlah investor baru dan perusahaan yang melakukan IPO meningkat.

Namun, perlu diingat bahwa penciptaan pasar modal yang sehat dengan fundamental kuat sangat penting, dan perlindungan terhadap investor harus terus diperkuat. Ke depan, pemerintah baru harus menyiapkan strategi untuk menghadapi tantangan yang ada, dengan harapan pasar modal terus bertumbuh dan lebih atraktif.



Daya Beli Kelas Menengah Melemah, Belanja Tertekan

24 Oct 2024

Kelas menengah mengalami penurunan daya beli, dipicu oleh tiga faktor utama: kenaikan harga kebutuhan pokok, mahalnya biaya pendidikan dan kesehatan, serta stagnasi pendapatan. Managing Partner Inventure, Yuswohady, menekankan pentingnya bagi pelaku usaha di sektor properti dan otomotif untuk berhati-hati, mengingat banyak konsumen yang terpaksa memangkas pengeluaran besar, seperti renovasi rumah dan pembelian barang mewah.

Meskipun terjadi penurunan daya beli, CEO Martha Tilaar Group, Kilala Tilaar, menyatakan bahwa industri kosmetik, terutama produk skincare, masih mengalami pertumbuhan positif. Namun, dia mengakui adanya sinyal pelemahan pada kuartal III/2024. Peneliti dari LPEM UI, Jahen Fachrul Rezki, menambahkan bahwa penurunan daya beli bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi sektor-sektor tersebut. Dia mengindikasikan bahwa faktor lain, seperti suku bunga, juga berperan penting.

Retail & Consumer Strategist, Yongky Susilo, berpendapat bahwa sektor konstruksi, skincare, dan barang elektronik masih memiliki prospek yang baik, terutama dengan kebijakan pemerintah baru di bawah Presiden Prabowo Subianto yang berfokus pada pembangunan perumahan. Secara keseluruhan, meskipun ada tantangan, terdapat harapan bahwa pasar akan tetap berkembang dengan konsumen yang terus mengikuti gaya hidup dan kebutuhan mereka.



IPO di Era Prabowo: Bursa Siap Ngebut

24 Oct 2024
Target Bursa Efek Indonesia (BEI) di bawah pemerintahan baru Prabowo Subianto untuk meningkatkan jumlah pencatatan saham melalui IPO menjadi 66 pada 2025, naik dari target 62 pada 2024. Meskipun demikian, hingga 18 Oktober 2024, baru 36 perusahaan yang melantai di BEI, sehingga masih ada 26 slot IPO yang harus dipenuhi untuk mencapai target tahun 2024.

Beberapa perusahaan, termasuk PT Golden Westindo Artajaya Tbk dan Lion Air, serta BUMN seperti PT Pertamina Hulu Energy, PT Pupuk Kalimantan Timur, dan Palm Co, telah menunda IPO mereka. Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, menyebutkan bahwa lesunya aktivitas IPO tahun ini disebabkan oleh sikap "wait and see" investor terkait pilpres 2024 dan transisi pemerintahan.

Iman Rachman, Direktur Utama BEI, mengungkapkan bahwa 70% perusahaan yang mendaftar IPO lolos, sementara sisanya diminta memperbaiki dokumen atau kinerja. I Gede Nyoman Yetna, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, menyatakan bahwa BEI sedang melakukan riset untuk memahami alasan perusahaan menunda IPO, serta mengkaji insentif atau regulasi yang diinginkan untuk mendorong lebih banyak perusahaan melantai di bursa

Tekanan pada Rupiah Diperkirakan Berlanjut hingga 2025

24 Oct 2024
pelemahan nilai tukar rupiah yang mencapai level Rp 15.627 per dolar AS, dipengaruhi oleh beberapa faktor global dan domestik. Edi Susianto, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI), menyebut faktor-faktor seperti data ekonomi AS yang kuat, ekspektasi penurunan suku bunga The Fed yang menurun, dan perlambatan ekonomi di China dan Eropa sebagai penyebab utama. BI berupaya menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi pasar dan menarik capital inflow dengan imbal hasil menarik dari Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Myrdal Gunarto dari Bank Maybank Indonesia menambahkan bahwa pelemahan rupiah juga disebabkan oleh keluarnya modal asing dari pasar domestik karena konflik geopolitik di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak. Ia memperkirakan rupiah akan kembali menguat ke Rp 15.106 per dolar AS jika The Fed memangkas suku bunga lagi pada akhir 2024.

Sebaliknya, Awalil Rizky dari Bright Institute memproyeksikan rupiah akan terus melemah hingga mencapai Rp 16.000 per dolar AS pada akhir 2024 dan pertengahan 2025. Ia menilai BI mungkin akan membiarkan pelemahan ini berlangsung secara perlahan untuk menjaga stabilitas moneter dan menghindari intervensi yang terlalu agresif. 

Bursa Targetkan Kenaikan Moderat di Tahun Depan

24 Oct 2024
Proyeksi moderat Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk tahun 2025 dalam menghadapi tantangan global dan domestik. Iman Rachman, Direktur Utama BEI, menyatakan bahwa BEI menargetkan rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) saham mencapai Rp 13,5 triliun per hari, meningkat dari target 2024 sebesar Rp 12,25 triliun. Target ini didasarkan pada asumsi penurunan inflasi dan suku bunga global serta pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diproyeksikan mencapai 8%.

BEI juga menargetkan pencatatan 66 perusahaan baru melalui IPO, dengan total 407 efek baru pada 2025. Iman optimis, meski mengakui adanya tantangan global dan domestik yang mungkin mempengaruhi pasar saham. Selain itu, BEI berharap jumlah investor baru bertambah 2 juta, sehingga total investor pasar modal Indonesia mencapai 16 juta pada akhir 2025.

Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst di Mirae Asset Sekuritas, menilai target BEI relatif moderat dan mudah dicapai, terutama mengingat tren positif RNTH dari tahun ke tahun. RNTH tertinggi tercapai pada 2022 dengan Rp 14,71 triliun per hari, meskipun turun menjadi Rp 10,75 triliun pada 2023.

Untuk 2025, BEI mengincar pendapatan Rp 1,78 triliun dan laba bersih Rp 275,02 miliar, didorong oleh peningkatan pencatatan efek dan jasa informasi yang diproyeksi naik 11% tahunan. Target ini merupakan bagian dari Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) 2025 yang disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUSPLB).

Wajah Baru ACES Jadi Harapan Bisnis

24 Oct 2024
Prospek PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) setelah tidak melanjutkan perjanjian lisensi dengan Ace Hardware International Holdings, Ltd. Muhamad Heru Mustofa, Research Analyst Phintraco Sekuritas, menilai rebranding yang direncanakan ACES pada awal 2025 akan memengaruhi cash flow jangka pendek karena investasi awal yang signifikan, seperti promosi dan renovasi toko. Meski demikian, ACES memiliki cadangan kas kuat sebesar Rp 2,72 triliun, yang dapat mendukung proses ini.

Jocelyn Santoso, Analis Maybank Sekuritas Indonesia, memperkirakan rebranding tidak akan menghambat pertumbuhan ACES, dengan proyeksi peningkatan penjualan sebesar 12% pada 2025 dan terus meningkat hingga 2027. Jocelyn mencatat, peningkatan free float saham menjadi 40,03% pada 2024, serta insentif pajak penghasilan badan yang lebih rendah, akan meningkatkan laba bersih ACES hingga Rp 1,32 triliun pada 2026.

Abyan H. Yuntoharjo, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, menilai rebranding akan memperluas margin jangka panjang meski menghadapi potensi persaingan dari Ace Hardware International Holdings dan MR. DIY. Abyan memproyeksikan pendapatan ACES mencapai Rp 8,54 triliun pada 2024, dengan laba bersih Rp 890 miliar, tumbuh 16,49% yoy. Abyan merekomendasikan buy dengan target harga Rp 1.100, sementara Jocelyn menetapkan target harga Rp 950, dan Heru menyarankan hold atau trading buy dengan target Rp 975 - Rp 1.000 per saham.

FDI Dibutuhkan untuk Mensupport Program Pertumbuhan Ekonomi 8%

24 Oct 2024
Sumber-sumber pertumbuhan baru mutlak  diperlukan selain menjaga nyala sumber-sumber yang sudah ada (exixting) seperti manufaktur  konsumsi rumah tangga, untuk menggapai pertumbuhan ekonomi 8% seperti yang dicanangkan pemerintahan Prabowo Subianto. Namun demikian, untuk menghadirkan sumber-sumber pertumbuhan baru itu, tabungan dalam negeri dinilai tidak mencukupi, sehingga nilai modal asing (foreign direct invesment/FDI) yang masuk ke Tanah Air harus dilipatgandakan. Sementara itu, agar modal langsung asing  yang tertarik masuk ke Indonesia makin besar, ada beberapa persyaratan yang mesti dipenuhi, diantaranya adalah efisiensi dan produktivitas investasi yang biasa diukur dengan Incremental Capital Output Ratio (ICOR). ICOR adalah satu indikator tingkat efisiensi suatu perekonomian yang membandingkan  investasi kapital/modal terhadap hasil yang diperoleh (output) makin rendah nilai ICOR suatu negara, berarti tingkat efisiensi investasi perekonomiannya makin besar. 

Pemerintah Baru, Perdagangan dan Investasi Telah Terbentuk lengkap

24 Oct 2024

Pemerintahan baru dibawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto telah terbentuk lengkap. Visi pemerintahan dibawah komando Presiden yang baru telah disampaikan, arahan kepada jajaran Menko, Menteri Mawen, pimpinan negara non-departemen, penasehat, utusan khusus dan perangkat lainnya juga  disampaikan dengan gamblang. Pembekalan untuk pelaksanaan tugas kepemerintahn juga telah diberikan. Kini masyarakat dan kalangan bisnis menunggu bagaimana rencana dan strategi pemerintah periode 2024-2029 akan diterjemahkan kedalam langkah konkrit dan menghasilkan outcomes yang terukur. Apabila dapat dipadatkan sari-patinya, maka tekad pemerintah yang baru terbentuk ini mungkin cukup terwakili oleh satu kata: Resilience.

Baik di bidang ekonomi, politik, sosial-budaya maupun pertahanan-keamanan, hal yang ingin diwujudkan adalah kemandirian. Sebagai bangsa besar yang merebut kemerdekaan berkat perjuangan anak-anaknya sendiri, untuk mewujudkan kemandirian bangsa ini. Hal yang perlu diingat adalah bahwa Indonesia tidak beroperasi dalam sebuah vakum yang terisolasi diri dari lingkungan sekitarnya. Sejatinya, tidak ada satu negara pun di muka bumi ini yang  benar-benar mandiri dan dapat mengisolasi diri dari hubungannya dengan negara atau bangsa lain: memenuhi kebutuhannya yang tidak dapat dipenuhinya sendiri. Dalam konteks perdagangan, pemenuhan kebutuhan ini lazimnya dilakukan melalui pertukaran barang dan jasa melintasi batas-batas negara dan bentuk suatu pola tertentu. (Yetede)

Penurunan Daya Beli Masyarakat Menjadi Urusan Pemerintah

24 Oct 2024
Persoalan daya beli masyarakat kelas menengah akhir-akhir ini perlu menjadi perhatian Presiden RI Prabowo Subianto untuk mendapatkan penanganan. Sebab, kelas menengah selama ini dianggap sebagai pilar utama pereokonomian nasional.  Berdasarkan data yang dihimpun oleh BPS, jumlah kelas menengah dan menuju kelas menengah mencakup 66,35% dari total penduduk Indonesia, dengan proporsi konsumsi pengeluaran mencapai 81,49% dari total konsumsi masyarakat. Namun porsi kelas menengah mulai mengalami penurunan sejak pandemi covid-19, dari 57,33 juta (21,45%) pada 2019 menjadi 47,85 juta (17,13%) pada Maret 2024. Sementara itu, jumlah menuju kelas menengah meningkat dari 128,85 juta (48,20%) menjadi 137,50 juta (49,22%). Kelompok kelas menengah mencakup masyarakat dengan pengeluaran berkisar Rp2.040.262 mencapai Rp9.909.844 per kapita per bulan pada 2024. Jumlah itu ditentukan oleh standar Bank Dunia soal kelas menengah  dengan perhitungan 3,5-17 kali garis kemiskinan suatu negara. (Yetede)