Ekonomi
( 40733 )Pemutihan Utang Petani dan Nelayan Masih jadi Wacana
Bergegas untuk Selamatkan Sritex
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) akan menyiapkan beberapa opsi penyelamatan terhadap PT Sri Rezeki Isman Tbk atau Sritex (SRIL) dari kondisi pailit seperti yang ditetapkan oleh Pengadilan Negeri (PN) Semarang. Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita menerangkan, pihaknya sudah melakukan pertemuan dengan Sritex dan menyiapkan dua strategis guna menyelamatkan raksasa tekstil tersebut. Pemerintah berkomitman untuk menjaga keberlangsungan operasional Sritex serta memastikan tidak ada PHK. "Kami membahas dua kemungkinan: jika kasasi Sritex menang atau kalah.
Pemerintah memiliki komitmen yang sama dalam dua skenario, yaitu menyelamatkan tenaga kerja dan menjaga agar perusahaan tetap produksi tanpa ada PHK. Jika kasasi kalah, Sritex masih memiliki opsi hukum lanjutan berupa Peninjauan Kembali (PK)," ucap dia. Adapun langkah yang harus segera dilakukan yaitu memastikan perusahaan tekstil tersebut tetap dapat mengirimkan barangnya ke konsumen di luar negeri. "Merekakan tetap berproduksi, tapi barang tidak bisa keluar dari pabrik, tidak bisa keluar dari kawasan berikat. Itu bagaimana pemerintah bisa memastikan dalam hal ini. Bea Cukai bahwa barang-barang yang diproduksi oleh mereka itu bisa keluar, bisa diekspor" ujar Agus. (Yetede)
Penemuan Atefak Logam di Situs Gua Harimau
PENEMUAN artefak logam di situs Gua Harimau, Sumatera Selatan, menjadi bukti kuat bahwa Pulau Sumatera memegang peran penting dalam kebangkitan zaman logam di Nusantara. Artefak-artefak ini diperkirakan berasal dari abad ke-4 Sebelum Masehi hingga abad ke-1 Masehi, menjadikannya sebagai artefak logam tertua di Indonesia. Dengan demikian, temuan ini bukan penemuan arkeologi biasa, melainkan simbol perubahan besar dalam kehidupan masyarakat purba. Pada masa ini, teknologi logam mulai dikenal dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Gua Harimau menjadi saksi sejarah yang membawa Indonesia memasuki era logam. Gua Harimau adalah salah satu situs prasejarah di kawasan karst Padang Bindu, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Provinsi Sumatera Selatan. Hasil penggalian arkeologi yang saya lakukan bersama tim peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang melebur ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional/BRIN) selama kurang-lebih tujuh tahun sejak 2008 hingga 2015 menunjukkan bahwa gua ini telah dihuni sejak 22 ribu tahun lalu.
Penelitian kami menemukan artefak batu dan sisa-sisa fauna yang menandai masa Palaeolitik dan Pra-Neolitik. Lalu, ketika zaman beralih ke periode Neolitik dan Palaeometalik, penemuan peninggalan sejarah lain, seperti tembikar, alat-alat tulang, dan sisa-sisa pembakaran, menambah petunjuk aktivitas manusia di sana. Pada lapisan Palaeometalik ditemukan perubahan besar: 12 artefak logam, yang terdiri atas 8 artefak perunggu dan 4 artefak besi. Temuan ini mengindikasikan awal kebangkitan zaman logam di wilayah tersebut. Salah satu temuan yang paling menarik adalah kapak bersoket dari perunggu. Kapak ini ditemukan sebagai bekal kubur dalam beberapa pemakaman di Gua Harimau. Bekal kubur adalah benda-benda yang ditempatkan bersama jenazah, yang dipercaya memiliki makna simbolis atau religius dalam kehidupan setelah kematian—mirip tradisi memberikan barang-barang berharga kepada orang yang dikasih. (Yetede)
4 dari 10 Warga RI Masih Melajang karema masih belum Mapan
Makin banyak warga Indonesia yang hidup melajang. Sejalan dengan itu, usia warga yang menikah cenderung menua. Ini terlihat dari olahan data mikro Survei Sosial Ekonomi Nasional BPS tahun 2012 hingga 2022, yang juga tecermin pada tren satu tahun terakhir. Pada rentang 2012-2022, proporsi penduduk lajang meningkat 5,4 %. Warga lajang pada tahun 2012 semula ada 40,3 juta jiwa atau 30,1 % dari total 133,7 juta jiwa warga usia 15-49 tahun. Tahun 2022 meningkat menjadi 52,6 juta jiwa atau 35,5 % dari total 148,3 juta jiwa warga di kelompok usia sama. Status lajang lebih banyak ditemukan pada laki-laki daripada perempuan. Tahun 2022, jumlah laki-laki belum menikah 31,8 juta jiwa atau 42,3 % dari total 75,2 juta laki-laki usia 15-49 tahun. Sementara jumlah perempuan lajang 20,7 juta jiwa atau 28,4 % dari total 73,1 juta perempuan pada rentang usia sama.
Tren ini berlanjut pada 2023. Warga lajang naik lagi menjadi 37,2 % atau 55,8 juta orang. Persentase laki-laki lajang naik menjadi 43,9 % dan perempuan lajang juga naik menjadi 30,7 %. Artinya, pada tahun 2012 ada tiga dari 10 warga usia 15-49 tahun yang melajang. Tahun 2023, angkanya naik menjadi empat dari 10 warga melajang di kelompok usia yang sama. Pernikahan masih menjadi hal menakutkan bagi Denny (25), karyawan swasta di Bekasi, Jabar. Ia merasa belum mapan dari sisi ekonomi, membuat hubungan dengan kekasihnya kandas tahun lalu. Saat itu Denny menghadapi dilema. ”Saya harus nikah dulu baru mapan, atau mapan dulu baru nikah,” ujar Denny, pertengahan Oktober 2024. Akhirnya, ia memilih mencari kemapanan dulu. (Yoga)
Kabinet diminta Tancap Gas oleh Presiden
Retret Kabinet Merah Putih yang digelar di Akmil, Magelang, Jateng, sejak Kamis (24/10) telah tuntas pada Minggu (27/10). Presiden Prabowo Subianto meminta semua anggota kabinetnya segera tancap gas melaksanakan program-program prioritas. Wapres Gibran Rakabuming Raka menjadi yang pertama meninggalkan lokasi retret di Akmil. Gibran keluar dari gerbang Akmil sekitar pukul 09.30 WIB. Disusul para menteri Kabinet Merah Putih dan jajaran wamen, kepala-wakil kepala badan, serta utusan khusus presiden. Presiden Prabowo meninggalkan Akmil pukul 10.50 WIB menggunakan mobil MV3 Garuda Limousine lalu menyapa warga yang menunggunya di Jalan Jenderal Gatot Subroto, depan Akmil.
Menurut Mensesneg Prasetyo Hadi, retret kali ini menjadi bekal yang baik untuk kabinet selama lima tahun mendatang. Seusai retret, semua jajaran diharapkan dapat melaksanakan program-program prioritas dalam waktu cepat. ”Presiden minta mulai besok (hari ini) kita tancap gas,” ujar Wamendagri Bima Arya Sugiarto. Bima menuturkan, rangkaian kegiatan retret telah melatih kedisiplinan, loyalitas, dan militansi. Kegiatan itu menunjukkan kabinet disiapkan secara terstruktur dan sistematis. Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menuturkan, Prabowo menginstruksikan agar program-program pemerintah jangka pendek dan menengah harus segera diselesaikan. ”Insya Allah kami langsung kerja cepat,” kata Airlangga. (Yoga)
Kasus pailit PT Sritex membutuhkan penyelesaian komprehensif
Kasus pailit PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex membutuhkan penyelesaian komprehensif. Pembenahan harus dilakukan agar industri tekstil domestik berjaya lagi. Sritex, Perusahaan tekstil di Sukoharjo, Jateng, dinyatakan pailit berdasar putusan PN Semarang Kelas 1A Khusus, Jateng, Senin (21/10). Keputusan pailit dilakukan PN Semarang setelah mengabulkan permohonan PT Indo Bharat Rayon yang meminta pembatalan perdamaian yang sebelumnya diputuskan melalui homologasi karena Sritex dinilai lalai memenuhi kewajiban pembayaran utang (Kompas.id, 25/10/2024). Konteks global yang memengaruhi penjualan tekstil dan produk asal tekstil ke luar negeri sejauh ini belum mendapatkan solusi. Situasi geopolitik global menekan permintaan beberapa negara.
Pemerintah dan swasta harus bekerja sama untuk mencari solusi, terutama mencari pasar baru dan pasar dalam negeri harus diperkuat. Kehadiran produk impor dari berbagai negara, secara khusus China, harus ditangani.Kebijakan pemerintahperlu satu visi sehingga produk impor tidak masuk ke dalam negeri secara bebas. Produk domestik sedapat mungkin mendapattempat di dalam negeri dan berkembang. Pada saat yang sama, upaya perdamaian sengketa Sritex dengan salah satu kreditor PT Indo Bharat Rayon kian sulit diwujudkan karena sudah masuk di peradilan niaga. Penundaan kewajiban pembayaran utang oleh Pengadilan Niaga telah dibatalkan karena Sritex dianggap lalai memenuhi kewajiban pembayaran. Sritex kini melakukan kasasi. Kondisi keuangan Sritex memang tidak dalam kondisi sehat.
Beban utang mereka besar dan juga tengah kesulitan melakukan pembayaran. Namun, putusan pailit semakin menyulitkan Sritex melakukan upaya-upaya strategis memulihkan kondisi keuangan. Beban utang jangka panjang di perbankan cukup besar, lebih dari 809 juta USD. Karena itu, bila Sritex harus dipailitkan, dampak masalahnya akan banyak dan makin tidak bisa ditangani. Sritex adalah industri tekstil dan ikonik yang jika ditutup, bakal memengaruhi industri tekstil dan produk tekstil secara umum. Penyelamatan Sritex penting karena menyangkut tenaga kerja dengan jumlah banyak, sekitar 50.000 orang. Yang berdampak pada UKM dan pemasok dengan jumlah besar. (Yoga)
Indonesia resmi ingin bergabung dengan BRICS
Indonesia resmi menyampaikan keinginan untuk bergabung dengan BRICS, blok kerja sama ekonomi yang diperkuat China dan Rusia. Hal itu disampaikan Menlu Sugiono saat menghadiri KTT BRICS di Kazan, Rusia, Kamis (24/10). Langkah yang mengawali proses penerimaan Indonesia di dalam BRICS itu menjadi awal kebijakan luar negeri RI di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo. Dalam keterangan tertulis, Sugiono menekankan bahwa keinginan Indonesia bergabung dengan BRICS merupakan manifestasi politik luar negeri RI yang bebas aktif. Disampaikan pula harapan Indonesia agar BRICS bisa memperkuat kemitraan negara-negara selatan (Global South).
Menurut Sugiono, prioritas BRICS selaras dengan program kerja Kabinet Merah Putih, antara lain penciptaan ketahanan pangan dan energi, pemberantasan kemiskinan, serta pemajuan SDM. Tak sedikit kalangan yang melihat BRICS sebagai bagian dari upaya China dan Rusia membangun blok kerja sama ekonomi yang menandingi kubu Barat. Namun, bagi sebagian besar anggota BRICS, keikutsertaan dalam blok ini bukan soal menandingi Barat atau tidak. Bagi mereka, BRICS merupakan sarana tepat guna memperluas kerja sama multilateral dan meningkatkan kemitraan ekonomi serta perdagangan. BRICS dipandang penuh potensi karena pasar di antara anggotanya menggiurkan.
Sepuluh negara yang aktif di dalamnya mewakili 35,6 % produk domestik bruto (PDB) global (purchasing power parity). Tujuh negara maju dalam G7 mewakili 30,3 % PDB. Dalam jumlah penduduk, BRICS mewakili 45 % populasi dunia, sementara G7 merepresentasikan kurang dari 10 %. Bagi Indonesia, keterbukaan kerja sama dengan pihak mana pun penting demi meningkatkan kinerja ekonomi. Target pertumbuhan 8 % memerlukan kemitraan dengan banyak negara. Besar harapan kita, BRICS sungguh-sungguh membantu Indonesia dan negara berkembang lain untuk meningkatkan pertumbuhan dan kesejahteraan rakyat. (Yoga)
Harapan Masyarakat untuk Kabinet Merah Putih
Masyarakat berharap Kabinet Merah Putih segera mewujudkan kebijakan nyata yang menjamin kepastian kerja dan upah layak serta menjaga stabilitas ekonomi di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok. “Saya melihat sektor ekonomi didominasi teknokrat, dengan Sri Mulyani tetap di posisinya, yang membuat saya optimistis pada kinerja mereka. Fokus utama adalah menghidupkan sektor manufaktur dan menyusun kebijakan tepat guna bagi kelas menengah rentan yang sering terabaikan. Saya berharap para menteri bijak dan transparan dalam mengelola keuangan serta aset agar investasi sektor riil bisa mendorong penciptaan lapangan kerja,” ujar Alvinta (28) Penulis di Yogyakarta.
Natasha Hadiwinata (33) Penulis freelance di Jakarta, berkata, “Saya hanya mengenal sedikit dari 48 menteri Kabinet Merah Putih. Saya harap menteri-menteri ekonomi bisa mengambil keputusan yang tidak memberatkan rakyat menengah ke bawah. Mereka dipilih Presiden untuk menjadi pengamanah negara yang baik. Isu penting bagi saya adalah menciptakan lapangan kerja yang mumpuni, apalagi banyak pekerja terkena layoff. Semoga ekonomi terus bergerak dan tidak lesu, dengan peluang kerja yang lebih baik”.
Bramantyo Yamasatrio Kumoro (26) Guru swasta di Jakarta berkata, ”Pejabat sering lupa janji setelah terpilih. Masyarakat sulit mengakses pejabat untuk meminta kejelasan. Fokus saya sekarang hanya bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan keluarga. Saya harap Kabinet Merah Putih segera bertindak nyata, terutama di bidang ekonomi, dengan kebijakan konkret untuk memastikan kepastian kerja dan upah yang layak. Banyak pemberi kerja masih membayar di bawah UMR (upah minimum regional), padahal harga terus naik. (Yoga)
Harga Minyak yang Berfluktuasi wajib diwaspadai
Serangan udara Israel terhadap Iran, Sabtu (26/10) diperkirakan tidak menaikkan harga minyak mentah. Selain tak menyasar fasilitas minyak, pasar bisa tenang karena Iran tak menganggapnya sebagai serangan berarti. Namun, bagi Indonesia, risiko fluktuasi harga minyak yang rentan terhadap faktor geopolitik, wajib diwaspadai. Mengutip laporan Reuters, Minggu (27/10), kondisi itu diyakini bakal membuat harga minyak mentah turun, berbeda dengan dampak serangan Iran ke Israel pada 1 Oktober 2024, yang membuat harga minyak mentah jenis Brent naik dari 73 USD per barel ke 80 USD per barel. Namun, setelah itu, harganya kembali turun. Pada Jumat (25/10), perdagangan minyak mentah ditutup pada 76 USD per barel.
”Israel tak menyerang infrastruktur minyak. Laporan bahwa Iran tidak akan menanggapi serangan tersebut menghilangkan unsur ketidakpastian,” ujar Tony Sycamore, analis market IG di Sydney, Australia, seperti dilaporkan Reuters. Kondisi itu, kata Sycamore, kemungkinan bakal memunculkan reaksi bertipe buy the rumour, sell the fact (membeli berdasarkan informasi dan menjual setelah berita/faktanya terbit). Ia juga memprediksi harga minyak mentah jenis WTI, yang pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu pada 71 USD per barel, akan turun menjadi 70 USD per barel. Sementara harga minyak Brent diperkirakan turun menjadi 74-75 USD per barel.
Bagi Indonesia, serangan Israel terhadap Iran yang cenderung terkendali dan tak membuat harga minyak mentah melonjak bisa menjadi kabar yang melegakan, setidaknya untuk jangka pendek. Namun, fluktuasi harga minyak akibat konflik di Timur Tengah tetap menjadi risiko yang perlu diwaspadai. Sebab, Indonesia negara importir minyak dengan tren penurunan produksi siap jual (lifting) minyak di dalam negeri. Tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir membuat lifting minyak bumi anjlok menjadi sekitar 577.000 barel per hari. Padahal, kebutuhan nasional sekitar 1,6 juta barel per hari. (Yoga)
Membangun Kesejahteraan dengan Tulang Ikan
Setahun terakhir, sejumlah ibu rumah tangga di Dusun Srinanti, Banyuasin, Sumsel, tidak lagi semata sibuk mengurus rumah. Sejak diberi pengetahuan baru oleh Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas PGRI Palembang yang didukung Kilang Pertamina Internasional Refinery Unit (RU) III Plaju, ibu-ibu di sana mengolah tulang ikan patin dan lele menjadi kemplang khas Palembang. Windi Larasati (32) saat ditemui, Jumat (18/10) mengatakan, tulang ikan patin atau lele bisa diolah menjadi bahan baku kemplang yang merupakan penganan khas yang sangat digemari masyarakat Palembang. Caranya, tulang dipresto supaya lunak.
Setelah itu, dihaluskan sehingga menjadi tepung, lalu diolah dengan tepung tapioka, tepung beras, dan bumbu dasar sebagaimana bahan baku kemplang umumnya. Selanjutnya, semua bahan dibuat menjadi pempek lenjer bulat memanjang. Bahan lenjeran itu diiris tipis-tipis sebelum dikeringkan di bawah terik matahari, hingga kandungan airnya berkurang drastis. Kemudian digoreng sampai mengembang dan kemplang siap disajikan. Cita rasa ikan dominan dalam setiap gigitan kemplang. Teksturnya renyah atau mudah dikunyah. Kalau tidak tahu bahan baku aslinya, siapa pun pasti mengira itu kemplang biasa yang terbuat dari daging ikan.
Windi dan 12 ibu lainnya yang tergabung dalam kelompok UMKM Jasmine Suger memberi merek kemplang itu ”Kerupuk Pale, Ikan Patin dan Lele”. Bahan pembuatan tergantung ketersediaan tulang ikan, antara patin atau lele. Mereka membuat dua kemasan, yakni kemasan premium 50 gram seharga Rp 15.000 per bungkus dan kemasan biasa dengan berat bersih sama seharga Rp 10.000 per bungkus. Kemplang tulang ikan mendapat respons positif dari sejumlah pihak, terutama para pegawai Pertamina RU III Plaju yang membelinya untuk camilan hari-hari, mengisi kantin kantor, oleh-oleh tetamu, hingga dibawa ke pameran UMKM di Sumsel dan luar Sumsel. Semua kemplang itu nyaris selalu habis sehingga memberi pemasukan Rp 1 juta per orang per bulan. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









