Ekonomi
( 40460 )Grup Sinar Mas Jual Sebagian Kepemilikannya di Saham Smartfren
UMKM Cenderung Melambat
Naik 8,3%, Utang Luar Negeri
Kemenperin Proyeksikan Pasar Ekspor Industri Tekstil Tumbuh 3,17 Persen
Menjaga Stabilitas Neraca Perdagangan
Serangkaian kunjungan kenegaraan dan pertemuan internasional yang dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto dalam sepekan terakhir memberikan dampak positif terhadap peningkatan kerja sama ekonomi dan perdagangan Indonesia. Presiden Prabowo melakukan pertemuan dengan pemimpin negara besar seperti Presiden Xi Jinping di China, Presiden Joe Biden di AS, serta Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, dalam rangka memperkuat hubungan dagang dan ekonomi Indonesia dengan negara-negara tersebut. Selain itu, pada KTT APEC di Peru, Presiden Prabowo menekankan pentingnya mempererat hubungan ekonomi Indonesia dengan Australia.
Pada sisi ekonomi, Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan yang cukup stabil, dengan surplus US$24,43 miliar hingga Oktober 2024, meskipun sektor migas mengalami defisit. Sektor nonmigas terus mendominasi dengan kontribusi besar terhadap ekspor Indonesia, yang mencatatkan pertumbuhan positif. Namun, meski surplus neraca perdagangan terus terjaga, ada tren pelambatan yang perlu diwaspadai, terutama dalam ekspor.
Menteri Perdagangan Budi Santoso juga menyoroti pentingnya kesepakatan bilateral, seperti yang tercapai dalam Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), yang diharapkan dapat memperkuat perdagangan kedua negara. Dalam hal ini, Menteri Budi menyambut rencana Misi Perdagangan Kanada ke Indonesia pada Desember 2024 yang membawa sekitar 300 pelaku usaha.
Namun, sejumlah tokoh, seperti Shinta Widjaja Kamdani dari Apindo, mengingatkan pentingnya merumuskan kebijakan baru di sektor perdagangan untuk meningkatkan ekspor Indonesia. Ditekankan bahwa Indonesia perlu melakukan diversifikasi perdagangan dan stimulasi ekspor agar dapat mencapai target surplus perdagangan yang lebih tinggi, yakni antara US$31,6 miliar hingga US$53,4 miliar pada 2024. Ekonom Yusuf Rendy Manilet juga menilai bahwa jika surplus perdagangan tidak mencapai target, aliran mata uang asing yang masuk ke Indonesia bisa berkurang, yang pada gilirannya dapat melemahkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Secara keseluruhan, meskipun Indonesia terus mencatatkan surplus neraca perdagangan, tantangan dan upaya strategis di sektor perdagangan masih diperlukan untuk mencapai target yang lebih ambisius dan mempertahankan stabilitas ekonomi negara.
Ekspansi Pasar Ekspor untuk Pertumbuhan Berkelanjutan
Indonesia berhasil mempertahankan tren positif neraca perdagangan selama 54 bulan berturut-turut hingga Oktober 2024, meskipun upaya pemerintah untuk memperluas pasar ekspor dan mencapai target surplus yang lebih tinggi masih diperlukan. Neraca perdagangan Indonesia pada Oktober 2024 mencatatkan surplus sebesar US$2,48 miliar, dengan sektor nonmigas memberikan kontribusi terbesar, yaitu US$41,82 miliar, meskipun sektor migas mengalami defisit US$17,39 miliar. Namun, target surplus pemerintah yang diharapkan berkisar antara US$31,6 miliar hingga US$53,4 miliar untuk tahun ini masih belum tercapai, sehingga diperlukan strategi yang lebih jitu dan penguatan sektor usaha.
Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya meningkatkan kerja sama antarnegara dan membuka peluang pasar baru, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global. Dalam hal ini, langkah agresif pemerintah untuk menjaring pasar ekspor baru sangat dibutuhkan. Sektor industri pengolahan, yang menjadi penyumbang terbesar dalam ekspor Indonesia, mengalami peningkatan yang signifikan pada Oktober 2024, dengan ekspor industri pengolahan naik 12,04% dibandingkan bulan sebelumnya.
Namun, tantangan tetap ada, terutama terkait dengan masalah dalam sektor tekstil yang masih menghadapi banyak pabrik yang tutup. Penyelesaian masalah di sektor-sektor tertentu, termasuk tekstil, dan peningkatan kapasitas industri dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan pada impor menjadi agenda penting. Pemerintah diharapkan untuk terus mendorong pertumbuhan ekspor dan memperkuat daya saing industri domestik agar dapat mengatasi tantangan tersebut dan mencapai surplus perdagangan yang lebih tinggi di masa depan.
Optimisme di Tengah Potensi Pasar Saham
Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Jumat, 15 November, disebabkan oleh aksi jual investor asing yang berfokus pada ketidakpastian global, terutama terkait Pemilu AS dan kebijakan proteksionisme yang mungkin diambil oleh Presiden AS, Donald Trump. Meskipun demikian, Rizky Hidayat, Investment Specialist dari Schroders Indonesia, menilai bahwa valuasi pasar saham Indonesia saat ini masih menarik dengan PE ratio 14 kali, yang terdiskon dibandingkan dengan pasar saham AS, Jepang, atau India. Oleh karena itu, Schroders tetap optimis terhadap prospek jangka panjang pasar saham Indonesia, meskipun kondisi makroekonomi saat ini lebih mempengaruhi sentimen investor.
Selain itu, analis dari Maybank Sekuritas Indonesia merevisi target IHSG untuk 2024 menjadi 7.900, dengan proyeksi pertumbuhan laba yang solid. MNC Sekuritas juga mencatat dampak kebijakan proteksionisme AS terhadap aliran dana keluar dari pasar negara berkembang, sementara Mirae Asset Sekuritas menganggap sentimen positif dari data ekonomi AS bisa membuka peluang bagi pelonggaran kebijakan moneter.
Para analis juga memberikan rekomendasi saham yang berpotensi stabil meskipun pasar sedang tertekan, seperti PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Adaro Energy Indonesia (ADRO), dan PT Bank Mandiri (BMRI). Dengan adanya ketidakpastian global, mereka menekankan pentingnya pemilihan saham yang selektif dan lebih oportunistik dalam menghadapi fluktuasi pasar.
Pembiayaan Ekonomi Butuh US$600 Miliar
Indonesia bertekad untuk mempercepat industrialisasi melalui penghiliran sumber daya alam, seperti nikel, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Dalam sambutannya di APEC CEO Summit di Peru, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto menegaskan pentingnya mengolah sumber daya Indonesia dan menargetkan investasi sekitar US$600 miliar untuk sektor ini. Prabowo juga menekankan komitmen Indonesia untuk melindungi investasi dan menciptakan kondisi ekonomi yang menguntungkan. Keberhasilan penghiliran nikel telah terbukti meningkatkan pertumbuhan ekonomi di wilayah Timur Indonesia, seperti Maluku dan Papua, meski tantangan dalam mengurangi kemiskinan tetap ada. Pemerintah juga tengah mengkaji insentif untuk mendukung penghiliran industri, termasuk tax holiday dan tax allowance, dengan tujuan mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, sesuai dengan target Presiden yang menginginkan laju pertumbuhan sekitar 8%.
Inovasi Sebagai Kunci Pertumbuhan UMKM
Meskipun banyak tantangan yang dihadapi oleh pelaku UMKM, terutama dalam hal literasi digital dan keterbatasan biaya implementasi teknologi, berbagai startup kini hadir untuk memberikan solusi yang inovatif dan terjangkau. Wappin, yang dipimpin oleh CEO Alfi an Tinangon, menawarkan platform berbasis kecerdasan buatan (AI) yang memungkinkan UMKM untuk mengelola pesanan dan berinteraksi dengan pelanggan melalui aplikasi perpesanan populer seperti WhatsApp. Solusi ini mengurangi ketergantungan pada tenaga admin dan memungkinkan UMKM mengalokasikan tenaga kerja untuk tugas lain yang lebih produktif.
Selain itu, PT Esensi Solusi Buana (ESB), yang dipimpin oleh Gunawan Woen, menyediakan solusi teknologi untuk UMKM di sektor kuliner, termasuk aplikasi kasir dan sistem ERP. Teknologi AI yang ditawarkan, seperti fitur OLIN, membantu pengusaha kuliner meningkatkan efisiensi operasional dan mendeteksi potensi kecurangan, sehingga mereka dapat lebih mudah mengelola bisnis mereka dengan lebih efisien dan meningkatkan nilai rata-rata pesanan.
Paper.id, yang didirikan oleh Yosia Sugialam, juga memberikan solusi untuk membantu UMKM mengelola arus kas dan pembayaran secara lebih mudah dan efisien. Platform ini memungkinkan UMKM untuk mengelola transaksi melalui lebih dari 30 metode pembayaran, termasuk cicilan dan kartu kredit, serta menyediakan produk Papercard untuk membantu pengusaha mengelola pembiayaan dengan lebih fleksibel.
Ketiga startup ini menawarkan teknologi yang sangat relevan dan bermanfaat bagi UMKM, seiring dengan target pemerintah untuk mengintegrasikan 30 juta UMKM ke dalam ekosistem digital pada akhir tahun ini. Meskipun tantangan seperti keterbatasan literasi digital dan biaya teknologi masih ada, solusi yang ditawarkan oleh startup-startup tersebut membuka peluang besar bagi UMKM untuk tumbuh dan meningkatkan daya saing mereka, yang pada akhirnya dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.
Investasi Bitcoin Mengalir Deras
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









