Ekonomi
( 40460 )Menapaki Jalan Sulit Menuju Target Ekonomi
Realisasi investasi sektor hulu migas Indonesia sepanjang Januari hingga Oktober 2024 mencapai US$10,3 miliar, sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Meskipun demikian, target investasi sektor hulu migas yang semula dipatok US$17,7 miliar telah direvisi turun menjadi US$16 miliar, mengingat sejumlah kebijakan seperti kewajiban tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang menghambat progres kegiatan. Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, tetap optimistis target akhir tahun bisa tercapai, meskipun ada penundaan kegiatan.
Di sisi lain, penerimaan negara dari sektor hulu migas juga mencatatkan angka US$12,7 miliar, hampir mencapai target yang diharapkan. Djoko Siswanto berharap penerimaan negara bisa melampaui US$14 miliar pada akhir tahun. Namun, sektor ini masih dihadapkan pada tantangan, seperti pemerasan terhadap kontraktor di Selat Madura yang mengganggu kegiatan eksplorasi. Djoko meminta dukungan dari DPR dan pemangku kepentingan untuk menyelesaikan masalah tersebut, yang dapat mempengaruhi kenyamanan investor.
Selain itu, Moshe Rizal, Ketua Komite Investasi Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas, menekankan perlunya kebijakan terobosan untuk menjadikan industri hulu migas Indonesia lebih atraktif bagi investor. Menurutnya, perbaikan aturan yang ada masih belum cukup untuk menarik lebih banyak investasi, terutama karena negara lain mulai menawarkan iklim investasi yang lebih baik dan sesuai dengan tren transisi energi global.
Industri Ritel Diprediksi Sulit Capai Pertumbuhan Dua Digit di 2025
Pertumbuhan sektor ritel nasional pada tahun 2025 diperkirakan akan terbatas, kemungkinan hanya mencapai satu digit, atau tidak lebih dari 10%. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, menyatakan bahwa kenaikan tarif PPN dari 11% menjadi 12% tanpa adanya stimulus untuk masyarakat kelas menengah bawah bisa memperburuk daya beli mereka dan berdampak negatif terhadap penjualan produk ritel. Alphonzus mengusulkan agar pemerintah terlebih dahulu memaksimalkan pertumbuhan usaha sebelum menaikkan tarif PPN, untuk menghindari dampak negatif yang lebih besar terhadap sektor ritel.
Namun, Menteri Keuangan Sri Mulyani menegaskan bahwa kenaikan PPN menjadi 12% sudah diamanatkan oleh Undang-Undang No. 7/2021, dan pemerintah berencana untuk menjalankannya pada 1 Januari 2025. Meskipun demikian, tarif PPN ini tidak akan berlaku untuk barang dan jasa kebutuhan pokok, pendidikan, kesehatan, dan transportasi. Di sisi lain, Menteri Perdagangan Budi Santoso optimistis bahwa sektor ritel dapat mencatatkan pertumbuhan sekitar 5% pada 2025, meskipun dalam kondisi ekonomi yang masih penuh tantangan.
Sementara itu, Executive Director Indogrosir, Anton Prasetyo, berharap bahwa bisnis ritel di Indonesia dapat tumbuh lebih baik di 2025 dibandingkan dengan tahun ini, meskipun sektor ini menghadapi persaingan ketat dan penurunan daya beli. Anton optimistis bahwa sektor ritel akan terus beradaptasi dengan tantangan dan dapat mencatatkan pertumbuhan positif, meskipun pelaku ritel dihadapkan pada berbagai kendala.
Secara keseluruhan, artikel ini menunjukkan bahwa meskipun ada optimisme dari pemerintah dan beberapa pelaku industri terkait proyeksi pertumbuhan sektor ritel pada 2025, kekhawatiran terhadap dampak kenaikan PPN dan penurunan daya beli masyarakat, terutama kelas menengah bawah, tetap menjadi perhatian utama yang perlu diperhatikan oleh pemerintah untuk menjaga stabilitas sektor ritel.
Stabilitas Pasar Meski Ada Peluang Penurunan
Saham Blue Chip Tunggu Sentimen Window Dressing
Program Nutrisi Gratis Angkat Sektor Terkait
Bisnis Syariah Tunjukkan Tren Positif
Incar Dana di Detik-detik Akhir Tahun
Diversifikasi Jadi Kunci Strategi Bisnis
Sinar Harapan di Emiten Semen
Laga Mike Tyson Vs Jake Paul yang penuh dengan cuan
Dalam ilmu pemasaran ada istilah ”names make money”. Artinya, nama besar figur publik mampu menarik perhatian khalayak dan bisa menghasilkan untung jumbo. Itulah yang membuat laga tinju Mike Tyson melawan Jake Paul ini begitu menarik dan dinanti publik. Mantan juara dunia tinju kelas berat yang keluar dari masa pensiunnya untuk melawan kreator Youtube kondang jelas menjadi kombinasi pemasaran yang sangat menarik. Tak heran pertandinganmenghasilkan gelimang cuan bagi para pihak. Pertandingan yang bernuansa olahraga cum hiburan itu berlangsung di Stadion AT&T Arlington, Texas, AS, Sabtu (16/11) pagi WIB atau Jumat (15/11) malam waktu setempat. Tyson harus mengakui keunggulan Jake yang menang atas penilaian skor juri. Tyson tak lagi trengginas seperti saat jayanya dulu yang terkenal bisa menghabisi lawannya cukup di ronde pertama.
Penggemar tinju pun menyesalkan pertandingan itu karena menodai citra tak terkalahkan Tyson yang pernah dijuluki ”Pria Terjahat Seisi Planet” itu. Kendati demikian, Tyson tidak ambil pusing. Sebab, mengutip Fortune, Tyson dikabarkan memperoleh bayaran 20 juta USD atau Rp 317,96 miliar dari pertandingan itu. Bayaran itu dua kali lipat dari kekayaan Mike Tyson saat ini yang diperkirakan 10 juta USD. Tyson memang dalam kondisi butuh uang. Sebab, petinju berjuluk ”Si Leher Beton” ini tengah terlilit banyak utang. Pada 2003, Tyson dinyatakan bangkrut dan memiliki utang 27 juta USD, akibat kebiasaan buruknya berbelanja tanpa alasan jelas hingga berpesta pora di dunia malam. Paul dikabarkan mendapat bayaran dua kali lipat Tyson dari pertandingan itu, karena Paul adalah salah satu pemilik dari Most Valuable Promotions yang menjadi promotor terselenggaranya pertandingan itu.
Dari pertandingan tersebut, penyelenggara meraup pendapatan dari hasil penjualan tiket 17,8 juta USD, dari 70.000 penonton yang hadir secara langsung di AT&T Stadium. Tiket yang dijual berkisar antara 58 USD dan 1.500 USD bergantung posisi kursi. Bahkan, panitia menjual tiket VIP seharga 2 juta USD untuk bisa duduk di depan ring tinju. Pertandingan itu juga disiarkan secara langsung di layanan pemutar film dan video berbayar Netflix. Mengutip Tudum by Netflix, pertandingan Tyson melawan Paul itu disaksikan 60 juta pengguna secara langsung di seluruh dunia. Selain itu, Netflix juga merilis dokumenter berjudul Countdown Paul vs Tyson: A Documentary Series yang dirilis sepekan lalu. Serial tiga episode itu sudah ditonton 4,4 juta kali dengan durasi 6 juta. Paul sendiri diketahui memiliki kekayaan 80 juta USD. Bayaran dari pertandingan dengan Tyson itu setara setengah kekayaannya saat ini. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









