Ekonomi
( 40430 )Pemerintah Cabut Empat Izin Usaha Pertambangan Nikel di Kabupaten Raja Ampat
Semakin Banyak Investasi Bakal Masuk IKN
Tiga Bulan Pertama Tahun Ini Perbankan Indonesia Mencetak Laba Bersih Sebesar Rp65,45 triliun
Gag Nikel Bersiap Produksi
Saham Emiten Nikel Berguguran
Saham emiten nikel berguguran di tengah sorotan publik terhadap operasi sejumlah tambang logam dasar tersebut di kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya. Meski emiten nikel tak semuanya beroperasi di Kabupaten Raja Ampat, isu keberlanjutan di wilayah Surga Bawah laut Dunia itu telah berimbas pada saham-saham nikel seperti PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Tanpa kecuali, saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) alias Antam. Akibat isu panas ini, deretan emiten nikel berkapasitas kakap itu terperosok top losers pada perdagangan Selasa (10/6/2025).
Tercatat, saham NKCL gugur sebanyak 15 poin (-2,08%) ke posisi (-8%) ke level Rp414 ambruk sebanyak 190 poin (-5,51%) ke area Rp3.260, dan INCO terpangkas 210 poin (-5,66%) hingga membawanya parkir di harga Rp3.500. Menariknya, penurunan kinerja saham emiten tambang nikel tersebut tidak lantas memengaruhi performa indeks sektor energi yang justru terapresiasi 2,18% ke level 2.881, sehingga IHSG tetap mampu melanjutkan tren reli ke posisi 7.230, setelah naik 1,65%. Di antara saham-saham emiten nikel yang berguguran, Antam dan Vale merupakan dua emiten tambang BUMN yang menjadi pemain kunci dalam ekosistem baterai kendaraan listrik nasional. Antam bahkan menjadi bulan-bulanan di tengah badai isu keberlanjutan di Raja Antam ini. (Yetede)
Wamendagri: Kebijakan Rapat di Hotel untuk Dorong Pemulihan Eonomi Daerah
Kebijakan Tarif Trump Dikhawatirkan Picu Impor Baja
Kemenhub Jaring 13 Bus Melanggar KIR dan KPS
Konflik Dagang Masih Bayangi Global Trade
Minat investor asing terhadap surat utang negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, menunjukkan tren positif dalam beberapa bulan terakhir. Peningkatan ini dipicu oleh penurunan suku bunga acuan dan apresiasi mata uang lokal terhadap dolar AS, yang menjadikan pasar obligasi lebih menarik.
Data dari Financial Supervisory Service mencatat bahwa sejak April 2025, Indonesia menerima investasi asing sebesar US$2,1 miliar, sementara Thailand mendapatkan US$1,7 miliar. Bahkan, Malaysia, menurut Bank Negara Malaysia, mengalami lonjakan tertinggi sejak 2013 dengan inflow sebesar US$2,9 miliar pada Mei 2025. Khusus Indonesia, kepemilikan asing atas obligasi pemerintah per 27 Mei 2025 telah mencapai Rp923,75 triliun, meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya.
Kebijakan moneter longgar turut mendorong arus modal. Bank Indonesia, melalui kebijakan yang dipimpin oleh Gubernur Perry Warjiyo, menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% pada Mei 2025, sebagai upaya menjaga stabilitas makroekonomi dan mendukung pertumbuhan.
Meski demikian, Harian ini mengingatkan akan risiko eksternal, terutama perang dagang antara AS dan China, yang bisa memicu volatilitas dan menghambat aliran investasi. Dampak proteksionisme global terhadap rantai pasok dan pertumbuhan ekonomi juga perlu diantisipasi, karena dapat menekan permintaan dan stabilitas pasar obligasi negara berkembang.
Dengan demikian, keberlanjutan stabilitas ekonomi domestik dan arah kebijakan Bank Indonesia menjadi faktor krusial dalam menjaga daya tarik obligasi Indonesia di mata investor asing. Meski prospek jangka pendek masih cerah, kewaspadaan terhadap gejolak global tetap diperlukan untuk menjaga kepercayaan pasar dalam jangka panjang.
Program Sosial Pemerintah Berpotensi Alami Perubahan Besar
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









