;
Kategori

Ekonomi

( 40460 )

Melambatnya Peredaran Uang, Tanda Konsumsi Melemah

23 Nov 2024
Perlambatan pertumbuhan likuiditas ekonomi Indonesia di akhir tahun 2024 menjadi lampu kuning bagi pemerintah dan Bank Indonesia (BI). Data BI menunjukkan, jumlah uang beredar (M2) pada Oktober 2024 mencapai Rp 9.078,6 triliun, tumbuh 6,7% year-on-year (yoy). Namun, pertumbuhan ini melambat dibandingkan bulan sebelumnya, yang mencatatkan pertumbuhan 7,2% yoy. Menurut Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, penurunan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan kredit yang stabil (10,4% yoy) dan kontraksi tagihan bersih kepada pemerintah pusat sebesar 0,1% yoy.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengingatkan bahwa perlambatan ini bisa menurunkan konsumsi, investasi, dan pertumbuhan ekonomi jika sektor riil tidak mampu menyerap likuiditas. Ia juga menyoroti risiko tekanan likuiditas perbankan jika dana pihak ketiga (DPK) tumbuh lebih lambat dari kredit, yang dapat mengganggu efisiensi intermediasi perbankan.

Awalil Rizky, Ekonom Senior Bright Institute, menambahkan bahwa pertumbuhan M2 sepanjang 2024 diperkirakan hanya bertahan di kisaran 7% yoy, jauh di bawah pertumbuhan pada 2020-2022. Ia juga mencatat bahwa kredit UMKM tumbuh lebih lambat dibanding kredit korporasi, sementara simpanan nasabah besar (di atas Rp 1 miliar) mendominasi pertumbuhan DPK.

Ke depan, Awalil menyarankan pemerintah, BI, dan OJK untuk mendorong aliran likuiditas ke sektor riil dan masyarakat bawah, terutama melalui peningkatan kredit UMKM. Langkah ini penting untuk menjaga stabilitas ekonomi, meningkatkan konsumsi, dan mendukung pertumbuhan yang inklusif di tengah tekanan likuiditas yang mengering.

Bisnis Lahan Industri Targetkan Untung Besar

23 Nov 2024
PT Bumi Citra Permai Tbk (BCIP) terus menggenjot bisnis kaveling industri dan pergudangan untuk memanfaatkan tingginya permintaan properti di berbagai sektor. Handry Soesanto, Direktur Keuangan BCIP, mengungkapkan bahwa strategi pengembangan ini berfokus pada lahan kaveling dan gudang yang mendukung industri kecil dan menengah (IKM). BCIP merupakan pengelola Millennium Industrial Estate di Kabupaten Tangerang, yang menjadi kawasan strategis untuk berbagai industri, termasuk pusat data dan mobil listrik.

Menurut laporan kinerja hingga kuartal III-2024, BCIP mencatat peningkatan pendapatan bersih sebesar 2,98% menjadi Rp 84,37 miliar. Namun, laba bersih mengalami penurunan tipis dari Rp 18,75 miliar menjadi Rp 17,77 miliar, akibat kenaikan beban operasional dan beban bunga utang. Kontribusi pendapatan terbesar berasal dari penjualan Kaveling Siap Bangun (Kasiba), yang meningkat dari tiga unit pada tahun lalu menjadi empat unit, dengan pendapatan mencapai Rp 67 miliar.

Meskipun demikian, penjualan gudang dan ruko turun tajam, dari tujuh unit menjadi satu unit dengan pendapatan hanya Rp 4 miliar. Pendapatan tambahan berasal dari anak perusahaan, PT Milwater Pratama Mandiri, yang mengelola sistem penyediaan air bersih, namun kontribusinya juga menurun dari Rp 13,48 miliar menjadi Rp 12,26 miliar.

Handry optimistis target pendapatan bersih BCIP tahun 2024 sebesar Rp 110 miliar—tumbuh 17% dibandingkan 2023—akan tercapai. BCIP juga memiliki cadangan tanah pengembangan seluas 279.428 meter persegi dan 24 unit gudang serta ruko dalam pembangunan untuk mendukung ekspansi bisnis. Kendati ada tantangan, BCIP tetap yakin akan prospek permintaan lahan industri, terutama dari sektor pusat data, kendaraan listrik, dan ekonomi digital.

Pembiayaan Multiguna Semarak Jelang Akhir Tahun

23 Nov 2024
Meskipun sektor otomotif mengalami kelesuan, pembiayaan multiguna oleh perusahaan multifinance tetap tumbuh hingga Oktober 2024.

Adira Finance, melalui produk Solusi Dana, mencatat peningkatan pembiayaan sebesar 12% secara tahunan dengan total penyaluran Rp 7,4 triliun. Sylvanus Gani, Chief Financial Officer Adira Finance, menyatakan bahwa peningkatan ini didukung oleh perluasan akses ke segmen masyarakat yang belum terjangkau perbankan. Ia optimis prospek pembiayaan multiguna akan terus berkembang karena kebutuhan masyarakat, baik konsumtif maupun produktif, semakin meningkat.

CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) mencatat kenaikan pembiayaan multiguna sebesar 16% yoy menjadi Rp 7,66 triliun. Ristiawan Suherman, Presiden Direktur CNAF, menyebut segmen mobil bekas memberikan kontribusi signifikan dengan pertumbuhan 64% mencapai Rp 4,87 triliun. Ia optimistis bahwa pertumbuhan ekonomi yang membaik akan mendorong agresivitas industri pembiayaan pada 2025.

WOM Finance mencatat peningkatan 2,3% yoy dengan total pembiayaan multiguna Rp 3,7 triliun. Menurut Cincin Lisa, Direktur Keuangan WOM Finance, segmen ini tetap diminati karena didukung oleh ekonomi yang stabil.

BFI Finance juga melaporkan pertumbuhan piutang pembiayaan multiguna sebesar 5,1% yoy menjadi Rp 4,37 triliun. Dian Fahmi, Corporate Communication Head BFI Finance, menegaskan bahwa pembiayaan multiguna di perusahaan ini difokuskan pada konsumsi barang dan jasa, bukan untuk aktivitas produktif.

Multifinance memandang segmen pembiayaan multiguna sebagai peluang strategis, dengan kontribusi signifikan terhadap total pendapatan masing-masing perusahaan.

Harga Tiket Mahal Mengancam Pertumbuhan Industri

22 Nov 2024

Maskapai penerbangan nasional sedang menghadapi tantangan besar dalam mengelola kinerja mereka di tengah kebijakan pemerintah yang berupaya menurunkan harga tiket pesawat, terutama selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025. Beberapa kebijakan pemerintah, seperti pemangkasan biaya tambahan penerbangan (surcharge) dan pemangkasan 50% biaya pelayanan jasa penumpang pesawat (PJP2U) atau airport tax, bertujuan untuk menekan harga tiket agar lebih terjangkau bagi masyarakat. Namun, kebijakan ini menimbulkan kekhawatiran bagi maskapai yang masih mengalami kerugian akibat tingginya biaya operasional yang tidak sebanding dengan pendapatan.

Tokoh-tokoh dalam industri penerbangan seperti Direktur Utama Pelita Air Service, Dendy Kurniawan, menyatakan harapannya agar mekanisme penurunan harga tiket dapat menguntungkan semua pihak, baik maskapai maupun penumpang. Senada dengan itu, Direktur Garuda Indonesia, Wamildan Tsani, menegaskan pentingnya perhitungan yang cermat agar penurunan harga tidak merugikan maskapai, yang sudah mencatatkan kerugian cukup besar. Maskapai lain, seperti AirAsia Indonesia, juga berharap pemerintah menurunkan komponen biaya seperti bahan bakar dan pajak, agar harga tiket dapat lebih terjangkau tanpa membebani maskapai lebih lanjut.

Ketua Umum INACA, Denon Prawiraatmadja, mengingatkan bahwa meskipun pemerintah berusaha menurunkan harga tiket, maskapai masih menghadapi tantangan besar dalam mengelola kerugian karena biaya operasional yang tinggi. Beberapa maskapai, seperti Sriwijaya, optimis dapat menghadapi tantangan tersebut dengan efisiensi operasional, namun hal ini tetap memerlukan waktu dan adaptasi.

Pemerintah, melalui Kementerian Pariwisata dan Kemenhub, memberikan sinyal kuat terkait penurunan harga tiket pesawat, dengan tujuan mendukung sektor pariwisata dan mobilitas masyarakat selama liburan. Namun, para pemangku kepentingan juga memperingatkan bahwa kebijakan ini harus dijalankan dengan hati-hati agar tidak mengorbankan kualitas layanan dan keberlanjutan operasional maskapai.

Secara keseluruhan, meskipun ada niat baik dari pemerintah untuk menurunkan harga tiket, maskapai penerbangan nasional perlu menghitung dengan cermat dampak dari kebijakan ini terhadap keuangan mereka, karena mereka masih menghadapi kerugian besar dan tantangan biaya yang tinggi.



Industri Petrokimia sebagai Penopang Vital Ekonomi Dasar

22 Nov 2024

Industri petrokimia Indonesia menghadapi sejumlah tantangan, namun juga memiliki potensi besar untuk berkembang. Fajar Budiono, Sekretaris Jenderal Asosiasi Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas), menyoroti rendahnya tingkat utilisasi industri petrokimia hulu yang hanya sekitar 60%-70%, disebabkan oleh mahalnya bahan baku domestik dan tingginya biaya produksi. Oleh karena itu, Inaplas mendesak pemerintah untuk mengambil langkah tegas dalam melindungi industri ini, salah satunya melalui pengendalian impor dan insentif untuk mengurangi harga bahan baku domestik.

Henry Chevalier, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Plastik Hilir Indonesia (Aphindo), juga mengusulkan pembebasan pajak untuk bahan baku plastik agar industri hilir bisa bersaing dengan produk impor yang lebih murah. Di sisi pemerintah, Susila Brata dari Kementerian Keuangan menyebutkan bahwa pemerintah telah menerapkan kebijakan untuk melindungi industri petrokimia domestik melalui peraturan mengenai bea masuk, sementara Wiwik Pudjiastuti dari Kementerian Perindustrian menekankan pentingnya neraca komoditas untuk menyeimbangkan pasokan dan permintaan.

Selain itu, Eko Harjanto dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan bahwa dukungan terhadap industri petrokimia akan terus difokuskan, baik dari sisi insentif maupun percepatan proses perizinan, yang sering menjadi kendala terbesar bagi pelaku industri. Dengan adanya kebijakan yang mendukung dan optimalisasi investasi, sektor petrokimia Indonesia diharapkan dapat memanfaatkan potensi pasar yang besar, baik di dalam negeri maupun untuk ekspor.


Aturan Baru Pengupahan Picu Pergeseran Strategi Bisnis

22 Nov 2024

Perubahan aturan pengupahan dan penundaan penetapan upah minimum dapat mengganggu perencanaan bisnis perusahaan. Bob Azam, Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo, menegaskan bahwa perusahaan telah merencanakan anggaran dan kontrak bisnis berdasarkan asumsi aturan yang lama, sehingga perubahan mendadak ini berpotensi merusak perencanaan tersebut. Sementara itu, Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan bahwa penetapan upah minimum 2025 ditunda dan sedang dalam kajian lebih lanjut, dengan pemerintah pusat meminta para gubernur untuk menunggu arahan resmi.

Bitcoin Melonjak, IHSG dan Emas Tersungkur

22 Nov 2024
Harga Bitcoin terus melonjak, mencapai rekor tertinggi sekitar US$ 98.700 menurut CoinMarketCap pada 21 November 2024. Peningkatan ini didorong oleh minat pada inovasi teknologi seperti SegWit dan maraknya initial coin offerings (ICO), seperti dijelaskan oleh Fyqieh Facrur, Trader Tokocrypto. Bitcoin diperkirakan akan terus mencetak rekor baru, dengan potensi mencapai US$ 100.000 dalam waktu dekat.

Sementara itu, indeks dolar AS yang naik 2,95% dalam setahun terakhir berdampak pada pelemahan rupiah hingga Rp 15.942 per dolar AS, serta penurunan harga emas dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Emas turun 2,83% sebulan terakhir ke US$ 2.669 per ons troi, meski dalam jangka panjang diprediksi mencapai US$ 2.700 pada akhir 2024 oleh analis Lukman Leong. IHSG juga tertekan, turun 7,46% dalam sebulan terakhir akibat penguatan dolar AS.

Terpilihnya kembali Donald Trump sebagai Presiden AS membawa dampak besar bagi pasar global. Kebijakan proteksionisme dan euforia kecerdasan buatan (AI) memperkuat pasar saham AS, seperti yang dicatat oleh Lukman, dengan potensi besar bagi Dow Jones dan S&P 500. Namun, ketidakpastian ekonomi dan geopolitik meningkat akibat tensi di Rusia dan Timur Tengah.

Oktavianus Audi, Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Indonesia, merekomendasikan strategi investasi konservatif dengan alokasi 60% pada aset defensif seperti obligasi, reksa dana, atau emas, serta 40% di saham. Lukman menyarankan diversifikasi yang lebih berimbang: 10%-20% untuk bitcoin, 20% emas, 30% saham, dan sisanya di obligasi dan reksa dana.

Pasar saat ini menawarkan peluang besar untuk bitcoin, sementara emas dan saham AS tetap menarik dalam jangka panjang, meski penuh ketidakpastian.

Dorongan Ekonomi Berisiko Perbesar Defisit Transaksi Berjalan

22 Nov 2024
Defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) Indonesia mencatat perbaikan sementara pada kuartal III-2024, turun menjadi US$ 2,2 miliar (0,6% dari PDB) dibandingkan US$ 3,2 miliar (0,9% dari PDB) di kuartal sebelumnya. Penurunan ini didukung surplus neraca perdagangan barang, penyempitan defisit neraca jasa, dan penurunan defisit neraca pendapatan primer. Faktor musiman seperti penurunan pembayaran imbal hasil investasi juga berkontribusi pada perbaikan ini.

Namun, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memperkirakan CAD akan kembali melebar di kuartal mendatang, dengan proyeksi sepanjang 2024 berada di kisaran 0,1%-0,9% dari PDB. Prospek ini sejalan dengan faktor pembayaran bunga utang dan pelemahan surplus perdagangan akibat penurunan harga komoditas serta melambatnya permintaan global, terutama dari China.

Kepala Ekonom BCA David Sumual memproyeksikan CAD 2024 di level 0,7% dari PDB, sementara Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan pelebaran lebih besar, hingga 1,22% pada 2025, didorong oleh normalisasi harga komoditas dan percepatan agenda ekonomi pemerintah.

Meski begitu, surplus transaksi modal dan finansial yang mencapai US$ 6,6 miliar di kuartal III-2024 menunjukkan perbaikan signifikan, terutama dari investasi langsung di sektor pengolahan dan jasa. Hal ini membuat Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) berbalik surplus sebesar US$ 5,9 miliar, setelah sebelumnya defisit.

Menurut Perry, aliran masuk modal asing di berbagai instrumen investasi akan menjaga NPI positif, didukung oleh upaya hilirisasi ekonomi. Inisiatif ini diharapkan mengurangi ketergantungan pada ekspor komoditas mentah dan membatasi pelebaran CAD dalam jangka panjang, meskipun tantangan global tetap menjadi perhatian utama.

Saham Baru Bersinar dengan Potensi Keuntungan Tinggi

22 Nov 2024
Beberapa saham pendatang baru di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan performa luar biasa, dengan 10 saham mencetak kenaikan hingga ratusan persen dari harga IPO. Contohnya, PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) melonjak 371,59% dalam waktu singkat sejak debutnya pada 11 November 2024. Saham lain seperti PT Remala Abadi Tbk (DATA), PT Newport Marine Services Tbk (BOAT), dan PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) juga mencatatkan kenaikan signifikan.

Menurut Miftahul Khaer, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, volatilitas saham baru sangat tinggi dan dipengaruhi oleh momentum euforia, prospek emiten, valuasi, serta kualitas manajemen. Namun, Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas menilai bahwa lonjakan ini biasanya hanya bertahan dalam jangka pendek akibat euforia IPO. Valuasi yang tinggi sering kali memicu aksi jual, sehingga harga saham berisiko terkoreksi.

Dari 39 emiten baru tahun ini, 17 saham justru jatuh di bawah harga IPO, seperti PT Bersama Mencapai Puncak Tbk (BAIK) dan PT Mitra Pedagang Indonesia Tbk (MPIX), yang turun masing-masing 78,42% dan 76,49%. Nafan mencatat bahwa penurunan tajam ini sering terjadi pada emiten dengan fundamental lemah, menjadikannya lebih cocok untuk trading jangka pendek daripada investasi.

Miftahul mengingatkan bahwa saham IPO memiliki risiko tinggi, sehingga kurang cocok untuk investor pemula. Ia menyarankan investor berhati-hati terhadap saham dengan valuasi yang terlalu tinggi. Namun, DAAZ dianggap masih menarik untuk dicermati di antara saham-saham pendatang baru lainnya.

Sebagai strategi, Nafan menyarankan memperhatikan volume transaksi sebagai indikator minat pasar. Sementara Miftahul merekomendasikan investor pemula fokus pada saham dengan prospek dan kinerja fundamental yang lebih jelas untuk menghindari risiko besar.

Buyback Saham Jadi Jurus Baru Menarik Investor

22 Nov 2024
Menjelang akhir 2024, sejumlah emiten, termasuk PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) dan PT Harum Energy Tbk (HRUM), gencar melakukan aksi pembelian kembali (buyback) saham. TOBA telah mendapatkan persetujuan RUPSLB untuk buyback hingga 10% dari modalnya, dengan anggaran Rp 425,49 miliar. Sementara itu, HRUM menyiapkan anggaran Rp 1 triliun untuk buyback hingga September 2025.

Menurut Miftahul Khaer, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas, buyback saham biasanya meningkatkan kepercayaan investor, terutama jika harga saham emiten telah turun signifikan. Aksi ini dapat mendorong nilai pasar saham dalam jangka pendek. Maximilianus Nico Demus, Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, menambahkan bahwa buyback juga berdampak positif pada rasio keuangan emiten, seperti meningkatkan earning per share (EPS) karena jumlah saham yang beredar berkurang, menjadikan saham lebih menarik bagi investor.

Martha Christina, Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas, menilai bahwa sumber anggaran buyback umumnya berasal dari kas internal yang sedang tidak digunakan untuk ekspansi. Saham hasil buyback akan menjadi saham treasuri yang dapat dilepas kembali ketika harga saham naik, menciptakan fleksibilitas bagi emiten.

Namun, keberhasilan buyback sangat bergantung pada besarnya anggaran. Jika dana buyback kecil, emiten memiliki keterbatasan untuk memengaruhi harga pasar secara signifikan. Oleh karena itu, besaran anggaran menjadi kunci efektivitas aksi ini.

Dari berbagai emiten yang melakukan buyback, Nico merekomendasikan HRUM dengan target harga Rp 1.650 per saham. Sedangkan Miftahul merekomendasikan trading buy untuk TOBA dan HRUM dengan target masing-masing Rp 530 dan Rp 1.220 per saham. Aksi buyback ini memberikan sentimen positif bagi prospek emiten sekaligus meningkatkan daya tarik saham di mata investor.