Ekonomi
( 40447 )Pemerintah Telah Menarik Utang Sebesar Rp 438,6 Triliun
Bank dan Fintech Berkolaborasi untuk Mendukung Perekonomain Global
Dilema Pemerintah atas Emisi Obligasi
Penerbitan surat utang oleh Pemerintah Indonesia pada tahun depan akan menghadapi situasi yang dilematis. Di satu sisi, ada peluang untuk penurunan yield seiring dengan turunnya inflasi global dan kemungkinan pelonggaran moneter. Namun, tantangan utama adalah likuiditas yang terbatas dan risiko over-supply surat utang. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksikan yield SUN tenor 10 tahun pada 2025 berada di kisaran 6,31%-6,69%, lebih rendah dibandingkan dengan proyeksi tahun 2024. Namun, pemerintah menargetkan yield di level 7%, yang mencerminkan tantangan besar terkait tingginya pasokan surat utang dan terbatasnya daya serap domestik.
Pemerintah menghadapi beban jatuh tempo yang signifikan pada 2025, dengan defisit anggaran yang diperkirakan meningkat. Selain itu, proyeksi penerbitan obligasi korporasi juga menambah tekanan kelebihan pasokan di pasar obligasi. Tantangan lainnya termasuk keterbatasan likuiditas yang disebabkan oleh lesunya pertumbuhan dana pihak ketiga perbankan, serta persaingan dengan instrumen investasi lain seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Risiko eksternal, seperti pelemahan rupiah akibat kebijakan Donald Trump dan stimulus ekonomi China, juga dapat memengaruhi daya tarik SUN Indonesia di pasar global. Meskipun demikian, beberapa riset optimis bahwa pasar modal akan tetap melampaui kinerjanya pada 2024 dengan adanya ruang penurunan suku bunga. Pemerintah berusaha menjaga stabilitas dan kondusivitas pasar melalui kebijakan ekonomi makro yang stabil dan diversifikasi instrumen serta basis investor.
Surat Utang dan Sikap Hati-Hati di Tahun Mendatang
Pada 2025, pasar surat utang Indonesia diproyeksikan menghadapi tantangan yang kompleks. Meskipun inflasi global yang melandai dan kemungkinan pelonggaran kebijakan moneter memberikan peluang untuk penurunan yield, faktor-faktor seperti likuiditas yang terbatas dan risiko over-supply akan menjadi hambatan besar. Pasar surat utang harus beradaptasi dengan meningkatnya kebutuhan pendanaan pemerintah, tingginya pasokan obligasi, serta lemahnya daya serap investor domestik.
Yield Surat Utang Negara (SUN) 10 tahun diperkirakan akan berada di kisaran 6,31% hingga 6,69%, lebih rendah dibandingkan proyeksi 2024. Namun, proyeksi yield sebesar 7,1% dalam RAPBN 2025 mengindikasikan tantangan besar terkait penawaran tinggi dan tekanan likuiditas. Kebutuhan anggaran yang meningkat, baik untuk belanja pemerintah maupun pembiayaan utang, memperburuk situasi ini. Selain itu, proyeksi penerbitan obligasi korporasi yang besar juga menambah risiko over-supply di pasar.
Kondisi likuiditas domestik yang stagnan dan dominasi instrumen seperti SRBI juga membatasi ruang bagi pemerintah untuk menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN). Di sisi eksternal, faktor-faktor seperti pelemahan rupiah dan ketidakpastian global, termasuk risiko proteksionisme, dapat mempengaruhi aliran modal asing ke pasar obligasi Indonesia.
Untuk menghadapi tantangan ini, strategi investasi yang adaptif sangat diperlukan, dengan fokus pada instrumen tenor pendek hingga menengah dan diversifikasi ke sektor yang lebih tahan terhadap volatilitas global. Pemerintah juga harus mengoptimalkan pasar sekunder dan memperkuat kerja sama dengan investor domestik untuk meningkatkan daya serap SBN baru.
Secara keseluruhan, 2025 akan menjadi tahun yang menuntut kehati-hatian dan kerja sama antara pemerintah, otoritas moneter, dan pelaku pasar untuk menjaga stabilitas pasar surat utang Indonesia.
Impor Sapi Hidup Jadi Tren Baru
211 perusahaan telah berkomitmen untuk mendatangkan sapi hidup ke Indonesia dalam rangka mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang akan dilaksanakan pada 2025. Komitmen tersebut terdiri dari 141 perusahaan yang berencana mengimpor sapi perah sebanyak 1,2 juta ekor selama lima tahun, dan 70 perusahaan lainnya berkomitmen untuk mengimpor sapi pedaging sebanyak 800.000 ekor. Secara total, hampir 2 juta ekor sapi hidup akan didatangkan dalam kurun waktu 2025-2029. Perusahaan-perusahaan ini berasal dari dalam dan luar negeri, termasuk negara-negara seperti Vietnam, Malaysia, Australia, Qatar, Uni Emirat Arab, dan China. Pemerintah Indonesia juga telah merevisi Peraturan Pemerintah No.4/2016 untuk mempercepat realisasi impor sapi hidup, yang ditandatangani oleh Presiden Prabowo Subianto.
Persaingan Industri Telekomunikasi Makin Sengit
Industri telekomunikasi Indonesia akan mengalami perubahan signifikan dengan merger antara PT XL Axiata Tbk (EXCL), PT Smartfren Telecom Tbk (FREN), dan PT Smart Telecom (SmarTel) menjadi entitas baru bernama PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (XLSmart). Merger ini akan mengurangi jumlah operator telekomunikasi utama menjadi tiga: XLSmart, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), dan PT Indosat Tbk (ISAT).
Vivek Sood, Grup CEO & Managing Director Axiata, menyatakan merger ini akan memperkuat skala bisnis dan kekuatan komersial EXCL. XLSmart diproyeksikan memiliki sekitar 94,5 juta pelanggan, setara dengan 27% pangsa pasar. Langkah ini juga bertujuan mentransformasi sektor telekomunikasi Indonesia menjadi pasar dengan tiga pemain besar.
Menurut Niko Margaronis, Equity Research Analyst BRI Danareksa Sekuritas, merger ini dapat memberikan manfaat skala ekonomi, seperti efisiensi biaya operasional dan pengeluaran modal, serupa dengan hasil merger Indosat Ooredoo Hutchinson sebelumnya, yang meningkatkan margin EBITDA ISAT hingga 733 basis poin sejak kuartal IV-2021.
Paulus Jimmy, Deputi Head of Research Sucor Sekuritas, menilai konsolidasi ini akan memperbaiki iklim persaingan industri telekomunikasi, dengan XLSmart berfokus pada pertumbuhan yang menguntungkan. Namun, Sukarno Alatas, Head of Research Kiwoom Sekuritas, mencatat bahwa XLSmart masih belum mampu menyaingi TLKM dalam hal pendapatan, laba, jumlah menara, dan pelanggan, meskipun jumlah pelanggan XLSmart hampir mendekati ISAT.
Bagi investor, merger ini membuka peluang investasi menarik. Sukarno merekomendasikan saham TLKM dan EXCL untuk pembelian, dengan target harga masing-masing Rp 3.200 dan Rp 2.600. Sementara Jimmy memilih ISAT dan EXCL untuk potensi pertumbuhan jangka panjang, sedangkan TLKM direkomendasikan untuk mereka yang mencari dividen.
Merger EXCL dan Sinar Mas Membentuk Raksasa Baru
Biaya Operasional yang Tinggi Membatasi Profitabilitas
Pasar Obligasi Swasta tertekan SBN dan SRBI
Surat berharga negara (SBN) masih menjadi penopang pendanaan oleh pemerintah untuk membiayai kebutuhan negara pada 2025. Kenaikan penerbitan SBN diperkirakan dapat melampaui surat utang yang dikeluarkan perusahaan untuk kebutuhan ekspansi bisnis hingga pembayaran utang jatuh tempo. Pemerintah memastikan mereka akan menarik utang baru sebesar Rp 775,86 triliun pada 2025 atau 19,7 % dibanding target tahun 2024 yang di Rp 648,1 triliun. Target itu mayoritas akan dipenuhi melalui penerbitan SBN sebesar Rp 642,56 triliun, selain dari pinjaman Rp 133,30 triliun. Di luar target tersebut, Dirut PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Irmawati Amran mengatakan, suplai SBN pada tahun depan kemungkinan akan lebih banyak dengan tambahan kebutuhan refinancing atau membayar utang SBN yang jatuh tempo pada 2025.
“Tahun depan pemerintah butuh Rp 800 triliun untuk refinancing, lalu ada tambahan surat utang lagi, dengan rencana defisit APBN 2025, berkisar Rp 400 triliun-Rp 600 triliun. Jadi, pemerintah lebih banyak mengeluarkan surat utang tahun depan,” katanya dalam paparan kepada media secara daring, Rabu (11/12). Dalam APBN 2025, pemerintah dan DPR telah menyepakati pendapatan negara sebesar Rp 3.005,1 triliun dan belanja negara sebesar Rp 3.621,3 triliun. Dengan demikian, defisit APBN 2025 akan sebesar Rp 616,2 triliun atau 2,53 % dari PDB. Nilai ini naik dari defisit Rp 522 triliun atau 2,29 % pada 2024. Dengan kebutuhan dana yang bertambah, pemerintah menargetkan imbal hasil SBN tetap menarik di level 7 %. Target ini dinilai kontradiktif dengan tren penurunan suku bunga dunia sejak September 2024. Sementara, target ini berpotensi ikut mengerek imbal hasil atau suku bunga surat utang korporasi.
Pefindo memproyeksikan, korporasi akan menerbitkan surat utang dengan kisaran nilai Rp 139 triliun-Rp 155 triliun pada 2025. Adapun nilai outstanding atau nilai utang berjalan pada tahun yang sama diperkirakan Rp 150 triliun-Rp 155 triliun. Ekonom Pefindo, Suhindarto, menjelaskan, penyerapan penerbitan surat utang korporasi juga bisa melambat karena faktor penerbitan produk Sekuritas Rupiah BI (SRBI). Sejak diperkenalkan pada 15 September 2024, SRBI menjadi salah satu instrument pengelolaan likuiditas dalam bentuk rupiah berbasis SBN. Suhindarto berpendapat, SRBI yang bertenor pendek, mayoritas 12 bulan, akan dibuat lebih menarik bagi investor asing guna menstabilkan rupiah di tengah kebijakan moneter yang masih akan kaku di tahun depan karena ancaman pelemahan rupiah setelah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden ASt. ”Faktor substitusi SRBI patut diwaspadai karena produk ini jadi daya tarik asing, selain SBN yang memiliki tenor menengah,” kata Suhindarto. (Yoga)
Investor Minta Berlanjutnya Kebijakan ”Gas Murah”
Pemerintah menjadikan kebijakan harga gas bumi tertentu sebesar 6 USD per juta metrik british thermal unit (MMBTU) sebagai instrument untuk terus menarik minat investor. Berdasarkan regulasi yang berlaku, kebijakan tersebut akan berakhir pada 31 Desember 2024 dan kini tengah disiapkan untuk dilanjutkan. Ada usulan jumlah bidang industri penerima ditambah. Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Rakornas Investasi 2024 yang digelar secara hibrida oleh Kementerian Investasi dan Hilirisasi di Jakarta, Rabu (11/12) mengatakan, salah satu komoditas yang didorong dalam hilirisasi ialah pasir silika, dengan industri turunan berupa floating glass (kaca apung).
”(Floating glass) ada satu pabrik di Kendal dan satu di Gresik, membutuhkan harga gas bumi tertentu, yang sudah dijanjikan sebesar 6 USD (per MMBTU). Dan yang berjanji adalah menteri investasi. Ada suratnya. Para investor sudah datang ke kantor Menko (Perekonomian) untuk meminta ini diteruskan,” papar Airlangga. Harga gas bumi tertentu (HGBT) diatur dalam Perpres No 121 Tahun 2020. Kebijakan ini menetapkan harga sebesar 6 USD per MMBTU untuk tujuh bidang industri, yakni pupuk, petrokimia, oleokimia, baja, keramik, kaca, dan sarung tangan karet. Regulasi terakhir, yakni melalui keputusan Menteri ESDM, akan berakhir pada 2024.
Airlangga menuturkan telah berbicara dengan Menteri ESDM terkait kelanjutan kebijakan ”gas murah” untuk industri tersebut. Sebelumnya, pada Juli 2024 di Istana Kepresidenan Jakarta telah dilakukan rapat tertutup mengenai penetapan kebijakan HGBT. Saat itu, pemerintah memutuskan kebijakan HGBT berlanjut pada tahun 2025, tetapi tambahan bidang industri masih akan terus dikaji. Dalam Anugerah Dewan Energi Nasional (DEN) di Jakarta, Selasa (10/12), Sekjen Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana menyampaikan, keputusan akhir terkait kelanjutan kebijakan HGBT akan diambil dalam rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









