;
Kategori

Ekonomi

( 40554 )

Insentif Tidak Memadai Sebagai Kompensasi Terkait Penaikan PPN

17 Dec 2024
Pemerintah akhirnya mengambil alih kompromi atau jalan tengah terkait kebijakan penaikan PPN menjadi 12% mulai 1 Januari 2025. Kebijakan itu tetap dilaksanakan, namun secara bersamaan pembebasan PPN untuk sejumlah kebutuhan pokok dipertahankan bahkan berbagai stimulus ekonomi tambahan diberikan. Kebijakan itu tidak ditunda seperti yang diminta oleh banyak pihak, karena pemerintah harus mendogkrak pendapatan  negara guna membiayai sejumlah program prioritas  seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Sedangkan pembebasan PPN sejumlah kebutuhan pokok dan stimulus tambahan diberikan karena pemerintah juga perlu melindungi daya beli masyarakat yang belakangan terus turun. Namun demikian, insentif yang diberikan oleh pemerintah itu dinilai belum cukup mamadai sebagai 'kompensasi' atas tambahan beban masyarakat dan industri akibat penaikan tarif PPN menjadi 12%. Ini dikarenakan insentif tersebut bersifat sementara -ada yang hanya dua bulan- sementara kenaikan tarif PPN menjadi 12% bersifat permanen. (Yetede)

Kontribusi BRI Kian Meningkatkan Perannya Sebagai Market Leader

17 Dec 2024

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) makin mengokohkan perannya sebagai market leader di sektor perbankan sekaligus menjadi simbol keberpihakan terhadap UMKM serta mendorong ekonomi kerakyatan untuk memajukan negeri. Tepat pada hari ulang tahun ke-129 BRI pada 16 Desember 2024, Direktur Utama BRI Sunarso mengungkapkan bahwa tema BRIlian dan Cemerlang yang diusung tahun  ini mencerminkan komitmen BRI dalam berinovasi dan menciptakan solusi finansial yang memberikan dampak positif bagi masyarakat dan seluruh stakeholder. "Perayaan HUT BRI ke-129 ini kita jadikan sebagai momen refleksi dan motivasi untuk melangka lebih jauh. Saya percaya bahwa dengan desikasi, kerja keras, dan kolaborasi, kita mampu merespons tantangan secara tepat," ujar Sunarso. BRI dengan bangga mengumumkan pembagian dividen interim kepada para pemegang saham sebaga bagian dari perayaan HUT ke-129. Kebijakan ini menjadi wujud nyata komitmen BRI untuk memberikan economic value bagi para pemegang saham, sekaligus merayakan sejarah panjang kontribusi BRI terhadap perekonomian Indonesia. Mengacu pada keterbukaan informasu yang diterbitkan oleh perusahaan, BRI akan membagikan dividen interim tahun buku 2024 sebesar Rp 135 per saham atau sebesar Rp20,46 triliun. Apabila dirinci, dividen interim yang disetorkan kepada pemerintah sebagai Rp 10,88 triliun dan dividen interim kepada publik sebanyak-banyaknya sebesar Rp 9,58 triliun. (Yetede)

Kurun Waktu Empat Tahun, PT Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) Telah Berhasil Menjual Lahan Seluas 339 hektar

17 Dec 2024
Dalam kurun waktu empat tahun, PT Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) telah  berhasil menjual lahan seluas 339 hektar, dengan total nilai investasi sebesar Rp18,7 miliar.  Letak kawasan yang strategis ini sukses menyita 28 mata investor dari berbagai negara. Adapun investor yang mendirikan usaha berasal dari  China. Korea Selatan, Chili, Thailand, Amerika, Jepang, Belanda, Taiwan dan Indonesia. Direktur Utama KITB Ngurah Wirawan mengatakan, KITB memiliki wilayah strategis, selain dekat dengan laut dan pelabuhan, kawasan ini juga dilalui jalan tol, dan jalur kereta api. Letak kawasan yang strategis ini sukses menyita 28 investor dari berbagai negara.  "Kemarin ada 21 investor di kavling industri. Dan dari 21 itu ada 5 sudah beroperasi yaitu Yih Quan dari Taiwan, Rumah Keramik Indonesia dari Indonesia,  Alderon dari Indonesia, KCC Glass dari Korea, dan Wavin dari Belanda," jelas dia. Ngurah mengatakan akan ada lima perusahaan yang sedang dalam konstruksi dan beberapa diantaranya akan  beroperasi tahun depan. (Yetede)

Pemprov Jakarta Memastikan Penanganan Korban Banjir Rob di Pulau Panggang Kepulauan Seribu Berjalan Baik

17 Dec 2024
Pemerintah Provinsi Jakarta memastikan langkah-langkah penanganan banjir rob yang melanda Kepulauan Seribu. Termasuk di dalamnya adalah menyiapkan personel, logistik, dan berkoordinasi dengan TNI Angkatan Udara jika cuaca ekstrem menghambat akses. Penjabat Gubernur Jakarta Teguh Setyabudi menyatakan itu dalam konferensi pers di Balai Kota Jakarta, Selasa, 17 Desember 2024. Dia menanggapi cuaca buruk yang membuat distribusi bantuan menjadi sulit, sementara warga terdampak banjir rob sangat membutuhkannya. Teguh menyampaikan bahwa pihaknya sudah menyiapkan tim gabungan dari berbagai dinas untuk membantu masyarakat Kepulauan Seribu. “Pertama, terkait masalah untuk infrastrukturnya, kami sudah ada yang stand by di sana dari Dinas SDA, Sumber Daya Air, untuk penanganan rob-nya,” kata teguh.

Kemudian, sarana transporasi untuk distribusi bantuan juga telah disiapkan melalui Dinas Perhubungan. “Insya Allah dari Dishub ada kapal yang bisa diandalkan, tapi kalau cuaca jelek sekali kami akan berkoordinasi dengan TNI AU,” tuturnya. Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD Jakarta, Maruli Sijabat, menjelaskan bahwa lembaganya telah menempatkan personel beserta peralatan dan logistik untuk mendukung warga terdampak. “Termasuk juga buffer stock yang kami siapkan bilamana terjadi peningkatan kebutuhan terkait dengan pangan maupun sandang,” ujar Maruli.

Dia menambahkan bahwa perahu karet telah disiagakan untuk keperluan evakuasi jarak dekat. Mereka juga telah berkoordinasi dengan Kantor SAR Jakarta untuk kebutuhan eskalasi upaya evakuasi. Kepala Dinas Sosial Jakarta Premi Lasari memastikan kesiapan distribusi bantuan sosial bagi warga terdampak bekerja sama dengan Dinas Perhubungan. “Terkait dengan bansos, kami sudah siap," ujarnya. Sebelumnya, pada Selasa pagi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta menyatakan satu RT di Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kabupaten Kepulauan Seribu masih terendam banjir rob. Sehari sebelumnya ada enam RT yang terdampak. (Yetede)
 

ICOR Indonesia yang Terbilang Tinggi Dibanding Negarara Lain

17 Dec 2024
PRESIDEN Prabowo Subianto mempersoalkan skor incremental capital output ratio atau ICOR Indonesia yang terbilang tinggi dibanding negara lain. Ia menyebutkan ICOR Indonesia berada di angka 6, sedangkan sejumlah negara tetangga memiliki ICOR 4 atau 5.  “Artinya, kita dinilai lebih tidak efisien daripada beberapa ekonomi tetangga kita. Bahkan tidak efisiennya itu dinilai 30 persen,” kata Prabowo di Istana Negara, Jakarta, Selasa, 10 Desember 2024. ICOR adalah salah satu parameter yang menentukan tingkat efisiensi investasi di suatu negara. ICOR menggambarkan rasio investasi kapital/modal terhadap hasil yang diperoleh (output) menggunakan investasi tersebut. Jika modal bisa dipakai untuk menghasilkan banyak barang/jasa dengan efisien, nilai ICOR menjadi kecil. Sebaliknya, jika modal yang dibutuhkan besar, tapi barang/jasa yang dihasilkan sedikit, nilai ICOR menjadi tinggi. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ICOR Indonesia pada 2023 berada di angka 6,33. Sementara itu, rata-rata ICOR di negara-negara ASEAN pada 2019-2023 jauh lebih rendah, antara lain Malaysia sebesar 2,7; India 3,2; dan Filipina 3,4. ICOR Indonesia hampir selalu meningkat. Pada pemerintahan Presiden Soeharto sebelum krisis 1997, ICOR Indonesia berada di kisaran 4. Pada era Susilo Bambang Yudhoyono di level 5, lalu di era Presiden Joko Widodo menembus angka 6. Bahkan, pada 2021, ICOR Indonesia sempat berada di level 8,6. Dengan tingginya ICOR, makin banyak kapital yang diperlukan untuk menghasilkan 1 persen pertumbuhan ekonomi.

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto tak menampik bahwa investasi di Indonesia masih belum efisien. Hal itu terlihat dari tingginya ICOR Indonesia yang membuat pertumbuhan ekonomi Tanah Air stagnan di angka 5 persen. Politikus Partai Golkar itu menjelaskan, porsi investasi terhadap produk domestik bruto Indonesia di kisaran 30 persen. Dengan ICOR di kisaran 6, pertumbuhan ekonomi Indonesia dihitung 30 dibagi 6, yaitu 5 persen. Airlangga berpendapat penyebab inefisiensi investasi di Tanah Air adalah pemanfaatan modal yang belum optimal. Menurut dia, selama ini modal yang diinvestasikan belum mampu menghasilkan output ekonomi yang sebanding. Ditambah keterbatasan dalam penerapan strategi jangka panjang untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan.  (Yetede)

Stimulus Dorong Pertumbuhan Ekonomi 2024

17 Dec 2024
Pemerintah berupaya memulihkan daya beli masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi pada 2025 melalui paket kebijakan ekonomi yang mencakup insentif untuk rumah tangga, kelas menengah, dan dunia usaha. Kebijakan ini juga diiringi dengan pemberlakuan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 12% pada 1 Januari 2025, sebagaimana diamanatkan oleh UU No. 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan kebijakan ini dirancang untuk melindungi masyarakat, mendukung UMKM, menjaga stabilitas harga, dan mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menambahkan bahwa kebijakan ini mempertimbangkan pelemahan permintaan, terutama pada kelompok menengah ke bawah, dengan harapan mendukung sektor produktif seperti manufaktur dan perumahan. Namun, Ketua Umum Apindo, Shinta W. Kamdani, menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor dan dialog dengan dunia usaha untuk memastikan efektivitas kebijakan tersebut.

Sementara itu, Ketua APSyFI, Redma Gita Wirawasta, menilai insentif pajak seperti PPh Pasal 21 ditanggung pemerintah tidak memberikan dampak signifikan bagi sektor padat karya seperti tekstil. Peneliti dari LPEM FEB UI, Teuku Riefky, juga berpendapat bahwa kebijakan ini kurang efektif untuk meningkatkan daya beli, yang lebih membutuhkan pendekatan seperti kenaikan upah.

Pemerintah diharapkan dapat memperkuat koordinasi lintas sektor dan mengevaluasi efektivitas kebijakan untuk memastikan manfaat nyata bagi masyarakat dan pelaku usaha.

Surplus Perdagangan Capai Posisi Tertinggi

17 Dec 2024
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada November 2024 mencatatkan surplus sebesar US$4,42 miliar, yang merupakan yang terbesar kedua setelah Maret 2024. Plt. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyatakan bahwa surplus ini tercatat selama 55 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, didorong oleh surplus komoditas nonmigas, terutama bahan bakar mineral, minyak, lemak hewani/nabati, serta besi dan baja. Meskipun neraca perdagangan migas tercatat defisit, Indonesia mencatatkan surplus dengan beberapa negara seperti Amerika Serikat, India, dan Filipina, namun mengalami defisit dengan Brasil, Australia, dan Tiongkok.

Selain itu, Amalia mengungkapkan bahwa ekspor kakao dan olahannya mencapai US$2,31 miliar sepanjang Januari—November 2024, didorong oleh kenaikan harga komoditas kakao di pasar internasional yang melonjak akibat penurunan produksi di negara-negara produsen utama. Namun, impor komoditas beras mengalami lonjakan signifikan, mencatatkan volume 3,84 juta ton, naik 52,02% dibandingkan tahun sebelumnya.

Target Penyediaan 30.000 Rumah Tercapai

17 Dec 2024
Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman, melalui Menteri Maruarar Sirait, mengklaim telah berhasil menyalurkan sekitar 30.000 unit rumah murah dalam dua bulan terakhir, sebagian besar melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Maruarar memastikan bahwa program FLPP, yang difasilitasi oleh Bank Tabungan Negara (BBTN), akan terus dilanjutkan karena tingkat Non-Performing Loan (NPL) yang rendah dan banyaknya permintaan dari masyarakat serta developer. Program ini juga dikatakan memberikan keuntungan bagi industri perbankan.

Sementara itu, Joko Suranto, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Realestate Indonesia (REI), mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto berjanji untuk meningkatkan kuota FLPP pada 2025 menjadi 300.000 unit, sebagai upaya untuk menanggulangi backlog perumahan yang mencapai 9,9 juta unit. 

Golkar Tegaskan Sikap Inklusif

17 Dec 2024
Partai Golkar menyatakan diri sebagai partai inklusif yang terbuka bagi siapa saja, termasuk Presiden ke-7 RI Joko Widodo, setelah ia dipecat dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa partainya terbuka bagi semua individu yang ingin mengabdikan diri melalui politik, dan menyambut Jokowi untuk bergabung, meskipun keputusan akhir tetap berada di tangan Jokowi sendiri. Pemecatan Jokowi dan sejumlah anggota lainnya dari PDIP disampaikan oleh Ketua DPP PDIP, Komarudin Watubun, dengan pengumuman resmi ditandatangani oleh Megawati Soekarnoputri dan Hasto Kristiyanto pada 4 Desember 2024.

Stimulus Ekonomi Dinilai Belum Maksimal

17 Dec 2024
Pemerintah Indonesia akhirnya memutuskan untuk menaikkan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari 11% menjadi 12% mulai 1 Januari 2025. Keputusan ini diambil sebagai bagian dari kebijakan Harmonisasi Peraturan Perpajakan. Untuk meredam dampak negatif dari kenaikan tarif PPN, pemerintah menyiapkan paket kebijakan ekonomi yang mencakup insentif untuk sektor rumah tangga, pekerja, UMKM, serta industri padat karya dan perumahan. Salah satu kebijakan adalah pembebasan PPN untuk sektor makanan, transportasi, pendidikan, dan kesehatan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menjelaskan bahwa insentif pajak tersebut ditujukan untuk menjaga daya beli masyarakat, terutama bagi rumah tangga berpendapatan rendah. Namun, beberapa pihak mengkritik kebijakan ini karena dianggap kurang signifikan dalam mengatasi penurunan daya beli. Sutrisno Iwantono, Ketua Kebijakan Publik Apindo, berharap stimulus ini dapat membantu kelas menengah yang memiliki peran krusial dalam perekonomian.

Di sisi lain, Bambang Ekajaya dari Real Estate Indonesia (REI) menyatakan bahwa kebijakan PPN-DTP yang hanya berlaku untuk properti dengan harga jual di bawah Rp 5 miliar akan memberatkan penjualan properti nonsubsidi. Bhima Yudhistira dari Celios mengkritik kebijakan ini sebagai langkah temporer yang tidak memberikan solusi jangka panjang, sementara Yusuf Rendy Manilet dari Core Indonesia menyoroti potensi dampak kenaikan PPN terhadap inflasi dan perekonomian yang memerlukan kebijakan pengendalian yang lebih komprehensif. Awalil Rizky dari Bright Institute menambahkan bahwa stimulus ekonomi yang diberikan belum cukup untuk mengatasi penurunan daya beli yang lebih luas, terutama di sektor riil.