Ekonomi
( 40554 )Teknologi Pembayaran, LinkAja Dorong Ekosistem Transaksi Nontunai
Partisipasi layanan pembayaran LinkAja dalam gelaran festival kuliner dinilai mendorong kebiasaan masyarakat dalam bertransaksi nontunai. Pengunjung gelaran tersebut dapat dimanjakan dengan adanya layanan LinkAja melalui transaksi nontunai yang lebih cepat.Partisipasi dalam berbagai gelaran festival kuliner merupakan upaya LinkAja dalam memperkaya use case di seluruh sendi kehidupan. Hal tersebut dinilai dapat membuat layanan pembayaran pelat merah itu makin banyak digunakan masyarakat. Kemudahan transaksi dengan berbagai promo menarik, dapat menjadi insentif adopsi bagi masyarakat untuk meningkatkan kebiasaan bertransaksi nontunai.
Insentif Pajak Ekonomi Kreatif, Industri Film Minta Izin Syuting Dipermudah
Insentif pajak untuk produser
film yang memilih Indonesia sebagai lokasi pengambilan gambar kurang
efektif tanpa pemangkasan
proses perizinan.
Asosiasi Produser Film
Indonesia (Aprofi) menyambut baik rencana
Badan Ekonomi Kreatif
(Bekraf) memberikan insentif fiskal berupa pengembalian potongan pajak atau
tax refund untuk menarik
sineas dari luar negeri melakukan syuting film di
Indonesia. Pemerintah menyiapkan
skema tax refund lantaran insentif fiskal berupa
pemotongan pajak dengan
persentase tertentu tak
mampu menarik minat
sineas untuk melakukan
syuting film di Indonesia.
Selain itu, adanya pemotongan pajak juga dinilai
akan ikut mengurangi
target penerimaan pajak
tahunan nasional yang dihimpun oleh Kementerian
Keuangan. Sebenarnya faktor utama
yang selama ini membuat sineas dari luar negeri
enggan melirik Indonesia
sebagai lokasi syuting film
adalah masalah perizinan.
Perizinan untuk melakukan
syuting film di Indonesia
tidak bisa dibilang mudah
lantaran prosesnya panjang
dan berbelit.
Ada harapan agar
pemerintah bisa memberikan kemudahan perizinan bagi sineas yang ingin
melakukan syuting film di
Indonesia.
Skeptisme Ekonomi Global
Asing Switching Portofolio
Aksi jual saham secara masif yang dilakukan investor asing sehingga memicu terjadinya net selling besar-besaran sepanjang Agustus-September bukan berarti terjadi pelarian modal ke luar negeri (capital outflow). Investor asing hanya beralih (switching) dari saham ke Surat Berharga Negara (SBN) yang lebih aman dan memberikan imbal hasil tinggi. Hal ini tercermin pada kenaikansignifikan kepemilikan asing di SBN. Selama September (month to date), terjadi penambahan kepemilikan asing di SBN atau pembelian bersih (net buying) sebesar Rp 18,72 triliun, dari posisi Rp 1.009,6 triliun per akhir Agustus menjadi Rp 1.028,32 triliun pada 26 September. Kenaikan kepemilikan investor asing di SBN tersebut paralel dengan nilai jual bersih (net selling) asing di pasar saham yang mencapai Rp 9,29 triliun selama Agustus dan Rp 7,25 triliun selama September, sehingga total penjualan bersih asing di pasar saham selama dua bulan tersebut mencapai Rp 16,54 triliun. Sementara itu, net buying asing di SBN sepanjang tahun berjalan tercatat sebesar Rp 113,39 triliun.
Perkembangan Pesat Bisnis Teknologi, Daya Saing Digital RI Melesat
Posisi daya saing Indonesia di sektor digital melonjak signifikan selama tahun ini seiring dengan perkembangan pesat yang dicatatkan ekosistem bisnis rintisan di Tanah Air. Indonesia menjadi negara dengan peningkatan peringkat daya saing paling tinggi kedua setelah China pada 2019.
Peringkat Indonesia di International Institute of Management Development (IMD) World Digital Competitiveness Ranking—yang mengukur kapasitas dan kesiapan 63 negara dalam mengadopsi dan mengeksplorasi teknologi digital untuk mendorong transformasi bisnis, pemerintahan, dan masyarakat—naik dari posisi 62 pada 2018 ke posisi 56 pada 2019.
Pendorong utama kenaikan posisi Indonesia adalah penguatan faktor pendukung perkembangan teknologi, terutama dalam hal ketersediaan modal. Indonesia menempati peringkat ke-6 secara global di kategori ketersediaan modal untuk mendukung pengembangan teknologi layanan perbankan dan finansial.
Ketersediaan modal bagi perusahaan yang mengembangkan bisnis di bidang teknologi, lanjutnya, saat ini sangat berlimpah. Dukungan investor kelas kakap kini tidak hanya tersedia untuk beberapa perusahaan yang sudah mencapai valuasi unicorn, tetap juga bagi perusahaan rintisan yang baru memulai bisnis.
Selain itu, lompatan digital di Indonesia saat ini baru didorong oleh keberhasilan perusahaan-perusahaan teknologi besar seperti Gojek, Bukalapak, dan Tokopedia dalam mendorong digitalisasi bisnis UMKM.
Maskapai Penerbangan Sriwijaya Air di Ujung Tanduk
Sriwijaya
Air membatalkan beberapa rute penerbangan. Bahkan manajemen Sriwijaya Air
disebut-sebut akan menghentikan layanan reservasi tiket mulai 27 September
2019. Sebab, PT GMF Aero Asia Tbk (GMFI) menghentikan dukungan maintenance
kepada Sriwijaya. Kondisi ini merupakan buntut pecah kongsi antara Garuda
Indonesia Group dan Sriwijaya Air Group. Perpecahan bermula ketika Dewan
Komisaris Sriwijaya Air mengganti sepihak jajaran direksi tanpa melibatkan
Garuda Indonesia Group. Sebagai balasannya, Garuda Indonesia juga mencopot
logonya di pesawat Sriwijaya Air.
Bisnis Semakin Bergantung Data dan Kecerdasan
Keputusan bisnis dan pemerintah akan semakin bergantung pada dua input yaitu data dan kecerdasan. Keberadaan teknologi digital memudahkan penggunaan dua hal tersebut dalam mengambil keputusan.
Menurut Executive Chairman and CEO of Alibaba Group Daniel Zhang, secara garis besar ada pola permintaan dan penawaran baru sebagai proses digitalisasi. Oleh karena itu Alibaba membangun platform Alibaba Business Operating system yang memperlihatkan platform bukan semata mata infrastruktur teknologi informasi. Penggunaan komputasi awan itu juga mengintegrasikan pengguna personal, bisnis dan pemerintahan.
CTO Alibaba Group Jeff Zhang mengatakan ketergantungan pada data tak bisa lagi dihentikan ketika menggunakan teknologi digital. Perkembangan dan industri digital kian besar. Sekitar 50% dari perkonomian China digerakan ekonomi digital dalam 5 tahun terakhir.
E-Dagang Perlu Dukungan
Potensi e-dagang dinilai masih besar. Namun, pengembanganya butuh dukungan dari pilar lain seperti : infrastruktur, sistem logistik dan pembayaran, serta industri manufaktur.
CEO tha Power Group-Powercommerce Hadi Kuncoro menyatakan secara historis ekonomi digital memiliki empat pilar yakni platform, pembayaran dan teknologi finansial, logistik dan produk. Terkait platform, Indonesia memiliki laman-laman pemasaran yang menyandang predikat unicorn. Perkembangan itu diikuti munculnya pemain tekfin. Namun perkembangan itu, belum diikuti dengan perkembangan logistik. Sementara untuk pilar produk, oleh karena produk dalam negeri terbatas kebanyakan produk yang dipasarkan adalah produk impor.
Masalah lainnya adalah terbatasnya sumber daya manusia dibidang digital terutama daerah terpencil. Tantangan lainnya adalah mendorong transformasi bisnis dari konvensional ke digital.
Larangan Ekspor Bijih NIkel, Uni Eropa Buka Opsi Gugat Indonesia ke WTO
Uni Eropa membuka opsi untuk mengajukan gugatan ke Organisasi Perdagangan Dunia alias World Trade Organization (WTO) terkait dengan larangan ekspor bijih nikel oleh Indonesia yang dimajukan 2 tahun dari rencana sebelumnya, yaitu mulai berlaku pada awal 2020. Larangan ekspor bijih nikel Indonesia yang dimajukan tersebut telah menjadi ancaman bagi industri baja kawasan baja Eropa sehingga pihaknya kemungkinan akan melayangkan gugatan ke WTO.
Komisi Eropa juga berencana untuk memasukkan stainless steel Indonesia dalam lingkup kuota impor UE untuk mencegah tarif kontroversial antidumping AS pada baja asing.
UE khawatir bahwa pengenaan tarif impor baja AS akan justru membuka peluang beberapa negara lain untuk mengalihkan pengiriman ke Eropa sehingga membanjiri pasar Benua Biru tersebut yang tengah berjuang di tengah lemahnya permintaan.
ADB Revisi Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Jadi 5,1%
Asian Development Bank (ADB) atau Bank Pembangunan Asia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini hanya 5,1% atau lebih rendah dari proyeksi sebelumnya 5,2% . Direktur ADB Indonesia Winfried Wicklein mengatakan, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini sedikit lebih lambat disebabkan oleh penurunan ekspor dan melemahnya investasi domestik. Melambatnya kinerja ekspor disebabkan penurunan harga komoditas sejalan dengan melemahnya volume permintaan perdagangan global. Sementara ini Tiongkok sebagai salah satu mitra dagang utama tujuan ekspor Indonesia. Sedangkan investasi yang terlihat masih melemah diperkirakan kembali membaik menjelang akhir tahun, sejalan dengan kemajuan pembangunan proyek-proyek strategis nasional untuk meningkatkan jaringan infrastruktur.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023








