Ekonomi
( 40733 )IMF cuts Indonesian GDP growth outlook
World Economic Outlook which has been published Tuesday (10/15), released Indonesia GDP to expand just 5 percent this year, down 2 percentage point from April projection. This forecasting based on weakened manufacturing activity, rising trade and geopolitical tension.
Government have to focus on maintaining household spending, the primary driver of GDP growth in the country. Besides, removing trade barriers should be an ideal scenario to boost confidence and investment. As altenative such scenario would be to utilize fiscal and monetary policy to boost domestic growth.
Aplikasi Posel untuk Memudahkan Nelayan
Perusahaan penyedia platform komunikasi digital supertext asal Swedia bekerjasama dengan Kadin untuk menyediakan kanal komunikasi dan informasi untuk komunitas nelayan dan pembudidaya. Supertext diharapkan bisa memudahkan komunitas perikanan memperoleh dan berbagi informasi mengenai cuaca, teknis operasional, pemetaan pasar perikanan terkini, serta terhubung dengan pembeli. Hal ini akan menunjang peningkatan produktivitas dan pendapatan nelayan.
CEO Supertext Martin Jacobson menambahkan sekitar 280.000 nelayan di Indonesia telah menggunakan aplikasi Supertext. Investasi yang dialokasikan untuk program ini sekitar 15 juta dolar AS.
Tiga Boeing 737-800 NG Diberhentikan Operasinya
Maskapai dalam negeri menindaklanjuti permintaan Badan Penerbangan Federal AS. Ini terkait dengan temuan keretakan struktural pada 38 pesawat dengan seri serupa di seluruh dunia. Sejauh ini operasi 3 pesawat : 1 milik garuda dan 2 milik Sriwijaya diberhentikan.
Saat ini maskapai yang mengoperasikan pesawat Boeing 737-80 NG adalah Garuda Indonesia (73 pesawat), Lion Air (102 pesawat), Batik Air (14 pesawat), dan Sriwijaya Air (24 pesawat).
Defisit Dagang Terkikis,Neraca Transaksi Berjalan Terangkat
Defisit neraca perdagangan selama 9 bulan pertama tahun ini yang terkikis hingga 50% (yoy) membawa optimisme terhadap neraca transaksi berjalan kuartal III/2019 yang diyakini juga akan membaik. Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai penurunan defisit perdagangan periode Januari-September tahun ini didorong oleh perbaikan defisit neraca migas menjadi US$6,4 miliar. Hal ini disebabkan oleh tren penurunan harga minyak mentah di pasar internasional dan penurunan volume impor migas. Menurut data BPS, ekspor sepanjang Januari-September 2019 mencapai US$124,17 miliar. Sementara itu,impor pada periode yang sama mencapai US$126,11 miliar.
Khusus untuk September, defisit neraca dagang tercatat sebesar US$160,5 juta. Hal ini disebabkan oleh tekanan pada volume ekspor sampai 8,53% ditambah dengan penurunan harga rata-rata komoditas ekspor sekitar 13,15% secara tahunan. Namun Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro meyakini defisit pada September ini masih bisa menambal pelebaran defisit transaksi berjalan menjadi kisaran 2,6% dari PDB pada kuartal III/2019.
Daya Ungkit Investasi Belum Maksimal
Belum ampuhnya investasi dalam mengungkit pertumbuhan ekonomi ditandai dengan nilai Incremental Capital Output Ratio (ICOR) yang masih berada di angka 6,3 pada tahun 2018. Angka ini lebih tinggi dari pesaing Indonesia di level global yaitu India dan Vietnam. Faisal Basri mengungkapkan tingginya ICOR disebabkan oleh banyak investasi yang tidak berkualitas dimana industri hasil investasi hanya memanfaatkan sedikit dari kapasitas produksinya ketika beroperasi. Pemerintah hanya cenderung mengundang PMA untuk masuk dan berinvestasi ke Indonesia tanpa mempertimbangkan daya ungkitnya ke perekonomian nasional.
Masalah lain yang perlu dibenahi adalah mengenai sektor yang diprioritaskan oleh pemerintah. Saat ini pemerintah menginginkan agar penanaman modal masuk ke sektor industri manufaktur yang padat karya agar mampu menstimulus pertumbuhan ekonomi serta membuka lapangan kerja baru. Namun data BKPM menunjukkan investor semakin tertarik berinvestasi di sektor jasa. Di tahun 2017-2019 minat investor bergeser ke sektor jasa dimana pada 2017 realisasi investasinya mencapai Rp293,4 triliun atau 42,3%.
PJT II Dongkrak Pendapatan dari Pariwisata
Perum Jasa Tirta II (PJT II) menggandeng PT Hotel Indonesia Natour (Persero) atau HIN dalam kerja sama pengelolaan hotel di sekitar Waduk Jatiluhur, Purwakarta. Lini usaha pariwisata diharapkan bisa memberikan kontribusi pendapatan yang lebih besar di masa yang akan datang.
Hingga 2018, pendapatan PJT II dari sektor pariwisata masih minim. Lini usaha ini mendatangkan pendapatan sebesar Rp 11,15 miliar atau hanya 1,32% dari total pendapatan PJT II sebanyak Rp 825,52 miliar. Pendapatan PJT II masih ditopang produksi dan distribusi listrik sebesar Rp 467,5 miliar.
APM Sambut Momentum Pasar
Selaras dengan siklus pasar, penjualan kendaraan pada akhir tahun diprediksi meningkat. Momentum ini disambut agen pemegang merek dengan beberapa program penjualan. Adapun merek premium memilih meluncurkan model baru.
Suzuki menargetkan pangsa pasar mobil 11% pada tahun ini. Target itu naik tipis dibandingkan dengan capaian 2018 yang sebesar 10,3%. Tahun ini Suzuki mengalihkan fokus pada penjualan mobil produksi dalam negeri seperti All New Ertiga, pikap New Carry, APV , Karimun Wagon R. Kontribusi penjualan produk dalam negeri itu diarahkan pada level 88% dari total penjualan Suzuki pada tahun ini. Hingga Agustus 2019, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat total penjualan Suzuki sebanyak 63.351 unit, sementara pada periode yang sama 2018 sebanyak 82.197 unit. Pada tahun ini, model produksi dalam negeri telah dikirimkan ke dealer sebanyak 55.107 unit atau setara dengan 87% dari total penjualan Suzuki.
Daihatsu Sales Operation Kalimantan juga gencar penetrasi penjualan ke daerah-daerah di luar kota Banjarmasin, yang dinilai potensial lantaran kondisi perekonomian tumbuh. Sementara itu, merek premium seperti BMW dan Porsche menyambut pengunjung tahun dengan meluncurkan produk baru.
Pengembang Perlu Fokus End User
Pasar properti pada kuartal IV/2019 di Jakarta diperkirakan masih stagnan sehingga menuntut pengembang untuk melakukan beragam strategi agar target akhir tahun bisa tercapai. Salah satunya dengan fokus ke end user daripada pasar investor. Adapun kebijakan penurunan suku bunga acuan sudah mulai mempengaruhi suku bunga kredit, walaupun masih terbatas.
Dari sektor hotel diperkirakan tetap stabil. Dari sisi perkantoran, diperkirakan permintaan yang cenderung positif dari awal tahun akan tetap berlanjut. Namun, tingginya kekosongan sejak 2015 dan tingginya pasokan baru menyebabkan okupansi dan tarif sewa belum mengalami peningkatan signifikan. Adapun dari sektor apartemen, kelas menengah dan menengah bawah masih tetap mengalami penjualan yang cukup baik, sedangkan kelas atas masih akan cenderung terbatas. Dari sektor ritel diperkirakan masih stabil. Sementara itu, untuk apartemen kelas atas, pada awal 2020 lebih menjadi pilihan untuk peluncuran, dengan persiapan dan pre-launch dapat dimulai pada akhir 2019.
Strategi yang perlu diperhatikan pengembang pada tiga bulan terakhir tahun ini adalah menyediakan produk bagi pasar end user yang memang sudah siap untuk membeli atau menyewa properti sesuai kebutuhan. Namun, proyek dengan harga terjangkau sepertinya tetap dilirik investor yang mencari produk investasi dengan risiko yang tidak tinggi.
Pemerintah Butuh Upaya Ekstra
Pemesanan instrumen obligasi negara Indonesia (ORI) seri ORI016 disebut perlu mendapatkan suntikan upaya tambahan karena sampai dengan separuh masa penawaran (berakhir 24 Oktober 2019) masih mencapai nilai Rp 2,6 triliun atau masih jauh dari target yang ditentukan yaitu Rp 9 triliun.
Analis Capital Asset Management, Desmon Silitonga mengatakan lesunya permintaan ORI016 telah diprediksi sebelumnya. Alasan utama yang dikeluhkan oleh investor adalah rendahnya kupon yang ditawarkan yaitu 6,8% dengan tenor 3 tahun. Dia menilai investor ritel secara umum memang sensitif terhadap kupon. Kepala Riset Infovesta Utama, Wawan Hendrayana menyatakan hal yang sama bahwa selama tahun ini investor telah mendapatkan penawaran SBN sebanyak 8 kali dan penawaran yang ke-9 ini merupakan penawaran dengan kupon terendah. Lebih lanjut diprediksi bahwa pemesanan ORI016 hingga masa akhir penawaran akan menyentuh nilai Rp 5 triliun hingga Rp 6 triliun.
Tiga Sektor Usaha Masih Melaju
Hingga Juli 2019, hanya ada tiga sektor lapangan usaha yang mencatat penguatan pertumbuhan permintaan kredit baru perbankan. Tiga sektor tersebut adalah sektor konstruksi ,sektor listrik,gas,dan air, serta sektor realestat, usaha persewaan, dan jasa perusahaan. Namun kontribusi ketiganya terhadap total penyaluran kredit hanya 14,7% dimana nilai tersebut masih dibawah sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 18,0% atau sektor industri pengolahan sebesar 16,4%. Sementara itu perlambatan pertumbuhan paling signifikan dialami oleh sektor perdagangan besar dan eceran, sektor agrikultur, serta sektor transportasi, pergudangan, dan komunikasi.
Senior Faculty LPPI menilai sektor energi dan konstruksi menjadi pendongkrak pertumbuhan kredit tahun ini. Sektor energi cukup terdongkrak seiring dengan adanya dorongan dari implementasi sustainability development goals. Menurutnya, perusahaan milik negara serta swasta gencar membangun pembangkit listrik tenaga micro hydro sehingga membuat penyerapan kreditnya meningkat. Disamping itu kredit pemilikan rumah juga dapat menjadi penopang yang cukup baik pada tahun ini. Direktur Legal, Risk, and Compliance BTN menyatakan bahwa untuk KPR, kinerja fungsi intermediasinya termasuk yang tertinggi diantara bank besar lainnya, yakni tumbuh 18,78% secara tahunan menjadi Rp251,04 triliun pada paruh pertama ini.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









