Ekonomi
( 40447 )Korporasi Dibayangi Potensi Lonjakan Kerugian Kurs
Pandemi Covid-19 menimbulkan ketidak pastian di pasar keuangan global. Akibatnya, nilai tukar mata uang negara emerging market, termasuk rupiah, melemah terhadap dollar AS sehingga berpotensi mempengaruhi kinerja keuangan emiten saham maupun korporasi di Tanah Air pada umumnya. Hal ini seperti dikatakan Wisnu Prambudi Wibowo, Head of Research Analyst FAC Sekuritas dimana emiten yang memiliki beban utang dalam dollar AS. dan menggantungkan bahan baku impor seperti sektor farmasi
Salah satu emiten yang terdampak dapat terlihat dari kinerja keuangan PT Suparma Tbk (SPMA) yang menanggung rugi periode berjalan sebesar Rp 24,55 miliar pada kuartal pertama 2020. Di periode yang sama tahun lalu, emiten ini masih mencatat laba periode berjalan Rp 39,86 miliar.
Sebagaimana di konfirmasi Sara K Loebis Sekretaris, Perusahaan PT United Tractors Tbk (UNTR) juga mengalami kondisi serupa dengan mencatatkan rugi neto nilai tukar dalam mata uang asing sebesar Rp 557,75 miliar, meningkat lebih dari empat kali lipat dari rugi nilai tukar di periode sama tahun lalu, sebesar Rp 107,77 miliar. Hal dini karenakan utang dalam mata uang asing yang cukup banyak.
Disisi lain, menurut Analis Jasa Utama Capital Sekuritas Chris Apriliony kinerja sejumlah emiten bisa kembali pulih di jangka panjang karena biasanya emiten sudah melakukan hedging guna menjaga keuntungan dari rugi kurs dan berpotensi membaik bila kurs rupiah kembali stabil. Hal ini juga menyebabkan harga sejumlah saham, seperti PGAS dan UNTR akan mengalami koreksi dalam, untuk investor ini menjadi peluang untuk masuk.Awal dari Perlambatan Ekonomi Indonesia
Pandemi virus korona Covid-19 menekan perekonomian dunia, tanpa terkecuali ekonomi Indonesia. Kuartal I-2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan mulai melambat. Beberapa ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2020 di bawah proyeksi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati maupun proyeksi Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo yaitu di kisaran 3%-4,2%.
Menurut Ekonom Bank Danamon, Wisnu Wardhana, perlambatan ini terlihat dari beberapa indikator diantaranya konsumsi rumah tangga yang turun, surplus neraca dagang, Ketiga pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi melambat dibanding kuartal I-2019. Keempat konsumsi pemerintah juga terpuruk.
Ekonom Bank Permata Josua Pardede juga mencatat, penjualan ritel di kuartal I-2020 turun 5,4% year on year (yoy) turun dari periode sama tahun lalu yang tumbuh 10,1% yoy. Sedangkan neraca dagang mengalami surplus sebesar US$ 2,62 miliar yang artinya net ekspor ikut menjadi penggerak perekonomian kuartal pertama tahun ini. Disisi lain belanja pemerintah terpuruk seiring dengan realisasi belanja K/L yang diperkirakan melambat menjadi 11% yoy dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 25% yoy.Karena itulah, Ekonom Indo Premier Luthfi Ridho dan , Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Fakhrul Fulvian sependapat dalam memperkirakan, perlambatan akan lebih parah pada kuartal kedua yang hanya tumbuh sekitar 2,5% dan sepanjang tahun di kisaran 3,6%.
Rupiah dan IHSG Menguat
Melemahnya laju pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2020 tak memengaruhi nilai tukar rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG). Kurs rupiah dan IHSG tetap menguat kendati ekonomi Tanah Air hanya tumbuh 2,97 persen.
Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, meski pertumbuhan ekonomi kuartal pertama lebih rendah dari perkiraan, masih dapat diterima oleh pasar.
Inflasi April yang rendah di 0,08 persen dan tingginya tingkat pengangguran, yaitu di atas dua juta jiwa, di perkirakan akan membuat pemerintah melonggarkan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Pelonggaran PSBB diharapkan akan membantu roda perekonomian kembali berjalan secara normal sehingga masyarakat bisa kembali beraktivitas seperti biasa.
Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Selasa menunjukkan rupiah melemah menjadi Rp 15.104 per dolar AS dibanding pada hari sebelumnya di posisi Rp 15.073 per dolar AS.
Analis Indopremier Sekuritas Mino mengatakan, IHSG ditopang oleh data PDB kuartal satu. Meskipun di bawah konsensus, masih positif, beda dengan negara besar lain, seperti Cina dan Amerika yang pertumbuhan ekonominya di kuartal satunya negatif.
Penutupan IHSG diiringi aksi jual saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah jual bersih asing sebesar Rp 429,94 miliar.
Beban Biaya Produksi - Alas Kaki Gencar Relokasi
Industri alas kaki mencatat sejak pertengahan tahun lalu sudah ada sekitar 30 pabrik sepatu yang melakukan relokasi ke Jawa Tengah.
Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Asprisindo) Firman Bakrie mengatakan sebagian besar pabrik yang pindah itu dari Banten. Sebagian kecil lagi dari kawasan Jawa Barat dan Jawa Timur.
Terbaru, relokasi dilakukan oleh PT Shyang Yao Fung yang merupakan pabrikan mitra Adidas dari Banten ke daerah Brebes, Jawa Tengah. Imbasnya Shyang Yao harus melakukan PHK 2.500 karyawan untuk mengimplementasikan rencana ini.
Dengan hal itu, tentu industri juga membawa dampak positif bagi Jawa Tengah karena membawa investasi dan membuka lapangan kerja baru di sana. Pasalnya, saat ini 30% biaya produksi habis untuk gaji karyawan dan sebenarnya masih bisa dibagi untuk menggerakkan ekonomi daerah.
Sementara itu, Kementerian Perindustrian mendorong pemulihan sektor industri di dalam negeri yang terdampak pandemi Covid-19. Hal ini guna menjaga roda perekonomian nasional agar tetap berputar.
Proyeksi Ekonomi 2020 - Tangkal Skenario Sangat Berat
Untuk ketiga kalinya, Bank Indonesia (BI) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi. Hal ini menegaskan bahwa skenario pemerintah mengenai kondisi ekonomi sangat berat bukan sekadar analisis di atas kertas.
Bank sentral merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi menjadi kurang dari 2,3%. Ini merupakan ketiga kalinya BI melakukan revisi. BI juga merevisi perkiraan pertumbuhan ekonomi per kuartal.
Apalagi, tekanan ekonomi pada kuartal II/2020 lebih parah menyusul penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang menggerus konsumsi sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, penerapan PSBB di Jabodetabek menggerus konsumsi rumah tangga menjadi 2,84% dibandingkan dengan 5,02% pada kuartal I/2019.
Skenario juga disusun Institute for Development of Economics and Finance (Indef). Kepala Center of Macroeconomics Indef Rizal Taufi kurahman mengatakan, pihaknya menyusun skenario berat, sangat berat, dan sangat berat sekali.
Menurutnya, pemerintah harus mencari strategi untuk mencegah penurunan makin dalam. Salah satunya meningkatkan stimulus fiskal kepada masyarakat dan sektor usaha, khususnya UMKM.
Ekonom Bank DBS Radhika Rao memprediksi, April—Mei akan menanggung beban paling berat karena periode itu menandakan masa ketika pemberlakuan aturan jarak sosial makin diperketat. Pada akhir April, penduduk juga dilarang melakukan mudik.
Hal ini kemungkinan meningkatkan pemutusan hubungan kerja, dan membebani pertumbuhan pada triwulan kedua.
Harga CPO menguat - Kinerja Emiten Sawit Menghijau
Menguatnya harga minyak sawit mentah mendorong pendapatan yang dibukukan sejumlah emiten sawit naik dobel digit pada kuartal I/2020.
Salah satu emiten sawit yang mendapat berkah kenaikan harga CPO ialah PT Astra Agro Tbk. (AALI) yang pendapatannya naik 13,31% year-on-year menjadi Rp 4,79 triliun pada Januari-Maret 2020.
Pada saat yang sama, Direktur Utama Astra Agro Lestari Santosa mengatakan beban pokok penjualan turun karena melandainya volume penjualan yang dibarengi dengan penurunan shipping cost.
Alhasil, entitas Grup Astra itu mengantongi lonjakan laba bersih 891,87% yoy dari Rp 37,41 miliar menjadi Rp 371,06 miliar pada akhir Maret 2020.
Secara terpisah, Sekretaris Perusahaan Palma Serasih Astrida Niovita mengatakan harga jual rata-rata minyak kelapa sawit telah menopang pendapatan dan laba bersih perusahaan. Selain itu, produktivitas tanaman juga meningkat seiring usia tanaman yang bertambah.
Properti Industri Menjanjikan
Pengembang disarankan mulai menggarap properti industri yang kebutuhannya masih sangat tinggi di Indonesia selama masa pandemi virus corona. Konsultan properti JLL Indonesia mencatat bahwa pasokan properti industri di Tanah Air masih dalam kondisi kekurangan pasokan.
James Taylor, Head of Research JLL Indonesia, menyatakan properti kawasan industri menjadi salah satu yang paling mampu bertahan selama pandemi Covid-19. Menurutnya, pelaku industri barang konsumen dan third party logistic (3PL) banyak yang mencari penyewa properti pergudangan sebagai tempat penyimpanan dan distribusi.
Presiden FIABCI Asia Pasifik Soelaeman Soemawinata mengatakan properti pergudangan diprediksi menjadi subsektor yang akan melambung pada masa mendatang.
Menurutnya, pergudangan makin menarik lantaran bisa mempermudah proses distribusi.
Industri Properti Diyakini Tetap Tumbuh 3%
Pusat Studi Properti Indonesia meyakini sektor properti tetap bisa tumbuh 3% sepanjang tahun ini, meskipun diadang pandemi virus corona. Direktur Pusat Studi Properti Indonesia Panangian Simanungkalit mengatakan proyeksi optimistis itu mengoreksi prediksi sebelumnya sebesar 6%—7% seandainya tidak ada virus corona yang memukul perekonomian Tanah Air.
Kemudian, Panangian melanjutkan pada kuartal III/2020 atau periode Juli—September, pertumbuhan sektor properti diproyeksikan hanya 2% seiring perkiraan pertumbuhan PDB yang bersiap untuk pulih dengan perkiraan pertumbuhan hanya sekitar 1,5% hingga 2%. Memasuki kuartal IV/2020, dia memprediksi pertumbuhan sektor properti bisa lebih baik dengan kisaran 3,5%.
Sementara itu, Ketua Umum Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) Paulus Totok Lusida berharap agar industri properti masih bisa tumbuh pada 2020 meskipun pelbagai sentimen turut mengadang industri itu.
Pada saat yang bersamaan, Totok menambahkan bahwa omzet pengembang di tahun ini akan turun. Sejauh ini, dia tetap optimistis bahwa bisnis properti akan terus berjalan yang ditopang oleh penjualan rumah bersubsidi untuk kalangam masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Saat ini, pecapaian pembangunan rumah untuk kalangan MBR yang dibangun REI telah mencapai 65.000 unit atau telah memakai jatah sekitar 65% dari kuota subsidi yang tersedia untuk seluruh asosiasi pengembang.
Kinerja Industri Perbankan - Kabar Baik Awal Tahun
Tampaknya masih ada cukup alasan untuk tetap optimistis memandang prospek bisnis intermediasi perbankan tahun ini meskipun kehati-hatian tetap menjadi kunci. Kinerja intermediasi pada kuartal I/2020 masih cukup baik, tetapi masa depan masih sulit ditebak.
Di sisi lain, rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) juga masih cukup terjaga. Padahal, dampak pandemi Covid-19 mestinya sudah mulai terasa pada Maret 2020 lalu.
Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah mengatakan bahwa dampak pandemi terhadap ekonomi memang belum begitu mengerikan awal tahun ini sehingga kinerja intermediasi bank tetap positif. Lagi pula, adanya relaksasi pada kebijakan restrukturisasi memungkinkan tekanan NPL tidak akan terlalu tinggi.
Senada, Rektor Universitas Indonesia Ari Kuncoro berpendapat bahwa masih tingginya permintaan kredit menunjukkan bank masih menopang kebutuhan likuiditas pelaku industri sektor riil. Dirinya meyakini, setelah pandemi berakhir, akan terjadi lonjakan permintaan konsumsi yang cukup besar sehingga mengerek permintaan kredit.
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi XI DPR RI pekan lalu mengatakan kredit perbankan tahun ini kemungkinan tumbuh paling tinggi hanya 2% yoy. Dalam skenario terburuk, kinerja kredit bahkan mungkin tidak tumbuh.
Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk. Jahja Setiaatmadja mengatakan perseroan akan tetap realistis dengan lebih mementingkan menjaga kualitas kredit ketimbang ekspansi yang justru meningkatkan potensi risiko kredit.
Sementara itu, Ketua Himpunan Bank-Bank Negara (Himbara) Sunarso, yang juga menjabat Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. sebelumnya menyebutkan masih perlu melakukan stress test terlebih dahulu untuk mengukur kemampuan kredit tahun ini. Dia masih berharap pertumbuhan positif tersebut dapat terjaga sampai akhir tahun meskipun ada tekanan pada kuartal II/2020.
Dampak Wabah Covid-19 - Selamatkan Manufaktur!
Penurunan indeks manufaktur yang mencemaskan di tengah kondisi pandemi Covid-19 perlu disiasati dengan kebijakan jangka pendek yang lebih terarah untuk menahan koreksi lebih dalam.
IHS Markit kembali merilis Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia periode April 2020 yang anjlok ke level terendah sepanjang sejarah survei sebesar 27,5. Indonesia menjadi negara dengan indeks terendah di Asia Tenggara, tepat di bawah Myanmar dengan angka 29,0. Menurut laporan tersebut, penurunan ini dipengaruhi oleh kebijakan untuk menahan penyebaran pandemi Covid-19 yang telah berdampak pada penutupan pabrik hingga penurunan permintaan dan hasil produksi.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengonfirmasi ketika daya beli masyarakat tertekan atau tidak ada demand, secara otomatis perusahaan industri harus melakukan penyesuaian, termasuk penurunan drastis utilitasnya.
Agus mengungkapkan, penurunan PMI Indonesia sangat memengaruhi angka PMI di Asia Tenggara. Pasalnya, volume sektor manufaktur Indonesia lebih besar dibandingkan dengan negara lain di kawasan ini.
Untuk jangka pendek, Kemenperin akan berusaha menyeimbangkan strategi pertumbuhan ekonomi dan pembatasan penyebaran Covid-19. Kemenperin telah melakukan pemetaan sektor industri pada tiga kelompok, yakni suffer, moderat, dan high demand.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, penurunan PMI Indonesia tersebut merupakan puncak pemburukan industri sektor manufaktur di Tanah Air. Dia menegaskan PMI Indonesia yang anjlok pada April harus diwaspadai karena turun sangat drastis hanya dalam 1 bulan.
Adapun, ekonom Indef Bhima Yudhistira menyarankan sejumlah langkah konkret untuk menyelamatkan manufaktur dengan cara memperbesar stimulus fiskal, memberikan diskon tarif listrik bagi sektor padat karya, dan menyesuaikan harga BBM.
Kepala Center of Industry, Trade, and Investment Indef Andry Satrio Nugroho menambahkan, solusi yang dapat dilakukan adalah memacu industri dalam menghadapi kondisi ini. Pemerintah bisa membantu melalui instrumen yang bisa menurunkan biaya utilitas.
Ketua Apindo Hariyadi B. Sukamdani menambahkan ketika ada relaksasi PSBB, ekonomi akan kembali pulih. Akan tetapi, risiko terhadap penularan Covid-19 juga akan makin besar.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









