;
Kategori

Ekonomi

( 40447 )

Pendapatan Non Bunga Dipacu

03 May 2020

Pendapatan bunga bank akan tergerus seiring implementasi restrukturisasi kredit di tengah pandemic Covid-19. Untuk menjaga sumber pendapatan alternatif, industri perbankan memacu pendapatan non bunga yang sejakawal tahun ini sudah menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan yang melambat. SVP Transaction Banking Retail Sales PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Thomas Wahyudi, Direktur Konsumer PT Bank CIMB NiagaTbk Lani Darmawan ditempat terpisah sepakat bahwa, pendapatan non bunga merosot atau lebih rendah dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Namun masih tumbuh meski relatif stagnan bila dibandingkan dengan triwulan I-2019.

Selain itu, Pihak Mandiri mengatakan sedang menggenjot transaksi e-dagang agar pendapatan berbasis biaya Bank bisa terjaga. Disisi lain CIMB Niaga menawarkan beberapa produk investasi, produk Asuransi melalui bank, dan tresuri. Meski demikian, Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, berpendapat, dalam kondisi ekonomi yang pertumbuhannya cenderung melambat, pertumbuhan nonbunga industri perbankan juga turut melambat. Kondisi ini terjadi sejak Januari 2020 dan diperkirakanakan cenderung rendah pada jangka waktu pendek-menengah. Ia menambahkan bahwa kenaikan pendapatan nonbunga ini tidak akan mampu menambal penurunan pendapatan industry perbankan lainnya apalagi, pemerintah tidak memberi stimulus terkait pendapatan non bunga bank baik dari sisi moneter maupun fiskal 

Adaptasi Tak Perlu Gengsi

03 May 2020

Setelah memperhitungkan dampak Covid-19 yang meluas, pada April 2020 beberapa organisasi dunia mencatatkan koreksi proyeksi yang cukup memprihatinkan dibandingkan proyeksi pada Januari 2020 diantaranya: Organisasi Pariwisata Dunia PBB atau UNWTO, memperkirakan  turis internasional pada 2020 akan anjlok 20-30 persen dibandingkan 2019, sebelumnya diperkirakan meningkat 4 persen; Konferensi Perdagangan dan Pembangunan PBB (UNCTAD) memperkirakan, penanaman modal asing (PMA) global tahun ini akan anjlok 30-40 persen dibandingkan 2019, sebelumnya diperkirakan akan tumbuh moderat; Dana Moneter Internasional (IMF), memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2020 minus 3 persen. Sebelumnya diperkirakan perekonomian dunia akan tumbuh 3,3 persen; Di Tanah Air, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) / Bank Indonesia (BI) mengubah proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi tumbuh 2,3 persen. Sebelumnya diproyeksi mencapai 5,1-5,5 persen.

Perubahan target dan mitigasi adalah sebagai salah satu bentuk adaptasi. Kondisi terkini, pekerja yang dirumahkan dan dikenai pemutusan hubungan kerja kian banyak. Perusahaan juga menghadapi kondisi serba tak pasti. Usaha mikro, kecil, dan menengah mencari ide untuk bertahan.Pekerja perlu masa depan yang pasti. Namun, yang lebih diperlukan saat ini adalah menjalani hari demi hari. Padahal, sebagian pekerja sudah tak punya uang di saku. Pilihannya, menambah keterampilan kerja, tetapi tanpa kepastian kerja dan tak bisa membeli makanan bergizi; atau menunda tambahan keterampilan, tetapi bisa menjaga kondisi tubuh karena perut terisi. Tak perlu gengsi untuk mengubah rencana semula menjadi langkah yang lebih relevan dengan kondisi terkini.

BI Diyakini Mampu Menjaga Volatilitas Rupiah

03 May 2020

Upaya Bank Indonesia (BI) dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar rupiah nampaknya cukup berhasil. Volatilitas nilai tukar rupiah terjaga dengan baik jika dibanding negara lain meski dipengaruhi sentimen pandemi Covid-19. Berdasarkan data Bloomberg, indeks volatilitas rupiah memang meningkat pada periode 20 Maret-17 April 2020. Meski cenderung lebih rendah dibandingkan mata uang lira Turki, real Brasil, dan rand Afrika Selatan, namun dinilai lebih tinggi dari baht Thailand, peso Filipina, rupe India, dan ringgit Malaysia. Di sisi lain, ada beberapa negara mengalami pelemahan nilai tukar terbesar dengan volatilitas tertinggi di sepanjang paruh kedua tahun lalu, yaitu Turki, Brasil, dan Afrika Selatan dan di atas rerata volatilitas negara-negara berkembang. rand Afrika Selatan mencatat indeks volatilitas 18,1%, disusul real Brazil 17%, dan lira Turki 16%.

Ekonom Senior Institut Kajian Strategis (IKS) Universitas Kebangsaan Eric Sugandi melihat, intervensi BI cukup bisa menjaga volatilitas rupiah sampai akhir semester I-2020 karena cadangan devisa Indonesia masih cukup besar. Di samping itu faktor kejutan dari pandemi Covid-19 juga sudah jauh berkurang dibandingkan pada bulan Februari, Maret, hingga awal April lalu. Para pelaku pasar juga mulai tidak bereaksi berlebihan.

Gojek Kembali Kedatangan Investor Baru

03 May 2020

Bertahap, Gojek yang kini memiliki valuasi US$ 10 miliar tersebut kembali kedatangan gelombang investor baru. Sejak akhir tahun lalu hingga April tahun ini, ada tujuh entitas baru yang masuk Gojek, dengan membeli saham Seri P. Pada bulan April ini, misalnya, tiga investor masuk Gojek. Mereka adalah East Ventures, Mandiri Capital Indonesia, serta Fenox Venture. Sebelumnya, Unilever Swiss Holding, PT Pusaka Citra Djokosoetono, Grup Blue Bird, telah masuk pemilikan saham Gojek lebih dahulu. Dan Google Asia Pacific juga telah menambah investasinya ke Gojek. 

Gojek merilis pertama kali saham Seri P Juni 2019 sebanyak 45.552 unit saham dengan nilai nominal Rp 500.000 per saham. Ada dua entitas yang menyerap saham tahap pertama ini Yakni Visa International Service Association asal Amerika Serikat dan Mitsubishi UFJ Lease & Finance Co Ltd. asal Jepang

Bisnis transportasi berbasis digital ini juga terus menggelar ekspansi, dengan kabar terakhir mengakuisisi Moka Technology Solutions Pte Ltd, perusahaan rintisan teknologi finansial (fintech) yang menyediakan layanan mobil point of sales (MPOS) atau kasir online. Akuisisi tersebut sudah didaftarkan ke Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Meski demikian, Farahiya Thirafi, Corcom Associate Gojek belum mau membeberkan rencana bisnisnya ke depan.

RI cari Utang Lunak dari Luar Negeri

03 May 2020

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani sedang sibuk mencari pinjaman asing. Utang tersebut dalam rangka penanggulangan dampak virus korona (Covid-19) terhadap situasi kesehatan dan ekonomi dalam negeri. Langkah saat ini dengan bernegosiasi kepada dua pinjaman asing yaitu Asian Development Bank (ADB) dan bantuan dari Islamic Development Bank (IsDB).

Presiden ADB Masatsugu Asakawa mengatakan, pandemi Covid-19 menyebabkan dampak yang berat bagi sektor tersebut. Sebab itu, dukungan anggaran dari ADB diharapkan bisa membantu pemerintah mengatasi tantangan Covid-19 dengan berfokus kepada kelompok miskin dan rentan miskin, termasuk kaum perempuan.

Sri Mulyani telah melakukan pertemuan dengan Presiden IsDB Bandar Hajjar melalui video conference, Minggu (26/4). Hasilnya Menkeu menjelaskan IsDB berencana mendukung anggota IsDB menghadapi wabah pandemi Covid-19 bersama dengan lembaga multilateral lain yaitu World Bank dan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB).

Peneliti dari Center of Reform on Economics (Core) Yusuf Rendy Manilet menyarankan, pemerintah mengutamakan pembiayaan lokal. Misalnya pembiayaan dari Bank Indonesia (BI) ketimbang berutang dari luar negeri. Meskipun pinjaman dari luar negeri memiliki bunga utang yang relatif rendah, tetapi pinjaman ini memiliki risiko selisih kurs yang artinya di kemudian hari berpotensi menjadi lebih besar jika terjadi fluktuasi nilai tukar.

FDI dan Pengawasan Perbankan

02 May 2020

Menurut President Director Center for Banking Crisis, Achmad Deni Daruri, Di era resesi atau bahkan depresi yang akan menghantam perekonomian dunia saat ini, Indonesia harus segera menangkap peluang investasi dari penanaman modal asing. Baltabaev dalam penelitiannya membuktikan pengaruh positif dari penanaman modal asing (FDI) terhadap daya saing perekonomian yang riil (baca: Total factor productivity (TFP)). Dari sisi makroekonomi, peningkatan FDI memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja dan perolehan devisa.

Deni menambahkan, hal tersebut dapat dilihat dari kinerja perekonomian yang mengandalkan FDI, seperti Vietnam yang pertumbuhan ekonominya dalam beberapa tahun meningkat pesat dan juga Singapura yang perekonomiannya sudah dapat dikatakan sekelas negara­-negara maju. FDI cenderung meningkatkan ekspor karena ditunjang jaringan di pasar dunia. FDI di Vietnam menyumbangkan devisa ekspor yang sangat besar. Bukan hanya itu, FDI juga diyakini membawa teknologi, perusahaan seperti Apple contohnya yang membangun pusat data di Vietnam dengan nilai investasi miliaran dolar Amerika.

Vietnam juga sangat terbantu oleh kedatangan FDI dalam memfasilitasi pengawasan perbankannya. Dengan adanya FDI maka kalaupun ada peningkatan pertumbuhan kredit perbankan di Vietnam, dipastikan pertumbuhan kredit itu akan berjalan secara sehat. FDI bersifat Leontief production function sehingga ada efek penularan positif dari investasi FDI terhadap pertumbuhan kredit perbankan lokal. Perbankan lokal mendapatkan kegiatan bisnis yang telah terseleksi secara internasional. Perusahaan seperti Apple dalam memutuskan berinvestasi di manapun selalu mempertimbangkan keputusan tersebut secara good corporate governance dimana investasi akan menimbulkan efek ganda positif dalam perekonomian yang pada gilirannya diikuti oleh pertumbuhan kredit di dalam negeri, bisnis yang sehat yang dibangun oleh penanaman modal asing juga akan menulari model­model bisnis lainnya di dalam negeri sehingga memudahkan pengawasan perbankan. Risiko sistemik dari pengawasan perbankan menjadi rendah.

Begitu juga di Singapura. Kedatangan FDI termasuk di sektor perbankan justru meningkatkan daya saing perbankan di Singapura bahkan yang paling unggul di Asia Tenggara. Pemerintah Singapura dan pengawas perbankan di Singapura yang semenjak tahun 1980­an menggunakan pendekatan TFP dalam mengevaluasi perekonomian dan sektor keuangan di Singapura.Dengan demikian, kombinasi antara FDI dan implementasi analisis TFP telah membuat perb­ankan Singapura semakin unggul dibandingkan para pesaingnya. Secara konseptual, produktivitas faktor total mengacu pada seberapa efisien dan intens input digunakan dalam proses produksi.

TFP tinggi berkorelasi positif dengan semakin besarnya FDI, yang pada gilirannya menyebabkan kualitas perbankan di dalam negeri juga semakin baik, pengawasan perbankan berjalan dengan sendirinya karena perekonomian termasuk perbankan dan juga pengawas perbankan memiliki tingkat teknologi yang tinggi, pengukuran dampak lingkungan hidup yang tidak terekam dalam neraca perusahaan telah terekam dalam analisis TFP tersebut sebagai bagian dari produktivitas multifaktor. Sementara, negara lain masih mengandalkan perhitungan pruduktivitas berdasarkan produktivitas tenaga kerja saja sehingga analisis daya saing perbankannya sangat dangkal. Baltabaev mengingatkan kita semua bahwa FDI secara nyata membuat negara yang ditempatinya mendapatkan transfer teknologi yang berdampak positif bagi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Bukti lainnya dapat dilihat dari negara­negara yang FDI-nya besar secara relatif mampu menjinakkan virus corona di negaranya seperti Singapura dan Vietnam dengan korban meninggal yang relatif kecil dibandingkan Indonesia.

Industri Sawit Mampu Bertahan Saat Pandemi Covid-19

02 May 2020

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mengakui pandemi Covid-19 membawa dampak terhadap perekonomian. Namun demikian, perusahaan kelapa sawit di Kalimantan Tengah (Kalteng) diyakini mampu bertahan dan bisa melewati masa-masa sulit ini. Hal ini sebagaimana disampaikan Sekjen Gapki Kanya Lakshmi dan Ketua Bidang Publikasi dan Komunikasi Gapki Kalteng Siswanto. Siswanto melanjutkan, belum sampai ada yang melakukan PHK (pemutusan hubungan kerja) atau bahkan hingga menutup perusahaan.

Perusahaan juga berupaya semaksimal mungkin membantu karyawan dan petani.  Dengan mengelola pemasukan dan pengeluaran agar perusahaan tetap bisa bertahan dan petani menjual hasil kebunnya dengan dihargai manusiawi. “Bahasa lainnya adalah dengan mengencangkan ikat pinggang” ujar Siswanto sembari menerangkan bahwa hal itu sebagai salah satu bentuk kepedulian di tengah pandemi Covid-19 dan salah satu bentuk dukungan Gapki agar pandemi Covid-19 ini segera berakhir dan ekonomi kembali bergeliat seperti sedia kala.

Bank Woori Saudara Bagi Dividen Rp 13 per lembar saham

02 May 2020

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk menyepakati pembagian dividen tahun buku 2019 sebesar Rp 13 per lembar saham. Tahun lalu, laba bersih perseroan sebesar 499,79 miliar atau turun 7% secara tahunan (year on year/yoy)

Direktur Bank Woori Saudara Indonesia sekaligus Sekret-aris Perusahaan Sadhana Priatmadja melalui keterangan tertulis, Rabu (29/4) mengatakan hal ini dikarenakan perlambatan ekonomi global dan perekonomian Indonesia, yang menyebabkan pengetatan pada pasar dana pihak ketiga (DPK) sehingga mendorong suku bunga DPK naik. Namun demikian, Sadhana mengatakan pihaknya berupaya memperkuat portofolio bisnis melalui diversifikasi produk dengan memadukan produk perbankan korporasi dan perbankan ritel.

Covid Tumbangkan Ekonomi AS

02 May 2020

Wabah virus corona Covid-19 menumbangkan perekonomian Amerika Serikat (AS). Produk domestik brutonya (PDB) kontraksi 4,8% pada triwulan pertama 2020. Penurunan tersebut adalah yang terbesar dalam 12 tahun atau sejak krisis finansial global. Pemerintah AS pada Rabu (29/4) menekankan bahwa data yang ada belum dapat menunjukkan dampak penuh dari wabah Covid­19 terhadap ekonomi. Alasannya, sebagian besar dunia usaha tutup dan perintah tinggal di rumah bagi warga baru berlaku pada pekan terakhir Maret 2020.

Meski begitu, data terbaru PDB tersebut menunjukkan ekonomi AS tumbang, kalangan analis menyuarakan kekhawatiran apakah kebijakan-­kebijakan perdagangan Presiden Donald Trump akan terus membebani pertumbuhan di sepanjang 2020 dan wabah ini telah merenggut lebih dari 50.000 jiwa juga menghilangkan sekitar 26 juta lapangan kerja sejak pertengahan Maret 2020. Konsumsi pribadi anjlok 7,6% dan di berbagai sektor ekonomi, belanja turun tajam. Ekspor dan Impor juga turun. Asosiasi Transportasi Udara International atau International Air Transport Association (IATA) pada Rabu melaporkan bahwa trafik udara dunia menukik tajam 52,9% dan disebutkan sebagai penurunan terbesar dalam sejarah terakhir.

Ian Shepherdson, analis dari Pantheon Macroeonomics berpendapat kontraksi PDB dapat mencapai dua digit pada kuartal II. Data yang ada memperkuat pandangan kalangan ekonom bahwa ekonomi AS sudah dalam resesi yang sangat dalam, pendapat yang senada juga di katakan Chris Rupkey, kepala ekonom MUFG di New York, seperti dikutip Reuters. Hal ini juga ditekankan Paul Ashworth, kepala ekonom Capital Economics, seperti dikutip CNBC bahwa data yang ada dapat mengindikasikan kuartal kedua bakal menjadi yang terburuk sejak pasca ­Perang Dunia II.

Properti Kawasan Industri Masih Berpeluang Tumbuh

02 May 2020

Industri dan logistik merasakan beberapa perubahan sebagaimana dikatakan Director Industrial & Logistics Services Colliers International, Rivan Munansa, dalam siaran pers, di Jakarta. Hasil survei Colliers International Indonesia (Colliers) memperlihatkan bahwa proses perizinan industri dan logistik menjadi semakin ketat sedangkan Hasil riset tim Industri & Logistik Colliers melaporkan bahwa orang dan investor telah membatalkan atau menunda keputusan untuk membeli atau menyewakan properti karena mereka sibuk berfokus pada kepentingan internal, terutama yang mencakup standard operation procedure (SOP) terkait Covid-19, termasuk kebijakan bekerja dari rumah (work from home/WFH). Berdasarkan penelitian Colliers, aktivitas penjualan untuk kawasan industri turun pada triwulan I-2020. Transaksi di sektor properti industri lamban. Kelesuan transaksi ini telah diimbangi dengan penurunan aktivitas kunjungan lapangan dan rencana ekspansi.

Meski demikian Rivan melanjutkan, di masa pandemi ini Investor perlu secara aktif, lebih jeli dan agresif mencari properti yang tersedia pada saat peluang harga diskon kemungkinan muncul di pasar. Sedangkan untuk pemiliki harus fokus pada perencanaan dan penataan ulang model bisnis, agar sesuai dengan kondisi ekonomi saat ini. Menurutnya, gudang dan pabrik yang berkualitas baik harus dipertimbangkan, meskipun beberapa sektor bisnis telah merasakan dampak negatif dari situasi saat ini, beberapa akan mendapat manfaat, atau memiliki potensi untuk tumbuh, terutama yang terlibat dalam perdagangan elektronik, barang-barang konsumsi, industri perawatan kesehatan dimana permintaan tinggi, dan juga pada masa depan, pusat data akan berpotensi besar.

Sementara itu, Arvin F Iskandar, ketua DPD Real Estat Indonesia (REI) DKI Jakarta, menanggapi tekanan pandemi Covid-19 dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menyarankan mitigasi yang dipilih di tengah tekanan tersebut salah satunya adalah dengan melakukan efisiensi operational expenditure (opex) dan slowing down capital expenditure (capex) serta senantiasa membuat inovatif agar produk yang dihasilkan lebih menarik.