Ekonomi
( 40460 )Wisatawan Domestik Jadi Penghela
Industri pariwisata diprediksi terus bergeliat pada triwulan IV-2020 meskipun pandemi Covid-19 belum usai. Wisatawan domestik menjadi penghela kebangkitan pariwisata.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suharyanto mengatakan, seiring relaksasi pemerintah berupa pelonggaran PSBB, banyak wisatawan domestik melakukan perjalanan dan bepergian dengan menerapkan protokol kesehatan. Meski demikian, jumlah wisatawan mancanegara ke Tanah Air masih sangat minim sehingga pemulihan pariwisata masih butuh waktu.
Berdasarkan BPS, jumlah wisatawan mancanegara (wisman) pada September 2020 hanya 153.500 orang. Jumlah itu menurun dibandingkan pada Agustus 2020 yang mencapai 165.000 orang. Pertumbuhan kunjungan wisman ke Tanah Air secara tahunan minus 88,96 persen. Kunjungan wisman didominasi dari Timor Leste (50 persen), Malaysia (35,3 persen), dan China (4,6 persen).
Kunjungan wisman pada September 2020 antara lain untuk keperluan bisnis dan kerja, sedangkan belum ada wisman untuk tujuan liburan. Secara kumulatif, jumlah wisman sepanjang Januari-September 2020 sebanyak 3,56 juta orang. Pertumbuhannya minus 70,57 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 12,1 juta orang.
Sementara itu, tingkat penghunian kamar selama September 2020 mencapai 32,12 persen atau turun 0,81 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya, serta turun minus 21,40 secara tahunan. Tingkat penghunian kamar terendah antara lain di Bali, Kepulauan Riau, dan Aceh.
President Director PT Angkasa Pura II (Persero) Muhammad Awaluddin, Senin, mengatakan, kombinasi keyakinan terhadap protokol kesehatan dan libur panjang menggairahkan penerbangan pada Oktober 2020. Jumlah penumpang di 19 bandara yang dikelola PT AP II pada 1-31 Oktober 2020 sebanyak 2,14 juta orang atau naik sekitar 19 persen dibandingkan September 2020 yang sebanyak 1,79 juta orang.
Pergerakan pesawat pun naik 10 persen, yakni dari 23.879 penerbangan pada September 2020 menjadi 26.304 penerbangan pada Oktober 2020. Dalam periode libur panjang, 28 Oktober-1 November 2020, jumlah penumpang pesawat sebanyak 455.068 orang, naik 17 persen dibandingkan dengan periode 21-25 Oktober 2020. Jumlah penerbangan naik 10 persen menjadi 4.460 penerbangan.
232 Pelaku Usaha Pariwisata Dapat Bantuan
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekrai) mengumumkan sebanyak 232 pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif, sebagai penerima program bantuan insentif pemerintah (BIP) 2020.
Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenparekraf, Fadjar Hutomo menjelaskan, BIP merupakan program tahunan yang diselenggarakan sejak 2017. Program ini bertujuan untuk memberikan tambahan modal kerja dan investasi aktiva tetap kepada pelaku usaha di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Pengumuman ini kemudian diikuti dengan tahapan pembekalan komitmen perjanjian kerja sama para calon penerima BIP dengan pihak pembuat komitmen yaitu Kemenparekraf di lingkungan Direktorat Akses Pembiayaan. Tahapan pembekalan dan penandatangan dilakukan pada 2 3 November 2020, di DoubleTree by Hilton Hotel, Jakarta.
Direktur Akses Pembiayaan Kemenparekraf, Hanifah Makarim menjelaskan, program BIP tahun ini terbagi dalam dua kategori yakni reguler dan afirmatif.
Untuk kategori reguler, BIP diberikan kepada 96 pelaku usaha berbadan hukum seperti PT, Koperasi, dan Yayasan/Perkumpulan dengan maksimal bantuan yang diberikan sebesar Rp 200 juta.
Sementara untuk kategori afirmatif diberikan kepada 136 pelaku usaha yang belum berbadan hukum atau badan hukum dalam bentuk seperti UD, Firma, atau CV, dengan maksimal bantuan sebesar Rp 100 juta. Dengan komposisi subsektor yaitu, sektor kuliner 59 penerima, fesyen 35 penerima, kriya 34 penerima. aplikasi 34 penerima, pariwisata 33 penerima, film 26 penerima, dan game 11 penerima.
“Demografi penerima BIP tahun ini lebih luas dan merata dibanding tahun tahun sebelumnya. Penerima berasal dari 21 provinsi dimana lima provinsi terbesar yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan Yogyakarta,” jelasnya.
Tingkat Hunian Meningkat Lebih 80 Persen
Libur bersama yang dilaksanakan Rabu hingga Minggu tadi ternyata membawa berkah juga bagi hotel yang ada di Banjarmasin dan Banjarbaru. Tingkat hunian meningkat hingga 80 90 persen selama liburan lima hari tersebut.
“Saat long weekend kemarin, kamar di tempat kami full terus selama tiga hari. Kebanyakan yang menginap satu keluarga, liburan staycation di hotel,” kata Dessy Nathalia Hawinie, Executive Secretary & Marketing Communication Swiss Belhotel Borneo Banjarmasin, Senin (2/11).
Dikatakan Dessy, jika Sabtu dan Minggu kebetulan ada acara small wedding. Adanya libur bersama dan acara small wedding, membuat tingkat hunian di Oktober tadi di closing sekitar 80 persen.
Terpisah, Sales Manager Hotel Roditha Banjarbaru, Idrus Wardhana, mengatakan selama long weekend kemarin tingkat hunian cukup meningkat. “Meningkatnya sampai 90 persen. Kebanyakan yang menginap seputar Kalsel juga dan family untuk memanfaatkan libur dan bersantai bersama keluarga,” katanya.
Dikatakan Idrus, kebanyakan tamu menginap mulai Jumat sampai Minggu kemarin, sedangkan harga kamar per malamnya hanya Rp 462. 000. Sepertinya hingga ke akhir tahun ini. “Averages sekitar 75 persen,” ucapnya.
Pengelola Travel Umroh Pilih Pelajari Alur
Penyelenggarakan travel yang ada di Kalimantan Selatan memilih tak memberangkatkan jemaahnya walaupun mulai 1 November 2020, pemerintah Arab Saudi memperioritas Indonesia menunaikan ibadah umrah.
Penyelenggara travel terlebih dahulu memilih survei terlebih dahulu, baru Januari atau Februari 2021 memberangkatkan jemaahnya.
“Kaltrabu belum akan memberangkatkan di November, karena kita masih menunggu rencana pimpinan survei ke Saudi dan kepastian alurnya,” kata Fakhrul Rizani A, Direktur Kaltrabu Banjarmasin, Senin (2/11).
Dijelaskan Fakhrul, dalam pemberangkatan jemaah umrah nanti yang menjadi prioritas adalah jemaah yang tertunda sebanyak 602 orang.
Terpisah, Hendra Royadi Amd sebagai Mitra DGI Kalsel mengatakan sebenarnya November ini bisa saja pihaknya memberangkatan jemaah, tapi biaya lebih tinggi, sekitar Rp 40 jutaan karena masih menerapkan protokol Covid-19.
Dikatakan Hendra, pada Februari 2021, pihaknya juga akan memberangkatkan Banjarmasin langsung Madinah, yang cash harga Rp 28.100.000 jarak hotel 200 meteran. “Kalau lebih dekat lagi hotelnya Rp 31,3 juta cash, jaraknya 100 meteran dan ada juga jarak hotel 50 meter itu cash nya Rp 35 jutaan,” ujarnya.
Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III Minus 3 Persen
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut jika pertumbuhan ekonomi di kuartal III/2020 minus 3 persen. Jika mengacu pada data tersebut, maka Indonesia sudah mengalami penurunan ekonomi dalam dua kuartal dan menjadikan negara ini masuk jurang resesi.
Meski negatif dikatakan Jokowi, realisasi tersebut lebih baik jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi di kuartal II/2020 yang minus 5,32 persen.
“Jadi, kuartal III mungkin minus tiga persen lebih sedikit. Dan itu adalah trennya membaik, tren positif. Ini yang harus ditekankan dari pengumuman BPS, dari minus 5,32 persen (kuartal II, Red) menjadi minus 3 sekian persen,” kata Jokowi saat membuka sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (2/11).
Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan akan mengumumkan realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal III/2020 pada 5 November 2020 nanti.
Maka itu, Presiden Jokowi menekankan kepada jajarannya untuk menggenjot realisasi belanja anggaran pada kuartal IV atau paruh terakhir di 2020. “Di kuartal IV/2020 ini, saya sampaikan ini sangat penting sekali. Agar kita lebih baik lagi. Agar bisa memperbaiki lagu. Syukur bisa masuk positif, sehingga belanja, spending, harus menjadi kejar-kejaran kita semuanya, “ papar mantan Gubernur DKI Jakarta itu.
Oktober Catat Deflasi Karena Harga Perhiasan Emas Turun
Badan Pusat Statistika (BPS) menyebut bahwa Jawa Timur mengalami deflasi 0,02 persen pada Oktober 2020, Dari 103,96 pada September lalu menjadi 103,94 pada Oktober.
Kepala BPS Jatim Dadang Hardiawan mengatakan, faktor deflasi dipengaruhi adanya penurunan harga sebagian indeks kelompok pengeluaran. “K?moditas yang mengalami penurunan harga pada Oktober 2020 antara lain angkutan udara, mangga, emas perhiasan, apel, semangka, tariflistrik, alpukat, daging sapi, daging ayam ras, dan wortel,” ujarnya, Senin (2/11).
Dadang menambahkan, “Tingkat inflasi tahun kalender Jatim hingga Oktober 2020 sebesar 0,72 persen, dan tingkat inflasi tahun ke tahun 1,39 persen, “ katanya.
Berdasarkan angka inflasi di delapan kota, indeks harga konsumen (IHK) di Jatim sepanjang Oktober 2020, empat kota mengalami inflasi dan empat kota mengalami deflasi. Kota yang mengalami inflasi yaitu Probolinggo, Madiun, Banyuwangi, dan Jember. “Sedangkan kota yang mengalami deflasi yaitu Sumenep sebesar, Malang, Kediri, dan Surabaya,” terangnya.
Lebih lanjut Dadang mengungkapkan, dibandingkan tingkat inflasi tahun kalender Januari hingga Oktober 2020 di delapan kota IHK Jatim, Jember merupakan kota dengan inflasi tahun kalender tertinggi. Yakni mencapai 1,27 persen. “Sedangkan kota yang mengalami inflasi tahun kalender terendah adalah Surabaya yang mengalami inflasi sebesar 0,62 persen,” pungkasnya.
Ekspor Masker Capai 4,56 M Dolar AS
Kementerian Perdagangan (Kemendag) memperkirakan kontribusi nilai ekspor alat pelindung diri (APD) dan masker bisa mencapal 4,56 miliar dolar AS hingga akhir 2020.
Ini seiring kebijakan pemerintah yang membuka kembali keran ekspor alat kesehatan tersebut. Pemerintah sempat melarang ekspor alat kesehatan melalui penerbitan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 34 Tahun 2020 tentang Larangan Sementara Ekspor Antiseptik. Bahan Baku Masker, Alat Pelindung Diri, dan Masker.
Namun, Kemendag memutuskan membuka kembali ekspor alat kesehatan tersebut dengan penerbitan Permendag Nomor 57 Tahun 2020 tentang Ketentuan Ekspor Bahan Baku Masker, Masker, dan Alat Pelindung Diri.
Hal tersebut dikarenakan adanya peningkatan kapasitas produk dan diversifkasi produk pada sektor industri dalam negeri, sehingga kebutuhan terhadap APD dan masker pun mulai tercukupi untuk skala nasional.
Negara tujuan ekspornya beragam, antara lain Korea Selatan, Jepang, Amerika Serikat, AfrIka Selatan, Belanda, Perancis, Australia, Singapura, dan Hong Kong.
Kenaikan Cabai dan Bawang Merah Picu Inflasi di Sumut 0,47%
Kenaikan harga cabai merah dan bawang merah dalam beberapa tahun lalu memicu terjadinya inflasi di Sumatera Utara selama Oktober 2020 sebesar 0,47%. Lima kota IHK (Indeks Harga Konsumen) di Sumut menempatkan cabai merah dan bawang merah di urutan teratas sebagai komoditi yang memberikan andil inflasi terbesar.
“Jadi selama Oktober 2020, seluruh kota IHK di Sumatera Utara inflasi, yaitu Sibolga sebesar 1,04 % Pematangsiantar sebesar 0,46%, Medan sebesar 0,45%, Padangsidimpuan sebesar 0,52%; dan Gunung Siantar sebesar 0,71% Dengan demikian, gabungan 5 kota IHK di Sumatera Utara pada inflasi Oktober 2020 0, 47%,” ungkap Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara Dinar Butarbutar didampingi Kabid Statistik Produksi BPS Sumut Dwi Pranoto dalam live streaming, Senin (2/11).
Disebutnya, komoditas utama penyumbang inflasi selama Oktober 2020 di Sumatera Utara juga daging ayam ras, cabai hijau, ikan dencis, minyak goreng, dan jeruk. Bulan Oktober 2020, inflasi tercatat 0,45% atau peningkatan IHK dari 102,71 pada September 2020 menjadi 103,17 pada Oktober 2020.
Inflasi terjadi karena adanya peningkatan harga yang ditunjukkan, yaitu kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,32%, kelompok perlengkapan, peralatan, pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,01%, kelompok kesehatan sebesar 0,31%, kelompok transportasi sebesar 0,15% kelompok penyediaan makanan dan minuman / restoran sebesar 0,02% dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,41%. Sedangkan kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami penurunan indeks 0,04%.
Dari 24 kota IHK di Pulau Sumatera, 23 kota inflasi dan hanya 1 kota yang mengalami deflasi. Inflasi tertinggi di Sibolga sebesar 1,04% dengan IHK sebesar 104,43 dan terendah di Bengkulu sebesar 0,02% dengan IHK 103,82.
Jumlah Penumpang Transportasi Laut Naik
Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel merilis data perkembangan transportasi selama Agustus hingga September 2020. Kepala BPS Sulsel, Yos Rusdiansyah melalui jaringan streaming, Senin (2/11) mengungkapkan jumlah total penumpang penerbangan domestik yang datang, berangkat dan transit mengalami penurunan 4.08 persen.
“Selama September tahun ini, tidak ada penumpang internasional yang datang, berangkat dan transit di Bandara Hasanuddin,” terang Yos Rusdiansyah.
Sebaliknya, terjadi kenaikan penumpang angkutan laut domestik. Mau itu kedatangan dan keberangkatan. BPS Sulsel mencatat kenaikan 24.81 persen dari 16.733 orang pada Agustus menjadi 20.884 orang di September 2020. Kalau dibandingkan periode sama tahun lalu, jumlah penumpang hanya 73.365 orang atau terjadi penurunan 71.53 persen.
RUU Cipta Kerja Mengubah Kekhususan dan Meniadakan Orientasi Ekspor
Di dalam Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja, kawasan ini tidak harus berorientasi ekspor. Berdasarkan data Dewan Nasional KEK per Februari 2020, ada 11 KEK yang telah beroperasi dan 4 KEK dalam tahap pembangunan. Sebagian besar KEK difokuskan pada pengolahan sumber daya alam, seperti kelapa sawit, bauksit, karet, kayu, nikel dan bijih besi, perikanan, serta perkebunan.
Dalam RUU Cipta Kerja, daya tarik KEK juga ditingkatkan melalui berbagai kemudahan dan pemberian insentif, seperti pembebasan atau penangguhan bea masuk untuk impor bahan baku, bebas pajak pertambahan nilai atau pajak penjualan atas barang mewah untuk barang konsumsi, dan kemudahan perizinan.
Sekretaris Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus Enoh Suharto Pranoto mengatakan, RUU Cipta Kerja mengubah kekhususan yang selama ini dilekatkan pada KEK. Salah satu kekhususan yang berubah tersebut perihal layanan perizinan. “Pegawai yang memberikan izin harus profesional. Perekrutan pegawai dibuka untuk non-aparatur sipil negara,” kata Enoh.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani menambahkan, RUU Cipta Kerja paling tidak akan mengatasi empat hambatan investasi, termasuk di lingkup KEK. Keempat hambatan itu terkait tumpang-tindih regulasi pusat dan daerah, ketidakpastian proses birokrasi, efisiensi industri, serta koordinasi antar-pemangku kebijakan.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









