Ekonomi
( 40554 )Kimia Farma Perluas Bisnis Klinik Kecantikan
Perseroan Terbatas (PT) Kimia Farma (Persero) Tbk terus melakukan ekspansi usaha. Kali ini BUMN farmasi itu memperluas bisnis klinik kecantikan. Mereka kini memiliki klinik kecantikan bernama Marcks’ Venus Aesthetic Clinic (MVC).
Konsep dari Marcks’ Venus Aesthetic Clinic ini adalah merawat kecantikan kulit dan tubuh pria dan wanita masyarakat Indonesia dengan menekankan aspek kesehatan di semua treatment dan skincare-nya. Manajemen Kimia Farma mengklaim MVC didukung oleh dermatologis dan dokter profesional.
Secretary Kimia Farma Ganti Winarno Putro dalam keterangan resminya, Kamis (5/11), mengklaim dalam kondisi pandemi MVC menerapkan standar keamanan ketat untuk mencegah Covid-19. Seperti physical distancing melalui online booking appointment yang bertujuan dapat mengatur jadwal kedatangan, sehingga tidak terjadi penumpukan pelanggan di klinik.
Kimia Farma memastikan MVC tak hanya menjangkau pelanggan di Jakarta, Bandung, dan Bogor saja. Masyarakat di luar wilayah itu bisa tetap menikmati layanan MVC melalui layanan konsultasi online dan delivery skincare yang bisa dilakukan melalui daring.
Bisnis Ikan Cupang Hias Layak Menjadi Usaha Alternatif
Bisnis ikan cupang layak menjadi usaha alternatif di tengah pandemi Covid 19 untuk meningkatkan perekonomian keluarga. Dede salah satu warga Perdagangan yang menekuni bisnis ikan cupang hias, saat ditemul di Tempat usahanya di Perdagangan Kacamatan Bandar, Kamis (5/11) mengatakan, semenjak berbisnis ikan cupang hias, pendapatannya semakin meningkat. Dalam seminggu dirinya menjual ikan cupang hias dari berbagai jenis sebanyak 15 ekor dengan harga per ekornya Rp 100 ribu.
Adapun koleksi ikan hias yang dipelihara dan dibisniskan adalah ikan cupang jenis plakat yang belakangan ini tenar seperti hellboy, blue rim, multi colour, ikan cupang siam sisir dan ada beberapa lainnya.
Hatta pengusaha ikan hias di Jalan Sandang Pangan Perdagangan mengatakan, pembeli ikan hias di tempatnya semakin meningkat. Adapun harga ikan cupang hias di tempat usahanya bervariasi yakni mulai dari Rp 70 ribu sampul Rp 250 ribu per ekorya." Harga sesuai jenisnya,” ujarnya.
Struktur Ketenagakerjaan Terdisrupsi
Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional per Agustus 2020, yang dirilis BPS, Kamis (5/11/2020), menunjukkan, porsi jumlah pekerja formal menurun dari 44,12 persen pada Agustus 2019 menjadi 39,53 persen pada Agustus 2020 atau 50,77 juta orang dari total 128,45 juta penduduk yang bekerja.
Sebaliknya, porsi pekerja informal melonjak dari 55,88 persen menjadi 60,47 persen atau 77,68 juta orang pada kurun yang sama. “Peningkatan paling banyak di sektor informal ini ada pada mereka yang berstatus pekerja keluarga atau pekerja yang tidak dibayar,” kata Kepala BPS Suhariyanto, Kamis.
Per Agustus 2020, pekerja penuh, yakni mereka yang bekerja minimal 35 jam per minggu, menurun dari 71,04 persen menjadi 63,85 persen dari total penduduk bekerja. Sementara pekerja setengah pengangguran meningkat cukup tajam, yakni dari 6,42 persen menjadi 10,19 persen, dan pekerja paruh waktu meningkat dari 22,54 persen menjadi 25,96 persen.
Pergeseran struktur ketenagakerjaan ini sejalan dengan prediksi Organisasi Buruh Internasional (ILO), pada Mei 2020, bahwa pandemi yang memukul ekonomi global akan menggeser struktur ketenagakerjaan dalam jangka panjang, yakni dari sektor formal menuju informal.
Secara keseluruhan, BPS mencatat, 29,12 juta orang atau 14,28 persen dari 203,97 juta orang penduduk usia kerja terdampak Covid-19. Orang yang menganggur akibat Covid-19 jumlahnya 2,56 juta orang sehingga menambah angka pengangguran per Agustus 2020 menjadi 9,77 juta orang.
Potensi Ekonomi Digital Indonesia Masih Menarik
Nilai pasar ekonomi digital Indonesia telah menembus US$ 40 miliar pada tahun lalu dan berpotensi menyentuh US$ 133 miliar di tahun 2025. Pasalnya, Indonesia akan menguasai pasar digital di kawasan Asia Tenggara dengan potensi sumber daya yang besar dan jumlah populasi penduduk yang terus bertambah.
Segmen e-commerce dan marketplace dinilai tumbuh pesat, salah satu pemain utama e-commerce Indonesia, Tokopedia dilaporkan bakal mendapat kucuran dana US$ 350 juta atau Rp 5,1 triliun dari raksasa teknologi Google dan perusahaan investasi milik pemerintah Singapura, Temasek Holdings.
Baru-baru ini, Sociolla juga meraih pendanaan senilai Rp 841 miliar dari Temasek, Pavilion Capital dan Jungle Ventures . Kabar teranyar, Bukalapak bakal mendapatkan suntikan dana dari Microsoft, meski belum gamblang berapa bocoran pendanaan yang diberikan.
Laporan Bloomberg menyebutkan Microsoft telah menyetujui investasi US$ 100 juta di Bukalapak. Namun CEO Bukalapak Rachmat Kaimuddin tak membeberkan secara spesifik berapa dana dari perusahaan raksasa software tersebut. Dalam program itu, Bukalapak akan mengadopsi Microsoft Azure sebagai platform cloud perusahaan.
Ketua Umum Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA) Bima Laga menilai, perkembangan start-up di Indonesia masih cukup menarik bagi investor. Hal itu didorong potensi pasar digital di Indonesia yang masih sangat besar. Sederet keunggulan Indonesia seperti potensi bonus demografi dengan populasi milenial yang tinggi. Kelompok usia milenial dikenal akrab dengan dunia digital, sehingga investasi di dunia digital menjadi menarik.
Di samping itu, minat investor masuk perusahaan start-up tidak terlepas dari inovasi digital para pelaku usaha rintisan teknologi. “Kedua faktor ini menjadi alasan tren penyaluran dana dari investor ke perusahaan start-up masih banyak terjadi di tengah pandemic,” sebut Bima kepada KONTAN, Rabu (4/11).
Bantuan UMKM Orientasi Ekspor Sebesar Rp 16 Miliar
Kementerian Perdagangan (Kemdag) terus berupaya mendorong upaya ekspor produk Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Upaya tersebut dilakukan dari sisi pembiayaan melalui trade financing. Adapun total bantuan pembiayaan yang diberikan kepada UKM berorientasi ekspor saat ini baru mencapai Rp 16,1 miliar.
“Kami ingin memajukan peningkatan ekspor bagi UKM, tapi untuk melakukannya diperlukan pembiayaan yang optimal,” ujar Menteri Perdagangan Agus Suparmanto, Kamis (5/11).
Dengan adanya bantuan pembiayaan ini pemerintah berharap tingkat produktivitas UMKM Indonesia meningkat. Selain itu diharapkan dapat mendorong UKM untuk naik kelas dan mampu bersaing dengan produk-produk ekspor dari negara lain di pasar tujuan.
Ekspor Indonesia pada periode Januari - September 2020 mengalami penurunan sebesar 5,81% dari periode yang sama tahun 2019 lalu. Total ekspor Indonesia pada periode tersebut tercatat US$ 117,19 miliar. Penurunan ekspor akibat pandemi ini coba disiasati dengan mendorong UKM yang jumlahnya 90% dari total pelaku usaha di Indonesia untuk ikut berkontribusi.
Sentimen Kendaraan Listrik, Demam Saham Emiten Nikel Potensial Berlanjut
#APK
Demam saham itu lantaran harga komoditas tersebut berada dalam tren bullish dan prospek gencarnya penetrasi kendaraan listrik secara global, mengingat logam dasar itu merupakan bahan baku utama baterai kendaran listrik. Berdasarkan data Bloomberg harga nikel di bursa London telah menguasai hingga 9,42% sepanjang tahun berjalan 2020. Nikel sempat ditutup di level US$16.203 per ton pada medio Oktober 2020.
Adapun, saham yang di serbu investor antara lain, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) yang berhasil menguat 33,93% sepanjang tahun 2020 dan teraprestasi hingga 56,25% dalam 3 bulan perdagangan terakhir. Selain itu, saham PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) juga menguat 17,31% sepanjang tahun berjalan 2020 dan naik 24,49% dalam 3 bulan perdagangan terakhir.
Analis RHB Sekuritas Ghibran Al Imran mengatakan bahwa minat investor yang tinggi terhadap saham-saham nikel dapat bertahan untuk jangka waktu yang panjang apalagi jika harga nikel dapat bertahan di posisinya saat ini. Adapun, di antara saham nikel lainnya Ghibran cenderung berpihak terhadap INCO mengingat fokus utama bisnis emiten itu di nikel, sedangkan ANTM memiliki lini bisnis emas yang berisiko turun pada tahun depan seiring dengan pemulihan ekonomi.
Dalam kesempatan terpisah, Direktur PT Anugrah Mega Investama Hans Kwee mengatakan bahwa saham sektor komoditas akan menjadi saham pilihan investor pada tahun depan seiring dengan pemulihan ekonomi.
Pengangguran Dan Resesi, Hubungan Segitiga Yang Kian Ruwet
Kemarin, Badan Pusat Statistik (BPS) melansir data sensus
ketenagakerjaan per Agustus 2020 Notabene, data ketenagakerjaan hanya
direkapitulasi otoritas statistik dua kali dalam setaun, yaitu periode Februari
dan Agustus. Dalam laporan terbaru, BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka
(TPT) Agustus 2020 menembus 7,07% atau naik 1,84% dibandingkan dengan Agustus
2019. Ini sekaligus merupakan capaian TPT terburuk, setidaknya dalam 5 tahun
terakhir. Normalnya, rerata TPT di Indonesia adalah sekitar 5%.
Menyadari hal itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengaku pengusaha terus putar otak untuk mencegah dampak fatal dari tingginya pengangguran terhadap kinerja sektor rill, yang tengah ditekan itu kelesuan permintaan. Hariyadi memproyeksikan TPT di Tanah Air baru bisa kembali ke situasi prapandemi paling cepat pada 2022. Bahkan untuk menekan TPT sebesar 1% saja masih sulit direalisasikan tahun depan, karena banyak perusahaan yang meneruskan strategi efisiensi.
Sementara
itu, Sekjen Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia Timboel Siregar menilai tak
ada cara selain memacu pembukaan lapangan kerja sektor Informal untuk
menyeimbangkan kinerja industri, pasar kerja, dan pertumbuhan ekonomi.
Menurutnya, upaya menggenjot penciptaan lapangan kerja di sektor informal akan efektif menekan lagi TPT 2021 ke level normal 4,5%-5%. Jelas, hubungan segitiga antara pasar kerja, dunia industri, dan perekenomian secara umum sedang karut marut.
Fase Terburuk Sudah Berlalu
Berdasarkan data yang
diumumkan Badan Pusat Statistik
(BPS) di Jakarta, Kamis (5/11),
ekonomi kuartal III-2020 tumbuh
5,05% secara kuartalan (quarter to
quarter/q to q) setelah tiga kuartal
sebelumnya berturut-turut negatif.
Mesin produk domestik bruto
(PDB) kuartal III-2020 adalah konsumsi pemerintah yang tumbuh
9,76% (yoy) dan 16,93% (q to q)
seiring meningkatnya realisasi
penyaluran dana program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).
Sri Mulyani menjelaskan, di sisi PDB pengeluaran, konsumsi
rumah tangga juga menunjukan tren pembalikan pada triwulan III menjadi minus
4,0% dibading kuartal sebelumnya minus 5,5%. “ Ini didukung belanja pemerintah
di bidang perlindungan sosial yang meningkat sangat tajam,” ujar dia
Di sisi lain, seluruh komponen pertumbuhan PDB menurut pengeluaran pada kuatal III sudah postif, kecuali Impor. Adapun secara tahunan, baru konsumsi pemerintah yang tumbuh positif, selebihnya negatif.
Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, membaiknya kinerja PDB pada kuartal III-2020 menunjukkan bahwa perekonomian nasional sedang dalam proses pembalikan arah menuju zona positif. Dengan demikian, fase terburuk ekonomi yang perlahan lahan berlalu.
Sri Mulyani mengungkapkan, investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) masih minus 6,48% pada kuartal III-2020 (yoy), namun lebih baik dari kuartal II-2002 yang minus 8,61%,. Bahkan secara kuartalan, PMTB tumbuh 8,45% disbanding kuartal sebelumnya minus 9,71%.
Menkeu optimis akselerasi penanganan Covid-19 dan program PEN, serta pengadaan vaksin dan vaksinasi yang direncanakan pemerintahbakal mengembalikan kepercayaan masyarakat. Dengan begitu pula, konsumsi rumah tangga yang berkontribusi sekitar 58% terhadap PDB pengeluaran bakal meningkat.
Sri Mulyani mengemukakan,
untuk mendorong pemulihan
ekonomi atau pembalikan arah
(turning point) menuju zona
positif, pemerintah akan terus
mengakselerasi belanja APBN
dan APBD serta penyaluran
anggaran program PEN pada
kuartal IV-2020.
Menkeu mencontohkan, sampai kuartal III, belanja negara
tumbuh 15,5%, ditopang realisasi
bansos dan dukungan stimulus
bagi dunia usaha, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah
(UMKM).
Secara terpisah, Menko
Perekonomian, Airlangga Hartarto mengungkapkan, kinerja
PDB kuartal III-2020 menunjukkan bahwa fase terburuk penurunan ekonomi akibat pandemi
sudah berlalu. Ekonomi sedang
dalam tren pemulihan.
Airlangga menjelaskan, dibanding kuartal sebelumnya, seluruh komonen PDB pengeluaran
pada kuartal III tahun ini tumbuh
positif (q to q), kecuali impor.
Hal yang sama terjadi konsumsi
rumah tangga, lembaga non
profit rumah tangga (LNPRT),
konsumsi pemerintah, investasi
atau pembentukan modal tetap
bruto (PMTB), dan ekspor.
PDB lapangan usaha, menurut
Airlangga, secara kuartalan juga
membaik pada kuartal III
Menurut Menkeu Sri Mulyani,
ada dua sektor riil yang masih
tumbuh positif pada kuartal III2020,yakni sektor informasi
dan komunikasi yang tumbuh
10,61% serta sektor jasa kesehatan yang tumbuh 15,33%.
Kepala BPS, Kecuk Suhariyanto mengungkapkan, pertumbuhan PDB kuartal III-2020 mengalami kontraksi 3,49% (yoy).
Namun, kontraksinya menipis
dibanding kuartal II yang minus
5,32% (yoy). Adapun secara
kuartalan (q to q), ekonomi
kuartal III-2020 tumbuh 5,05%
dibanding kuartal sebelumnya
minus 4,19%.
Menurut Suhariyanto, meskipun PDB kuartal III-2020 mengalami kontraksi 3,49% (yoy),
kontraksinya tidak sedalam
kuartal sebelumnya
Wakil Ketua Umum Kadin
Indonesia Bidang Hubungan
Internasional, Shinta Widjadja
Kamdani mengatakan, tren
positif terjadi akibat normalisasi
ekonomi di negara-negara mitra dagang Indonesia di Asia
Pasifik.
Faktor lainnya adalah meningkatnya konsumsi masyarakat
pada akhir tahun dan realisasi stimulus untuk korporasi.
PTPN Group Gunakan Limbah Cair Sawit untuk Sumber Energi
Direktur Utama PTPN Group Mohammad Abdul Ghani mengatakan, saat ini PTPN Group memiliki 75 PKS dengan kapasitas total pengolahan sebanyak 3.205 ton tandan buah segar (TBS) per jam. PTPN Group secara bertahap akan melakukan konversi sumber energi pada 48 dari total 75 PKS tersebut. Dengan upaya tersebut, PTPN Group bisa memperoleh tambahan pendapatan dari penjualan cangkang sawit. Saat ini, cangkang sawit menjadi komoditas yang banyak dicari di pasar ekspor. Potensi pendapatan lain-lain dari penjualan cangkang sawit sebesar 616.776 ton atau setara Rp 383,50 miliar pertahun bisa diperoleh apabila 48 unit PKS PTPN Group sukses menerapkan biogas cofiring dengan memanfaatkan POME sebagai sumber energinya.
Sebelumnya, PTPN Group
Bersama PT Pertamina Power Indonesia juga mengembangkan pembangkit listrik
tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas n2 megawait (MW) di Kawasan Ekonomi Khusus
(KEK) Sei Mangkei, Sumatera Utara. Program berbasis energi ramah lingkungan
atau dikenal dengan Green Economic Zone ini untuk mendukung upaya pemerintah
dalam mengoptimalkan potensi energi terbarukan (renewable energy) nasional dan
menarik minat investor di KEK Sei Mngkei.
Ghani menjelaskan, energi matahari lebih ramah lingkungan daripada bahan bakar fosil. Saat ini, sebanyak 90% energi di Indonesia masih menggunakan energi berbahan fosil dari batubara, minyak bumi, gas alam, sedangkan sisanya kurang dari 10% memanfaatkan sumber energi terbarukan.
Tiongkok Borong Sarang Burung Walet Indonesia
Indonesia dan Tiongkok menandatangani Letter of Intent (LOI)
pembelian produk sarang burung wallet senilai US$ 150 juta atau setara Rp 2,2
triliun. LOI ini di tandatangani Atase Perdagangan (Atdag) Beijing Marina
Novira dan General Manager of Production Center dari Xiamen Yan Palace Seelong
Food Co., Ltd, Huang Danyan.
Sementara itu, Marina menyampaikan, penandatanganan LOI ini diharapkan dapat meningkatkan kinerja ekspor nonmigas Indonesia ke Tiongkok. Dengan penandatanganan LOI ini, dia juga nilai ekspor produk sarang burung wallet Indonesia akan meningkat dan dapat memberikan kontribusi terhadap kinerja ekspor nonmigas nasional.
Marina menjelaskan, saat ini baru ada 23 perusahaan sarang burung wallet yang terdaftar di Bea Cukai Tiongkok dan secara resmi dapat mengekspor produknya ke Tiongkok. Selain itu, ada 13 perusahaan terdaftar yang telah diinspeksi Bea Cukai Tiongkok pada Desember 2019 terkait permohonan izin peningkatan kapasitas volume ekspor.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









