;
Kategori

Ekonomi

( 40554 )

Daftar Domain .id Bertambah 133.909

28 Jan 2021

Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (Pandi) mencatat, total daftar nama domain tingkat tinggi kode negara indonesia .id sebanyak 486.814 pada akhir 2020. Jumlahnya bertambah 133.909 (37,94%) dibandingkan tahun 2019 masih sebanyak 352.905 nama domain. Angka tersebut melampaui 472.569 nama domain yang ditargetkan pada 2020. Persebaran nama domain .id terdiri atas 453.100 yang didaftarkan oleh masyarakat Indonesia dan 33.714 nama domain yang didaftarkan oleh masyarakat mancanegara.

“Pencapaian kami tahun 2020 tidak luput dari mindset percepatan transformasi digital yang mengharuskan kita untuk beradaptasi dengan situasi anomali,” kata Ketua Pandi Yudho Sucahyo, melalui virtual conference, Rabu (27/1). Tak hanya itu, pertambahan nama domain .id juga dibarengi dengan upaya Pandi untuk memperkuat keamanan dan menanggulangi phising. Dalam praktiknya, Pandi bekerja sama dengan komunitas lokal maupun internasional. 

Pada Desember 2020, Pandi telah melaksanakan selebrasi program Merajut Indonesia Melalui Digitalisasi Aksara Nusantara (MIMDAN), sebuah program untukmengupayakan proses digitalisasi tujuh aksara Nusantara, yaitu Jawa, Sunda, Bugis (Lontara), Rejang, Batak, Makassar, dan Bali. Proses tersebut berupa pendaftaran ke Unicode sampai ke Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN).

(Oleh - HR1)

Defisit Perdagangan dengan Tiongkok Turun 69%

28 Jan 2021

Defisit perdagangan Indonesia dengan Tiongkok turun 69% menjadi US$ 3,6 miliar tahun lalu, dibandingkan 2019 sebesar US$ 11,7 miliar. Hal itu dipicu kenaikan ekspor yang signifikan ke Negeri Tirai Bambu. Berdasarkan data Kepabeanan Tiongkok menyebutkan, total nilai perdagangan Indonesia dan Tiongkok pada 2020 mencapai US$ 78,5 miliar. Ekspor Indonesia ke Tiongkok mencapai US$ 37,4 miliar, tumbuh 10,1% dibandingkan 2019. Sementara itu, nilai impor Indonesia dari Tiongkok sekitar US$ 41 miliar, turun 10,13% dibandingkan total nilai impor tahun lalu. Per tumbuhan ekspor Indonesia dikontribusi oleh beberapa produk andalan seperti sarang burung walet, tekstil, serta besi dan baja.

“Nilai ekspor Indonesia pada 2020 naik signifikan. Jika pada 2019 nilai ekspor Indonesia dibandingkan negara anggota Asean berada di peringkat kelima, tahun 2020 kita naik menjadi peringkat empat,” kata Duta Besar Indonesia untuk Tiongkok merangkap Mongolia Djauhari Oratmangun dalam keterangan resminya, Rabu (27/1). Djauhari mengungkapkan, beberapa produk unggulan dan potensial Indonesia dalam periode ini tercatat mengalami peningkatan nilai ekspor secara signifikan, di antaranya besi dan baja (HS 72) meningkat 134,3%; sarang burung walet (HS 0410) meningkat 88,05%; kertas dan produk kertas (HS 48) naik 133,25%; kopi, teh, mate dan rempah-rempah (HS 09) tumbuh 175,34%; alas kaki (HS 64) meningkat 19,75%; minyak atsiri, preparat wewangian, kosmetika (HS 33) meningkat 15,62%; produk keramik (HS 69) meningkat 53,8%; timah dan produk turunannya (HS 80) naik 544,07%; serta aluminium dan produk turunannya (HS 76) meningkat 2.031,53%.

Di sisi lain, ekspor produk industri menyentuh US$ 131 miliar selama 2020 atau naik 2,95% dari 2019. Kinerja positif ini membuat neraca perdagangan sektor manufaktur sepanjang 2020 surplus US$ 14,17 miliar. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Perindustrian (Kemenperin) R. Janu Suryanto mengatakan, pihaknya memberikan apresiasi kepada para pelaku industri di tanah air yang masih agresif menembus pasar ekspor di tengah tekanan kondisi pandemi Covid-19. Sektor industri pengolahan masih memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional, terutama melalui capaian nilai ekspornya. 

Sementara itu, dia menuturkan, ekspor industri pengolahan pada Desember 2020 mencapai US$ 12,92 miliar atau naik 6,79% dibandingkan November sebesar US$ 12,09 miliar. Hasil itu membuat neraca perdagangan industri pengolahan pada Desember 2020 mencatatkan surplus US$ 1,07 miliar

(Oleh - HR1)

Kemenkeu Pangkas Anggaran KKP Rp 157,6 Miliar

28 Jan 2021

Kementerian Keuangan memangkas anggaran Kelautan dan Perikanan (KKP) pada tahun 2021 sebesar Rp 157,6 miliar. Dengan pemangkasan anggaran ini, anggaran KKP yang semula Rp 6,65 triliun di APBN 2020 dipangkas menjadi Rp 6,49 triliun.

Menurut Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono dengan pemangkasan ini maka instansinya akan melakukan penghematan belanja dan fokus ke program prioritas. Pertama, sebesar Rp 8,99 miliar dari kegiatan dekonsentrasi pada 34 Dinas Perikanan Provinsi.

Kedua, penundaan pengadaan kapal plat datar dan mengurangi jumlah lokasi program untuk kampung nelayan maju sebesar Rp 29 miliar. Ketiga, anggaran sebesar Rp 22,46 miliar yang awalnya untuk pengadaan tanah untuk pusat produksi benih dan induk di Jawa Barat. Keempat, mengubah komposisi pengadaan kapal pada tahun pertama untuk kapal pengawas kelas B, multi years contract sebesar Rp 28 miliar.


Pukulan Ganda Cukai Minuman Manis

28 Jan 2021

Pemerintah berencana memungut cukai minuman berpemanis dan minuman bersoda tahun ini. Kebijakan ini untuk mengurangi konsumsi masyarakat atas minuman berpemanis dan bersoda lantaran turut memicu penyakit kronis seperti diabetes, obesitas dan lain lain.

Menkeu mengusulkan, pengenaan cukai sebesar Rp 1.200-Rp 1.500 per liter. Berdasarkan simulasi Direktorat Jederal Bea Cukai, potensi penerimaan cukai minuman berpemanis mencapai Rp 6,25 triliun per tahun.

Selain mengenakan cukai minuman berpemanis, sebelumnya pemerintah juga mengusulkan cukai kemasan plastic termasuk botol plastik. Hanya, hingga saat ini yang sudah mendapatkan lampu hijau dari DPR baru cukai untuk kantong plastik.

Wakil Ketua Umum Kebijakan Publik dan Hubungan Antar Lembaga Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gappmi) Rachmat Hidayat mengatakan, kebijakan pemerintah ini hanya untuk mendongkrak penerimaan negara, bukan pengendalian konsumsi atau kesehatan.


Komoditas Perkebunan, Ekspor Kopi Masih Bertaji

28 Jan 2021

Kebutuhan kopi di dunia ternyata tetap tinggi kendati ada pandemi Covid-19. Oleh karena itu, sejumlah provinsi seperti Bali dan Jawa Timur tetap mencoba peruntungan dari komoditas perkebunan yang bernilai tinggi tersebut. Komang Sukarsana, pemilik Bali Arabika Roastery, tidak kehabisan cara untuk mempertahankan usaha di tengah pandemi Covid-19. Pengusaha kopi asal Pulau Dewata itu memilih mengubah segmen pasar setelah pola konsumsi konsumen bergeser akibat pandemi. Awalnya, Komang hanya menjual kopi spesialti dengan harga Rp80.000 per kilogram (kg). Kini, dia memilih untuk memasarkan komersial grade atau kopi kelas dua dengan harga Rp30.000 per kg setelah pandemi menyebabkan penurunan daya beli masyarakat terhadap kopi kelas satu.

Dari segi pemasaran seperti hotel, restoran, dan kafe sangat terdampak pandemi Covid-19. Namun, dia menyatakan untuk roastery lain yang menjadi mitranya di luar Bali seperti Jakarta masih tetap eksis. Bahkan, dia mencatat penyerapan produk kopi miliknya pada 2020 mencapai 39 ton atau meningkat 30% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya secara year on year (yoy). 

Pada sisi lain, dia meyakini bertahannya usaha itu karena dalam kondisi apapun budaya mengkonsumsi kopi tidak dapat digantikan oleh jenis minuman lainnya. “Mungkin memang ada penurunan sedikit dari segi omzet karena tidak 100% specialty, tapi ini sudah cukup mengingat masih dalam situasi pandemi,” tambahnya. Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali Lanang Aryawan mengatakan komoditas kopi memiliki potensi yang tinggi untuk terus dikembangkan. Saat ini, lahan budi daya kopi di Bali mencapai 35.000 hektare (ha)37.000 ha. 

Perinciannya, untuk luas kopi arabika yakni 13.000 ha14.000 ha dan kopi robusta mendominasi sekitar 23.000 ha-24.000 ha. Sementara itu, lanjutnya, pada musim panen raya, setiap hari kopi beras atau biji kopi kering dapat diperoleh hingga 15.000 ton. “Kopi memang menjadi komoditas andalan Bali,” kata Lanang. 

Ichwan mengatakan melihat tren ekspor per kuartal pada tahun lalu juga menunjukan dampak dari pandemi. Pada kuartal I/2020, volume ekspor kopi Jatim mampu tumbuh 6% (yoy), pada kuartal II/2020 mampu tumbuh 1%, kemudian pada kuartal III mulai turun 14%, dan pada kuartal terakhir anjlok 16%. Adapun, realisasi ekspor kopi asal Jatim pada 2020 tercatat hanya mencapai 64.621 ton atau turun 8% dibandingkan dengan realisasi ekspor pada 2019 yakni mencapai 70.238 ton. Pada tahun lalu, dia menyatakan ekspor kopi menyasar 16 negara tujuan, dengan sebanyak lima negara di antaranya merupakan negara tujuan ekspor nontradisional yang relatif baru bagi eksportir Jatim. Untuk negara tujuan ekspor yang selama ini sudah menjadi langganan kopi dari Jatim di antaranya Mesir, Italia, Malaysia, Jepang, Inggris, Taiwan, Belgia, Amerika Serikat, Thailand, Maroko dan Timor Leste.

(Oleh - HR1)

Target Tekfin, Pintek Incar Penyaluran Rp400 Miliar

28 Jan 2021

Perusahaan teknologi finansial peer-to-peer (P2P) lending PT Pinduit Teknologi Indonesia (Pintek) mengincar penyaluran dana hingga Rp400 miliar pada 2021. Co-Founder & Direktur Utama Pintek, Tommy Yuwono mengungkap bahwa Pintek masih fokus menggarap pangsa pasar yang berkaitan dengan sektor pendidikan pada 2021.

Seperti diketahui, OJK tengah merevisi Peraturan OJK No. 77/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Ber basis Teknologi Informasi. Melalui aturan ini, perusahaan tekfin wajib menyalurkan dana ke sektor produktif. Adapun, porsi penyaluran ke sektor ini paling sedikit 40% dari outstanding dalam por tofolionya secara bertahap dalam kurun waktu tiga tahun. Menurutnya, ketentuan itu mampu dipenuhi karena perusahaan telah memiliki portofolio segmen produktif. Pintek menyediakan layanan pin jaman produktif untuk pinjaman modal kerja, hingga pendanaan bagi sekolah, institusi pendidikan, hingga perusahaan/vendor SIPLah, dan seluruh pelaku UMKM penyedia jasa pendidikan untuk mendukung operasional para pelaku usaha. 

Selama 2020, Pintek telah menyalurkan pinjaman men capai Rp60 miliar dengan tingkat keberhasilan pengembalian pinjaman 90 hari (TKB90) terjaga di angka 100%. Secara akumulasi, pinjaman yang disalurkan sejak berdiri menjadi sekira Rp100 miliar kepada 2.707 borrower.

(Oleh - HR1)

Luhut : "Food Estate" Jadi Kesempatan Wujudkan Mordenisasi Pertanian

28 Jan 2021

Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut B Pandjaitan mengatakan proyek lumbung pangan (food estate) yang sedang digarap pemerintah saat ini merupakan kesempatan emas bagi Indonesia mewujudkan modernisasi pertanian. Pemerintah saat ini tengah membangun food estate di sejumlah kawasan, seperti Kabupaten Pulang Pisau dan Kapuas, Kalimantan Tengah, serta Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. 

Luhut pun mendukung sinergi yang dibangun oleh Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dalam pengembangan riset pertanian maupun rekayasa alat dan mesin pertanian (alsintan). Modernisasi pertanian, kata Luhut, bisa terus ditingkatkan dengan tiga pengungkit utama, yaitu bibit, pupuk, dan alsintan. Khusus untuk alsintan, Luhut menilai mekanisasi memang harus dimasifkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Teknologi alsintan seperti drone, water drip irrigation, dan transplanter diharapkan bisa mendukung pertanian modern yang lebih terintegrasi.

RI-Jepang Tingkatkan Kerja Sama

28 Jan 2021

Nilai ekspor produk perikanan RI ke Jepang pada Januari-November 2020 sebesar 528 juta dollar AS. Produk yang paling banyak diekspor adalah udang dan ikan tuna.

“Namun, di kawasan Asia Tenggara, Indonesia ternyata bukan eksportir produk perikanan terbesar ke Jepang karena masih kalah dari Thailand. Oleh karena itu, kerja sama RI-Jepang di sektor perikanan harus terus ditingkatkan,” kata Duta Besar Indonesia untuk Jepang Heri Akhmadi, Rabu (27/1/2021).


OJK Setujui Merger Tiga Bank Syariah BUMN

28 Jan 2021

Deputi Komisioner Humas dan Logistik Otoritas Jasa Keungan (OJK) Anto Prabowo mengatakan, OJK telah menyetujui rencana penggabungan usaha PT Bank BRIsyariah Tbk, PT Bank Syariah Mandiri Tbk, dan PT Bank BNI Syariah Tbk menjadi satu di bawah identitas baru PT Bank Syariah Indonesia Tbk per Rabu ini. Persetujuan ini ditandai dengan keluarnya Salinan Keputusan Dewan Komisioner OJK Nomor 4/KDK.03/2021.

Bank Syariah Indonesia akan melakukan kegiatan usaha di lebih dari 1.200 kantor cabang dan unit eksisting yang sebelumnya dimiliki BRIsyariah, Bank Syariah Mandiri, dan BNI Syariah. Dari hasil proforma keuangan Bank Hasil Gabungan per 30 Juni 2020, total aset Bank Syariah Indonesia tersebut nantinya mencapai Rp 214,6 triliun dengan modal inti lebih dari Rp 20,4 triliun.

Jumlah tersebut menempatkan Bank Hasil Penggabungan dalam daftar 10 besar bank terbesar di Indonesia dari sisi aset. Bank Hasil Penggabungan akan berstatus sebagai perusahaan terbuka dan tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham BRIS.

Komposisi pemegang saham dari Bank Syariah Indonesia adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk sebesar 51,2 persen, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk sebesar 25 persen, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebesar 17,4 persen, Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) BRI-Saham Syariah sebesar 2 persen, serta publik sebesar 4,4 persen.


Ekonomi Global Menguat Tetapi Ketidakpastian Tinggi

27 Jan 2021

Dana Moneter Internasional atau IMF pada Selasa (26/1) menaikkan proyeksinya tentang pertumbuhan ekonomi global 2021 menjadi 5,5%. Pertimbangannya adalah optimisme bahwa vaksin baru akan mampu mengendalikan pandemi Covid-19. Sehingga kegiatan ekonomi akan kembali menggeliat dan akan terdorong oleh adanya stimulus di negara-negara ekonomi besar. 

Tapi, kata kreditor internasional berbasis di Washington, Amerika Serikat (AS) tersebut, prospeknya dibayangi oleh ketidakpastian tinggi. Pemerintah diminta terus bertindak untuk menghindarkan dampak langgeng dari pandemi tersebut. Yang telah menimbulkan krisis ekonomi terparah sejak Depresi Besar 1930-an. 

Penaikan proyeksi pertumbuhan, sebesar 0,3 poin persentase dibandingkan proyeksi pada Oktober 2020 dan setelah ekonomi dunia mengalami kontraksi 3,5% pada 2020, mencerminkan ekspektasi bahwa kegiatan ekonomi akan terus menguat di tahun ini karena adanya vaksinasi Covid. Serta adanya tambahan kebijakan stimulus di beberapa negara ekonomi besar. Termasuk di AS dan Jepang.

Lembaga ini juga menyinggung lonjakan infeksi di beberapa negara. Termasuk oleh varian-varian baru Covid-19. Sehingga memicu karantinakarantina baru. Selain itu, distribusi vaksin pada tahap awal menghadapi kendala. Walaupun ekonomi global diprediksi mencatat pertumbuhan sebesar itu, IMF mengingatkan bahwa banyak negara di tahun ini belum akan pulih ke level sebelum adanya pandemi.

IMF mendesak negara-negara untuk terus memberikan stimulus sampai pemulihan ekonomi menguat. Untuk Amerika Serikat (AS), IMF memperkirakan pertumbuhan ekonominya tahun ini dua poin lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya 5,5%. Jepang juga akan diuntungkan oleh paket bantuan baru yang disetujui pada Desember 2020. Sehingga IMF menaikkan proyeksi pertumbuhan 2021-nya menjadi 3,1%. 

IMF memperkirakan ekonomi Tiongkok tumbuh 8,8% tahun ini. Sedikit lebih rendah dibandingkan proyeksi Oktober 2020. Sementara ekonomi India diprediksi meroket 11,5% atau 2,7 poin lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya. Zona euro diprediksi ekonominya tumbuh 4,2%, ditandai pemangkasan signifikan untuk Jerman, Prancis, Spanyol, dan Italia. 

(Oleh - HR1)