;

Investasi Pengembangan Industri Baterai EV US$ 17,4 Miliar

Ekonomi R Hayuningtyas Putinda 02 Feb 2021 Investor Daily, 2 Februari 2021
Investasi Pengembangan Industri Baterai EV US$ 17,4 Miliar

Pengembangan industri baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dari hulu hingga hilir di Indonesia diperkirakan mencapai US$ 13,4-17,4 miliar. Rencana investasi akan dilaksanakan oleh Indonesia Baterry Holding (IBH) dengan menggandeng mitra strategis. Ketua Tim Percepatan Proyek Baterai Kendaraan Listrik Agus Tjahajana Wirakusumah menuturkan, pengembangan industri baterei EV ini bertujuan memanfaatan peluang bisnis yang besar di masa mendatang dan potensi sumber daya alam Indonesia. Jika industri ini berhasil dibangun kemudian ditambah besarnya pasar otomotif dalam negeri, Indonesia memiliki peluang terbesar di Asia Tenggara untuk membangun ekosistem industri kendaraan listrik.

Namun, kebutuhan investasi untuk pengambangan industri baterei EV ini memang cukup besar. “Nilai investasi baterei EV dari hulu sampai hilir, terendah sampai tertinggi kapasitas sel hingga 140 gigawatt hour (GWh) adalah sekitar US$ 13,4-17,4 miliar,” kata dia dalam rapat dengan Komisi VII DPR RI, Senin (1/2). Saat ini, lanjut dia, pemerintah tengah membentuk Indonesia Baterry Holding yang terdiri dari PT MIND ID, PT Antam Tbk, PT Pertamina (Persero), dan PT PLN (Persero). Rencananya, keseluruhan investasi value chain industri baterei EV ini akan dilaksanakan oleh masing-masing BUMN anggota holding atau melalui perusahaan patungan (joint venture/JV) dengan mitra internasional.

Direktur Utama MIND ID Orias Petrus Moedak menjelaskan, modal awal ketika IBH berdiri nantinya sekitar US$ 50 juta. Sementara investasi hingga US$ 17 miliar akan dilaksanakan secara bertahap, di mana tahap awal masih di kisaran US$ 5-10 miliar utamanya di sektor hulu industri baterai. “Pendanaannya, perhitungan sementara ekuitas 30% dan pinjaman 70%. Pendanaan sudah dihitung supaya secara bertahap kami bisa lanjut sesuai dengan tingkat demand. Tahun lalu kan kendaraan listrik masih sedikit, pertumbuhan belum ada,” jelasnya

“Tujuh perusahaan yang telah memenuhi kriteria yakni CATL, LG Chem, Samsung, Tesla, dan lainnya,” ungkap Agus. Ditambahkannya, Indonesia menargetkan dapat menjadi pemain global material hulu dan katoda baterai, serta pemain hilir regional dan domestik di baterai dan kendaraan listrik. Hal ini dengan menggenjot produksi nikel sulfat hingga 50-100 ribu ton per tahun dan prekursor dan katoda 120-140 ribu per tahun.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Ramson Siagian menegaskan bahwa DPR mendukung pemerintah mengembangan industri baterai kendaraan listrik ini mengingat perannya dalam mengurangi emisi gas rumah kaca. Namun, pihaknya mendorong rencana tersebut harus terealisasi, jangan hanya sekadar menjadi jargon pemerintah untuk kepentingan politik semata. Apalagi, target peta jalan yang dirancang sangat optimistis.“Tolong disampaikan ke Menteri BUMN, ini [pengembangan industri baterai EV] jangan hanya konsumsi retorika politik, tetapi ini untuk generasi mendatang. Jadi segala sumber daya harus digerakkan, baik teknologi, kapasitas manajemen, sumber daya lain termasuk dana. Ini harus betul-betul konkrit,” tegas dia. 

Anggota Komisi VII DPR RI Ratna Juwita Sari juga mengingatkan terkait keekonomian proyek baterai kendaraan listrik tersebut. Hal ini mengingat proyeksi kebutuhan investasinya mencapai US$ 17,4 miliar. “Di 2022, manufacturer kendaraan listrik diharapkan mulai produksi di Indonesia. Dan industri [baterai] dari hulu hingga hilir direncanakan mulai beroperasi pada 2024,” tuturnya. Dimulainya industri baterai ini ditandai dengan beroperasinya Pabrik High Pressure Acid Leaching Process (HPAL) Antam serta Pabrik Prekursor dan Katoda Pertamina-MIND ID. Berikutnya di 2025, Pabrik Cell to Pack Pertamina-PLN ditargetkan mulai beroperasi. 

(Oleh - HR1)

Download Aplikasi Labirin :