Ekonomi
( 40554 )Industri Kreatif, Pemanfaatan Platform Digital UMKM Kian Luas
Bisnis, BANDUNG — Para pelaku UMKM di Jawa Barat terpantau mulai masif menggunakan platform digital untuk menyasar konsumen di masa pandemi Covid-19.
Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil (KUK) Provinsi Jawa Barat Kusmana Hartadji mengatakan banyak pelaku UMKM Jabar yang mulai memanfaatkan peluang bisnis di pasar digital. Aktivitas pelaku UMKM Jabar di marketplace pun semakin masif.
“Di salah satu marketplace, ada kenaikan sekitar 31% UMKM yang on boarding. Lalu, aktivitas UMKM Jabar di marketplace meningkat. Itu terlihat dari pelaku UMKM Jabar yang aktif di market place mencapai 57%,” kata Kusmana, Kamis (6/5).
Salah satu faktor penyebab meningkatnya aktivitas UMKM Jabar di pasar digital adalah Gerakan Nasional (Gernas) Bangga Buatan Indonesia. Selain mempromosikan produk UMKM, Gernas BBI mampu meningkatkan kepercayaan dan antusias masyarakat untuk membeli produk UMKM dalam negeri.
Dalam Gernas BBI di Jabar, kata Kusmana, nilai transaksi dari penjualan langsung mencapai Rp2,7 miliar. Angka tersebut berpotensi meningkat karena belum semua kabupaten/kota melaporkan.
Kemudian, Dinas KUK Jabar terus menginventarisasi nilai transaksi dari penjualan tidak langsung atau online. “Hampir ada 100 event dalam Gernas BBI di Jabar. Baru beberapa kabupaten/kota yang melapor ke kita. Transaksinya Rp2,7 miliar. Itu penjualan langsung. Terus juga transaksi pembiayaan mencapai Rp10,6 miliar,” ucapnya.
Kesadaran digitalisasi pelaku UMKM yang terus meningkat harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh masyarakat dengan berbelanja online. Apalagi di tengah pandemi, masyarakat dapat tetap berbelanja sekaligus turut serta mencegah penularan Covid-19.
“Ada marketplace untuk UMKM. Jabar sendiri punya borondong.id dan marketplace lainnya. Sekarang pelaku UMKM sudah mulai memasarkan produknya secara online. Ini juga membuat peluang UMKM untuk memperluas pasar semakin besar,” ucap Kusmana.
(Oleh - HR1)Pemerintah Diminta Kenakan Pajak Karbon terhadap Industri Besar
Direktur Eksekutif Institute for Essential Service Reform, Fabby Tumiwa, mengingatkan pemerintah agar berhati-hati merancang aturan perdagangan karbon dioksida (CO2). Penciptaan pasar menjadi salah satu hal yang perlu menjadi perhatian utama.
Instrumen seperti pajak karbon bisa efektif mendorong entitas bisnis menurunkan kadar emisi CO2. Penerapannya bisa dimulai dari sektor energi, yaitu bahan bakar minyak, karena penggunaannya yang masif. Entitas yang memproduksi CO2 lebih dari batasannya akan dikenakan sanksi.
Penerapan pajak karbon akan membuka kesempatan bagi berkembangnya sumber-sumber energi terbarukan yang rendah emisi. Namun besaran pajaknya perlu ditentukan secara cermat agar regulasi ini berjalan efektif.
Pemerintah juga perlu menyiapkan metode evaluasi dan pengawasan. "Program ini dapat dilakukan secara progresif untuk mempercepat perubahan perilaku. Di Prancis, penerapan pajak karbon ditolak sopir truk karena membuat harga bahan bakar minyak meningkat.
Pajak karbon diterapkan bagi konsumen mobil di atas 2.500 cc, lalu diperluas secara bertahap. Pajak juga bisa diterapkan pada tarif pesawat premium.
Ekspansi Penyedia Kargo Global
Para penyedia jasa pelayaran peti kemas berlomba menggenjot kinerja karena lalu lintas kargo internasional mulai pulih perlahan. Direktur Utama PT Samudera Indonesia Tbk, Bani Maulana Mulia, mengatakan persaingan operator kapal barang untuk mengejar pasar internasional di sekitar Asia semakin ketat. Salah satu pemicunya adalah pergeseran area operasi para pemain besar bisnis kargo selama masa pandemi Covid-19.
Dalam hal peti kemas, Bani menuturkan, entitasnya mengoperasikan 36 kapal untuk 28 rute servis yang melintasi 46 pelabuhan di Asia Tenggara, area Subbenua India di Asia Selatan, serta kawasan timur jauh (far east). Emiten berkode bursa SMDR itu baru menyepakati kontrak pembangunan dua kapal kontainer baru dari Jepang. Ada juga rencana pembelian armada chemical tanker untuk pasar domestik Indonesia.
Bila ditotal dengan satu rencana pengadaan yang tertunda pada tahun lalu. PT Samudera Indonesia akan memiliki empat kapal baru pada tahun ini. Sebelumnya, perusahaan membeli empat kapal pada 2020.
Direktur PT Pelayaran Tempuran Emas Tbk atau Temas Line, Faty Khusumo, sebelumnya mengatakan perusahaannya berfokus melayani bisnis kargo domestik. Pergerakan kontainer di dalam negeri dianggap masih mencukupi kebutuhan distribusi. Ketersediaan untuk dalam negeri masih cukup bagus.Pada akhir 2020, emiten pelayaran berkode TMAS itu berencana menambah sembilan kapal baru lewat anak usahanya, PT Temas Shipping. Dari jumlah itu, sudah ada empat yang dibeli, terdiri atas dua kapal berkapasitas 2.600 TEUs dan dua unit berkapasitas sekitar 600 TEUs.
Industri Pengolahan Baja, Pengenaan Bea Masuk Antidumping Terus Dibahas
Bisnis, JAKARTA — Tim Pertimbangan Kepentingan Nasional tengah membahas usulan pengenaan bea masuk antidumping (BMAD) untuk bahan baku baja lapis aluminium seng atau BjLAS. Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) menyatakan usulan BMAD tersebut ditujukan bagi komoditas BjLAS asal Vietnam dan China. Adapun hal tersebut telah disampaikan kepada pemerintah sejak Februari 2021.Ketua KADI Bachrul Chairi mengatakan pembahasan pengenaan BMAD untuk BjLAS cukup alot di pemerintah.
Saat ini, Bachrul menyebut Vietnam dan China melakukan dumping berkisar 25%-30% di bawah harga jual industri di dalam negeri. Namun, bagi Bachrul hal itu justru menimbulkan pertanyaan akan ketahanan industri dalam negeri sendiri. Dari sisi kapasitas, menurut kajian KADI, Indonesia pada 2018 memang belum mampu memenuhi kebutuhan BjLAS dalam negeri. Namun, ketika sudah ada komitmen pemerintah menerapkan fair trade, ada tambahan kapasitas dari dua perusahaan baru.
Di sisi lain, sejumlah proyek pemerintah diproyeksi bakal mangkrak bila BMAD untuk BjLAS diterapkan.Wakil Ketua Umum BPP Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Bidang Logistik dan Kepelabuhanan Erwin Taufan mengatakan importir kesulitas membeli BjLAS.
(Oleh - HR1)
Komoditas Pertanian, Dorong Kemitraan Petani Jagung
Bisnis, BANDUNG — Pemerintah Kabupaten Bandung
mengembangkan pola kemitraan antara petani, perusahaan, dan
perbankan untuk komoditas
jagung hibrida. Bupati Bandung Dadang
Supriatna mengatakan
para petani di
Desa Cikasungka, Kecamatan
Cikancung, mulai
melirik bentuk sinergitas
ini di atas
lahan garapan seluas
3.000 hektare.
Dengan pola itu,
tutur bupati, semua sudah
dipersiapkan sejak awal. Mulai dari
proses penanaman, pemeliharaan, hingga pihak mana yang akan menampung
hasil panen.Risiko kerugian dari pihak petani dapat diminimalisir, meningkatkan hasil
produksi dan otomatis menambah penghasilan,
sehingga para
petani lebih sejahtera.“Pola kemitraan ini
tidak terbatas pada jagung saja, tapi bisa juga pada kedelai, padi
dan umbi-umbian. Kita akan dukung, kita
kawal dan pantau perkembangannya minimal satu bulan
sekali, bagaimana ke-lanjutan dan
hasil produksinya,” tuturnya.
Kepala Dinas Pertanian
(Kadistan) Kabupaten Bandung A Tisna Umaran menjelaskan
meskipun di luar
musim atau off season, penanaman hari
itu merupakan kesanggupan dari
para petani Cikasungka.“Ada kesanggupan dari
kelompok tani untuk ceboran, sebagai bentuk memulai. Karena
saya dengar ini ada yang
membiayai, juga ada yang menampung.
Pola seperti itu saya
pikir sangat baik
karena intinya pertanian
itu kan bisnis, bukan hanya
kegiatan bercocok tanamnya,” terang
Tisna.
(Oleh - HR1)
Social Bella Raih Pendanaan Rp 818 Miliar
JAKARTA – Sociall Bella, start-up
teknologi kecantikan (beauty-tech),
mengumumkan pendanaan terbarunya senilai Rp 818 miliar dari empat
investor yang dipimpin oleh L Catterton, perusahaan investasi dan
pengelola dana (private equity firm)
yang berpusat di Amerika Serikat.
Indies Capital, bersama dua pemegang saham Social Bella sebelumnya,
East Ventures dan Jungle Ventures,
juga turut berpartisipasi pada pendanaan di putaran kali ini. Pendanaan L
Catterton ke Social Bella merupakan
investasi pertamanya di Indonesia.
Sementara itu, bagi Social Bella, selain
menunjukkan potensi industri ritel kecantikan di Indonesia yang begitu besar di
Indonesia, pendanaan ini juga membuktikan kapabilitas serta kepemimpinan
perusahaan yang solid di industrinya.
President dan Co-founder Social
Bella Christopher Madiam mengatakan, tahun 2020 merupakan tahun
yang sulit. Akibat pandemi, kesehatan
dan mobilitas masyarakat sangat terdampak.
Principal L Catterton and Investment
Lead for Southeast Asia Yock Siong Tee
mengungkapkan, penetrasi industri kecantikan dan perawatan diri di kawasan
Asia Tenggara terus berkembang pesat
dengan pemain yang inovatif.
Lewat brand Sociolla, Social Bella
menjadi salah satu contoh yang menyediakan lebih banyak pilihan, produkproduk premium, dan terus meningkatkan jangkauannya, baik secara online
maupun offline terhadap konsumennya.
“Inovasi-inovasi yang dilakukan oleh
Sociolla mampu memuaskan, baik
konsumen serta brand principal secara seimbang,” tutur Yock Siong Tee.
(Oleh - HR1)
MPPA Gandeng JD.ID Perkuat Layanan Omni-channel
JAKARTA - PT Matahari Putra
Prima Tbk (MPPA) terus memperkuat layanan omni-channel O2O
melalui kolaborasi terbaru dengan
JD.ID. Kolaborasi ini memungkinkan MPPA menempatkan Toko
Virtual Resmi Hypermart, Foodmart, Primo, dan Hyfresh di JD.ID
untuk memberikan lebih banyak
akses dan kenyamanan bagi pelanggan dalam berbelanja berbagai
macam produk segar berkualitas
dan barang-barang rumah tangga.
“Mulai hari ini, 30 toko di Jabodetabek siap mendukung kolaborasi ini. Sementara MPPA akan
menambah lebih banyak toko
secara nasional ke dalam platform
sepanjang tahun 2021. MPPA juga
terus meningkatkan penawaran
online organiknya di Chat & Shop
by WhatsApp dan Hypermart Online e-commerce untuk solusi bisnis
ritel online lengkap bagi pelanggan
secara nasional di tengah pandemi
Covid-19 dan tren pertumbuhan
gaya hidup digital modern yang diadopsi oleh konsumen,” kata Corporate Secretary & Public Affairs
MPPA Danny Kojongian dalam
keterangan resmi, Rabu (5/5).
Terkait kolaborasi ini, Head of
Offline Business JD.ID Eyvette
Tung mengungkapkan kegembiraannya atas kolaborasi antar kedua
perusahaan. “JD.ID bukan hanya
platform ‘#DijaminOri’ atas produk
3C (komputer, elektronik rumah
tangga, dan perangkat komunikasi), tetapi juga merupakan platform belanja online ‘all-in-one’ dan
‘one-stop’ untuk semua kebutuhan
konsumen. Melalui kolaborasi ini,
kami berharap dapat memberikan
lebih banyak lagi pilihan produk
bagi pelanggan kami, terutama
produk makanan, makanan segar
segar, hingga perlengkapan rumah
tangga. Melalui kemitraan kami
dengan MPPA, kami pun akan tetap
setia pada komitmen untuk hanya
menyediakan produk berkualitas
tinggi, dengan layanan pengiriman
yang cepat dan andal,” kata Eyvette.
(Oleh - HR1)
Jadi Subholding, Pertaminan International Shipping Siap IPO
JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara
Erick Thohir meresmikan subholding pertama
PT Pertamina (Persero) yaitu PT Pertamina
International Shipping (PT PIS). Selanjutnya,
pemerintah menargetkan PIS dapat melantai di
Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun ini.
“Untuk go public tentu kami
melihat dari banyaknya corporate
action yang akan terjadi di market,
ada dari swasta ada BUMN, tentu
nanti window disesuaikan saat yang
tepat, tapi Insya Allah di tahun ini.
Kalau bulannya, kapannya kami
belum bisa, karena proses go public
itu tentu harus melakukan sosialisasi daripada pihak-pihak terkait,”
jelas Menteri BUMN Erick Thohir
dalam acara Peresmian PIS sebagai
Subholding Shipping Pertamina di
Jakarta, Rabu (5/5).
Erick menjelaskan transformasi
secara menyeluruh dilakukan sejak awal tahun 2020. Kementerian
BUMN memang sudah merapikan
road map dari masing-masing BUMN
sejak lama. Sayangnya, progres dari
masing-masing BUMN ada yang
cepat ada yang lamban. “Saya hari ini
mengapresiasi bahwa langkah yang
dilakukan Pertamina melakukan
transformasi ini cepat jadi bukan
masuk ke yang lambat,” katanya.
Rencana integrasi merupakan
bagian dari logistik kelautan, yang
tadinya hanya bisnis kapal sekarang
menjadi integrasi bisnis kelautan.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan bahwa langkah strategis tersebut merupakan bagian dari rencana Pertamina untuk mengintegrasikan bisnis dari PT PIS yang nantinya tidak hanya mengelola kapal-kapal tetapi juga sampai pada bisnis marine logistics. “Saya harap PT PIS dapat menjalankan amanah yang telah diberikan oleh PT Pertamina (Persero), dengan terus mengembangkan bisnisnya, menangkap setiap peluang bisnis yang ada, dan terus fokus untuk menjadi urat nadi pendistribusian energi untuk negeri,” ujarnya. Nicke mengatakan setelah resmi menjadi Subholding Shipping Pertamina, kini PIS mengelola 750 armada kapal, di mana 540 milik sendiri dan selebihnya sewa, serta mengelola enam pelabuhan dan terminal BBM dan LPG.
Pemain Global
PT Pertamina International Shipping (PIS), Subholding Shipping Pertamina, menargetkan bisa menjadi
pemain global di bidang perkapalan
dan logistik kelautan terintegrasi.
Terdapat tiga negara yang disasar
PIS untuk menangkap pertumbuhan
bisnis logistik perusahaan yakni
Thailand, Vietnam, dan Filipina.
Manager Business Development
Pertamina International Shipping
Dian Prama Irfani mengatakan,
beberapa negara Asia Tenggara
tersebut mengalami peningkatan pertumbuhan ekonomi atau
Produk Domestik Bruto (Gross
Domestic Product/ GDP). Alhasil,
ini juga berdampak pada peningkatan permintaan energi di negaranegara tersebut.
(Oleh - HR1)
Telkom Ikut Danai Fintech Cermati
JAKARTA – PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM)
melalui anak usahanya, MDI Ventures, turut
berpartisipasi dalam pendanaan Seri C untuk
Cermati pada April 2021. Pendanaan tersebut akan
digunakan untuk mendukung pengembangan tim
dan produk Cermati.
CEO MDI Ventures Donald Wihardja menjelaskan, dengan dukungan TelkomGroup sebagai salah satu investor
utama, Cermati akan memperluas
distribusi produk mereka melalui jaringan luas yang dimiliki oleh TelkomGroup serta perusahaan-perusahaan
dan BUMN lainnya.
“Kami turut mendukung Cermati
dalam menawarkan produk-produk micro insurance dan micro lending supaya
bisa berperan penting terhadap inklusi
keuangan Indonesia,” ujar Donald
dalam keterangan resmi, Rabu (5/5).
Di lain pihak, Managing Partner
Centauri Fund Kenneth Li menjelaskan, bersama MDI Ventures, KB
Financial Group juga ikut ambil bagian
dalam investasi Cermati melalui KBMDI Centauri Fund. Dipilihnya Cermati karena KB-MDI Centauri Fund
melihat perusahaan ini potensi pertumbuhan yang masih sangat besar.
Karena itu, dengan ekosistem yang
dimiliki TelkomGroup dan KB Financial Group, pihaknya bisa membantu
mengakselerasi penetrasi keuangan
kepada segmen unbanked dan underbanked di Indonesia.
CEO dan Co-Founder Cermati.com
Andhy Koesnandar menjelaskan,
pihaknya mengapresiasi kerjasama
dengan MDI Ventures yang memiliki
keahlian dalam membangun perusahaan rintisan. Pihaknya berharap dapat memanfaatkan jaringan MDI yang
kuat di lingkungan Telkom Group
dan BUMN dapat meningkatkan kapabilitas produk dan aset kami. Investasi dan sinergi ini akan mempercepat
visi Cermati dalam memanfaatkan
teknologi untuk membantu mencapai
inklusi keuangan.
Direktur Strategic Portfolio Telkom
Budi Setyawan Wijaya mengatakan
bahwa investasi di Cermati akan
melengkapi ekosistem digital fintech yang tengah dikembangkan
oleh MDI sebagai corporate venture
capital Telkom Group. Ke depan,
Budi berharap adanya kolaborasi
antara anak perusahaan dan entitas
unit bisnis Telkom Group dengan Cermati untuk melahirkan produk-produk
digital yang inovatif, khususnya di
sektor financial services
(Oleh - HR1)
Kenaikan Tarif PPN Menjegal Pemulihan Ekonomi
Inilah rencana pemerintah menggenjot penerimaan pajak secara mudah: menurunkan batas Pengusaha Kena Pajak (PKP) dan saat bersamaan menaikkan tarif pajak pertambahan nilai (PPN). Pebisnis pun memprotes rencana pemerintah itu.
Dua rencana itu akan diterapkan tahun depan dan kini sedang digodok pemerintah. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan, pemerintah akan segera mengajukan revisi aturan ke DPR untuk meloloskan rencana kenaikan tarif PPN. "Soal tarif PPN ini masih dikaji pemerintah, karena berkaitan dengan pembahasan revisi Undang-Undang (UU) Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP)," kata Airlangga, Rabu (5/5).
Ihwal kenaikan tarif PPN, UU Nomor 42/2009 tentang PPN dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah memang memberi peluang kenaikan tarif PPN menjadi 15%, dari 10% yang berlaku saat ini. Dengan menaikkan tarif PPN, petugas pajak juga tak perlu berkeringat karena proses pemungutan PPN dari konsumen dilakukan oleh pelaku usaha.
Pada gilirannya, bisnis bisa lesu lagi. "Pengusaha masih berat. Masyarakat kecil juga akan dirugikan. jika tekanan pandemi ditambah lagi dengan beban kenaikan PPN, konsumsi bisa tertekan lagi, " kata Ajib Hamdani, Ketua Bidang Keuangan dan Perbankan Badan Pengurus Pusat (BPP) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), kepada KONTAN, Rabu (5/5).
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey juga menilai, kenaikan PPN akan kian menekan industri manufaktur dan sektor ritel karena daya beli masyarakat turun lagi. Jika kebijakan itu diterapkan, ekonomi pun bisa makin nyungsep karena belanja masyarakat merupakan komponen terbesar produk domestik bruto (PDB).Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









