Ekonomi
( 40460 )Pemprov Restui Pembangunan Kawasan Industri Baru di Maros
Pemprov Sulsel berencana buka kawasan industri baru di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Rencana ini mencuat saat pertemuan antara Plt Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman bertemu dengan Plt Dirut Kawasan Industri Makassar (Kima) di Kantor Gubernur Sulsel pada Senin (3/5) kemarin.
Rencana pembukaan ini dilakukan karena Kawasan Industri Makassar kini menyisakan 7 hektare lahan dari total luas 338 hektare. Dia mengungkapkan, pengembangan kawasan industri di Maros mendapat lampu hijau dari Pemprov Sulsel.
Alasan Kabupaten maros dipilih sebagai kawasan industri baru karena lokasinya yang strategis, apalagi dekat dengan bandara, kemudian dekat pula pelabuhan dan ada jalur kereta api. Kepala Dinas Perindustrian Sulsel Ahmadi Akil menyebut pembangunan kawasan Industri baru di Maros sangat memungkinkan karena dari empat hal tersebut sangat mendukung.
420 Ton Daging Sapi Impor dari Brasil Mulai Datang di Indonesia Secara Bertahap
PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau RNI dan PT Berdikari (Persero) mendatangkan daging sapi beku boneless asal Brasil sebanyak 420 ton secara bertahap ke Tanah Air. Kedatangan pertama daging sapi beku boneless sebanyak 140 ton tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Sabtu pekan lalu, 1 Mei 2021.
Impor daging sapi ini dilakukan untuk menjaga stabilitas harga serta memenuhi ketersediaan pasokan menjelang Idul Fitri. Selain meningkatkan ketahanan pangan nasional, impor daging ini juga disebut sebagai upaya membuka kesempatan untuk mengkaji sejauh mana kualitas produk daging sapi asal Brasil.
Ini kesempatan untuk melihat kualitas daging sapi asal Brasil. Hal ini merupakan bagian dari upaya agar impor tidak sekedar untuk memenuhi pasokan tetapi juga proses pembelajaran agar industri daging sapi dalam negeri semakin lebih baik.
Investasi di KEK Sei Mangke Mulai Meningkat
Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) sebagai pengelola Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei mencatat tahun ini investasi sektor pertanian di kawasan tersebut mengalami tren peningkatan yang signifikan dibanding tahun sebelumnya ditandai dengan meningkatnya jumlah investor asing dan domestik.
Berdasarkan siaran pers yang diterima di Jakarta, Senin, PTPN III mencatat pelaku bisnis atau investor potensial mulai membidik serta berinvestasi di sektor kelapa sawit dan karet, sehingga menjadi awal baru bagi kawasan industri tersebut menjadi target kontribusi investasi yang jauh lebih signifikan.
Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) M. Abdul Ghani yang belum lama ini berkunjung ke KEK Sei Mangkei mengatakan, perhatian investor itu menunjukkan kebangkitan KEK Sei Mangkei sebagai Kawasan industri strategis terdepan dalam pelayanan dan diharapkan berkontribusi terhadap peningkatan penanaman modal asing atau Foreign Direct Investment (FDI) di Indonesia.
Dengan adanya dukungan pemerintah khususnya Kementerian Investasi bersama dengan stakeholders yang ada, mimpi KEK Sei Mangkei yang diidamkan sebagai lokasi investasi pelaku industri prioritas segera terwujud.
LPI Segera Teken MoU Investasi ke BUMN Karya Rp 60 Triliun
JAKARTA – Lembaga Pengelola Investasi (LPI)
atau Indonesia Investment Authority (INA) berencana
segera menandatangani nota kesepahaman
(memorandum of understanding/MoU) dengan
sejumlah BUMN karya terkait dengan penyertaan
modal atau investasi senilai Rp 50-60 triliun oleh
sovereign wealth fund (SWF) milik pemerintah RI
tersebut.
Direktur Utama LPI Ridha Wirakusumah menargetkan, penandatanganan MoU bisa dilakukan dalam
rentang waktu sebulan ke depan.
Kendati begitu, ia tidak merinci
perusahaan-perusahaan yang bakal
terlibat dalam kerja sama tersebut.
Namun, ia sempat memberikan
contoh, investasi akan dilakukan
melalui pembelian tol yang nilainya
berpotensi untuk ditingkatkan.
"Mudah-mudahan dalam waktu
tidak lama lagi, kami juga akan ada
sedikit pengumuman yang sifatnya
mungkin MoU dengan beberapa
perusahaan (BUMN) karyanya, yang
tentunya mudah-mudahan bisa membantu makin kinclong perusahaan
karya majunya," ujar Ridha dalam sebuah percakapan dengan Juru Bicara
Kementerian BUMN Arya Sinulingga
secara virtual, Jumat (30/4).
Butuh US$ 450 Miliar
Ridha juga mengatakan, Indonesia
memiliki kebutuhan investasi untuk
pembangunan proyek infrastruktur
yang sangat besar, yaitu mencapai US$
450 miliar. Sementara anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN)
hanya dapat memenuhi kebutuhan
tersebut setengahnya, yaitu sekitar
US$ 200 miliar.
Oleh karena itu, kata dia, untuk
memenuhi sisa kebutuhan investasi
proyek infrastruktur peran LPI akan
dioptimalkan. “Sisanya itu masih
belum kelihatan bagaimana cara
membiayainya. Dari situ, mudahmudahan kami bisa coba membantu
(melalui INA)," ucap dia.
Lebih lanjut, ia mengatakan, penjajakan investasi yang masuk masih
terus dilakukan. Kendati demikian
ia belum bisa memberikan target
berapa yang bisa nilai investasi yang
bisa didapatkan.
(Oleh - HR1)
Kemenperin Siapkan Aturan Pengawasan Investasi
JAKARTA – Kementerian Perindustrian
(Kemenperin) tengah menyusun aturan tentang
pengawasan dan pengendalian (wasdal) investasi
di sektor manufaktur nasional. Wasdal ini akan
mengeliminasi calon investor yang beritikad buruk
dengan mencari keuntungan besar sesaat dan
merusak iklim investasi di dalam negeri.
“Pengawasan adalah suatu keniscayaan bagi kegiatan usaha. Hasil
dari wasdal adalah bahan analisis
untuk mewujudkan kebijakan yang
pro-investasi, pro-tenaga kerja, dan
pro-pertumbuhan. Wasdal akan memberikan output terkait data profiling
sektor industri, sehingga pemerintah
dapat merilis kebijakan-kebijakan
yang pro-investasi,” kata Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan
Akses Industri Internasional (KPAII)
Kementerian Perindustrian, Eko SA
Cahyanto dalam keterangan resmi,
akhir pekan lalu.
Eko mengungkapkan, sejalan dengan upaya meningkatkan investasi
dan pertumbuhan ekonomi, diperlukan
kebijakan untuk memberikan kepastian
berusaha, kepastian hukum, dan penciptakan iklim usaha yang memberi rasa
aman dan kondusif untuk melakukan
kegiatan usaha. “Kunci untuk melakukan
hal tersebut justru ada di pengawasan
dan pengendalian,” ujar dia.
Guna mencapai sasaran tersebut, lanjut dia, Kemenperin sedang merancang
Peraturan Menteri Perindustrian
tentang Pedoman Pengawasan dan Pengendalian Usaha Industri dan Usaha
Kawasan Industri. “Kepastian output
adalah profil industri yang menjadi
salah satu data untuk menyusun kebijakan dan pemberian fasilitasi,” ujar Eko.
Investasi manufaktur mencapai Rp
88,3 triliun kuartal I-2021, melejit 38%
dibanding periode sama tahun lalu
Rp 64 triliun. Investasi manufaktur
berkontribusi 40,2% terhadap total
nilai penanaman modal nasional pada
periode itu Rp 219,7 triliun.
Berdasarkan data Badan Koordinasi
Penanaman Modal (BKPM), penanaman modal dalam negeri (PMDN)
pada periode itu mencapai mencapai
Rp 23 triliun, sedangkan penanaman
modal asing (PMA) Rp 65,3 triliun,
naik dari masing-masing Rp 19,8 triliun
dan PMA Rp 44,2 triliun pada kuartal
I tahun lalu.
(Oleh - HR1)
Tujuh Investor Lirik Bisnis Sawit dan Karet di KEK Sei Mangkei
JAKARTA – Holding Perkebunan Nusantara
PTPN III (Persero) atau PTPN Group menyatakan, tujuh pelaku bisnis atau investor potensial dari dalam dan luar negeri mulai membidik serta berinvestasi di Kawasan Ekonomi
Khusus (KEK) Sei Mangkei, terutama untuk
bergerak di bidang atau sektor kelapa sawit
dan karet. KEK Sei Mangkei mulai dibidik
investor karena kawasan industri tersebut
dinilai sangat strategis, yakni berada di sentra
bahan baku berbasis agro, dekat dengan Selat Malaka, serta memiliki sarana pendukung
logistik yang memadai dengan menghadirkan konektivitas yang terintegrasi di kawasan
tersebut.
Direktur Utama PTPN Group
Mohammad Abdul Ghani menjelaskan, KEK Sei Mangkei
mulai diminati, jumlah investor
asing dan domestik yang berinvestasi meningkat siginifikan.
PTPN Group sebagai pengelola
KEK yang lokasi di Kabupaten
Simalungun, Sumatra Utara (Sumut), tersebut, menyebutkan,
tahun ini minat investasi di KEK
Sei Mangkei mengalami tren
peningkatan yang signifikan
dibanding tahun lalu karena
pelaku bisnis atau investor potensial mulai membidik serta
berinvestasi terutama bergerak
di sektor kelapa sawit dan karet.
“Hal ini menunjukkan kebangkitan KEK Sei Mangkei sebagai kawasan industri strategis
terdepan dalam pelayanan dan
diharapkan berkontribusi terhadap peningkatan penanaman
modal asing atau Foreign Direct
Investment (FDI) di Indonesia,”
jelas dia, Minggu (2/5).
Ghani mengungkapkan, terdapat tujuh perusahaan ternama
dengan nilai okupansi hampir
100 hektare (ha) akan masuk ke
kawasaan industri Sei Mangkei
sebagai permulaan dari investasi
baru pada tahun ini mengingat
tahun sebelumnya terdampak
akibat pandemi Covid-19. “PTPN
Group sebagai Badan Usaha
Pembangunan dan Pengelola
KEK Sei Mangkei berkomitmen untuk ter us ber upaya
melengkapi fasilitas infrastuktur
di dalam kawasan industri dan
memberikan pelayanan terbaik
kepada pelaku usaha, baik investor asing maupun domestik,”
jelas Abdul Ghani.
Konsep KIT Batang
Sementara itu, Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)
Bahlil Lahadalia ingin menerapkan konsep Kawasan Industri
Terpadu (KIT) Batang, Jawa
Tengah, dalam pengembangan
KEK Sei Mangkei sebagaimana
arahan Presiden Jokowi. “Saya
datang ke KEK Sei Mangkei
untuk melihat lebih dekat dan
melihat apa yang perlu diperbaiki, bagaimana mempercepat
tenant-tenant ini bisa terisi. Ini
kawasan yang kurang lebih
hampir 2.000 ha ternyata baru
lima tenant yang ada dan baru
menempati 10% lahan," katanya
saat melakukan peninjauan
langsung ke KEK Sei Mangkei,
Jumat (30/4).
Ghani mengapresiasi kehadiran Menteri Investasi/Kepala
BKPM ke KEK Sei Mangkei
sebagai wujud komitmen pemerintah membantu percepatan
investasi. Harapannya, KEK Sei
Mangkei dapat berkembang
seperti KIT Batang, pada fase
pertama seluas 450 ha sudah
berhasil terisi hanya dalam sembilan bulan. “Sesuai yang disampaikan Pak Menteri, dengan
investasilah kita bisa menumbuhkan ekonomi. Harapan kami
kalau industri tumbuh, puluhan
ribu orang menjadi karyawan
lalu menumbuhkan ekonomi
dan kesejahteraan masyarakat
sekitar. Kami akan ikut arahan
Pak Menteri, seperti di Batang,"
kata Ghani.
(Oleh - HR1)
OJK Kaji Penghapusan NPL Kredit UMKM
JAKARTA – Otoritas jasa Keuangan (OJK) tengah melakukan kajian terkait permintaan penghapusan
kredit macet (non performing loan/
NPL) segmen usaha mikro, kecil,
dan menengah (UMKM) dengan nilai
maksimal Rp 5 miliar. Hal ini untuk
mempercepat pemulihan ekonomi
yang mayoritas dikontribusi dari segmen UMKM.
Juru bicara OJK Sekar Putih Djarot
menjelaskan, usulan penghapusan
NPL kredit UMKM di bawah Rp 5
miliar berasal dari Industri yang ingin
berperan aktif dalam pengembangan
bisnis UMKM dengan target diatas
30% pada tahun 2024.
“Oleh karena itu, OJK perlu mengkaji dan berkoordinasi dengan berbagai lembaga dan kementerian terkait
dalam merespons usulan tersebut,”
ucap Sekar dalam keterangan tertulis,
akhir pekan lalu
Hal tersebut meluruskan penjelasan dari Deputi Komisioner Perbankan III OJK Slamet Edy Purnomo yang menjelaskan, bahwa OJK
mengusulkan lima langkah untuk
mengembangkan UMKM.
Pertama, perbankan lebih membutuhkan penjaminan kredit saat ini, karena pada umumnya bank masih memiliki banyak memiliki likuiditas. Kedua, menambah cakupan UMKM yang masuk dalam program restrukturisasi dan modal kerja baru. Ketiga, biaya dokumen-dokumen kredit UMKM perlu diberikan keringanan untuk menekan cost proses kredit UMKM. Keempat, insentif pajak untuk bank-bank yang memiliki porsi kredit UMKM di atas 30%, dan kelima, penghapusan data NPL debitur di atas Rp 5 miliar. Sebelumnya, usulan penghapusan kredit macet UMKM tersebut bermula dari Ketua Himbara Sunarso yang juga Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI). Penghapusan kredit macet UMKM khususnya bagi bank pelat merah yang menyalurkan kredit program pemerintah disebut akan memudahkan bank memberikan kredit baru, sehingga ekonomi akan pulih lebih cepat.
(Oleh - HR1)
Pengembangan Industri Kreatif, GIM Lokal Incar Pasar Global
Bisnis, JAKARTA — Pengembang gim lokal masih sulit untuk bersaing di negeri sendiri. Pasar global pun menjadi sasaran yang paling ideal untuk dapat bertahan di industri tersebut.
Ketua Umum Asosiasi Game Indonesia (AGI), Cipto Adiguno mengatakan strategi untuk menyasar pasar internasional akan tetap menjadi cara yang baik bagi pengembang lokal dalam jangka waktu pendek dan menengah.
Alasannya, meskipun tren bermain gim terus meningkat selama pandemi Covid-19, gim buatan pengembang lokal justru sulit mendapat tempat di dalam negeri.
Di sisi lain, Cipto meyakini bahwa produktivitas pengembang untuk mengeluarkan produk baru pada tahun ini bakal meningkat pesat. Oleh karena itu, para pengembang perlu memanfaatkan pasar internasional yang diperkirakan mampu memberikan potensi pertumbuhan bagi industri di kisaran 20%—50%.
“Produk gim lokal masih belum mampu bersaing di dalam negeri. Pemenang pasar lokal kecenderungannya adalah produk karya raksasa-raksasa asing. Dari talenta hingga investasi, cukup banyak yang perlu dilakukan bersama,” ujar Cipto, Minggu (2/4).
Direktur eksekutif ICT Institute, Heru Sutadi mengatakan secara industri peran gim lokal masih kecil, hanya berkontribusi pada kisaran 1%—2% sehingga potensi pertumbuhan pada tahun ini juga masih di bawah 1%.
Menurutnya, dalam pengembangan gim, pekerjaan rumah dari pemerintah dan pengembangan lokal masih harus mengetahui secara persis bagaimana pola masyarakat bermain gim.
Bendahara Asosiasi Modal Ventura Seluruh Indonesia (Amvesindo), Edward Ismawan Chamdani mengatakan pengembang gim lokal masih fokus pada pengembangan gim pada ponsel, dengan tema kasual dan creative agency atau merek terkait gamification.
CEO Digital Happiness dan President Director PT Digital Semantika Indonesia, Rachmad Imron mengatakan potensi industri gim akan selalu meningkat setiap tahun. Gim asing dari perusahaan besar mendulang peningkatan unduhan dengan kontribusi sebesar 80%.
CEO Anantarupa Studio, Ivan Chen mengatakan perusahaan membuat gim bertema e-sports guna memenangkan persaingan dengan industri gim global.
“Ini kami lakukan karena industri gim berbeda dengan startup yang mulai dari lokal dan baru merambah pasar luar negeri setelah menguasai pasar lokal. Industri gim memaksa para pemainnya langsung head to head dengan pemain global,” katanya.
ANGIN SEGAR
Sementara itu, penggabungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dengan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) dinilai menjadi kabar baik bagi industri gim Tanah Air.
Ketua Umum Asosiasi Startup Teknologi Indonesia (Atsindo), Handito Joewono mengatakan ke depan, langkah ini bisa menggerakkan kampus agar lebih inovatif dalam menggarap bisnis digital, termasuk gim.
Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika, Semuel Abrijani Pangerapan mengatakan saat ini perlu pemahaman yang baik dan mendalam tentang industri gim Indonesia. Tujuannya, untuk menentukan inisiatif dan kebijakan yang tepat sasaran, termasuk untuk mengatasi tantangan pengembangan ekosistem gim.(Oleh - HR1)
Pemulihan Ekonomi, Pemda Pacu Sektor Andalan
Bisnis, PADANG — Sejumlah pemerintah daerah memacu kinerja investasi guna memulihkan perekonomian terutama pada sektor andalan. Provinsi Sumatra Barat misalnya mendorong sektor peternakan dan pangan karena dinilai berhasil menyedot investor.
Provinsi Sumatra Barat memiliki banyak potensi investasi yang bisa untuk digarap dan menjadikan sebuah peluang bisnis yang menjanjikan.
Gubernur Sumatra Barat Mahyeldi Ansharullah mengatakan cukup banyak investasi yang bisa digarap di Ranah Minang ini. Selain sektor wisata ada di Mentawai dan 18 kabupaten kabupaten dan kota lainnya, juga ada sektor pertanian dan peternakan yang ternyata memiliki peluang bisnis yang bagus.
Mahyeldi menyebutkan untuk peternakan sapi Sumbar sudah ada teknologi pakan, seperti di kampus peternakan Universitas Andalas. Pakan dengan fermentasi akan menekan harga daging di pasar.
Saat ini Sumbar punya budi daya peternakan, 2000 hektare di Pasaman Barat, dan di Payakumbuh. Di kebun sawit bisa budidaya sapi. Bahkan ada rumah potong sapi internasional dari Spanyol di Payakumbuh.
“Sekarang, tinggal kita investasi untuk indukan. Kemudian akan bekerja sama dengan Transmart di Sumatra untuk mengisi daging asli lokal, sekarang kita sedang mengondisikannya,” jelas dia.
Begitu besarnya potensi peternakan di Sumbar, ucapnya, ketika musibah di NTT, Sumbar mengirimkan 1,5 ton rendang daging, dan dagingnya itu semuanya dari peternakan di Sumbar, bukan daging impor atau daging sapi dari daerah lainnya.
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo telah berkomunikasi dengan duta besar Indonesia yakni di Turki, Ceko, dan Inggris untuk membahas potensi kerja sama.
Selama ini memang getol menjalin komunikasi dengan para dubes Indonesia di berbagai negara. Dalam komunikasi itu, selalu dibahas potensi kerja sama yang mungkin bisa dilakukan.
“Semua menyambut baik, kita sering dibantu para dubes itu memasarkan produk unggulan Jateng di berbagai negara, termasuk dibantu memasarkan potensi investasi pada pengusaha-pengusaha di sana,” katanya.
Duta Besar Indonesia untuk Turki Lalu Muhammad Iqbal mengatakan bahwa Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi yang banyak dilirik investor Turki. Jateng menjadi provinsi yang potensial bagi pengusaha Turki untuk menanamkan modalnya di sini.
Hal itu disampaikan Iqbal kepada Ganjar Pranowo saat berkunjung ke rumah dinasnya di Puri Gedeh Kota Semarang, Sabtu (1/5), malam. Dalam pertemuan itu, dibahas potensi kerja sama yang dapat dilakukan antara Turki dan Jateng.
(Oleh - HR1)
Rasio Utang Capai 41,64 Persen
Rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto atau PDB mencapai 41,64 persen pada akhir Maret 2021. Rasio utang cenderung naik sejalan dengan meningkatnya defisit anggaran. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, secara nominal, posisi utang pemerintah hingga akhir Maret 2021 sebesar Rp 6.445,07 triliun atau 41,64 persen PDB. Rasio utang ini lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi per akhir Februari 2021 yang sebesar 41,1 persen.
Pada 2021, pemerintah juga akan memanfaatkan dana sisa lebih pembiayaan anggaran 2020 sebesar Rp 80 triliun-Rp 100 triliun untuk mengurangi pengadaan utang dan memperlebar ruang fiskal guna menangani pandemi.
Sementara itu, ekonom Center of Reform on Economics(CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai, jumlah utang pemerintah sebesar 41,64 persen PDB masih dalam level aman karena jauh dari batas atas rasio utang terhadap PDB yang mencapai 60 persen.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









