Ekonomi
( 40554 )Produsen Lokal Cermati Isu Mobil Listrik
Perusahaan teknologi global mulai berlomba mengembangkan kendaraan listrik. Oppo, perusahaan telekomunikasi asal Tiongkok, bakal merancang mobil listrik. Ini merupakan langkah baru mereka untuk mengikuti perusahaan teknologi lainnya, seperti Xiaomi, Huawei dan Apple.
Direktur PT Garuda Metalindo Tbk (BOLT) Anthony Wijaya mengatakan, saat ini belum ada kendaraan listrik yang benar-benar diproduksi di Indonesia alias memiliki tingkat komponen lokal. "Jadi, permintaan untuk komponen mobil listrik bisa dibilang belum ada, " kata dia, kemarin. Anthony mengaku, produk yang dijual BOLT sebenarnya tidak berkaitan langsung dengan komponen mesin dari kendaraan bermotor, termasuk untuk kendaraan bermotor listrik. Perusahaan ini menghasilkan produk komponen yang banyak diaplikasikan pada sistem AC, pengereman, suspensi dan sejenisnya yang tetap bisa digunakan untuk kendaraan listrik. Namun dia belum bisa memastikan apakah BOLT akan terlibat langsung dalam produksi komponen penunjang untuk kendaraan listrik atau tidak. Selama ini BOLT memasok komponen kendaraan ke sejumlah pabrikan, seperti Astra Honda Motor, Astra Daihatsu Motor, dan Krama Yudha Tiga Berlian Motor.
Lidiana Widjojo, Corporate Secretary PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM) mengatakan, saat ini pihaknya belum menerima permintaan produk komponen untuk kendaraan listrik. Maklum saja, populasi kendaraan listrik dindonesia belum sebanyak kendaraan konvensional yang berbahan bakar fosil. Dia menilai, keberadaan infrastruktur seperti charging station atau stasiun pengisian kendaraan listrikumum (SPKLU) punya nilai urgensi tinggi dalam ekosistem kendaraan listrik tanah air. Jika SPKLU marak dan mudah dijangkau, dengan sendirinya permintaan kendaraan listrik termasuk industri konponennya akan meningkat.
Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi dan Alat Pertahanan (IMATAP) Kementerian Perindustrian, Sony Sulaksono menyampaikan, pemerintah pada dasarnya terbuka untuk mendatangkan banyak investasi dari berbagai pabrikan global yang dapat mendukung ekosistem mobil listrik nasional. Apalagi, pemerintah sudah menyiapkan sejumlah insentif untuk menarik investor baik dari sisi fiskal maupun non-fiskal. "Ya, tentu [rencana mendatangkan investasi] tidak terbatas Tesla saja, " ujar dia, kemarin.
Pengusaha Retail Usulkan Insentif PPN dan PPh
Industri retail tengah menanti kucuran insentif pajak khusus dari pemerintah. Anggota Dewan Penasihat Himpunan peritel dan penyewa pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Tutum Rahanta, mengatakan insentif tersebut bermula dari usul asosiasi kepada pemerintah, yaitu perihal pengenaan pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penghasilan (PPh) atas sewa.
PPh atas sewa dapat meringankan kami, para penyewa gerai dan pengelola pusat belanja. Pengeluaran sewa merupakan komponen beban terberat kedua setelah tenaga kerja yang harus ditanggung pelaku usaha.
Pelonggaran PPN diusulkan segera diterapkan pada kuartal II tahun ini guna meningkatkan animo belanja masyarakat. Sedangkan untuk PPh atas sewa diharapkan dapat dibebaskan selama enam bulan hingga satu tahun. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Roy Nicholas Mandey, berujar pelaku usaha juga berharap insentif pajak yang ada saat ini diperpanjang hingga akhir 2021.
Ketua Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat Said Abdullah mengingatkan pemerintah untuk selektif dalam mengucurkan insentif pajak. Khususnya menakar dampak dari pemberian insentif tersebut pada pemulihan ekonomi nasional. Industri retail bahkan dari sebelum masa pandemi telah mengalami kontraksi akibat pergeseran perilaku masyarakat yang memilih e-commerce.
Chairul Tanjung Borong Saham Garuda Indonesia Rp 317,23 Miliar
Finegold Resources Ltd. telah mengalihkan seluruh saham miliknya dalam PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. kepada PT Trans Airways. Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Utama PT Trans Airways Warnedy dalam suratnya ke Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra, pada Jumat pekan lalu.
Dengan jumlah keseluruhan sebesar 635.749.990 saham kepada PT Trans Airways (Pengalihan Saham) berdasarkan dokumen sebagaimana terlampir. Sementara dalam laporannya ke otoritas bursa pada hari yang sama, Warnedy menyebutkan jumlah saham yang dialihkan tersebut sebanyak 635.739.990 saham.
Transaksi dilakukan di harga sebesar Rp 499 per saham. Dengan demikian, total nilai transaksi yang dilaksanakan pada 6 Mei lalu itu mencapai Rp 317,23 miliar. Dari transaksi itu, maka total kepemilikan saham Trans Airways atas GIAA bertambah menjadi sekitar 7,31 miliar saham GIAA atau setara dengan 28,26 persen dari seluruh modal ditempatkan perseroan. Sebelumnya, Trans Airways memiliki sekitar 6,68 miliar saham atau setara dengan 25,81 persen.
Trans Airways diketahui merupakan perusahaan milik konglomerat Chairul Tanjung. Trans Airways memborong saham Garuda Indonesia atau GIAA dari tiga sekuritas yang berperan menjadi underwriter di initial public offering (IPO) yaitu PT Mandiri Sekuritas, PT Bahana Securities, serta PT Danareksa Sekuritas.
Pendanaan StartUp, Iklim Investasi Kian Kondusif
Bisnis, JAKARTA — Iklim investasi perusahaan rintisan diproyeksikan makin baik pada kuartal III/2021 seiring dengan meningkatnya kepercayaan diri dari para pemodal untuk menyuntikkan dananya.
Ketua Umum Asosiasi Startup Teknologi Indonesia (Atsindo) Handito Joewono mengatakan investasi besar yang terjadi pada salah satu perusahaan rintisan (startup) akan merangsang investasi sejenis di ekosistem tersebut.
Adapun, yang terbaru adalah investasi PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) senilai US$300 juta kepada PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Gojek). Adapun total investasinya sejak November 2020 telah mencapai US$450 juta.
Selain itu, minat startup untuk segera melantai di bursa untuk meraih pendanaan pun akan makin kuat seiring dengan adanya sentimen dari rencana penawaran umum perdana perusahaan hasil merger Gojek-Tokopedia.
Adapun, Cento Ventures menyatakan bahwa pendanaan ke startup Asia Tenggara turun 3,5% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi US$8,2 miliar pada 2020. Pada semester I/2020, pendanaan ke startup Asia Tenggara masih senilai US$5,9 miliar, lalu turun pada semester II/2020 menjadi US$ 2,3 miliar.
Adapun, jumlah kesepakatan investasi sepanjang tahun lalu tercatat sebanyak 645, turun dibandingkan 2019 yang mencapai 704.
Namun, dari sisi nilai, Indonesia masih mendominasi dengan berkontribusi 70% terhadap total pendanaan, disusul Singapura 14%, Malaysia 5%, Thailand 5%, Vietnam 4%, dan Filipina 2%.
Besarnya nilai investasi yang diperoleh perusahaan rintisan Indonesia ditopang oleh startup jumbo, di mana hampir setengah dari dana yang terkumpul masuk ke kantong para unikorn seperti Grab, Gojek, Bukalapak, dan Traveloka.
Sebelumnya, Handito juga mengatakan pendanaan startup turut ditentukan oleh penanganan pandemi Covid-19. Menurutnya, Indonesia menjadi salah satu negara dengan program vaksinasi terbaik sehingga kayak untuk dilirik para pemodal.
AMBISI MENJADI UNICORN
Sementara itu, agresifnya pemain perusahaan rintisan untuk menjadi unikorn selanjutnya di Tanah Air dinilai turut menjadi sentimen positif untuk meningkatkan minat pemodal dalam menyuntikan dananya.
Bendahara Asosiasi Modal Ventura Seluruh Indonesia (Amvesindo) Edward Ismawan Chamdani menilai selain bergairahnya pemain startup untuk memiliki nilai valuasi US$1 miliar, para unikorn yang melirik lantai bursa juga memberikan optimisme bagi pemodal.
Di sisi lain, Kementerian Komunikasi dan Informatika melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020—2024 menargetkan hadirnya tiga unikorn pada 2024. Tambahan tersebut diharapkan mulai terealisasi pada tahun depan.
Rencana tersebut menjelaskan bahwa pada tahun ini diharapkan startup digital aktif yang terbentuk berjumlah 35. Adapun, untuk jumlah startup pada 2022, 2023, dan 2024 masing-masing target yang diharapkan berjumlah 70, 110, dan 150.
(Oleh - HR1)
Valuasi Mega-IPO Unicorn US$ 100 M
JAKARTA – Rencana raksasa unicorn dan
decacorn Indonesia untuk go public akan
dipercepat. Beberapa unicorn-decacorn yang
berniat menggelar penawaran umum perdana
(initial public offering/IPO) sudah menyerahkan
dokumen ke PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan kini
masih diproses.
Unicorn atau decacorn terutama
yang berniat melantai di bursa
domestik dan luar negeri (dual listing), harus menyelesaikan sejumlah
prosedur dan administrasi yang
diperlukan. Sejauh ini, mega-IPO
empat unicorn dan decacorn yang
menggelar dual listing berpotensi
menghasilkan valuasi sekitar US$
100 miliar.
Di lain sisi, BEI harus merevisi
peraturan pencatatan agar dapat
mengakomodasi IPO perusahaan
new economy yang berbeda dengan
perusahaan konvensional.
Direktur Utama Bursa Efek
Indonesia (BEI) Inarno Djajadi
mengatakan, sampai saat ini terdapat tiga perusahaan unicorn dan
decacorn yang telah menyerahkan
dokumennya untuk mempersiapkan diri menggelar IPO. Namun
demikian, Inarno belum bisa menjelaskan secara detail siapa saja
yang telah menyerahkan dokumen
tersebut.
Untuk investor domestik, PT Astra
International menginjeksikan total
dana senilai US$ 250 juta dalam dua
tahap, yakni US$ 150 juta pada 2018
dan US$ 100 juta pada 2019. Selain
itu, PT Telkomsel mengalirkan dana
US$ 150 juta ke Gojek. Ada juga
Northstar Pacific milik pengusaha
kondang Patrick Waluyo.
Beberapa nama investor besar
luar negeri yang berada di belakang
Gojek adalah Facebook, Google,
Sofbank,Temasek (Anderson Investment Pte Ltd), Tencent Holdings,
Paypal, Sequoia Capital, Allianz
Strategic Investments SARL, Asean
China Investment Fund (US) III
LP, London Residential II SARL,PT
Asuransi Jiwa Sequis Life, PT Union
Sampoerna.
Sedangkan investor besar penyuntik dana Tokopedia adalah Softbank,
Alibaba (Taobao Cina Holdings), Temasek (Anderson Investments Pte),
Google, Masayoshi Son, Sequoia
Capital, East Venture, Radiant Pioneer Limited, Radiant Trinity Limited.
Temasek dan Google pada Oktober
2020 dikabarkan menyuntikkan dana
ke Tokopedia senilai US$ 350 juta.
Bukalapak dan Traveloka
Bukalapak dan Traveloka juga
berniat dual listing, yakni di BEI
dan di Nasdaq, AS. Traveloka tengah
dalam pembicaraan lanjutan dengan
SPAC Bridgetown Holdings Ltd untuk memuluskan jalan ke bursa AS.
Keduanya berencana merger dan
perusahaan gabungan itu berpotensi
menaikkan valuasi Traveloka yang
dinakhodai oleh Ferry Unardi ini
menjadi sekitar US$ 5 miliar. Transaksi tersebut berpotensi menggalang
dana sekitar US$ 500-750 juta melalui
skema investasi swasta di ekuitas
publik (private investment in public
equity/PIPE).
Sebagai salah satu perusahaan
teknologi terdepan di Asia Tenggara,
kata Reza, pencatatan saham Traveloka di Wall Street akan menempatkan perseroan pada liga yang sama
dengan perusahaan teknologi kelas
dunia lainnya yang juga tercatat di
bursa AS tersebut.
Demikian pula Bukalapak berniat
listing di bursa AS melalui skema
SPAC. Aksi merger dengan SPAC
itu diperkirakan akan menghasilkan valuasi sekitar US$ 4-5 miliar.
Bukalapak baru saja mengantongi
pendanaan baru hingga US$ 234 juta
yang dipimpin oleh Microsoft, GIC
Singapura, dan Emtek. Untuk IPO di
BEI, Bukalapak menunjuk Mandiri
Sekuritas sebagai penjamin emisi.
IPO Grab-Altimeter
Selain tiga unicorn tersebut, decacorn Grab sudah melangkah lebih
maju dalam rencana untuk menggelar IPO di Nasdaq, AS . Grab
Holdings Inc menggandeng SPAC
Altimeter Growth Corp. Aksi IPO
tersebut menargetkan perolehan
dana segar hingga US$ 4,5 miliar.
Aksi ini berpotensi menjadi penawaran saham terbesar yang pernah
ada oleh perusahaan Asia Tenggara
di Bursa AS.
Altimeter Growth dan Grab akan
menjadi anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh perusahaan
induk baru. Perusahaan gabungan
tersebut diharapkan memiliki valuasi ekuitas secara proforma sekitar US$ 39,6 miliar serta investasi
swasta pada ekuitas publik (private
investment in public equity/PIPE)
senilai US$ 4 miliar. Altimeter telah
memberikan komitmen hingga US$
500 juta sebagai bentuk contingent
investments.
Berdampak Positif
Founder & CEO Digital Enterprise
Indonesia Bari Arijono menyatakan
bahwa mega-merger Gojek dan Tokopedia dan langkah IPO dapat dipandang dari tiga sisi. Pertama, merger
dan IPO ini akan sangat menguntungkan investor penyandang dana. IPO
yang akan melibatkan SPAC merupakan kepentingan investor, yang kurang
memberikan manfaat bagi ekonomi
digital di Indonesia dan dampaknya
ke masyarakat. Startegi meraih dana
global dengan menggandeng SPAC ini
sukses dijalankan di AS, Hongkong,
Jepang, dan Tiongkok.
Kedua, merger ini bukan dalam
rangka meningkatkan skala ekonomi
perusahaan. Ketiga, merger ini cenderung menghilangkan kesempatan
bagi milenial untuk berinovasi. Visi
misi awal yang diusung Gojek dan
Tokopedia bisa jadi kehilangan arah
dan marwahnya, karena disetir oleh
investor.
Sedangkan Direktur Panin Asset
Management Rudiyanto berpendapat, rencana IPO sejumlah unicorn-decacorn akan memperkaya pilihan
por tofolio saham bagi investor,
khususnya saham teknologi dengan
kapitalisasi besar yang selama ini belum ada. Hal ini tentunya akan sangat
menarik lebih banyak dana asing
yang masuk ke bursa domestik.
Dia yakin IPO unicorn akan disambut positif pelaku pasar dan
investor. “Dengan kapitalisasi pasar
yang besar, manajer investasi juga
akan mempertimbangkan sebagai
bagian dari portofolio reksa dana,”
katanya kepada Investor Daily.
Hal senada dikemukakan Presiden
Direktur Shinhan Asset Management Indonesia Tjiong Toni.
Menurut dia, bursa akan menjadi lebih menarik buat investor
asing maupun domestik, karena
menambah pilihan emiten berkapitalisasi besar kategori new economy.
“Yang ada sekarang hanya ada lima
saham sekelas super bluechip seperti
BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, ASII.
Mereka adalah perusahaan old era
economy,” ujarnya.
(Oleh - HR1)
Tidak Ada Urgensi Revisi UU Mata Uang
JAKARTA – Bank Indonesia (BI)
kembali menegaskan, mata uang kripto
(cryptocurrency) bukan merupakan alat
pembayaran yang sah di Indonesia dan hanya
rupiah satu-satunya yang diakui. Karena
itu, bank sentral menilai, tidak ada urgensi
untuk merevisi Undang-Undang Nomor
7 Tahun 2011 tentang Mata Uang demi
mengakomodasi penggunaan mata uang kripto seperti Bitcoin.
“Dalam hal pembayaran,
tidak perlu lagi ada pengaturan
penambahan sebab UU Mata
Uang sudah sa ngat clear, jelas
mengatakan bahwa alat pembayaran yang sah di Indonesia
satu-satunya hanya r upiah.
Dan yang membuat UU Mata
Uang ‘kan bukan BI juga, tapi
pemerintah dan DPR,” ujar
Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam
webinar Smar t FM 'Uang
Kripto, Perlukah Diregulasi?,
Sabtu (8/5).
Menurut Erwin, jika ada mata
uang lain yang berlaku selain
rupiah di Indonesia, maka akan
memenga ruhi kedaulatan negara. Meskipun ia memahami,
masyarakat saat ini tengah
menggemari mata uang kripto.
“Urgensinya apa ju ga? Saya sih
nggak lihat urgensinya mengubah UU hanya untuk mengakomodasi minat masyarakat
yang nggak ada dasarnya itu,”
tegas Erwin.
Er win menilai, mata uang
kripto memiliki kesalahan nama
yang kemudian dijadikan sebagai aset untuk berinvestasi.
Pasalnya, nilai mata uang kripto saat ini melambung hanya
didasarkan pada supply dan
demand serta tidak memiliki
underlying asset seperti jenis
investasi lainnya. Oleh karena
itu, ia meminta masyarakat lebih
berhati-hati dalam melakukan
investasi.
“Ini ‘kan naik semata karena
demand-supply, beda dengan saham yang ada aset, diperdagangkan ada underlying asset dari
aktivitas perusahaan itu sendiri.
Nah, kripto ini, bagaimana dia
jelaskan, tidak ada aktivitas
ekonomi. Yang kredibel seperti
Bitcoin pun sebetulnya tidak ada
underlying asset-nya. Karena
orang percaya nilainya akan
naik, dengan sendirinya harga
naik, walaupun dia baseless,”
tegas dia
(Oleh - HR1)
Waspadai Gelembung di Pasar Aset Kripto
JAKARTA – Di tengah
lonjakan harga aset mata
uang kripto, investor
diimbau tetap harus
waspada dan hati-hati
menyikapinya. Sebagai
contoh, harga dogecoin,
salah satu aset kripto,
melonjak 400% dalam
kurun waktu seminggu.
Hal ini memicu
kekhawatiran terjadinya
gelembung (bubble) di
pasar aset kripto atau
cryptocurrency.
“Para pakar investasi mengingatkan,
ketika semua orang melakukan itu,
gelembung harga akhirnya harus
meledak dan investor pemula akan
dibiarkan merugi jika tidak bisa keluar
tepat waktu. Celakanya, sulit untuk
memastikan kapan gelembung itu
akan pecah. Artinya, unsur tiba-tiba,
dadakan, kejutan, senantiasa membayangi mereka yang berinvestasi di aset
kripto,” kata Ekonom dan Staf Ahli
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ryan
Kiryanto dalam keterangan tertulis,
Minggu (9/5).
Sementara itu, berdasarkan survei
Bank of America, hampir 3 dari 4 atau
setara 74% dari responden investor
profesional melihat bitcoin sebagai
gelembung. Mereka juga menilai
bitcoin ada di peringkat kedua daftar
perdagangan yang paling ramai, tepat
di belakang saham teknologi. Tak
heran, jika beberapa investor sudah
memandang bitcoin sebagai gelembung spekulatif.
Mata uang kripto paling kondang,
bitcoin, telah memiliki kapitalisasi
pasar (market capitalization) di atas
US$ 1 triliun setelah lonjakan harga
yang terjadi pada tahun ini. Harga
bitcoin sempat menyentuh level US$
58.858. Alhasil, total kapitalisasi pasar
mata uang kripto ini telah menembus
US$ 2 triliun untuk pertama kalinya
dalam sejarah. Hal ini didorong oleh
lonjakan yang terjadi selama dua bulan
terakhir seiring dengan kenaikan permintaan dari investor institusi. Untuk
bitcoin, harganya bergerak cenderung
positif seiring dengan keterlibatan
investor institusional yang berniat
meningkatkan return-nya.
Namun untuk berinvestasi, BI
mengimbau masyarakat untuk berhatihati karena berinvestasi di cryptocurrency dengan alasan underlying
asset (aset dasar) yang tidak jelas dan
risiko yang tinggi. Dalam artian lain,
mengingat aspek spekulatifnya begitu tinggi, maka investor, lebih-lebih
investor pemula, termasuk investor
milenial, harus cermat, cerdas dan
berhati-hati sebelum memutuskan
berinvestasi di aset kripto ini.
(Oleh - HR1)
Industri Plastik, Pebisnis Tetap Waspada
Bisnis, JAKARTA — Kendati telah mencatatkan hasil positif pada kuartal I/2021, industri plastik masih tetap waspada terhadap dampak pandemi Covid-19 yang belum diketahui kapan akan berakhir.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat industri karet, barang karet, dan plastik merupakan sektor yang masih mencatatkan pertumbuhan sebesar 3,84%. Angka itu bahkan di atas sektor makanan dan minuman yang hanya tumbuh 2,45% sepanjang triwulan pertama tahun ini.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiyono mengatakan kinerja industri 3 bulan pertama tahun ini selaras dengan level utilitas sektor hulu yang terjaga di atas 90% dan sektor hilir yang masih berkisar 65%-70%.
Sebelumnya, produsen plastik kemasan, PT Panca Budi Idaman Tbk., menargetkan peningkatan volume dan nilai produksi 10%-15% pada tahun ini.
Direktur Panca Budi Lukman Hakim mengatakan untuk mencapai target tersebut, perseroan akan menjaga rata-rata kapasitas terpasang di kisaran 80%. Adapun kapasitas total pabrik milik Panca Budi sekarang sebesar 125.000 ton per tahun.
Selain diversifikasi produk, perseroan juga masih akan memperluas pangsa pasar dan jaringan distribusi, meningkatkan kualitas produk dan brand value, dan melakukan efisiensi operasional.
(Oleh - HR1)Pengembangan Startup, Agritech Perlu Eskalasi Teknologi
Bisnis, JAKARTA — Perusahaan rintisan di bidang agrikultura memerlukan analisis mahadata dan kecerdasan buatan untuk menunjang peningkatan aktivitas bisnis mereka, khususnya untuk menghadapi berbagai tantangan pengembangan ke depan.
Ketua Umum Asosiasi Startup Teknologi Indonesia (Atsindo) Handito Joewono mengatakan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan analisis mahadata (big data analytics) bisa melakukan melakukan prediksi hingga rekomendasi tentang perilaku konsumen. Hal tersebut dianggap penting bagi perusahaan rintisan.
Dia meyakini agritech yang mengalokasikan 20%–40% anggarannya untuk kebutuhan inovasi teknologi, khususnya di AI dan big data analytics, dapat meningkatkan pertumbuhan kinerja hingga lebih dari 70%.
Senada, Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi mengatakan terdapat tiga inovasi teknologi yang dibutuhkan agritech saat ini, yakni internet untuk segala (internet of things/IoT), AI, dan big data analytics.
“Ketiga teknologi ini memberikan kontribusi lebih pada sisi mengembangkan agrikulturnya itu sendiri agar terintegrasi untuk melihat kondisi existing, kebutuhan pasar, dan apa yang dapat dilakukan dalam memenuhi kebutuhan pasar yang berbeda,” ujarnya.
Bendahara Asosiasi Modal Ventura Seluruh Indonesia (Amvesindo) Edward Ismawan Chamdani mengatakan peran AI dan big data sangat penting terkait dengan konsistensi kualitas, optimasi yield, skalabilitas berbanding lurus dengan kualitas, serta mulus dan cepatnya sertifikasi dalam skala besar.(Oleh - HR1)
Cukai Plastik Siap Jadi Sumber Penerimaan Baru
Pemerintah tengah berupaya menggenjot penerimaan negara mulai tahun depan. Salah satunya adalah mulai menerapkan cukai terhadap plastik awal 2022.
Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, rencana tersebut sebagai upaya untuk mengejar penerimaan perpajakan di periode 2022. Maklum, dalam rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022 target penerimaan perpajakan berada di kisaran Rp 1.499,3 triliun hingga Rp 1.528,7 triliun. Angka tersebut naik sebesar 8,37% hingga 8,42% dari proyeksi penerimaan perpajakan 2021. Untuk itu nantinya barang kena cukai tidak lagi terbatas pada hasil tembakau seperti rokok, minuman mengandung etil alkohol, dan etil alkohol, tapi juga plastik. Salah satu latar belakangnya yakni dampak penggunaan plastik terhadap lingkungan.
Namun kabar baiknya akhir tahun lalu Kementerian Keuangan menginformasikan cukai dikenakan atas seluruh produk plastik. Usulan itu berkembang sebab, tadinya hanya mengenakan cukai terhadap kantong plastik dengan tarif cukai Rp 200 per lembar. Rencana ini pun diklaim Kemkeu sudah disepakati oleh Komisi XI DPR RI.
Ekonom Makro Ekonomi dan Pasar Keuangan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia (UI) Teuku Riefky menilai pengenaan cukai terhadap seluruh produk plastik sudah tepat. Sebab, jika hanya untuk kantong plastik saja, maka akan makan banyak waktu untuk ekstensifikasi cukai atas produk plastik lainnya. "Proses negosiasinya semakin panjang, karena nanti harus koordinasi lagi dengan Kementerian/Lembaga terkait, dan persetujuan DPR RI. Kegaduhan mungkin ada sekali saja tapi nanti juga akan berlalu, " katanya kepada KONTAN, Minggu (9/5). Apabila cukai dikenakan terhadap produk plastik maka ia proyeksi konsumsi masyarakat cenderung tidak akan terpengaruh besar. Sebab, plastik bukan produk elastis. Sudah begitu jika nantinya harga plastik jadi lebih mahal tetap akan diburu masyarakat karena merupakan produk penunjang untuk makan dan minum. Maka ia menyarankan pengenaan tarif cukai plastik diterapkan berbeda-beda tergantung dari jenis plastik dan dampaknya terhadap lingkungan. Cara ini juga berguna agar pemerintah bisa mengkaji efektifitas cukai terhadap konsumsi masyarakat di masing-masing segmen produk plastik.
Sebaliknya, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono menyebut pengenaan cukai plastik akan menurunkan profitabilitas industri. Pengenaan cukai plastik juga bisa menggerus penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari perusahaan kantong plastik. Efek lebih lanjutnya adalah bisa berdampak terhadap pemutusan hubungan kerja (PHK), terlebih tahun depan ekonomi masih dalam tahap pemulihan. Menurutnya, kebijakan cukai lebih baik dikenakan kepada produk impor bahan baku plastik atau produk plastik. Cara ini diyakini dapat dengan mudah menggenjot penerimaan cukai tanpa mengganggu perekonomian industri kantong plastik. "Impor mereka cukup besar, yang bahan baku mencapai sekitar 2 juta ton per tahun, sementara yang barang jadi mencapai 1 juta ton per tahun, " katanya.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









