Ekonomi
( 40554 )Pemerintah Harus Atasi Kelangkaan Kointaner dan Bahan Baku
Pelaku usaha dan industri nasional masih menghadapi berbagai persoalan dan hambatan untuk meningkatkan daya saing dan pasar produk-produk unggulan Indonesia. Persoalan dan hambatan itu, di antaranya serbuan produk-produk impor sejenis, kesulitan bahan baku, serta kelangkaan kontainer dan tingginya biaya pengapalan.Ketua Presidum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur, Selasa (21/9/2021), mengatakan, ekspor mebel dan kerajinan memang tengah menguat di masa pandemi Covid-19. Namun, impor produk-produk tersebut juga masih tumbuh HIMKI mencatat, ekspor mebel dan kerajinan pada Januari-Juni 2021 senilai 1,69 miliar dollar AS atau tumbuh 36,1 persen dibandingkan dengan periode sama 2020. Sementara total nilai impor mebel dan kerajinan sepanjang semester I-2021 sebesar 572,894 juta dollar AS atau tumbuh 0,6 persen.
Banyak Pengusaha Mengeluh Karena Dikejar-kejar Urusan Pajak
Sejumlah pebisnis ramai-ramai mengeluhkan masalah pemeriksaan pajak di tengah pandemi Covid-19. Ketua Umum Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Suryani Motik menyebut urusan pajak yang sebenarnya sudah selesai saat program tax amnesty pada 2017, bahkan masih tetap dipantau.
Suryani tidak merinci masalah pajak yang dialaminya. Tapi, Ia hanya meminta agar pemerintah memberikan relaksasi terkait persoalan ini. Selain Suryani, sebagian juga mengeluhkan pemeriksaan pajak kepada pengusaha menengah ke bawah.
Bahkan, pemeriksaan untuk urusan pajak yang sudah lewat, 2016 sampai 2018. "Kayaknya dikejar sampai ke ubun-ubun, mbok dikasih waktu dulu untuk bernapas, baru nanti diperiksa lagi," kata Romi, pengusaha dari Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Lampung.
Modal Asing Masuk USD 1,5 Miliar , Bikin Rupiah Menguat
Bank Indonesia (BI) mencatat aliran masuk modal asing terus berlanjut dengan investasi portofolio yang mencatatkan net inflows sebesar 1,5 miliar dolar AS pada periode Juli hingga 17 September 2021. Itu sebagai salah satu faktor mengapa nilai tukar rupiah cenderung menguat belakangan ini.
Mata uang Garuda menguat di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang belum sepenuhnya mereda, seperti isu kegagalan bayar korporasi di pasar keuangan Tiongkok, rencana pengurangan stimulus atau tapering oleh Bank Sentral AS, The Fed, serta peningkatan kasus COVID-19.
Perry menyebutkan nilai tukar rupiah pada 20 September 2021 menguat 0,94 persen secara rerata dan 0,18 persen secara point to point dibandingkan dengan level Agustus 2021. Dengan perkembangan tersebut, ia menjelaskan rupiah sampai dengan 20 September 2021 masih mencatat depresiasi sebesar 1,35 persen secara tahunan (year to date/ytd) dibandingkan dengan level akhir 2020.
Hingga Agustus, PTPN X Hasilkan 8.977 Ton Tembakau
Sampai dengan periode akhir Agustus 2021 ini, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X telah memproduksi 8.977 ton daun tembakau hijau, atau mencapai 77 persen dari target tahun 2021. Sedangkan untuk kualitas NW tercapai sebesar 24 persen dengan rendemen 6,87 persen.
Peningkatan ini tentunya disebabkan perbaikan yang dilakukan, baik di sisi on farm maupun off farm. Untuk mencapai kualitas yang diinginkan, PTPN X fokus mengawal setiap proses, mulai dari persiapan lahan, pemeliharaan, hingga proses curing.
Tangkap Ikan Berbasis Kuota
Pemerintah akan mengeluarkan aturan baru mengenai penangkapan ikan di wilayah laut Indonesia yang disebut penangkapan terukur. Aturan ini akan menetapkan kuota ikan yang ditangkap hingga besaran pungutannya.
Pada industri, diatur bahwa persentase kuota penangkapan ikan akan lebih besar dan diberikan dengan metode lelang terbuka kepada 4-5 investor per zona penangkapan. Dasar ikatan kontrak selama 20 tahun antara KKP dan investor. Trenggono bilang, investor tersebut terbuka dari dalam negeri maupun luar negeri.
Nantinya akan ada 4 zona penangkapan ikan untuk industri. Dia bilang, dengan adanya 4 zona fishing industry, diharapkan setidaknya akan ada empat perusahaan dalam negeri dengan kualitas bagus yang bergabung.
Banyak Pabrik Gula Berusia Ratusan Tahun, Revitalisasinya Butuh Rp 20 Triliun
Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III Mohammad Abdul Ghani mengatakan industri gula nasional membutuhkan investasi lebih dari Rp 20 triliun untuk membangun SugarCo. SugarCo merupakan induk holding yang menggabungkan 35 pabrik gula yang ada di Indonesia.
Menurut Ghani, investasi tersebut akan dipakai untuk membangun ulang pabrik-pabrik gula menggantikan bangunan yang eksisting saat ini. Musababnya, pabrik gula di sejumlah tempat telah memenuhi kapasitas maksimal produksi dan tidak mungkin direvitalisasi. Pabrik pun banyak yang telah berusia ratusan tahun.
Dengan pembangunan baru, produksi gula dalam negeri akan meningkat sehingga swasembada gula konsumsi terpenuhi. Ghani mengatakan PTPN telah melakukan divestasi saham untuk mencukupi pendanaan tersebut. Adapun porsi saham senilai 49 persen akan ditawarkan kepada investor dan kini memasuki proses valuasi aset.
Kongsi Pengelola di Terminal Patimban
Manajemen PT Pelabuhan Patimban Internasional (PPI) akan mengembangkan bisnis terminal kendaraan dan kontainer ekspor di Subang, Jawa Barat, bersama Toyota Tsusho Corporation. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan kemitraan dengan entitas global asal Jepang itu akan dimatangkan hingga akhir tahun ini. Ketua Umum Indonesian National Shipowners Association (INSA), Carmelita Hartoto, mengatakan strategi kemitraan dan undangan ke calon konsumen dari Jepang menjadi hak operator Pelabuhan Patimban. Pelaku bisnis kini hanya menunggu tawaran layanan dan fasilitas terbaik yang bisa disediakan konsorsium baru itu. "Dari awal, Patimban dibangun untuk mendukung manufaktur di Jawa Barat, khususnya otomotif," kata Koordinator Wakil Ketua Umum IV Bidang Peningkatan Kualitas Manusia, Ristek, dan Inovasi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia tersebut. Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia, Mahendra Rianto, berharap pembentukan konsorsium tersebut tak melemahkan posisi Indonesia dalam pengelolaan Pelabuhan Patimban. Pemerintah Indonesia, kata dia, seharusnya membuka peluang bisnis baru bagi pengusaha lokal.
Gapkindo Sumut Prediksi Harga Karet Masih Terus Membaik
Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatera Utara memprediksi harga karet SIR20 untuk ekspor masih akan bertahan baik/tinggi hingga akhir tahun 2021. Harga karet ekspor diprediksi terus bertahan baik/tinggi hingga akhir tahun 2021 yakni di kisaran 1,70 dolar AS.
Harga di Juli masih sebesar 1,63 dolar AS per kg, kemudian naik di Agustus menjadi 1,73 dolar AS dan di September di kisaran 1,71 dolar AS per kg.
Kinerja Moncer Bank Jumbo
Perdagangan saham emiten perbankan di Bursa Efek Indonesia (BEI) diproyeksikan masih bergerak positif hingga akhir tahun. Kepala Riset Samuel Sekuritas, Suria Dharma, mengatakan perkiraan ini didasari kinerja positif sejumlah emiten perbankan hingga pengujung semester pertama 2021. Ia mengatakan kinerja emiten sektor perbankan masih berpotensi terus naik sampai akhir tahun ini. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penyaluran kredit perbankan tumbuh 0,05 persen secara tahunan pada Juli 2021. Kredit perbankan pada periode tersebut didorong oleh kredit konsumsi yang tumbuh 2,4 persen serta kredit usaha mikro, kecil, dan menengah yang naik 1,93 persen. Ekonom dan peneliti dari Center of Reform on Economics, Yusuf Rendy Manilet, menilai perbaikan kinerja perbankan akan menarik minat investor untuk memegang portofolio bank yang mencatatkan perbaikan kinerja. Apalagi Bank Indonesia juga memprediksi tingkat penyaluran kredit pada tahun ini akan meningkat dibanding pada tahun lalu, seiring dengan pelonggaran restriksi pergerakan masyarakat.
Masih Tersendat di Belahan Barat
Operator kapal barang atau kargo mengoptimalkan pengiriman peti kemas ke Eropa dan Amerika selama masa pandemi Covid-19, sehingga peti kemas di Asia langka. Direktur Utama PT Samudera Indonesia Tbk, Bani Maulana Mulia, mengatakan operator harus mengejar permintaan jasa pengiriman yang sedang melonjak drastis di rute terpadat, dari Cina menuju negara-negara Barat tersebut. “Semua tersedot ke rute yang lebih menguntungkan,” kata Bani, kemarin. Pandemi Covid-19 kemudian memicu pembatasan akses antarnegara. Penurunan kinerja berbagai pelabuhan pangkal atau hub internasional membuat kontainer kosong menumpuk. Untuk bertahan, kata Bani, operator kapal kontainer harus mengurangi muatan agar tidak menghamburkan biaya operasional. “Susah mencari kapal yang menganggur untuk menambah kapasitas karena semuanya sudah penuh." Adapun Direktur Eksekutif National Maritime Institute, Siswanto Rusdi, khawatir akan potensi lonjakan permintaan kargo ekspor dari Indonesia menjelang akhir tahun ini. Tanpa layanan kontainer yang memadai, para pelaku usaha akan melewatkan periode padat atau peak season. “Sangat disayangkan bila bisnisnya terganggu. Padahal permintaan barang dari Eropa pasti tinggi ketika Natal.”
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









