;
Kategori

Ekonomi

( 40460 )

Ekonomi Digital, 30 Juta UMKM Segera Adopsi Solusi Digital

18 Sep 2021

Kementerian Komunikasi dan Informatika menargetkan setidaknya 30 juta pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) segera mengadopsi solusi digital pada tahun ini. Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Mira Tayyiba mengatakan adopsi digital oleh pelaku UMKM menjadi penting ketika pemerintah mendorong penyediaan infrastruktur. Kemenkominfo ingin agar infrastruktur yang telah terbangun, memberi dampak positif bagi masyarakat dan perekonomian. Dia mengatakan dari 60 juta UMKM, baru sekitar 15 juta UMKM yang terhubung dengan digital, Kemenkominfo berharap hingga akhir tahun sekitar 30 juta UMKM terhubung dengan digital. Itu tidak bisa dikerjakan sendiri, Kemenkominfo pun menggandeng berbagai pihak untuk mewujudkan target tersebut. 

Sementara itu, Dirjen Aptika, Samuel A. Pangerapan  mengatakan Kemenkominfo membutuhkan sekitar 10 perusahaan yang siap membantu  mempercepat transformasi digital di segmen UMKM, "Literasi digital dan transformasi digital tidak bisa berjalan sendiri, kita butuh 10 (perusahaan) seperti Gojek lagi." Kata Samuel.

Direktur Kebijakan Publik dan Hubungan Pemerintah Gojek, Shinto Nugroho mengatakan kerjasama strategis yang terjalin antara Gojek dengan Kemenkominfo juga akan meningkatkan tingkat kesadaran dan literasi digital UMKM di Gojek. Hingga saat ini, terdapat sekitar 750.000 UMKM yang tergabung dengan ekosistem Gojek. Selain itu, kata Shinto, perusahaan akan mendorong UMKM binaan Kemenkominfo untuk bertransformasi digital. "Makin kencang digitalisasi UMKM, makin penetrasi digital baik, maka ekonomi digital makin maju dan tinggi" katanya. 

Koordinator Pusat Inovasi dan Inkubator Bisnis Universitas Negeri Jakarta, Dianta Sebayang menyebutkan dua hal mengapa start-up Logistik Indonesia jadi yang paling kuat di ASEAN.  Pertama, Indonesia memiliki tantangan logistik yang berat dari sisi geografis. Direktur Center of Economic and Law Studies Bhima Yudsitira mengatakan, makin berkembangnya situs dagang  elektronik dan transaksi digital akan mendorong perubahan antara model logistik yang semula sifatnya untuk industri atau korporasi besar.

Akhir 2021, Indonesia Miliki 165 Juta Konsumen Digital

18 Sep 2021

Facebook dan Bain & Company, menerbitkan laporan bertajuk SYNC Southeast Asia untuk mendalami tren ekonomi digital dan e-commerce di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Pada akhir 2021, Indonesia disebut akan punya 165 juta konsumen digital, bertumbuh 14,58% dibandingkan 144 juta akhir tahun lalu. Menurut Facebook, Bain & Company, pertumbuhan konsumen digital di Asia Tenggara diperkirakan akan mencapai 12,9% dibandingkan pada akhir 2020 sekitar 310 juta. Artinya, hampir 80% konsumen Asia Tenggara akan beralih ke ranah digital pada akhir tahun ini. Sementara itu, ada 165 juga konsumen digital di Indonesia pada akhir tahun ini, naik 14,58% dibandingkan 144 juta pada akhir tahun.

Country Director Facebook Indonesia Pieter Lydian mengatakan, melihat perjalanan belanja online konsumen di Indonesia dan gaya hidup digital yang semakin berkembang, sangatlah penting bagi pengelola platform dan pemilik merek untuk mengatur kembali strategi guna berinteraksi dengan konsumen. "Langkah ini akan menghadirkan peluang bisnis untuk membangun merek dan terhubung dengan konsumen. Di Facebook, kami menghadirkan solusi bagi bisnis untuk membantu orang dengan mudah menemukan dan membeli hal-hal yang disukai," ujar Pieter, dalam pernyataannya, Kamis (16/9). Selain itu, mereka membeli lebih banyak kategori secara online. Responden yang disurvei mengaku kini membeli secara online dengan rata-rata 8,8 katagori, 70% lebih tinggi dari rata-rata 5,1 yang terlihat pada 2020.

Di sisi lain, Facebook, Bain & Company juga memaparkan bahwa gaya hidup home-centric semakin mengakar di Indonesia. Laporan ini memprediksi bahwa sekitar 85% waktu yang dihabiskan untuk makan di rumah dari jasa antar makan tetap berlanjut pasca pandemi Covid-19. Media sosial juga diakui tetap menjadi saluran teratas untuk fase pencarian produk di Indonesia, terutama untuk produk di Indonesia, terutama untuk video di media sosial (19%). Facebook juga berharap dapat berperan positif dalam mendukung bisnis di Indonesia untuk bereksperimen dengan fitur jual- beli seperti shops.

Laporan menunjukkan bahwa disrupsi lebih terlihat pada sektor kesehatan dan pendidikan. Karena, kedua sektor tersebut berkembang pesat untuk beradaptasi dengan kebiasaan konsumsi konsumen di rumah, seperti kegiatan belajar-mengajar dan telemedice. "Nilai transaksi bruto (GMV) e-commerce tumbuh lebih dari 60% setiap tahun dan harapannya akan lebih banyak ruang untuk pertumbuhan ritel digital seiring dengan semakin banyak konsumen yang berbelanja online," pungkas Partner dari Bain & Company Edi Widjaya. (yetede)

Bappenas: Baru 22,4% Korporasi Jalankan Beneficial Ownership

18 Sep 2021

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bapennas) menyatakan, hingga Agustus 2021 baru 22,36% perusahaan di Indonesia yang telah menerapkan transparansi soal pemilik manfaat (beneficial ownership/BO) dari perusahaan. Penerapan BO ini masih belum dipahami dan menjadi tantangan bukan hanya di Indonesia, tetapi juga diseluruh dunia. "Sayangnya baru 22,36% korporasi (di Indonesia) yang melakukan transparansi data (beneficial ownership), ini karena terdapat perbedaan pemahaman," ujar Menteri PPN/Kepala  Bappenas Suharso Monoarfa dalam Webinar Stranas PK Transparansi Benefial Ownership, Bangun Iklim Usaha Yang Transparansi pada Kamis (16/9). Menurut dia, pemerintah sudah memberikan dukungan regulasi tetapi masih terjadi kendali saat pelaksanaan di lapangan. Selain dari pemerintah, implementasi keterbukaan BO ini juga perlu dukungan pemangku kepentingan lain termasuk perusahaan agar ikut aktif dalam menjalankan kebijakan beneficial ownership.

Sementara itu, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Arsjad Rasjid mengatakan, pihaknya sangat mendukung kalangan pengusaha untuk  menerapkan tranparansi  beneficial ownership. Dia mengatakan, ada sejumlah keuntungan bagi korporasi yang menjalankan kebijakan tersebut. "Kadin Indonesia sebagai rumah dari pengusaha mikro, kecil, menengah sampai besar melihat, beneficial ownership ini adalah yang sangat penting bagi komitmen kita sebagai bangsa," ujar Arsjad pada kesempatan yang sama. Sejumlah keuntungan itu adalah pertama, langkah itu akan menjadi bukti yang menunjukkan komitmen transparan dari korporasi. Menurut Arsjad korporasi yang mengungkapkan beneficial ownership akan dipandang propemberantasan terorisme. Selain itu, ada suatu nilai positif yang akan didapatkan oleh perusahaan, contohnya yield yang lebih menggantungkan saat menerbitkan obligasi. "Ini sangat korporasi apalagi kalau kita bicara soal investor," ucap Arsjad. (yetede)

Blibli Akuisisi Supra Boga Lestari

18 Sep 2021

Perusahaan e-commerce milik Group Djarum, PT Global Digital Niaga (Blibli.com) menjadi pengendali baru PT Supra Boga Lestari Tbk (RANC), setelah mengakusisi 51% saham emitan yang mengoperasikan supermarket Ranch Market, Farmest Market, The Gourmet by Ranch Market, dan Day2Day by Farmers Market tersebut. Adapun BliBli mengakuisisi kepemilikan dari tujuh entitas  pemegang saham Supra Boga, yakni PT Wijaya Sumber Sejahtera, PT Prima Rasa Inti, PT Gunaprima Karyaperkasa, PT Eka Putra Mandiri, Kusumodjojo, Suhamo Kusumodjojo, dan Herman Siswanto. "Tujuan rencana pengambilalihan adalah untuk pengembangan usaha dan perluasan ekosistem perseroan sebagai salah satu perusahaan e-commerce terkemuka di Indonesia." ungkap management dalam keterangan resmi, Kamis (16/9).

Rencana pengambilalihan ditargetkan selesai selambat-lambatnya 40 hari kalender sejak penandatanganan perjanjian  atau tanggal lainnya sebagaimana telah disepakati  oleh para pihak. Sampai dengan tanggal pengumuman negosiasi ini, perseroan tidak memiliki,  baik langsung maupun tidak langsung, saham-saham yang telah diterbitkan oleh Supra Boga. Secara terpisah, CEO&Co-founder Blibli Kusumo Martanto mengatakan, akuisisi Supra Boga Lestari merupakan bentuk komitmen Blibli dalam mempercepat pengembangan dan perluasan ekosistem bisnis sebagai salah satu perusahaan e-commerce di Indonesia. 

"Di Blibli, formula terpenting menjalankan bisnis adalah kualitas layanan, inovasi, kolaborasi. Diperkuat dengan ekosistem teknologi bisnis menyeluruh  yang mencakup B2C, B2B, B2B2C, dan B2G, Blibli terus fokus membangun  kepercayaan, memberikan pengalaman ritel terbaik, memastikan kebutuhan pelanggan, memberdayakan mitra bisnis, dan menciptakan inovasi solusi nyata," katanya kepada Investor Daily. Disisi lain, Blibli.com dikabarkan akan melakukan penawaran umum perdana atau initial public of fering saham pada awal tahun 2022. Perusahaan akan bekerja sama dengan Credit Suisse Group AG dan Morgan Stanley untuk menjajaki kemungkinan penjualan saham ke publik tersebut. (yetede)

Pupuk Kinerja Sektor Pertanian

18 Sep 2021

Sektor pertanian digadang-gadang menjadi salah satu bantalan penopang ekonomi nasional yang tengah digoyang pandemi Covid-19. Harapan ini muncul seiring dengan potensi-potensi yang ditunjukkan sektor ini. Wakil Presiden RI, Ma'ruf Amin pada acara Penganugrahan Bidang Pertanian Tahun 2021 yang digelar di istana Wapres, Senin (13/9) mengatakan pertanian mampu tumbuh ditengah kontraksi yang terjadi di sektor-sektor lain. Bahkan hal itu dicapai dalam kondisi menantang  lantaran adanya resiko krisis pangan global akibat pandemi.

Wapres berharap pembangunan sektor pertanian dapat terus dilakukan melalui reformasi pertanian, intensifikasi produksi, dan peningkatan akses pasar. Strategi itu tentu tidak gampang dilakukan lantaran dinamika yang terjadi saat ini. Ada beragam tantangan yang dialami, khususnya pandemi yang sulit ditebak kapan akan berakhir. Pada Juli 2021, pertanian juga menjadi lini nonmigas dengan kinerja ekspor terburuk secara bulanan yaitu -12,08%. Kita tentu berharap perlambatan ekspor pertanian yang terjadi pada Januari-Juli hanya sementara saja. Hal tersebut sebagai konsekuensi  dari dinamika terkini seperti pandemi dan kelangkaan kapal maupun container akibat adanya 'perang dagang' antara AS dan China maupun ketidakmerataan pemulihan ekonomi antar negara. 

Melalui program Gerakan Tiga Kali Ekspor (Gratieks), pengusaha dan eksportir didorong melipat gandakan lalu lintas ekspor pertanian tiga kali lipat. Adapun dari sektor finansial, OJK juga memacu penyaluran Kredit Usaha Rakyat oleh perbankan ke sektor  pertanian. Salah satu cara yakni dengan memperbanyak kluster dan ekosistem dari hulu ke hilir yang terinterigasi secara digital. Harian ini berharap beragam strategi yang dilakukan dapat membuahkan hasil yang optimal sehingga akan mengerek kinerja dan kemanfaatan sektor pertanian yang tercermin dari kesejahteraan petani, pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat, serta peningkatan ekspor. (yetede)

Menuju Raja Kawasan Ekonomi Digital

18 Sep 2021

Pergeseran perilaku konsumen dalam mengakses layanan digital mengharuskan perubahan dalam lanskap bisnis bank. Dengan demikian, digitalisasi di sektor ini diyakini akan membuat bank menjadi lebih efisien. Sejumlah nasabah saat ini tidak perlu lagi membawa dompet, kartu ATM, atau buku tabungan untuk menikmati layanan perbankan. Cukup dengan membawa gawai serta memastikan adanya koneksi internet, produk perbankan bisa diakses dalam genggaman. Alhasil, masyarakat pun semakin jarang ke kantor cabang. Nasabah menjadi lebih menghemat waktu dan tidak terpaku pada jam buka kantor cabang. Pergeseran ini yang membuat lanskap  bisnis bank diproyeksikan bermuara menuju digital banking.

Selain itu, kehadiran bank digital ini membuat verifikasi nasabah atau calon debitur dapat dilakukan lewat video call. Bunga kredit dan bunga deposito juga dibuat kompetitif karena rasio antara total beban operasional dan total pendapatan operasional (BOPO) dapat ditekan. Dan, bagi OJK, kehadiran bank digital sangat diharapkan membuat ekonomi digital nasional tumbuh dan dapat menjadi  yang terbesar dikawasan Asia Tenggara pada 2025.  Hal inilah yang dibidik oleh COO Digital Business PT Bank MNC Internasional Tbk. Teddy Tee, dia mengatakan MotionBanking akan fokus menyalurkan kredit dengan menggandeng sejumlah pemain finansial teknologi atau fintek.

Ekonom senior Institute for Development on Economics and Finance (Inder) Aviliani menjelaskan kehadiran ekosistem yang kuat memiliki sejumlah pengaruh terhadap keberhasilan bisnis bank digital. Perluasan ekosistem dilakukan baik melalui kemitraan strategis maupun akuisisi. Lewat strategi ini, bank digital akan mendapatkan basis data secara luas, yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan bisnis, seperti penyaluran kredit dan layanan lainnya. Dengan demikian, teknologi dan kesiapan, suatu bank perlu berjalan seimbang agar infrastruktur bisa melayani pembayaran secara digital. Pemilihan teknologi yang tepat akan menjadi kunci perubahan di dalam lanskap bisnis bank supaya lebih efisien. (yetede)

Berbagi Risiko Menambal Utang

17 Sep 2021

Pemerintah menyusun skenario perjanjian berbagi beban atau burden-sharing dengan Bank Indonesia. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan target penerbitan surat berharga negara (SBN), termasuk surat utang negara (SUN), di pasar perdana akan menurun. Menurut Sri, skema burden-sharing mampu menurunkan belanja bunga utang menjadi 2,1-2,25 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2021-2025. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo sebelumnya menyatakan kebijakan burden-sharing pada 2022 akan mengurangi beban negara sebesar Rp 17,36 triliun. Sumbernya adalah beban bunga SBN yang lebih murah, yaitu Rp 13,4 triliun serta jaminan untuk menanggung beban bunga dari Bank Indonesia sebesar Rp 3,62 triliun. 

Economic research analyst dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Ahmad Nasrudin, menuturkan penerapan skema burden-sharing akan berdampak positif bagi pasar surat utang negara. Dengan kebutuhan pendanaan APBN yang tinggi di tengah defisit, pemerintah pasti akan menggelontorkan obligasi. "Dalam skema burden-sharing kali ini, BI siap menjadi pembeli, jadi harga di pasar tidak terpengaruh," ujarnya. 

(Oleh - HR1)

Agar Bank Kecil Tak Tertinggal

17 Sep 2021

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong bank kecil untuk melakukan transformasi digital. Direktur Eksekutif Penelitian dan Pengaturan Perbankan OJK, Anung Herlianto, mengatakan strategi yang bisa dilakukan adalah konsolidasi atau menggabungkan bank-bank tersebut menjadi bank digital. “Bukan untuk memusnahkan bank kecil, yang kami inginkan adalah dengan cara apa pun bank-bank kecil dapat bertahan,” kata dia, kemarin. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Heru Kristiyana, mengatakan pembentukan bank digital dapat dilakukan dengan dua opsi, yaitu pengembangan bank berbadan hukum Indonesia (BHI) menjadi bank digital atau transformasi dari bank umum menjadi bank digital. Bila menempuh opsi pertama, OJK mempersyaratkan modal disetor minimal sebesar Rp 10 triliun. Menurut Andry Asmoro, Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, bank digital harus menyiapkan infrastruktur teknologi dan telekomunikasi hingga karyawan yang tanggap digital. “Dibutuhkan model bisnis yang sesuai juga yang mampu memenuhi kebutuhan customer dan meningkatkan customer experience.” 

(Oleh - HR1) 

Batu Loncatan Pemain Baru Bisnis Aplikasi

17 Sep 2021

Peluncuran AirAsia Ride, layanan pemesanan kendaraan online (ride hailing) milik grup AirAsia, bakal memanaskan persaingan bisnis digital di Asia Tenggara. Sebab, selain menyediakan layanan ride hailing, AirAsia bermain di bisnis super-app atau ekosistem aplikasi digital yang menyediakan banyak layanan, dari logistik, sistem pembayaran, e-commerce, hingga pesan-antar makanan (food delivery) yang sedang booming pada masa pandemi Covid-19. Direktur Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira Adhinegara, menyebutkan pertumbuhan segmen pesan-antar makanan tak akan terbendung karena perubahan perilaku masyarakat, dari makan di tempat (dine in) menjadi beli bungkus (take away). Karena itu, kata dia, pemain baru di bisnis super-app harus bisa menguasai segmen layanan ini. Selain food delivery, lini bisnis super-app yang harus diperkuat adalah segmen e-commerce dan sistem pembayaran. "Jika AirAsia mau berkompetisi, harus bisa memastikan di ekosistem aplikasinya ada layanan e-commerce atau dompet digital," ucapnya. 

Grup AirAsia memiliki fitur pembayaran digital bernama BigPay. Produk yang juga melayani pinjaman ini bersifat multikurs karena perusahaan tersebut akan beroperasi di banyak negara. Di Indonesia, BigPay akan menjadi pesaing penyedia dompet digital lain, seperti GoPay dan OVO yang masing-masing terintegrasi dengan Gojek dan Grab. Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyarankan AirAsia menumbuhkan pasar pengguna aplikasi dari segmen yang belum dioptimalkan super-app lain, seperti akomodasi. Sebagai maskapai penerbangan, kata dia, AirAsia lebih unggul menyiapkan jasa pemesanan hotel yang biasanya sepaket dengan pemesanan tiket penerbangan. "Celah ini menjadi modal awal menuju pasar layanan lain," kata dia.

Berburu Dana Panas Bumi di Lantai Bursa

17 Sep 2021

Kementerian Badan Usaha Milik Negara masih mengejar target penawaran saham dua anak usaha PT Pertamina (Persero) ke publik atau IPO pada tahun ini. Keduanya adalah PT Pertamina Geothermal Energy dan PT Pertamina International Shipping. Wakil Menteri BUMN Pahala Mansyuri mengatakan persiapan menuju IPO kedua perusahaan masih terus berjalan. Untuk Pertamina Geothermal, ucap dia, rencana melantai di bursa masih harus menunggu pembentukan induk usaha BUMN panas bumi yang diikuti oleh PT PLN (Persero) dan PT Geo Dipa Energi (Persero). Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga, sebelumnya menuturkan integrasi aset tiga perusahaan ini dilakukan untuk mengejar target bauran energi baru dan terbarukan sebesar 23 persen dari total energi nasional pada 2025. "Pembangkit listrik tenaga panas bumi ini kekuatan besar, jadi harus disatukan," katanya. Cadangan potensi energi panas bumi di dalam negeri mencapai 15.128 megawatt, tapi pemanfaatannya belum optimal karena terkendala dana. Menurut dia, IPO merupakan salah satu jalan keluarnya. 

Head of Center of Food, Energy, and Sustainable Development Institute for Development of Economics and Finance, Abra Tallatov, menuturkan rencana IPO kedua subholding Pertamina perlu diperjelas motifnya. Jika hanya untuk mencari pendanaan, IPO memang jalan pintas. Tapi, dalam konteks pengembangan panas bumi, dia menyatakan tak melihat urgensinya. Dia juga menyoroti risiko IPO Pertamina Shipping. Setelah subholding pelayaran terbentuk, Pertamina akan mengalihkan kapal, terminal, serta tangki penyimpanan bahan bakar minyak dan elpiji kepada Pertamina Shipping.