Ekonomi
( 40460 )Perusahaan Rintisan, Indonesia Bakal Punya 25 Unikorn
Managing Partner Ideosource VC & Gayo Capital Edward Ismawan Wihardja mengatakan Indonesia kini memiliki delapan perusahaan rintisan dengan valuasi diatas US$ 1miliar sehingga butuh 17 perusahaan rintisan lagi. menurutnya, peluang Indonesia memiliki 25 unikorn terbuka lebar, terlihat perkembangan sektor teknologi finansial (tekfin) khususnya yang bergerak di bidang pembayaran, peminjaman, dan management keuangan. "Perkiraan saya 3-5 tahun kedepan seharusnya bisa memiliki 25 unikorn, dimana prediksi pangsa pasar Indonesia untuk pertumbuhan ekosistem internet cukup pesat sampai 2025," katanya, Senin (20/9)
Berdasarkan startup Report 2020, terdapat 14 perusahaan fintek yang memiliki gelar centaur awal atau perusahaan dengan valuasi berkisar US$100 juta-US$500 juta. Perusahaan tersebut antara lain Ajaib, Amartha, Awan Tunai, CekAJa, Cermati, Koinworks, Fazzfinancial, Investree, Modalku, Oyi, Xendit, Stockbit, LingAja, dan Dana. Khusus untuk Xendit, belum lama mnegantongi pendanaan senilai Rp 2triliun yang membuatnya melangkahi Kredivo dan AkuLaku sebagai Centaur tahap lanjut atau perusahaan dengan valuasi diatas US$501-US$999 juta.
Sementara itu, Ketua Umum Indonesian Digital Empowering Community (IDIEC) M Tesar Sandikaputra menyarankan perusahaan modal ventura BUMN tetap mempertimbangkan profitabilitas startup calon unicorn sebelum memutuskan untuk berinvestasi. Perusahaan yang telah profit memiliki bukti bahwa mereka menguntungkan, sedangkan perusahaan calon unikorn belum tentu. Dalam kesempatan terpisah, Koordinator Pusat Inovasi dan Inkubator Bisnis Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Dianta Sebayang juga menilai langkah Kementerian BUMN mendorong perusahaan modal Ventura BUMN untuk investasi di calon unikorn dalam negeri sudah tepat. (yetede)
Kesepakatan Pajak Global, Penerimaan Negara Rentan Tergerus
Pemerintah perlu mewaspadai resiko tergerusnya penerimaan negara dalam implementasi Pilar 1: Approch yang disepakati oleh komunitas global. Alasannya, kesepakatan itu hanya menguntungkan negara maju. Internasional Monetary Fund (IMF) dalam digitalization and Taxation in Asia mencatat, negara berkembang seperti Indonesia beresiko kehilangan penerimaan sebesar 0,01% dari produk domestik bruto (PDB) jika mengimplementasikan Pilar 1. Laporan ini menuliskan, jika Amount A dalam proposal Pilar 1 hanya berlaku pada korporasi multinasional dengan pendapatan global diatas 20 miliar uero, profitabilitas diatas 10%, dan residual profit yang direlokasikan kepada yuridiksi pasar hanya sebesar 20%, tambahan penerimaan yang dinikmati oleh Indonesiapun tidak signifikan, atau justru memangkas potensi penerimaan.
"Negara berkembang seperti Indonesia, India, dan Malaysia bisa kehilangan penerimaan besar 0,01% dari PDB atau pendapatan tambahan penerimaan yang cenderung minim," tulis IMF dalam laporan yang dikutip Bisnis, Senin (20/9). IMF mencatat negara yang diuntungkan adalah yurikdiksi dengan penghasilan cukup tinggi diantaranya, Australia, Jepang, Korea Selatan, dan China. Sekedar informasi, arah proposal Pilar 1 meluas pascapertemuan negara-negara G7 pada Juni 2021. Sebelumnya, Pilar 1 hanya terbatas pada sektor ekonomi digital seperti Automated Digital Services (ADS) dan Consumer Facing Businesses. Di sisi lain pemerintah telah memiliki langkah antisipasi jika konsensus global berlarut atau mengancam penerimaan Indonesia, yakni melalui implementasi pajak transaksi elektronik (PTE) yang diakomodasi dalam UU No.2/2020.
Meski demikian, tedapat beberapa korporasi multinasional yang memiliki penjualan signifikan di Indonesia, tetapi tidak mencakup dalam Pilar 1 akibat tidak terpenuhi treshold pendapatan global yang disyaratkan itu. Menanggapi hal itu, pengajar Ilmu Administrasi Fiskal Universitas Indonesia Prianto Budi Saptono menyarankan kepada pemerintah untuk mengidentifikasi secara jelas dan terperinci terkait dengan objek PTE, sehingga memiliki legalitas yang kuat. Direktur Eksekutif MUC Tax Reseach Institute Wahyu Nuryanto mengusulkan PMSE harus masuk kedalam katagori instansi, lembaga, asosiasi, dan pihak lain yang berperan sebagai pemasok data bagi otoritas pengelola data. "Sektor digital menurut saya sudah seharusnya masuk dalam daftar pengingat makin banyak PMSE yang ditunjuk menjadi pemungut PPN." (yetede)
Optimalisasi Ekonomi Digital
Nilai transaksi digital di Indonesia terus bertumbuh seiring dengan makin luas dan mudahnya masyarakat mengakses internet. Ratusan triliun rupiah diperkirakan dapat diraup dari pasar ini. Dari data yang dilansir oleh Google dan Temasek potensi digital Indonesia pada 2023 diperkirakan mencapai US$124 miliar atau meningkat dari 2020 mencapai US$44 miliar. Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan juga memprediksikan hal serupa. Ekonomi Digital Indoenesia memiliki prospek yang sangat baik dan berpotensi tumbuh hingga mencapai delapan kali lipat pada 2030.
Saat ini saja, sektor industri makanan-minuman dengan kapasitas pasar senilai Rp.3.669 triliun, baru termanfaatkan sebesar Rp. 18 trliun di pasar e-commerce. Padahal jumlah pengusaha dibidang ini sangat banyak. Data Kementerian dan UKM menyebutkana pada 2019, ada sebanyak 64 juta usaha berskala mikro, kecil, dan menengah atau mengusai pasar sekitar 99% dari total usaha yang ada di Indonesia. Kami mengapresiasi langkah pemerintah yang menargetkan 30 juta pelaku usaha UMKM mengadopsi digital, dengan cara menggandeng platform dagangan yang telah eksis di Tanah Air seperti Gojek, Tokopedia, dan Shopee.
Peluang Indonesia memiliki unicorn baru kian terbuka lebar karena perkembangan sektor teknologi sektor finansial (tekfin), khususnya yang bergerak dibidang pembayaran, peminjaman, dan managemen keuangan. Dibalik besarnya potensi ekonomi digital kita juga perlu diikuti dengan pengawasan dan pengamanan data konsumen. Pemerintah bersama DPR harus lebih cepat lagi membahas peraturan perundangan terkait dengan perlindungan data pribadi tersebut. Dibutuhkan aturan main khusus yang mampu menjadi payung, tidak seperti saat ini dimana perlindungan data pribadi tersebar di puluhan aturan. (yetede)
Penyesuaian PPKM, Produsen Sepeda Mulai Lega
Pengusaha sepeda kembali dapat bernafas lega usai penyesuaian PPKM dalam beberapa waktu terakhir. Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Sepeda dan Mainan Indonesia (APSMI) Eko Wibowo mengatakan dibandingkan dengan Juli, permintaan pada bulan ini mengalami kenaikan sekitar 30%-40%. "Kalau dari Juli sudah jauh lebih baik karena jumlah orang yang main sepeda sudah lebih banyak lagi," katanya kepada Bisnis, Selasa (21/9)
Dari sisi produksi, saat ini pabrikan hanya mengisi kekosongan barang dari tipe-tipe tertentu yang permintaannya masih bagus di pasaran. Sementara itu, dia memperkirakan utilitas industri saat ini berada di angka 50%. Pada situasi normal, sepanjang November stok barang lama akan terserap pasar sehingga pabrik dapat kembali menggenjot produksi. Adapun permintaan sepeda sepanjang tahun ini diperkirakan akan mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2020.
Pasalnya, permintaan pada tahun lalu melonjak karena berbagai faktor seperti tren bersepeda maupun kesadaran masyarakat untuk berolahraga, sedangkan pada tahun ini, permintaan sepeda cenderung didorong oleh faktor yang lebih organik. Senada dengan Eko, Ketua Umum Asosiasi Persepedaan Indonesia Rudiyono, mengatakan produksi sepeda domestik saat ini belum sepenuhnya berjalan normal. "Pelaku usaha berharap produksinya bisa kembali minimal sama dengan produksi sebelum pandemi," ujarnya. Menurut catatan AIPI, total permintaan sepeda di pasar domestik mencapai kurang lebih 8 juta unit pada 2020. Sekitar 3 juta-3,5 juta unit merupakan hasil produksi dalam negeri.
Produksi Bawang Merah, Sumbar Garap Varietas Ijo
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mengembangkan komoditas bawang merah varietas batu ijo karena dinilai produksinya lebih tinggi dibandingkan dengan varietas lokal. Bupati Tanah Datar Eka Putra mengatakan daerah pertama yang menjadi percontohan adalah desa atau Nagari Pandai Sikek seluas 10 hektar. "Ini merupakan arahan dari Balai Besar Sumbar Daya Lahan Balitbangtan Kementan RI," kata Nagari Pandai Sikek, Selasa (21/9).
Menurutnya produksi bawang merah varietas batu ijo terbilang berhasil. Sehingga kedepannya pengembangan bisa dilakukan, hasil panen mencapai 18 ton per hektar atau jauh lebih tinggi dari varietas lokal yang hanya 12-13 ton per hektar sehingga dapat membantu meningkatkan pendapatan petani. Selain itu, masa panen juga hanya butuh 70 hari. Sebanyak 70% masyarakat Tanah Datar berprofesi sebagai petani. Beberapa tahun terakhir fokus pada tiga komoditas yaitu cabe merah, bawang merah, dan jengkol.
Gubernur Sumbar Mahyeldi menyebutkan sektor pertanian adalah sektor yang paling potensial dikembangkan. Hal ini dikarenakan komposisi dari masyarakat yang menggantungkan hidup dari pertanian di daerah ini mencapai 58% dari total penduduk. "Jika sektor ini berkembang dan petani sejahtera maka semua sektor akan ikut mendapatkan imbas positif. Semua sektor ekonomi akan bergerak semua," katanya
Pemulihan Ekonomi, Genjot Kuantitas Petani Milenial
Pemerintah Provinsi Jawa barat akan mengevaluasi dan mengenjot kualitas dari Program Petani Milenial dan menargetkan pada Februari 2022 harus ada lebih dari 1.000 orang petani yang milenial. Untuk penambahan kuantitas sendiri, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil baru saja meluncurkan Petani Milenial lebah madu di desa Lengkungjaya, Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya. Puluhan petani milenial lebah madu merupakan kelanjutan dari program petani milenial juara sebagai solusi dari Pemda Jawa Barat agar masyarakat dapat bangkit dan keluar dari himpitan ekonomi. Ridwan Kamil mengajak generasi muda terus menggerakkan ekonomi yang tahan dari disrupsi pandemi Covid-19. "Mudah-mudahan petani milenial ini menguatkan semangat generasi muda kembali ke desa dengan dukungan dari negara berupa penguatan konsep ekonomi, dukungan finansial dan kepastian pembelinya," Ujar Ridwan Kamil saat peluncuran secara virtual dari gedung Pakuan Bandung, Selasa (21/9). Untuk tahap awal, ada dua madu yang sedang dikembangkan di 28 kecamatan di Kabupaten Tasikmalaya, yaitu Cerana dan Trigoma. Tercatat jumlah produksinya mencapai 161,65 kilogram.
Berkaitan dengan program petani milenial, Direktur PT Utama BIJB Salahudin Rafi, menegasakan bahwa PT BIJB sebagai pengelola Bandara Internasional Kertajaya Jawa Barat, akan terus berpartipasi dan berkolaborasi. Pada perkembangan lain Bank Indonesia mengklaim sukses mengembangkan klaster pangan di wilayah Ciayumajakunging. Pengembangan yang dilakukan sistem budi daya pertanian yang ramah lingkungan, sehingga bisa meningkatkan produktivitas lahan secara berkelanjutan. "Contoh, ketika petani memupuk cabai atau tanaman lain dengan Super Bokhasi MA-11 selain memberi hasil yang berlipat baik terhadap kualitas dan kuantitas panen maka juga sekaligus memperbaiki lingkungan sebagai usaha konservasi tanah dan air," kata Kepala Bank Jawa Barat Herwanto. Salah satu klaster pangan mitra Bank Jawa Barat yang menerapkan metode ecofarming berbasis MA-11 pada lahan masing-masing seluas 1 ha, setelah 120 hari, sejak penanaman, (20/9), klaster ini berhasil memasuki masa panen. "Kondisi ini diharapkan dapat menjadi momentum dan peluang bagi seluruh pelaku pertanian, khususnya klaster mitra Bank Indonesia untuk terus dapat meningkatkan produktivitasnya." kata Bambang. (yetede)
Xi Jinping: China Bakal Setop Pendanaan Proyek Batu Bara
Presiden China Xi Jinping mengumumkan China tidak akan lagi mendanai pembangunan proyek pembangkit listrik tenaga batu bara baru di luar negeri. China berada di bawah tekanan diplomatik yang berat untuk mengakhiri pembiayaan guna membantu dunia memenuhi tujuan-tujuan perjanjian iklim Paris untuk mengurangi emisi karbon. China merupakan salah satu negara yang mendukung proyek-proyek batu bara di negara-negara berkembang termasuk Indonesia dan Bangladesh.
Janji Jinping datang beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengumumkan rencana untuk menggandakan bantuan keuangan kepada negara-negara miskin menjadi US$11,4 miliar pada 2024. Dana ini untuk membantu negara-negara tersebut beralih ke energi yang lebih bersih dan mengatasi dampak pemanasan global yang memburuk.Meskipun pidato Jinping tidak terlalu detail, inisiatif tersebut dapat memberikan beberapa momentum menuju COP26, pembicaraan iklim global utama yang akan dimulai di kota Glasgow, Skotlandia pada akhir Oktober."Ini adalah momen yang sangat penting," kata Xinyue Ma, pakar keuangan pengembangan energi di Pusat Kebijakan Pengembangan Global Universitas Boston. Menjelang kesepakatan iklim Paris 2015 yang bersejarah, kesepakatan bersama AS-China memulai negosiasi yang berhasil.Dari 2013 hingga 2019, data menunjukkan bahwa China mendanai 13 persen dari kapasitas pembangkit listrik tenaga batu bara yang dibangun di luar China.Gerakan advokasi iklim 350.org menyebut pengumuman Jinping sangat besar dan bisa mengubah 'permainan'.
ADB dan OEDC Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Indonesia
Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) memprediksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh 3,7 persen pada tahun ini.
Angka ini masih di bawah Australia dan Korea Selatan dengan PDB sebesar 4 persen, Kanada 5,4 persen, dan Amerika Serikat 6,0 persen. Selain itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih di bawah rata-rata negara G20 yakni sebesar 6,1 persen.
Namun, OECD menilai setidaknya Indonesia masih lebih unggul dibandingkan Arab Saudi sebesar 2,3 persen, Jepang 2,5 persen, Rusia 2,7 persen, dan Jerman 2,9 persen. Sementara itu, Indonesia diproyeksikan akan bertumbuh hingga 4,9 persen pada 2022. Angka ini masih di bawah target pemerintah Presiden Joko Widodo sebesar 5 persen hingga 5,5 persen.
Sementara itu, Asian Development Bank (ADB) menurunkan proyeksinya terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun ini dari perkiraan pada April lalu sebesar 4,5 persen (yoy) menjadi 3,5 persen (yoy). ADB juga menurunkan prediksinya terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan dari sebelumnya 5 persen (yoy) menjadi 4,8 persen (yoy).
SoftBank dan Telkom Suntik Fintech OY! Indonesia RP443 Milyar
SoftBank Ventures Asia (SBVA) memimpin pendanaan Seri A US$ 30 juta atau sekitar Rp 443,2 miliar kepada OY! Indonesia. Anak usaha Telkom, MDI Ventures berpartisipasi dalam investasi terhadap startup teknologi finansial (fintech) ini.
OY! Indonesia bergerak di bidang sistem pembayaran (money movement). Startup ini mengakomodasi seluruh kegiatan transaksi keuangan bagi individu dan pelaku bisnis di Indonesia.
Selama dua tahun perjalanan bisnis, fintech itu didukung investor terdahulu yakni Temasek dan Alternate Ventures. Dengan adanya tambahan modal, OY! Indonesia berencana ekspansi dan memperkuat infrastruktur layanan keuangan di Tanah Air.
Kami saat ini menikmati pertumbuhan yang luar biasa dengan total valuasi lebih dari US$ 100 juta atau setara Rp 1,4 triliun. Ini menempatkan kami sebagai startup yang sukses menyandang predikat Centaur.
Terancam Gagal Bayar Utang, Pemerintah AS Minta Tolong Bank-bank Besar
Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Janet Yellen meminta bantuan kepada perusahaan keuangan dan bank-bank besar di Wall Street untuk keluar dari ancaman gagal bayar utang pemerintah yang diperkirakan akan terjadi pada pertengahan Oktober mendatang.
Yellen dilaporkan telah menghubungi sejumlah chief executive officer (CEO) perusahaan keuangan besar seperti Jamie Dimon dari JPMorgan Chase & Co., Jane Fraser dari Citigroup Inc., Charlie Scharf dari Wells Fargo & Co., Brian Moynihan dari Bank of America, dan seorang pejabat senior Goldman Sachs Group.
AS untuk pertama kalinya terancam default atau gagal membayar utangnya yang per Agustus 2021 mencapai US$ 28,4 triliun atau setara Rp 404.501 triliun, menurut data Statista. Posisi utang tersebut telah mencapai batas maksimal sehingga AS tidak bisa menambah utang tanpa kebijakan penangguhan.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









