Ekonomi
( 40460 )Bahan Baku Tinggi, Harga Elektronik Naik
Industri manufaktur mulai menaikkan harga jual menyusul kenaikan harga bahan baku seperti aluminum, nikel, tembaga, serta bijih besi. Berdasarkan data Ditjen Minerba Kementerian ESDM, harga mineral acuan seperti aluminium naik 27,21% dari US$ 2.010 per ton di Januari 2021 menjadi US$ 2.557 per ton pada September 2021. Senior General Manager National Sales Sharp Electronics Indonesia Andri Adi Utomo mengatakan, kenaikan harga komoditas sebenarnya sudah terjadi sejak awal tahun ini akibat pemulihan ekonomi China. Tiongkok memborong komoditas untuk stok di saat banyak negara penghasil mineral lain belum pulih akibat dampak pandemi Covid-19. Kenaikan harga mineral yang menjadi bahan baku produk-produk elektronik tentu memicu kenaikan harga jual produk tersebut kepada konsumen. "Kami sudah menaikkan harga secara bertahap untuk mengantisipasi dampak kenaikan harga mineral logam tersebut," kata Andri kepada KONTAN, Senin (13/9).
Sekretaris Perusahaan PT Zyrexindo Mandiri Buana Tbk (ZYRX), Evan Jordan juga menyebutkan kenaikan harga mineral berdampak pada kenaikan harga komponen. Apalagi di tengah kelangkaan bahan baku produksi. "Beberapa komponen yang digunakan mengalami kenaikan hingga 100%. Kami telah mengompensasi kenaikan tersebut dengan kenaikan harga jual produk, namun besarannya tidak mencapai 30%," ujar dia saat dihubungi KONTAN, Senin (13/9). Terkait kelangkaan kontainer yang berujung pada naiknya biaya logistik, diakui masih bergulir hingga kini, Zyrexindo mengantisipasinya dengan memaksimalkan kapasitas pengiriman dan kuantitas sehingga biaya logistik per unit lebih efisien.
(Oleh - HR1)
Temukan Potensi Kecurangan Rp 2,94 T
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengungkapkan 2.170 temuan yang memuat 2.843 permasalahan senilai Rp 2,94 trillun terkait program Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN).
Temuan itu, meliputi 887 kelemahan sistem pengendalian intern, 715 ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undanganan dan 1.241 permasalahan terkait ekonomi keekonomian, efisiensi dan efektifitas.
Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Agung Firman Sampurna mengatakan, pihaknya telah memberikan rekomendasi untuk mengatasi masalah tersebut. Antara lain, agar pemerintah menetapkan grand design, rencana kerja satuan tugas Penanganan Covid-19 yang jelas dan terukur.
Tak hanya itu, Agung mengatakan, pihaknya melakukan pemeriksaan terhadap PC-PEN selama tahun 2021 berhasil mengidentifikasi sejumlah masalah terkait identifikasi dan kodifikasi anggaran PC-PEN serta realisasinya.
Fintech Dapat Guyuran Dana Jutaan Dolar
Pemain fintech lending makin gencar mendapatkan suntikan dana baru. Tak main-main, mereka mendapatkan suntikan dana hingga jutaan dolar baik dari investor asing maupun lokal.
Sepanjang 2021, beberapa fintech yang meraih pendanaan seperti Amartha, Danacita dan AwanTunai. Direktur Eksekutif Asosiasi Fintech Pendanaan Indonesia (AFPI) Kuseryansyah mengatakan, alasan investor berinvestasi ke perusahaan fintech karena melihat potensi bisnis yang besar di Indonesia.
Fintech berkembang sejak tahun 2016, dan berkembang selangkah demi selangkah. Kemudian memperlihatkan pertumbuhan yang tetap tinggi
Pada tahun lalu saja, bisnis fintech tumbuh 25% walau menghadapi pandemi. Dengan realisasi, diperkirakan bisnis fintech tahun ini bisa melebihi angka 25% karena kesenjangan kredit di Indonesia masih tinggi.
Dengan potensinya yang besar, investor semakin gencar berinvestasi pada perusahaan fintech. Dari kerja sama tersebut, investor mendapatkan untung dari kenaikan harga saham fintech jika bisnis dan ekspansi perusahaan yang semakin besar.
Indosat dan Hutchison 3 Merger, Nilai Transaksi Rp 85,5 Triliun
Ooredoo QPSC dan CK Hutchison Holdings Limited menandatangani kesepakatan transaksi definitif untuk menggabungkan bisnis telekomunikasi di Indonesia, yaitu PT Indosat Tbk (ISAT) dan PT Hutchison 3 Indonesia. Nilai transaksi merger yang menghasilkan perusahaan gabungan bernama PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk ini mencapai US$ 6 miliar atau setara Rp 85,5 triliun. Ooredoo Group saat ini memiliki 65% saham dan kendali atas Indosat Ooredoo Asia. Penggabungan Indosat dan Hutchison 3 akan menyebabkan HC Hutchison memperoleh saham baru di Indosat Ooredoo hingga 21,8% dari Indosat Ooredoo Hutchison. Pada saat yang sama, PT Tiga Telekomunikasi akan menerima saham baru Indosat Ooredoo hingga 10,8% dari Indosat Ooredoo Hutchison.
Pada akhir transaksi, Indosat Ooredoo Hutchison akan dikendalikan secara bersama-sama oleh Ooredo Group dan CK Hutchison. Perusahaan gabungan akan tetap terdaftar di Bursa Efek Indoensia, dengan pemerintah Indonesia memiliki 9,6% saham. PT Tiga Telekomunikasi Indonesia memilki 10,8% saham, dan pemegang saham publik lainnya memiliki kira-kira 14% saham. Penyelesaian transaksi ini bergantung pada persetujuan dari pemegang saham Ooredoo Group, CK Hutchison, Indosat Ooredoo, persetujuan reguler, serta berbagai syarat dan ketentuan. Jika semua persetujuan berhasil didapatkan, penggabungan ini diperkirakan selesai pada akhir maret 2021.
Aziz Aluthman Fakhroo, managing director of Ooredoo Group mengatakan, kesepakatan ini adalah suatu langkah besar untuk melahirkan perusahaan nomor dua yang lebih kuat di Indonesia. "Kami sekarang bisa fokus untuk menyelesaikan transaksi dan bekerja sama dengan CK Hutchison untuk membangun perusahaan telekomunikasi digital kelas dunia di Indonesia," kata dia dalam keterangan tertulis, Kamis (16/9). Sementara itu, Canning Fok, group co-managing director of CK Hutchison Holdings, mengatakan bahwa kesepakatan ini adalah kesempatan besar untuk membangun perusahaan telekomunikasi yang lebih kuat dan inovatif di Indonesia. (yetede)
Pendapatan Industri Asuransi Jiwa Naik Menjadi Rp 119,74 Triliun
Pendapatan industri asuransi jiwa d tanah air meningkat 64 persen (year-on-year/yoy) sepanjang semester pertama 2021, Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) melaporkan kenaikan pendapatan mencapai Rp 46,74 triliun menjadi Rp 119,74 trilliun.
Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia Budi Tampubolon menyebut kenaikan ini menandai adanya sinyal pemulihan di industri. Salah satunya terlihat dari sisi pendapatan, di mana premi tumbuh sebesar 17,5 persen yoy.
Menurut Budi, besarnya pertumbuhan premi bisnis baru sangat ditopang oleh menguatnya peran penjualan Bancassurance. Saluran distribusi ini tumbuh 37,5 persen atau setara nilai premi Rp 37,96 triliun pada tahun ini.
BI Suntik Likuiditas Rp 118,35 T ke Perbankan per Agustus 2021
Bank Indonesia (BI) terus melakukan injeksi likuiditas atau quantitative easing di perbankan di 2021 ini. Total dana injeksi mencapai Rp 97,34 triliun pada semester pertama dan Rp 21 triliun hingga 31 Agustus 2021, di semester kedua.
Sementara pada 2020, suntikan likuiditas BI mencapai Rp 726,57 triliun. Sehingga secara total sejak 2020, BI telah melakukan injeksi likuiditas sebesar Rp 845 triliun atau setara 5,3 persen PDB.
Menurut Destry, kebijakan ekspansi moneter ini telah membuat kondisi likuiditas perbakan hingga Juli 2021 sangat longgar. Ini terlihat dari rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang tinggi yaitu 32,51 persen.
Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo juga telah beberapa kali menyinggung soal kebijakan injeksi likuiditas ini. Perry telah memberi sinyal bahwa injeksi likudiitas pada tahun 2022 bakal terus berkurang.
Nirwan dan Indra Bakrie Diminta Bayar Utang Rp 22,67 M
Perwakilan keluarga Bakrie sudah datang menemui Satgas Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) untuk penyelesaian utang ke negara Rp 22,67 miliar. Perwakilan ini datang setelah ada pemanggilan terhadap PT Usaha Mediatronika Nusantara.
Juru bicara Keluarga Bakrie sudah menanggapi pengumuman Satgas BLBI. Terutama, mengenai pemanggilan Nirwan Dermawan Bakrie dan Indra Usmansyah Bakrie untuk menagih piutang negara sebesar Rp 22,67 miliar.
Menurut juru bicara keluarga Bakrie, Lalu Mara Satriawangsa, keluarga Bakrie tidak memiliki utang BLBI. "Bakrie tidak memiliki hutang BLBI, silakan klarifikasi langsung dengan Satgas BLBI," ujar dia kepada Tempo, Selasa, 14 September 2021.
Merespons pernyataan juru bicara keluarga Bakrie, Rionald tetap bersikukuh dengan pemanggilan yang sudah dilakukan. "Usaha Mediatronika, dalam catatan kami, memang ada kewajibannya (utang)," kata Rionald.
Harga Aluminium Tembus US$ 3.000 Per Ton
Harga aluminium mencapai tepat US$3.000 per ton dalam perdagangan Senin (13/9) Ini adalah level harga tertinggi logam tersebut dalam 13 tahun terakhir. Persediaan yang ketat dan menipis diperburuk oleh kudeta militer baru-baru ini di Guenia, Afrika Barat. Negara Afrika tersebut kaya akan batuan bauksit, dari mana aluminium di proses. Harga aluminium telah melonjak sebelum kudeta terjadi pada awal bulan, naik sekitar 40% sejak Januari 2021 karena aktivitas ekonomi global bangkit kembali dari palung Covid-19. Setelah mencapai level tertinggi sejak 2008, logam dasar yang digunakan dalam barang sehari-hari itu turun menjadi US$ 2.953 per ton dalam transaksi sesi yang di London Metal Exchange. "Ini semua tentang masalah pasokan yang mendorong harga aluminium semakin tinggi," jelas analis Commerzbank Daniel Briesemann kepada AFP, Senin (13/9) Penyebab kenaikan harga juga naiknya tarif listrik di Tiongkok, yang telah menyebabkan penuruan produksi peleburan di wilayah Barat Xinjiang. Adapun peleburan aluminium menghabiskan banyak energi.
Guenia memiliki cadangan bauksit terbesar di dunia, batuan kemerah-merahan atau abu-abu. Aluminium oksida yang terkandung didalamnya dilebur menjadi aluminium. Saat ini militer yang berkuasa di Guenia berada dibawah tekanan diplomatik yang meningkat. Sebelumnya, pasukan khusus yang dipimpin oleh Letnal Kolonel Mamady Doumbouya merebut kekuasaan dan menangkap presiden Alpha Conde. Kenaikan harga komoditas tersebut telah menaikkan inflasi yang melonjak, kekhawatiran yang pada gilirannya meningkatkan dolar karena para investor mengincar suku bunga yang lebih tinggi untuk menjinakkan harga yang tidak terkendali. "Melonjaknya harga komoditas menunjukan sedikit tanda akan berhenti," kata Joshua Mahony, analisis pasar senior di kelompok perdagangan IG. (YTD)
BNI Securities Kantongi Izin Operasi di Singapura
BNI Securities Pte Ltd (BSPL), anak usaha PT BNI Sekuritas (BNIS) resmi memperoleh persetujuan operasi dari Monetary Authority of Singapura (MAS) untuk menjalankan bisnis layanan pasar modal di Singapura. Berdasarkan keterangan resmi, Senin (13/9), izin operasi tersebut diraih pada 8 September 2021. Dengan adanya izin operasi BSPI, maka BNI Sekuritas dapat mejalankan kegiatan layanan pasar modal di Singapura, baik bisnis fixed income brokerage, maupun underwriting melalui BSPL.
Melalui BSPL, Group BNI akan menjadikan BSPL, sebagai pusat kegiatan pasar modal internasional BNI, termasuk menyediakan akses bagi nasabah dan emiten ke global investor dengan fokus awal pada fixed income brokorage atau perdagangan surat utang. Tujuan pembukaan BNI Sekuritas Pte Ltd di Singapura merupakan salah satu strategi BNI Sekuritas dan Group BNI untuk memperkuat posisi sebagai regional player yang dapat memberikan layanan perbankan dan pasar keuangan global.
BNI Sekuritas telah mempunyai izin sebagai perantara pedagang efek, pinjaman emisi efek, dan agen penjualan reksa dana sedangkan aktivitas manager investasi dilakukan melalui anak usahanya, PT BNI Asset Management. Bisnis perantara pedagang efek melayani transaksi untuk saham, obligasi negara, maupun obligasi korporasi. Dengan lebih dari 175 ribu account, saat ini bisnis perantara dagang efek BNI Sekuritas pada akhir Agustus 2021 menduduki peringkat ke-6 dari frekwensi transaksi saham dan peringkat ke-9 untuk volume transaksi saham. (YTD)
Pluang Raih Total Pendanaan US$ 55 Juta
Pluang, Perusahaan rintisan berbasis teknologi finansial, kembali meraih tambahan pendanaan sebesar US$ 35 juta. Tambahan tersebut akan menjadikan total dana yang sudah diraup perusahaan sepanjang tahun ini sebesar US$ 55 juta. "Kami beruntung terus penambahan investasi kami di Pluang pada setiap seri pendanaannya, menjadikan Pluang sebagai portfolio utama kami. Kami selalu kagum atas inovasi produk, pertumbuhan bisnis Pluang, dan unit ekonomi yang terbaik di kelasnya. Kami berharap untuk terus bekerja sama dengan tim Pluang dalam tahun-tahun mendatang," ujar Partner Go-Ventures Aditya Kamath dalam keterangan tertulis, Senin (13/9). Sejak didirikan 2019, partner Square Peg Tushar Roy mengungkapkan, hampir tiga juta orang telah terdaftar di Pluang. Pluang mampu menorehkan capaian tersebut dengan biaya operasional yang efisien.
"Dalam pembangunan Pluang, Claudia dan Richard mengkombinasikan pengetahuan yang dalam tentang pasar Indonesia dengan pengetahuan tentang managemen kekayaan dengan pendidikan finansial. Kami sangat antusias menanti gebrakan baru berikutnya yang akan memperkenalkan ke pasar Indonesia,"jelas Tushar Roy. Aditya menambahkan diversifikasi adalah kunci utama bagi investor pemula untuk belajar meminimalisasi resiko dalam berinvestasi. Pluang berkomitmen untuk selalu berada di garda terdepan agar investor dapat melakukan diversifikasi portfolionya secara praktis. Pluang selalu menekankan kepada para penggunanya tentang pentingnya edukasi terkait investasi dan penciptaan kekayaan jangka panjang. (YTD)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









