;
Kategori

Ekonomi

( 40554 )

Tujuh Isu Prioritas Dibahas dalam KTT G20 2022

17 Sep 2021

Indonesia akan menjadi tuan rumah sekaligus Presidensi Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 tahun 2022. Dalam pertemuan yang mengusung tema Recover Together Recover Stronger.  Ada tujuh isu keuangan global terkini yang akan dibahas. Pertama, koordinasi dalam memulihkan ekonomi global. Kedua, dampak perekonomian dari pandemi Covid-19 melalui penguatan efisiensi dan produktivitas untuk mendukung perekonomian jangka panjang. Ketiga, acuan dalam pengembangan uang digital yang diterbitkan oleh Central Bank Digital Currency (CBDC). Keempat, memperkuat sistem pembayaran untuk aktivitas pembayaran lintas negara (cross border payment). Kelima, mengembangkan sumber pembiayaan yang dapat mendukung upaya dunia dalam mengatasi isu perubahan iklim (sustainable finance)untuk menciptakan ekonomi hijau dan berkelanjutan. Keenam, bagaimana mendorong perluasan inklusi keuangan melalui pemanfaatan digitalisasi ekonomi dan keuangan. Ketujuh, pelaksanaan global taxation principal, berupa insentif pajak, pajak dan digitalisasi, penghindaran pajak, hingga Base Erosion and Profit Shifting (BEPS).


Bank Digital Menawarkan Bunga Simpanan Tinggi

17 Sep 2021

Perbankan digital mulai menggeber penghimpunan dana masyarakat dengan iming-iming bunga simpanan tinggi. PT. Seabank Indonesia, misalnya menawarkan promo suku bunga tabungan sebesar 7% per tahun yang berlaku per 30 September 2021. Tawaran tersebut dipublikasikan pada aplikasi e-commerce Shopee miliknya. Bunga itu dibayar harian. Sementara Bank BCA digital juga menawarkan bunga deposito 3,75% per tahun untuk saldo dibawah Rp 100 juta dan 4% untuk saldo diatas Rp 100 juta. Sementara itu rata-rata deposito induknya Bank Central Asia (BCA) saat ini hanya 2,75% per tahun.  

Persaingan Bisnis Omnichannel, Kongsi Demi Geser Dominasi

17 Sep 2021

Berdasarkan riset Nielsen ke 3.000 warung dan toko pulsa di 14 kota di Indonesia pada Juni 2021, baru 14,8% yang terjun kedalam skema bisnis O2O. Adapun sisanya masih belum menggunakan platform tersebut. Dari pasar yang kecil itu, Bukalapak mendominasi sebesar 42% melalui unit mitra. Sebagai informasi, perseroan telah terjun ke bisnis O2O sejak 2017 dengan semula 2.870 mitra dan terus tumbuh secara eksponensial.  Penerus ketiga Group Lippo, John Riady mengatakan kedua pihak membutuhkan omnichannel. Pelanggan dapat berbelanja dengan menggunakan berbagai channel sekaligus, baik online maupun offline. 

Teranyar, calon emiten GoTo berkongsi dengan Group Lippo sebagaimana diketahui, perusahaan teknologi ini mempunyai kekuatan dalam hal aplikasi dan basis pengguna. Sementara itu, Group Lippo mempunyai kekuatan jaringan logistik dan persebaran toko. "Ini yang merupakan latar belakang  kerja sama PT Matahari Putra Prima Tbk. (dengan GoTo). Kami belum sepenuhnya mengumumkan kerja sama  dan semoga saja segera," katanya dalam webinar bersama Indonesia  Investment Education, pekan lalu.

Menurutnya, Group Lippo senantiasa memanfaatkan digitalisasi untuk membuka potensi-potensi baru di perusahaan tradisional. John mengatakan, 60% pasar barang penting di Indonesia saat ini dikuasai oleh pasar tradisional, 30% mal, 10% e-commerce baru bisa menguasai 30%. Oleh sebab itu, kerjasama antara pemain offline dan online diperlukan supaya tidak membatasi pilihan konsumen. Lippo akan menggunakan jaringan toko sebagai warehouse untuk penyediaan barang. John juga menceritakan kondisi dark store yang menjadi pusat bagi pembelian daring. Dimana toko akan lebih kecil dengan sewa rental yang lebih murah, tetapi menyediakan produk segar dan keseharian.

Di sisi lain, Ceo Mitra Bukalapak Howard Gani mengatakan bisnis O2O masih memiliki ceruk yang luas karena potensi pasar baru terjamah 15%. Gani mengatakan, sampai dengan semester 1-2021, total warung di bawah sayap perseroan mencapai 8,7 juta. Jumlah itu meningkat drastis bila dibandingkan dengan pencapaian akhir 2020 sebanyak 7 juta. Sementara itu, tim riset Sucor Securitas menargetkan beli bagi BUKA dengan terget harga Rp 1.435. BUKA saat ini juga menjalin kerjasama dengan sesama mitra, mulai Grab dengan Grabmart, makanan segar, hingga standard Chartered di sektor perbankan digital. (YTD)

BTN Desain Platform Digital Perumahan

17 Sep 2021

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) tengah mengembangkan platform digital perumahan, sebagai salah satu strategi untuk menjadi one stop financial inclusion. Masyarakat bisa menggunakannya untuk mengakses kredit kepemilikan rumah (KPR). Direktur Utama BTN Haru Koesmahargyo mengatakan, digitalisasi bukan merupakan pilihan, namun sebuah keharusan. Itulah sebabnya, transformasi digital perbankan marak, tak terkecuali di bank BUMN ini. Perseroan tengah melakukan akuisisi modal ventura untuk mengembangkan platform digital perumahan, guna mendukung informasi tersebut. Setelah akuisisi perusahaan modal ventura itu selesai, diharapkan beroperasi awal tahun depan. Anak perusahaan diharapkan benar-benar mendukung layanan kepada nasabah.

Haru menjelaskan lebih lanjut, BTN merupakan bank yang fokus pada pinjaman perumahan, dengan market share KPR terbesar di Indonesia. BTN juga kontributor utama program Sejumlah Rumah, mencapai lebih dari 60%-nya setahun. "BTN juga mengembangkan ekosistem perumahan nasional, perseroan memiliki peran sebagai enabler yang memberikan pembiayaan sisi supply melalui kredit konstruksi kepada dari sisi deman dengan memberikan KPR kepada masyarakat. Proses penyaluran ini menggunakan dana sendiri dan menggunakan dana dari stakeholder seperti Tapera, PPDPP, TWP AD, SMF, serta BPJS Ketenagakerjaan,"

Saat ini, permodalan BTN terbilang relatif rendah dibandingkan peers. Untuk itu perseroan akan melakukan rights issue guna memperkuat permodalan. Direktur Finance, Planning, and Treasury BTN Nofry Rony Poetra mengatakan, dari sisi biaya dana perseroan, saat ini sudah jauh membaik dibandingkan tahun lalu, yakni dikisaran 3,5%. Ini turun dari 5% pada 2020. Selain mengejar dana murah seperti lewat kerja sama dengan PT Pos, BTN juga mencari dana dari segmen ritel kelas atas, Posri CASA ini diharapkan meningkat signifikan. "Semua segmen kami kejar, dari nasabah ritel dana murah sampe pelosok, hingga nasabah affluent. Kami harapkan CASA itu sustain," Kata Nofry. (YTD)

Satgas Kejar Tagihan ke 13 Pengemplang BLBI

17 Sep 2021

Satu per satu pemerintah lewat tangan Satuan Tugas Penanganan Hak Tagih Negara Dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (Satgas BLBI) mulai memanggil para debitur pengemplang dana BLBI. Setelah sebelumnya memanggil empat debitur, pemerintah kini langsung memanggil 13 debitur sekaligus. Dalam pengumuman pemanggilan di media nasional, Rabu (15/9), Ketua Satgas BLBI, Rionald Selaban langsung memanggil 13 nama obligor. Antara lain; Andrus Roestam Moenaf dan Pingkan Warrow.  Yang menarik, dalam daftar nama pemanggilan tersebut, ada dari keluarga Bakrie, Yaitu ada Nirwan Dermawan Bakrie, Indra Usmansyah Bakrie serta Anton Setianto dari PT Usaha Mediatronika Nusantara. Perusahaan tersebut punya utang sebesar Rp 22,7 miliar. 

Satgas juga memanggil Thee Ning Khong, The Kwen le, PT Jakarta Kyoel Steel Works Ltd Tbk, PT Jakarta Steel Megah Utama, dan PT Jakarta Steel Perdana Industry Selain itu Harry Lasmono Hartawan, Koswara, Haji Sumedi, Fuad Djapar, Eddy Heryanto Kwanto, dan Mohamad Toyib. Satgas BLBI memastikan, jika para debitur atau pengemplang dana BLBI ini tidak menunjukkan batang hidungnya di Lapangan Banteng, akan dilakukan tindakan sesuai dengan hukum yang berlaku.  Total kewajiban BLBI mencapai Rp. 110,45 triliun. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebelumnya menyatakan Satgas BLBI telah memanggil 48 obligor dan debitur yang memiliki kewajiban di atas Rp 50 miliar. Apabila sampai dengan pemanggilan tahap ketiga tidak hadir, Satgas akan mengumumkan pemanggilan ini ke publik. Boyamin pesimistis cara pemanggilan ini efektif menagih utang. Ia menilai lebih efektif jika dipidanakan.

Impor Bahan Baku Tumbuh 59,9%, Neraca Perdagangan Cetak Rekor, Pemulihan Ekonomi Tengah Berlangsung

17 Sep 2021

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2021 mengalami surplus hingga US$ 4,47miliar, rekor tertinggi sepanjang sejarah. Rekor surplus tertinggi sebelumnya adalah sebesar US$ 3,58 miliar yang dibukukan pada Oktober bulan lalu. Pencapain ini dinilai semakin memperkuat optimisme bahwa pemulihan ekonomi tengah berlangsung. Surplus neraca perdagangan pada Agustus 2021 yang merupakan surplus bulanan  ke-17 secara berturut-turut tersebut terutama ditopang oleh kinerja ekspor yang melonjak bersamaan dengan kenaikan ekspor yang tinggi.

Kepala BPS Margo Yuwono mengungkapkan, nilai ekspor pada Agustus 2021 yang sebesar US$ 21,42 miliar itu juga merupakan rekor tertinggi sejak Agustus 2021. Ia juga memaparkan, komoditas non migas yang menyumbang surplus terbesar pada Agustus 2021 adalah lemak dan minyak hewan nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Sementara itu, neraca perdagangan dengan beberapa negara mengalami defisit, diantaranya dengan Australia sebesar US$ 453,9 juta, Thailand USD 334 juta, dan Tiongkok US$ 175,5 juta.

Sedangkan barang impor modal mencapai US$ 2,41 miliar yang secara bulanan menunjukkan kenaikan 34,56%. Kontribusi impor barang modal terhadap keseluruhan impor mencapai 14,47%. Peneliti Center of Return on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet berpendapat, kondisi neraca perdagangan yang mengalami surplus pada Agustus 2021. Sementara itu, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono memandang, surplus neraca perdagangan tersebut berkontribusi positif dalam menjaga  ketahanan eksternal perekonomian Indonesia. "Kedepannya, BI terus memperkuat sinergi kebijakan dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk mendukung pemulihan ekonomi," kata dia. (YTD)

Raih Pendanaan US$ 150 Juta, Xendit Jadi Unicorn Baru

17 Sep 2021

Fintech payment gateway, Xendit, meraih pendanaan seri C senilai Rp 2,1 triliun (US$ 150 juta), yang menjadikannya sebagai start-up berstatus unicorn baru di Indonesia. Putaran pendanaan ini  dipimpin oleh Tiger Global Management dengan partisipasi dari investornya saat ini, yaitu Accel, Amasia, dan Goat Capital yang dimiliki oleh Justin Khan. Founder dan CEO Xendit Moses Lo menyampaikan, dana segar ini akan digunakan perusahaan untuk terus berinovasi pada berbagai produk, termasuk dalam rangka ekspansi pada negara-negara terpilih.

Pada tahun 2021, nilai ekonomi digital di kawasan ini akan melebihi US$ 100 miliar, dan diproyeksikan meningkat tiga kali lipat menjadi lebih dari US$ 300 miliar pada tahun 2025, "Kami sedang melihat pergeseran besar-besaran keranah digital yang dilakukan hampir semua pelaku usaha, baik pemilik toko kecil di Instagram, sampai perusahaan-perusahaan besar di Indonesia. Semua usaha kini harus bisa hadir secara digital," kata Moses dalam konferensi pers daring, Rabu (15/9).

Co-founder & COO Xendit Tessa Wijaya menuturkan, Xendit mampu membangun solusi-solusi yang menjadi terobosan baru di pasar. "Xendit mencatatkan peningkatan total volume pembayaran lebih dari 200% year over year di Indonesia dan Philipina, melanjutkan rekam jejak kami yang tumbuh lebih dari 10% dari bulan ke bulan, sejak awal pendirian kami." ujar Tessa. Xendit juga merupaka start-up teknologi Indonesia pertama yang berhasil lulus dari program inkubator YCombinator dan merupakan perusahaan Asia Tenggara terbaik dalam daftar YC Top 100. (YTD)

GoTo Serius akan Melantai di Bursa Efek Indonesia

17 Sep 2021

Gojek dan Tokopedia (GoTo) serius akan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), setelah di Bukalapak.com Tbk (BUKA) yang masuk bursa pada Agustus lalu. "Bukalapak sudah membuka karpet merah bagi kami semua pelaku teknologi nasional untuk nantinya akan melantai di Bursa Efek Indonesia," Kata CEO Tbk Tokopedia William Tanuwijaya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR di Jakarta, Rabu (15/9). Baik William maupun CEO Gojek Kevin Aluwi, keduanya memang tengah fokus menyiapkan GoTo untuk menjadi raksasa global yang tidak hanya bersaing di pasar domestik, tetapi juga membawa nama Indonesia untuk kompetisi di pasar global. Keputusan merger antara Gojek dan Tokopedia yang diambil pada masa pandemi ini juga akan menguntungkan ekosistem yang ada.

Artinya, ada dua juta mitra pengemudi yang memiliki Gojek kemudian di gabung dengan 10 juta mitra UMKM Tokopedia, maka GoTo telah mempunyai total 12 juta mitra UMKM. Hasilnya transaksi yang dikontribusikan oleh platform GoTo kini pun sudah menembus 2% dari PDB nasional. William menegaskan, kombinasi antara Gojek dan Tokopedia bukan untuk sekedar mengejar efisiensi dan menghilangkan opsi masyarakat, tetapi justru untuk mengakselerasi dan menyerap sebanyak-banyaknya tenaga kerja. Menurut dia, di era revolusi indusri ini, Indonesia mempunyai harapan bukan hanya sebagai target pasar, tetapi juga beberapa tahun terakhir Indonesia juga terbukti telah melahirkan unicorn-unicorn perusahan nasional yang berhasil naik kelas di panggung dunia. Hal ini menunjukkan, jika talenta-talenta yang dimiliki negara ini diasah, maka akan lahir banyak perusahaan teknologi baru. (YTD)


Manufaktur Menggeliat Lagi

17 Sep 2021

Kinerja ekspor dan impor pada Agustus 2021 menampakkan geliat sektor manufaktur. Kegiatan industri di sektor hilir ini perlu diiringi penguatan sektor hulu dan antara. Indikator kinerja ekspor dan impor pada Agustus 2021 menunjukkan perbaikan aktivitas industri setelah sempat mengalami tekanan pada Juli 2021 karena pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat. Kendati demikian,kenaikan impor bahan baku atau penolong juga menggambarkan masih kuatnya ketergantungan industri dalam negeri pada bahan baku impor. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik, Rabu (15/9/2021),impor pada Agustus 2021 tercatat senilai 16,88 miliar dollar AS, naik 10,35 persen dari Juli 2021.Secara tahunan, kinerja impor naik 55,26 persen dibandingkan dengan Agustus 2020. Impor yang berkaitan dengan kinerja industri, seperti impor bahan baku/penolong dan barang modal, mencatat nilai tertinggi dibandingkan dengan impor barang konsumsi. 

Bisnis Logistik Terpacu Efek Pandemi Covid-19

17 Sep 2021

Bisnis jasa kurir dan logistik semakin riuh. Pemain lawas PT Pos Indonesia mulai melakukan terobosan menyiasati persaingan bisnis yang sangat ketat. Di sisi lain, saat ini pemain jasa kurir dan logistik telah dikuasai para konglomerat nasional. Sekretaris Perusahaan PT Pos Indonesia, Tata Sugiarta mengungkapkan, sektor logistik adalah salah satu bisnis yang tumbuh hingga 30% secara nasional akibat pandemi Covid-19. “Jadi bisa kami katakan, pemain bisnis logistik termasuk Pos Indonesia “menikmati” dampak dari pertumbuhan ini, bahkan kami bisa survive,” ungkap dia kepada KONTAN, Selasa (14/9). “Keunggulan kami, pengiriman tak hanya di dalam kota, tapi juga antar kota bahkan ke luar negeri, di mana sudah mencakup ke 230 negara lewat platform kami. Kami menargetkan pendapatan bisa tumbuh 22,3% di sepanjang tahun 2021," ujar Tata.

Sementara Vice President of Marketing JNE, Eri Palgunadi menilai, faktor yang menunjang bisnis JNE di antaranya perkembangan e-commerce yang begitu cepat. Selain itu, meningkatnya kebutuhan pengiriman masyarakat akibat pandemi Covid-19. “Kami menargetkan peningkatan jumlah kiriman paket 30%-40%,” ucap dia kepada KONTAN, Selasa (14/9). Eri menjelaskan, JNE akan menempuh beberapa strategi agar mencapai pertumbuhan 30%-40%. Misalnya, menggelar sejumlah program seperti promo diskon ongkir, cashback dan sebagainya. Upaya ini diharapkan mendorong minat masyarakat untuk berbelanja. JNE juga menyediakan Pesona (Pesanan Oleh-Oleh Nusantara), cash on delivery (COD), digital payment, friendly logistic dan sebagainya. Sedangkan CEO J&T Express Indonesia, Robin Lo mengemukakan, selama periode semester pertama tahun ini, pengiriman J&T Express tumbuh sekitar 25% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan trafik pengiriman tersebut didominasi dari belanja online. “Pengiriman per hari saat ini mencapai rata-rata 2,5 juta paket. Bila ditotal per bulan, maka rata-rata sekitar 75 juta paket,” ungkap dia kepada KONTAN, Selasa (14/9).