;
Kategori

Ekonomi

( 40554 )

Diskon Tarif Tol sebesar 20 Persen akan Diterapkan

26 Feb 2025

Pemerintah akan memberikan diskon tarif tol sebesar 20 % selama Ramadhan dan Idul Fitri. Diskon tarif ini mulai berlaku pada 4 Maret 2025. Kebijakan soal diskon tarif tol ini dibahas dalam Rakor Pembahasan Kesiapan Menyambut Ibadah Ramadhan dan Idul Fitri di Kantor Kemenko Polkam, Jakarta, Senin (24/2). Mengutip siaran pers Kementerian PU, Selasa (25/2), Wakil Menko Polkam, Lodewijk F Paulus menyatakan, pemerintah menjamin keamanan pelaksanaan ibadah Ramadhan dan Idul Fitri 1446 Hijriah. Arus mudik dan arus balik menjadi bagian di dalamnya.

”Termasuk sejauh mana diskon untuk tiket pesawat, yang tentunya masih dikomunikasikan seberapa besar penurunannya. Kalau pada Natal-Tahun Baru kemarin turun 10 %, kita harapkan (untuk Ramadhan dan Idul Fitri 1446 H) lebih dari 10 %. Dan, yang sudah pasti, jalan tol mendapat diskon 20 % sehingga diharapkan semuanya dapat memberikan kelancaran terhadap proses ini,” katanya.

Lodewijk juga menyatakan, pemerintah akan memastikan seluruh kementerian dan lembaga negara meningkatkan koordinasi, kolaborasi, dan bersinergi untuk memastikan kelancaran pelaksanaan Ramadhan dan Idul Fitri. ”Pemerintah juga telah memastikan ketersediaan fasilitas yang mendukung pelaksanaan Ramadhan dan Idul Fitri 1446 H, termasuk mudik. Contohnya dari Kementerian PU yang menjamin jalan nasional tidak ada yang berlubang. Kita juga berkoordinasi dengan Kemendagri untuk memastikan kondisi jalan provinsi dan jalan daerah di tingkat kabupaten/kota. Tentunya akan ada imbauan kepada pemda,” katanya. (Yoga)


Widi Ilham Budiman, Motivasi Bagi Peternak Milenial

26 Feb 2025

Terlibat mengurus sapi perah milik ayahnya sudah dilakoni Widi Ilham Budiman (26) sejak masih duduk di bangku SD. Beternak sapi perah, menurut Widi, terbukti bisa menjadi lokomotif penghasilan yang relatif stabil layaknya bekerja di sektor formal. Namun, untuk menstabilkan pendapatan, semua upaya harus dilakukan dengan tekun, salah satunya dengan membuat hewan-hewan ternak tetap sehat dan nyaman, untuk menjaga produksi susu segar yang dipasok ke pabrik di Pasuruan melalui KUD Dadi Jaya. Menjaga kandang dalam suasana yang benar-benar bersih dan nyaman adalah hal yang tak boleh dilewatkan, selain soal asupan makanan. ”Fokuslah menjaga asupan sapi dengan memberikan porsi sesuai bobot masing-masing,” kata Widi di Dusun Suruhgalih, Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, Jatim, Minggu (23/2).

Selama terjun sebagai peternak, Widi menerapkan seluruh ilmu yang didapat ketika kuliah di Fakultas Peternakan Universitas Islam Malang. Ia mengatakan, dengan asupan yang cukup, sapi dipastikan sehat dan bermuara pada produksi susu segar. Begitu juga dengan kualitas pakan yang diberikan. Sangat berpengaruh pada kualitas susu yang dihasilkan. Dia menerapkan sistem pemberian pakan sesuai bobot sapi, memberikan tambahan konsentrat, serta memilih rumput odot yang memiliki kandungan air rendah dan lebih mengenyangkan. Dalam pemberian pakan, sejak awal ditakar berdasarkan berat badan sapi, hingga pencatatan lain yang lebih detail.

Dengan sistem itu, saat ini produksi susu sapi setelah beranak, per ekor meningkat dari 15 liter menjadi 20-25 liter setiap hari. Faktor lain adalah mengembangkan peternakan sapi perah dengan etika dan kepedulian tinggi terhadap hewan. Apalagi dari ternak sapi, tidak hanya menikmati produksi susu segar, tetapi kotorannya pun berfaedah. Kotoran diolah menjadi biogas dan bermanfaat menjadi kompos untuk menyuburkan rumput sebagai pakan ternak utama. Pengolahan kotoran sapi pun tak pernah berhenti dan selalu ada cara baru. Sejak 2010 mereka sudah menikmati aliran gas dari pengolahan kotoran baik padat maupun cair, yang disalurkan melalui pipa ke areal tanaman rumput.

Kini pembuatan kompos menggunakan media cacing (vermikompos). Dengan begitu, peternak sapi perah tak hanya menikmati susu, tapi juga kotorannya. Peternakan sapi perah yang dikembangkan Widi bersama kedua orangtuanya sejak tahun lalu sudah menerapkan kandang sapi tertutup. Dengan kondisi kandang yang bersih dan suhu terjaga, sapi tidak mudah stres. Pemberian vaksin pun rutin dilakukan. Widi, yang lulus pada 2024, bersama ayah dan ibunya memiliki 15 sapi, tujuh di antaranya aktif memproduksi susu. Rata-rata setiap hari dia bisa menyetor susu ke KUD Dadi Jaya sebanyak 60 liter dengan harga Rp 7.300 per liter. Misinya, memotivasi generasi milenial agar tertarik menjadi peternak. (Yoga)


Menanti Solusi Mujarab untuk Pemulihan Bursa

26 Feb 2025

Pasar saham Indonesia, khususnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), terus menghadapi tekanan yang signifikan, dipicu oleh penurunan peringkat saham MSCI Indonesia oleh Morgan Stanley dan berbagai faktor eksternal, seperti kebijakan proteksionisme AS. Dalam situasi ini, pelaku pasar berharap adanya langkah strategis dari pemerintah dan otoritas terkait untuk menstabilkan IHSG, di antaranya dengan memberikan insentif investasi, menstabilkan nilai tukar rupiah, dan memberikan kepastian kebijakan fiskal serta moneter.

Menurut Fath Aliansyah dari Maybank Sekuritas Indonesia, kebijakan yang lebih proaktif, termasuk buyback saham oleh BUMN, dapat memberikan dukungan terhadap harga saham yang tertekan. Aria Santoso, Presiden Direktur CSA Institute, juga menilai bahwa penurunan IHSG ini disebabkan oleh faktor eksternal, termasuk penurunan peringkat Indonesia oleh Morgan Stanley dan kebijakan tarif dagang AS.

Namun, beberapa analis melihat bahwa kehadiran Danantara justru bisa menjadi katalis positif untuk pasar dalam jangka panjang, dengan dampak yang potensial bagi perekonomian Indonesia, terutama dalam meningkatkan kinerja BUMN. Felix Darmawan dari Panin Sekuritas menyarankan agar pemerintah memberikan kejelasan terkait strategi pengelolaan aset Danantara dan mendorong aksi buyback saham BUMN untuk menstabilkan pasar. Selain itu, Hendra Wardana dari Stocknow.id menambahkan bahwa peresmian bullion bank dapat menjadi katalis positif bagi emiten emas di Indonesia, seperti ANTM, HRTA, dan BRMS.

Secara keseluruhan, meskipun pasar saham Indonesia menghadapi tekanan besar, terdapat beberapa langkah yang bisa diambil untuk meredam krisis ini, dengan harapan dapat meningkatkan stabilitas dan daya tarik investasi di masa depan.


Upaya Komplementer dalam Penempatan DHE

26 Feb 2025

Keputusan pemerintah yang menetapkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 8 Tahun 2025 yang mewajibkan eksportir untuk menempatkan 100% devisa hasil ekspor (DHE) sumber daya alam (SDA) di dalam sistem keuangan domestik, memiliki dampak signifikan terhadap stabilitas ekonomi Indonesia. Keputusan ini diharapkan dapat meningkatkan cadangan devisa, mendalami pasar keuangan domestik, serta memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dalam jangka pendek. Selain itu, kewajiban penempatan DHE di dalam negeri juga diharapkan dapat meningkatkan kapasitas pembiayaan, dengan mengurangi ketergantungan pada pinjaman valuta asing dari luar negeri.

Namun, implementasi kebijakan ini menghadapi beberapa tantangan. Salah satu kendala utama adalah keberagaman instrumen yang disediakan, seperti SRBI, SVBI, dan SUVBI, yang memerlukan kecukupan cadangan SBN atau sukuk global sebagai jaminan. Persaingan antar instrumen dan denominasi yang berbeda-beda akan menambah kompleksitas implementasi kebijakan ini. Selain itu, eksportir yang selama ini menyimpan DHE di luar negeri melakukannya karena keuntungan finansial dan kemudahan dalam memperluas jaringan usaha internasional.

Untuk mengatasi tantangan ini, pemerintah, Bank Indonesia (BI), dan OJK perlu mempertimbangkan kebijakan komplementer, seperti menyediakan dana talangan untuk importir luar negeri dan mendorong perbankan domestik untuk mengambil alih peran lembaga keuangan luar negeri dalam memfasilitasi ekspansi jaringan bisnis global. Kebijakan repatriasi devisa ini perlu memperhitungkan keseimbangan antara stabilitas nilai tukar, pendalaman pasar keuangan, dan pertumbuhan ekonomi inklusif, untuk memastikan keberhasilan jangka panjang tanpa mengorbankan salah satu aspek tersebut.

Dalam hal ini, tokoh kunci yang berperan dalam pengambilan keputusan ini adalah Presiden Joko Widodo sebagai pengambil keputusan utama di pemerintahan, serta pihak terkait lainnya seperti Gubernur Bank Indonesia dan Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang akan bertanggung jawab dalam implementasi dan pengawasan kebijakan tersebut.


Prospek Suram: Investor Asing Mulai Angkat Kaki

26 Feb 2025
Pasar saham Indonesia mengalami tekanan hebat, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok -2,41% ke 6.587,09 pada 25 Februari 2025, mendekati level terendah tahun ini. Penurunan ini terjadi akibat aksi jual asing setelah Indeks MSCI Indonesia diturunkan bobotnya dari 2% menjadi 1,5% pada November 2024.

Selain itu, Morgan Stanley juga menurunkan peringkat MSCI Indonesia dari equal weight menjadi underweight karena prospek pertumbuhan ekonomi yang melemah serta penurunan return on equity (RoE) di sektor siklikal. Sebaliknya, MSCI China justru dinaikkan peringkatnya karena RoE yang lebih menarik. Hal ini mendorong investor asing untuk mengalihkan dananya, tercermin dari outflow asing sebesar Rp 13,1 triliun sejak awal 2025 dan kapitalisasi pasar Indonesia yang menguap lebih dari Rp 1.000 triliun dalam dua bulan.

Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, berharap ada perbaikan dalam review MSCI selanjutnya dan telah melakukan diskusi dengan MSCI serta emiten mengenai metodologi penilaian, termasuk faktor ESG.

Sementara itu, Kartika Sutandi, Founder & Chief Marketing Officer Jarvis Asset Management, menilai regulator perlu merumuskan kebijakan untuk menciptakan pasar saham yang lebih kondusif. Salah satu cara yang disarankan adalah mendorong dana pensiun (BPJS Ketenagakerjaan) untuk menginvestasikan 20% dananya di pasar saham, yang dapat membantu mengangkat indeks. Selain itu, kebijakan seperti full call auction (FCA) dan unusual market activity (UMA) juga perlu dikaji ulang agar pasar lebih stabil.

Oktavianus Audi, VP Marketing Strategy & Planning Kiwoom Sekuritas Indonesia, memperkirakan IHSG masih berada di rentang 6.500-6.600 sebagai area penopang utama. Namun, jika level ini tidak bertahan, IHSG berpotensi turun lebih dalam hingga 6.385.

Dampak Lahirnya Danantara: Ekonomi Dihimpit Beban Berat

26 Feb 2025
Pemerintah resmi membentuk Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) pada 24 Februari 2025 untuk mengelola aset BUMN senilai US$ 900 miliar (Rp 14.715 triliun). Danantara diharapkan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui investasi di sektor hilirisasi nikel, bauksit, tembaga, pusat data, kecerdasan buatan, kilang minyak, petrokimia, produksi pangan, akuakultur, dan energi terbarukan.

Namun, sejumlah ekonom menilai ada risiko besar di balik pembentukan Danantara. Deni Friawan, Peneliti Senior CSIS, menyoroti potensi hilangnya penerimaan negara dari dividen BUMN dalam jangka pendek, yang dapat menekan APBN. Selain itu, risiko utang dan kegagalan investasi juga bisa menjadi beban negara jika pengelolaannya tidak optimal. Deni membandingkan dengan kasus kegagalan 1MDB Malaysia, Russian National Wealth Fund, dan Libyan Investment Authority (LIA) sebagai contoh yang perlu diwaspadai.

Deni juga menyebut bahwa dalam kondisi fiskal yang terbatas dan pertumbuhan ekonomi stagnan di 5%, Danantara hanya bisa fokus pada investasi domestik. Jika terlalu berorientasi pada laba dan menginvestasikan kembali dividen BUMN, ada risiko berkurangnya subsidi bagi masyarakat. Meski skeptis dengan efektivitasnya, Deni menilai masih ada ruang perbaikan karena Danantara masih baru.

Sementara itu, Wijayanto Samirin, Ekonom Universitas Paramadina, menilai bahwa dalam jangka panjang Danantara berpotensi membawa manfaat, tetapi dengan aset yang besar, tantangan utamanya adalah menjaga likuiditas. Ia menyoroti terbatasnya pilihan investasi karena pasar modal Indonesia sedang lesu, dengan investor lebih memilih Surat Berharga Negara (SBN) yang menawarkan bunga lebih dari 7% dengan risiko rendah.

Wijayanto juga mencatat bahwa saham Indonesia dalam FTSE Global Equity Index Series (FTSE GEIS) hanya mewakili kurang dari 0,2%, jauh lebih kecil dibanding negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand. Kondisi ini diperburuk dengan keluarnya beberapa emiten besar dari indeks akibat dugaan manipulasi harga saham, yang semakin mengecilkan porsi investasi global di Indonesia.

Digitalisasi Jadi Senjata Ampuh dalam Persaingan Ekonomi

26 Feb 2025
Meskipun saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) belakangan mengalami tekanan, prospeknya tetap menarik berkat ekspansi layanan broadband dan penguatan infrastruktur digital. Indy Naila, Investment Analyst Edvisor Profina Visindo, menilai bahwa TLKM bisa memanfaatkan pertumbuhan transformasi digital untuk meningkatkan profitabilitas.

Hingga September 2024, laba bersih TLKM turun 9,35% year-on-year (yoy) menjadi Rp 17,67 triliun dari Rp 19,94 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, TLKM masih memiliki keunggulan di sektor fixed broadband (FBB), dengan Telkomsel menguasai 70%-75% pangsa pasar dan beroperasi di 450-500 kota, menurut Daniel Widjaja, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia.

Strategi TLKM meliputi peluncuran EzNet untuk memperluas jangkauan broadband yang lebih terjangkau, sementara Telkomsel tetap fokus pada pelanggan premium untuk mempertahankan pendapatan rata-rata per pengguna (ARPU). Selain itu, Telkomsel juga mengevaluasi lelang spektrum 1,4 GHz dan mengembangkan solusi fixed wireless access (FWA) untuk mendukung ekspansi jangka panjang.

Etta Rusidana Putra, Analis Maybank Sekuritas, memperkirakan pertumbuhan laba bersih TLKM bisa mencapai 5% yoy, dengan marjin laba bersih sekitar 15%-16% pada 2025. Ia memproyeksikan pendapatan TLKM di 2025 mencapai Rp 157,96 triliun dengan laba bersih Rp 24,94 triliun, meningkat dari proyeksi 2024 sebesar Rp 153 triliun dan laba bersih Rp 23,62 triliun.

Kebijakan dividen TLKM dan program Danantara juga disebut sebagai katalis positif, meskipun implementasinya masih perlu dipantau, menurut Indy. Indy merekomendasikan buy on weakness dengan target harga Rp 3.300, sedangkan Etta dan Daniel merekomendasikan buy, masing-masing dengan target harga Rp 4.500 dan Rp 3.600.

Persaingan Bunga Deposito: Berburu Tawaran Terbaik

26 Feb 2025
Bunga deposito bank digital di Indonesia masih bertahan di level tinggi karena ketatnya kondisi likuiditas perbankan, meskipun Bank Indonesia (BI) telah menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75% di awal tahun. Bank digital perlu menawarkan bunga tinggi untuk menarik dana pihak ketiga (DPK) agar tetap kompetitif dengan bank besar.

Indra Utoyo, Direktur Utama Allo Bank (BBHI), menyatakan bahwa banknya masih mempertahankan suku bunga deposito hingga 7,5% per tahun karena kondisi likuiditas yang masih ketat serta pertumbuhan kredit digital yang tinggi. Sementara itu, Bank Jago (ARTO) menawarkan bunga 5%-6%, naik dari sebelumnya 4,25%-5,25%. Tjit Siat Fun, Direktur Kepatuhan & Sekretaris Perusahaan Bank Jago, menegaskan bahwa faktor suku bunga bukan satu-satunya pertimbangan nasabah dalam memilih produk perbankan.

Rustarti Suri Pertiwi, Direktur Keuangan Bank Raya (AGRO), mengungkapkan bahwa banknya juga terus mengevaluasi suku bunga berdasarkan kondisi likuiditas dan industri. Saat ini, Bank Raya menawarkan bunga deposito hingga 6% melalui produk Saku Jaga. Dengan loan to deposit ratio (LDR) sebesar 86,4% dan liquidity coverage ratio 224,6% per Desember 2024, likuiditas bank ini masih terjaga dengan baik.

Sasmaya Tuhuleley, Direktur Utama SeaBank Indonesia, mengatakan bahwa pihaknya belum berencana menyesuaikan bunga deposito, yang saat ini maksimal 6%, dan akan terus memantau perkembangan ekonomi sebelum mengambil keputusan.

Selain itu, beberapa bank digital lainnya juga menawarkan bunga deposito tinggi, seperti Bank Amar (5%-9%), Krom Bank (hingga 8,75%), Bank Neo Commerce (5%-8%), dan Superbank (6%-7,5%).

Bank digital masih mempertahankan bunga deposito tinggi demi menjaga likuiditas dan daya saing, meskipun industri perbankan tengah menghadapi tantangan ekonomi dan kebijakan moneter yang lebih longgar.

Pastikan Hanya Sementara Waktu Saja

26 Feb 2025
Pemerintah diminta segera untuk membuktikan komitmennya dalam mewujudkan  tata kelola (governance) yang  baik terhadap Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). Di antara yang harus dilakukan pemerintah adalah menyudahi posisi rangkap jabatan yang masih dijalani oleh sejumlah pengurus badan anyar tersebut. Untuk itu, rangkap jabatan itu arus dipastikan hanya bersifat sementara. Karena adanya rangkap jabatan, peluncuran Danatara yang semestinya menjadi momentum besar dalam sejarah ekonomi Indonesia, dinilai justru bisa memicu banyak pertanyaan, terutama terkait kredibiltas lembaga ini di mata investor. Tidak hanya menimbulkan kekhawatiran tentang independensi lembaga tersebut, rangkap jabatan juga bisa dibaca sebagai tanda lemahnya komitman terhadap prinsip tata kelola yang baik. Selain itu, ekspektasi pasar dan masyarakat terhadap pengelolaan lembaga sebesar Danantara, mestinya diolah dengan sangat profesional oleh orang-orang yang bekerja dengan waktu penuh (full time). "Sehingga kalau ada rangkap jabatan itu, kira-kira akan bisa kita lihat dalam beberapa bulan ke depan, seperti apa," ujar Associate Director BUMN Research  Group Lembaga Manajemen FEB-UI, Toto Pranoto. (Yetede)

Moment Tepat Peluncuran Bank Emas

26 Feb 2025

Ditengah tingginya animo masyarakat berinvestasi logam mulia emas, pemerintah resmi meluncurkan bank emas atau bullion bank hari ini. Hadirnya Bullion bank dinilai tepat waktu, mengingat harga emas global terus mengkilap didorong ketidakpastian ekonomi dan meningkatnya permintaan aset lindungi nilai. Pada Selasa (25/2/2025), harga logam mulia emas tembus Rp 1,7 juta per gram, naik 13% dibandingkan dengan akhir tahun 2024 atau secara year to date (ytd). Saat ini, terdapat dua lembaga jasa keuangan (LJK) yang akan menjalankan kegiatan usaha bulion bank, yakni PT penggadaian yang merupakan anak usaha dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI). Kemudian, PT Bank Syariah Indonesia (BS(), kedua LJK ini telah mendapatkan lisensi dari OJK. LJK bank emas juga akan berada di bawah pengawasan OJK.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, segala persiapam peluncuran bank emas telah dimatangkan. "Mudah-mudahan nggak akan ada masalah sama sekali, kalau saya lihat persiapan sudah sangat baik dan apa yang dicita-citakan betul-betul tercapai pengelolaan aset emas kita secara lebih baik lagi," kata Dian. Ke depan, prospek bisnis bullion bank diperkirakan semakin baik. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, usaha bullion dapat memaksimalkan added value dari sumber daya emas yang dimiliki masyarakat. Pengembangan usaha bullion akan memberikan keuntungan bagi pihak ketiga, yaitu pemerintah, masyarakat dan pelaku usaha, serta LJK. (Yetede)