;
Kategori

Ekonomi

( 40554 )

Mesin Baru untuk Mendorong Akselerasi Ekonomi

25 Feb 2025

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) yang diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto pada 24 Februari 2025, memiliki peluang besar untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia, bahkan mencapai angka 8%. Danantara akan mengerahkan investasi awal sebesar US$20 miliar untuk 20 proyek strategis yang mencakup sektor-sektor vital seperti penghiliran nikel, energi baru terbarukan, dan pusat data. Rosan P. Roeslani, CEO Danantara, menjelaskan bahwa badan ini akan mengelola aset BUMN, termasuk tujuh perusahaan besar, dengan total aset mencapai US$670,8 miliar.

Namun, keberhasilan Danantara sangat bergantung pada pengelolaan yang bebas dari kepentingan politik. Banyak pihak, termasuk Esther Sri Astuti dari Indef, mengingatkan bahwa Danantara perlu memastikan bahwa BUMN yang dikelola dalam kondisi sehat sebelum digabungkan, untuk menghindari risiko beban pada BUMN yang sehat. Selain itu, meskipun Rosan P. Roeslani mendapat dukungan karena rekam jejak profesionalnya, beberapa pihak, seperti Wijayanto Samirin dari Universitas Paramadina, mengingatkan agar posisi dalam Danantara diisi oleh sosok-sosok yang bebas dari kepentingan politik.

Presiden Prabowo juga menekankan pentingnya transparansi dan pengawasan yang kuat, dengan Danantara harus mampu diaudit setiap saat dan tidak terjebak dalam praktik korupsi. Namun, ada kekhawatiran terkait pasal dalam revisi UU BUMN yang dapat menyulitkan proses audit, terutama oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), yang hanya bisa melakukan audit dengan permintaan DPR. Keberhasilan Danantara akan sangat bergantung pada integritas dan prinsip tata kelola yang baik, serta kemampuan untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi inklusif.


Strategi Model Bisnis yang Efektif untuk Danantara

25 Feb 2025

RUU Perubahan Ketiga atas UU No. 19 Tahun 2003 tentang BUMN yang telah disahkan pada 4 Februari 2025 memperkenalkan beberapa perubahan penting dalam pengelolaan BUMN, salah satunya adalah pembentukan BPI Danantara. Dengan pengesahan ini, kelembagaan Danantara semakin diperkuat secara legal. Fokus utama kini bergeser pada pengembangan model bisnis untuk mencapai tujuan utama sebagai katalisator pertumbuhan ekonomi, pengoptimalan kekayaan negara, dan peningkatan daya saing global.

Mochamad Purnomosidi, tokoh penting dalam LRT Jabodebek, juga terlibat dalam pencarian investasi untuk proyek ini, namun fokus utama Danantara adalah pada pengelolaan aset BUMN yang terdiri dari tujuh perusahaan besar seperti Bank Mandiri, PLN, dan Pertamina. Total aset kelolaan Danantara diperkirakan mencapai Rp8.938 triliun pada saat pendirian.

Danantara akan mengadopsi dua model bisnis utama: sebagai asset manager yang fokus pada penciptaan nilai dan investment manager yang berorientasi pada pengoptimalan return finansial. Referensi utama untuk pengelolaan Danantara adalah Temasek, yang telah sukses mengelola portofolio global dengan prinsip komersial, tanpa campur tangan politik. Namun, Danantara harus menyesuaikan strategi dengan kondisi Indonesia, dengan fokus pada investasi jangka menengah hingga panjang, terutama dalam sektor-sektor yang mendukung peningkatan kesejahteraan nasional seperti infrastruktur dasar, energi, dan pendidikan.

Danantara berpotensi menjadi pilar ekonomi yang kuat dan kompetitif jika dikelola dengan prinsip komersial, tata kelola yang baik, dan strategi investasi yang fleksibel. Keberhasilannya bergantung pada kemampuannya mengatasi tantangan regulasi, pasar, dan risiko serta mendukung perekonomian nasional.


LRT Jabodebek Bergerak Cepat Menarik Investor

25 Feb 2025

LRT Jabodebek sedang aktif mencari investor dari Asia dan Eropa untuk merealisasikan pembangunan Fase 2 Cibubur—Bogor, yang saat ini masih dalam tahap feasibility study (FS). Mochamad Purnomosidi, Executive President LRT Jabodebek, menargetkan bahwa studi kelayakan ini akan selesai pada Agustus 2025. Sejalan dengan itu, mereka juga sedang melakukan diskusi dengan beberapa investor dari negara seperti Uni Emirat Arab, Korea Selatan, Jepang, dan beberapa negara Eropa untuk menilai kelayakan proyek tersebut. Meskipun belum ada angka pasti mengenai kebutuhan investasi, Purnomosidi memastikan bahwa pendanaan untuk Fase 2 tidak akan lebih besar dari Fase 1 karena panjang lintasan Fase 2 hanya sekitar 23 kilometer, sementara Fase 1 mencapai 44 kilometer.

Di sisi lain, LRT Jabodebek menargetkan 27 juta penumpang tahun ini, meskipun dalam beberapa pekan terakhir, jumlah penumpang mengalami penurunan menjadi 89.000 pengguna per hari akibat kebijakan work from home. Untuk meningkatkan jumlah pengguna, LRT Jabodebek berencana melakukan sejumlah langkah strategis seperti menambah jumlah trainset, memperpendek headway, menyediakan layanan feeder, serta membuka peluang untuk hak penamaan (naming rights). Pada tahun 2024, LRT Jabodebek berhasil mencatatkan 21.055.870 pengguna, dengan rekor harian tertinggi sebanyak 94.172 pengguna pada 26 November 2024.



Danantara Resmi Dibentuk: Peluang Besar atau Ancaman bagi Pasar?

25 Feb 2025
Peresmian Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) oleh Presiden Prabowo Subianto menandai langkah baru dalam pengelolaan aset BUMN senilai lebih dari Rp 14.000 triliun. Di tahap awal, Danantara akan mengelola tujuh BUMN besar, termasuk Bank Mandiri (BMRI), BRI (BBRI), PLN, Pertamina, BNI (BBNI), Telkom (TLKM), dan MIND ID. Investasi awal yang disiapkan mencapai US$ 20 miliar atau sekitar Rp 326 triliun, dengan fokus pada sektor hilirisasi nikel, bauksit, tembaga, serta data centers dan kecerdasan buatan.

Namun, pembentukan Danantara memicu kekhawatiran di pasar. Mino, Retail Research Team Leader CGS International Sekuritas, menyoroti kecemasan investor terkait dampak Danantara terhadap pembagian dividen BUMN dan kemungkinan kepentingan politik dalam pengelolaannya.

Sementara itu, Budi Frensidy, Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia (UI), menilai bahwa pasar masih skeptis terhadap Danantara, dan butuh waktu setidaknya satu tahun untuk membuktikan tata kelola serta manajemen risikonya.

Di sisi lain, Ekky Topan, Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, melihat peluang jangka panjang jika Danantara dapat dikelola dengan baik, yang berpotensi menarik kembali dana asing ke pasar modal Indonesia. Namun, faktor transparansi dan akuntabilitas masih menjadi sorotan utama.

Saat ini, dampak ke pasar saham masih negatif, dengan IHSG turun 0,78% serta mayoritas saham BUMN dalam Danantara mengalami tekanan akibat aksi jual investor asing.

Prospek SMRA: Tantangan Prapenjualan & Peluang Pertumbuhan di 2025

25 Feb 2025
Prospek PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) tetap menarik meskipun menghadapi tantangan dalam mencapai target prapenjualan Rp 5 triliun di 2025. Sukarno Alatas, Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, menilai target ini sulit dicapai, terutama karena realisasi prapenjualan 2024 hanya Rp 4,36 triliun, lebih rendah dari target. Ia juga mencatat bahwa ketidakpastian ekonomi global dan tingginya suku bunga masih membuat konsumen bersikap wait and see.

Ismail Fakhri Suweleh, Analis BRI Danareksa Sekuritas, memperkirakan marketing sales SMRA tahun ini akan tumbuh 4,9% yoy menjadi Rp 4,54 triliun, sesuai dengan tren pertumbuhan tahunan 2016-2024. Namun, Kevin Halim dari Maybank Sekuritas Indonesia menyoroti bahwa pertumbuhan SMRA tertinggal dibanding perusahaan sejenis, dengan eksposur yang lebih rendah terhadap pasar pembeli riil.

Meski begitu, proyek Summarecon Bogor, Summarecon Crown Gading, dan Summarecon Tangerang memberikan kontribusi 40% dari total prapenjualan, yang diprediksi menjadi pendorong utama pertumbuhan ke depan. Kevin juga memperkirakan pendapatan berulang SMRA akan meningkat dari 31% di 2024 menjadi 46% pada 2026, tertinggi kedua setelah Pakuwon Jati (PWON).

Untuk sektor perhotelan, meskipun industri tetap positif, kebijakan pemerintah yang memangkas anggaran MICE (Meeting, Incentives, Conferences, Exhibitions) dapat menjadi risiko di 2025. Namun, Kevin menilai dampaknya terhadap SMRA kecil karena bisnis perhotelannya hanya menyumbang 4% dari total pendapatan.

Kevin memproyeksi pendapatan SMRA di 2025 turun menjadi Rp 7,81 triliun dari Rp 9,68 triliun di 2024, dengan laba bersih turun dari Rp 3,48 triliun menjadi Rp 2,66 triliun. Rekomendasi analis terhadap saham SMRA beragam: BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rating buy dengan target harga Rp 800, Maybank Sekuritas merekomendasikan buy di Rp 630, sementara Kiwoom Sekuritas menyarankan hold dengan target Rp 460.

Menghadapi Risiko di Bawah Kepemimpinan Danantara

25 Feb 2025
Lembaga pengelola investasi negara, Daya Anagata Nusantara (Danantara), telah resmi diluncurkan, dan keberadaannya menimbulkan kekhawatiran terkait pengelolaan tiga bank BUMN yang berada di bawah pengawasannya, yaitu Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Negara Indonesia (BBNI), dan Bank Mandiri (BMRI).

Namun, Direktur Utama BNI Royke Tumilaar menegaskan bahwa nasabah tidak perlu khawatir, karena Danantara hanya mengelola dividen BUMN, bukan dana pihak ketiga (DPK) bank. Direktur Utama BRI Sunarso juga optimistis bahwa kehadiran Danantara akan memberi fleksibilitas lebih bagi BRI, terutama melalui penerapan business judgement rule, yang memungkinkan direksi mengambil keputusan bisnis tanpa beban tanggung jawab hukum jika terjadi kerugian.

Dari sisi pengawasan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjamin bahwa operasional bank BUMN tetap memperhatikan kepentingan pemegang saham dan harus mematuhi prinsip prudential banking. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menegaskan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait untuk memastikan pengelolaan bank BUMN tetap berjalan sesuai regulasi yang berlaku.

Menggali Potensi Pekerja Informal dalam Ekonomi RI

24 Feb 2025

5 tahun mendatang, kondisi ekonomi global diperkirakan tidak akan memberikan sinyal yang optimistis. Hal ini disebabkan oleh kebijakan-kebijakan yang diambil oleh Donald Trump, seperti keluar dari WHO, Perjanjian Paris, dan pembubaran USAID, yang mempengaruhi arah ekonomi global. Sementara itu, Asia, terutama China, diprediksi akan semakin dominan secara global, menggantikan peran Barat. Ketidakpastian ini mengharuskan Indonesia untuk mengandalkan kekuatan internal dan kerja sama antarnegara, seperti yang terlihat pada krisis 2008.

Untuk memperkuat perekonomian dalam menghadapi tantangan global, Indonesia perlu fokus pada sumber daya internal, seperti mendorong konsumsi rumah tangga yang berkontribusi signifikan terhadap PDB. Konsumsi rumah tangga harus dipacu dengan memberikan kontinuitas pendapatan, akses terhadap peningkatan pendapatan, dan serapan tenaga kerja. Peningkatan jumlah pekerja formal menjadi kunci, karena pekerja formal cenderung memiliki tingkat kepercayaan lebih tinggi dalam berbelanja dibandingkan pekerja informal.

Pemerintah perlu mengurangi ketergantungan pada sumber daya yang tidak berkelanjutan, seperti bantuan sosial, dan fokus pada UMKM yang menyerap sebagian besar tenaga kerja informal. Dengan memberikan insentif untuk mengangkat pekerja informal menjadi pekerja formal, serta memberikan dukungan seperti fasilitas modal, akses pasar, dan kebijakan pembiayaan ramah UMKM, pemerintah dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.

Secara keseluruhan, Indonesia perlu mengoptimalkan sumber daya internal dan sistem ekonomi yang berkelanjutan untuk memperkuat struktur perekonomian nasional, mengurangi ketergantungan pada faktor eksternal, dan memastikan pertumbuhan ekonomi yang stabil di masa depan.


Bank Jatim Pastikan Kepatuhan terhadap Proses Hukum

24 Feb 2025

Bank Jatim menunjukkan komitmennya untuk menghormati proses hukum terkait dugaan manipulasi pemberian kredit yang melibatkan Pemimpin Bank Jatim Cabang Jakarta. Fenty Rischana, Corporate Secretary Bank Jatim, menegaskan bahwa pihak manajemen berkomitmen penuh untuk mendukung pemeriksaan yang sedang berlangsung oleh Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta (Kejati DK Jakarta). Kasus ini terungkap setelah hasil pemeriksaan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan SKAI Bank Jatim, yang kemudian mendorong perseroan untuk melaporkan dugaan manipulasi kredit kepada aparat penegak hukum.

Bank Jatim memberikan apresiasi kepada Kejati DK Jakarta atas upaya cepat dalam penegakan hukum dan memastikan bahwa perusahaan akan terus beroperasi sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) serta menjaga prinsip Good Corporate Governance (GCG), seperti transparansi, akuntabilitas, dan fairness. Fenty juga menegaskan bahwa proses pemeriksaan terhadap tersangka terus berlanjut, dan Bank Jatim mengupayakan recovery asset untuk pemulihan kerugian secara optimal.

Pada akhirnya, Bank Jatim memastikan akan tunduk dan patuh terhadap ketentuan hukum yang berlaku, serta berkomitmen menjaga kelancaran operasional dan meningkatkan kepercayaan pemangku kepentingan.


Danantara: Pendatang Baru yang Mengguncang Ekonomi

24 Feb 2025
Pemerintah Indonesia meluncurkan Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara), yang akan mengelola aset BUMN senilai Rp 14.000 triliun. Presiden Prabowo Subianto meresmikan badan ini sebagai bagian dari program Asta Cita, yang bertujuan meningkatkan investasi berkelanjutan dan inklusif.

Struktur kepemimpinan Danantara dipimpin oleh Rosan Perkasa Roeslani sebagai CEO, yang juga masih menjabat sebagai Menteri Investasi/Kepala BKPM. Dony Oskaria ditunjuk sebagai COO, dan Pandu Patria Sjahrir sebagai CIO.

Namun, para ekonom mengkritisi transparansi dan tujuan pembentukan Danantara. Wijayanto Samirin, ekonom Universitas Paramadina, mengingatkan bahwa keberhasilan Danantara bergantung pada tata kelola yang baik. Jika tidak dikelola profesional, aset BUMN bisa mengalami kegagalan besar. Misbah Hasan, Sekjen FITRA, juga menilai bahwa pembentukan Danantara lemah karena tidak melalui feasibility study yang matang, dan lebih baik memaksimalkan peran Indonesia Investment Authority (INA) yang sudah ada.

Awalil Rizky dari Bright Institute juga menyoroti ketidakjelasan tujuan Danantara, termasuk mekanisme penyisihan laba BUMN dan hubungannya dengan keuangan negara. Oleh karena itu, meskipun Danantara diharapkan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi, tantangan besar dalam transparansi dan profesionalisme masih menjadi sorotan utama.

Kepemilikan SBN oleh BI Diprediksi Meningkat

24 Feb 2025
Pemerintah berencana menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) untuk membiayai program 3 juta rumah, yang akan dikelola oleh Kementerian Perumahan dan Wilayah Permukiman. Bank Indonesia (BI) menyatakan dukungannya dengan kemungkinan membeli SBN tersebut, meskipun kepemilikan BI atas SBN saat ini sudah mencapai Rp 1.535,08 triliun (25% dari total outstanding SBN).

Ketua Komisi XI DPR, Mokhamad Misbakhun, menyebut bahwa mekanisme penerbitan SBN ini masih harus dibahas di DPR sebelum keputusan final diambil.

Namun, langkah BI dalam membeli lebih banyak SBN mendapat kritik dari para ekonom. Myrdal Gunarto, ekonom Maybank Indonesia, menilai bahwa meskipun BI bisa membantu stabilitas pasar, terlalu banyak kepemilikan SBN oleh BI dapat membahayakan neraca keuangannya dan berdampak negatif jika likuiditas tidak mencukupi.

Sementara itu, Wijayanto Samirin, ekonom Universitas Paramadina, mengkhawatirkan bahwa langkah ini dapat mengancam independensi BI. Jika BI telah berkomitmen membeli SBN sebelum pasar primer dibuka, hal ini berpotensi melanggar prinsip independensi bank sentral. Ia juga mengingatkan bahwa kebijakan sebelumnya, seperti penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan debt-switch, telah memperburuk kondisi ini.

Jika tidak dikelola dengan transparan dan hati-hati, ketergantungan pemerintah pada BI dalam pembelian SBN bisa mengurangi kepercayaan investor dan masyarakat, serta melemahkan efektivitas kebijakan moneter dan stabilitas ekonomi nasional.