Ekonomi
( 40554 )Arah Kebijakan Makroprudensial
Perbankan nasional menghadapi tantangan fungsi intermediasi yang belum optimal di tengah likuiditas melimpah dan modal yang kokoh, ditandai dengan laju penyaluran kredit yang masih bergerak pelan. BI mencatat kredit yang dikucurkan perbankan Oktober 2021 baru tumbuh 3,24 % secara tahunan (yoy). Sementara rasio alat likuid terhadap dana pihak ke 3 dan permodalan, 34,05 % dan 25,30 %. Laju kredit rendah belum cukup menopang pemulihan ekonomi pasca pandemi. Sebab, sumber pembiayaan pembangunan masih bertumpu pada gelontoran kredit perbankan.
Gubernur BI Perry Warjiyo (23/10/2021) menegaskan, kebutuhan pro-stability mendorong ditahannya pergerakan suku bunga acuan pada level rendah sejak pandemi sampai muncul tanda-tanda kenaikan inflasi. Meski begitu, BI tetap memperhatikan kebutuhan pertumbuhan (pro-growth). Dan, untuk memenuhi itu, BI meracik kebijakan makroprudensial sebagai bagian bauran kebijakan BI, selain kebijakan sistem pembayaran, pendalaman pasar uang, dan percepatan digitalisasi ekonomi keuangan yang inklusif dan berkelanjutan.
Kebijakan Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) yang berlaku pada 2022, akan menyasar kredit sektor UMKM, masyarakat berpendapatan rendah, serta pembiayaan inklusif lainnya. Selain kredit langsung ke UMKM, bisa melalui jalur rantai pasok, lembaga keuangan dan badan layanan seperti PT Pegadaian dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM), dan pembelian surat berharga pembiayaan inklusif (SBPI) yang diterbitkan pemerintah, BI, bank, lembaga dan/atau badan usaha yang memiliki program pengembangan UMKM dan pembiayaan inklusif di Indonesia. (Yoga)
Siapkan Langkah Antisipasi dalam Implementasi RCEP
Indonesia akan mengimplementasikan perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP) pada pertengahan 2022. Dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang Koichi Hagiuda, Mendag Muhammad Lutfi(10/1) mengatakan, Indonesia berkomitmen mempercepat ratifikasi perjanjian RCEP di tingkat nasional. ”Implementasi RCEP diharapkan dapat mendorong pemulihan ekonomi kawasan dan global akibat imbas pandemi Covid-19,” kata Lutfi
Indonesia belum merampungkan ratifikasi karena pembahasannya di parlemen belum tuntas. Kemendag memprediksi, 5 tahun sejak RCEP diberlakukan, ekspor Indonesia akan naik 8-11 % dan investasi luar negeri meningkat 22 %. Selain penurunan tarif dan kemudahan investasi, RCEP juga membuka peluang peningkatan keterlibatan Indonesia dalam rantai nilai global.
Plt Direktur Eksekutif Indonesia Global Justice (IGJ) Rachmi Hertanti berpendapat, pengalihan dan penciptaan perdagangan bisa terjadi lewat RCEP, mengingat mayoritas komoditas unggulan negara anggota RCEP, terutama negara ASEAN, relatif sama. Negara lain non-anggota RCEP bisa jadi tidak kehilangan potensi ekspor. Mereka justru dapat bekerja sama dengan negara yang terikat RCEP. Riset pemerintah menunjukkan, neraca perdagangan Indonesia bakal defisit pada tahun awal implementasi RCEP, namun akan diimbangi kenaikan surplus sampai 979,03 juta USD pada 2040 atau 2,5 kali surplus saat tidak mengikuti RCEP yang hanya 383,06 juta USD. (Yoga)
Waspadai Kripto Berpendapatan Tetap
Masyarakat perlu mewaspadai penawaran investasi aset kripto yang memberi pendapatan tetap dalam waktu tertentu, pasti penipuan, perdagangan aset kripto fluktuatif sehingga tak mungkin memberi pendapatan tetap. Ketua Satgas Waspada Investasi (SWI) Tongam Lumban Tobing menjelaskan, modus penipuan investasi aset kripto, dengan menawarkan pendapatan tetap dari perdagangan aset kripto.
Contohnya EDC Cash, yang menjanjikan pendapatan tetap 0,5 % per hari atau 15 % per bulan atau 182,5 persen per tahun. Modus lainnya, dengan pemberian bonus kepada anggota yang berhasil membawa anggota baru atau member get member. Pelaku membuat token atau koin kripto, meminta anggota menukar aset mereka dengan kripto buatannya. Ketika tidak mendapatkan anggota baru, imbal hasil pun seret, biasanya pengelola entitas kabur, sambil membawa semua modal yang sudah disetor.
Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Fisik Aset Kripto Teguh Kurniawan Harmanda menekankan, sebagai langkah aman, sebaiknya beli atau berdagang di pasar fisik aset kripto yang terdaftar di Bappebti. (Yoga)
Omicron dan Inflasi Bayangi Bisnis Ritel
Prospek penjualan ritel pada tahun ini diprediksikan lebih cerah sejalan dengan berlanjutnya pemulihan ekonomi. Namun, dua hal berpotensi menghambat perbaikan penjualan eceran, yakni kembali merebaknya Covid-19 yang bisa berimbas terhadap mobilitas masyarakat hingga tekanan inflasi. Hasil Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa Indeks Penjualan Riil (IPR) Desember 2021 sebesar 206,9, naik 3% dari bulan sebelumnya yang sebesar 201 poin. Tak hanya itu, IPR Desember 2021 mencatatkan pertumbuhan 8,9% ketimbang periode yang sama pada tahun lalu.
Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Yusuf Rendy menilai, perbaikan penjualan eceran akhir tahun tak terlepas dari terkendalinya penyebaran Covid-19. Sebab pada saat yang bersamaan, sejumlah indikator dini ekonomi juga terpantau membaik. "Misalnya, Indeks Keyakinan Konsumen, Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur, dan inflasi yang menunjukkan perbaikan," kata Yusuf, Selasa (11/1). Namun, beberapa hal masih akan menjadi hambatan penjualan eceran tahun ini. Pertama, risiko penyebaran Covid-19 varian omicron yang berdampak pada pembatasan mobilitas masyarakat. Kedua, tekanan inflasi yang menggerus daya beli.
Penyaluran Kredit Properti
Kawasan perumahan di Parung Panjang, Bogor, Jawa Barat, Selasa(11/1). Berdasarkan analisis perkembangan uang beredar Bank Indonesia (BI), penyaluran kredit sektor properti meningkat 4,6% year on year (yoy) menjadi Rp 1.104,6 pada Oktober 2021.
Pengendalian Utang Masa Pandemi, Jurus Konservatif Dipacu Maksimal
Langkah konservatif otoritas fiskal menguatkan optimisme pemerintah dalam mengendalikan utang pada tahun ini, kendati World Bank menempatkan Indonesia ke daftar 10 besar negara berkembang dengan utang tertinggi pada tahun pertama pandemi Covid-19. World Bank di dalam International Debt Statistics 2022 mencatat, Indonesia berada pada peringkat ketujuh pada daftar 10 negara berkembang dengan utang luar negeri tertinggi pada 2020, yakni mencapai US$417,53 miliar. Tingginya tingkat utang ini tak terlepas dari tekanan pandemi Covid-19 yang memaksa pemerintah untuk menarik utang baru jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Presiden World Bank Group David Malpass mengatakan pandemi Covid-19 menghadirkan tantangan berat bagi negara berpenghasilan rendah dan menengah, termasuk Indonesia.
Pemerintah dan kalangan ekonom berpendapat, pada tahun ini prospek utang sangat terjaga lantaran otoritas fiskal telah melakukan berbagai antisipasi sejak dini. Pertama, berlanjutnya kerja sama dengan Bank Indonesia (BI) yang terefleksi pada ditandatanganinya Surat Keputusan Bersama (SKB) III yang berlaku sejak kuartal IV/2021 hingga tahun ini. Kedua, optimalisasi Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebagai sumber pembiayaan dalam rangka menahan penarikan utang baru melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN). Ketiga, implementasi UU No. 7/2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (HPP) pada tahun ini yang diyakini menguatkan ketahanan fiskal untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi nasional.
Pasar Hunian, Sektor Properti Bakal Pulih pada Tahun Ini
Sektor properti diprediksi mengalami pemulihan pada tahun ini meskipun belum kembali ke situasi sebelum pandemi Covid-19. Senior Associati Director Research Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan sektor properti sudah mulai bergerak naik sejak akhir tahun lalu. "Memang bergerak naik, tetap belum bisa sebelum pandemi," ujarnya.
Dalam Kalaidoskop Properti 2021 dan Prospek 2022 Prolab School of Property, Senin (10/1). Country Manager Rumah.com Marine Novita menyarankan developer properti perlu menawarkan produk yang paling banyak diminati konsumen. Menurutnya, pada konsumen membeli rumah dengan akses publik transportasi. Selain harga, infrastruktur transportasi, kelengkapan umum seperti fasilitas perbelanjaan, fasilitas kesehatan, dan fasilitas pendidikan masih akan jadi daya tarik utama. Adapun sejumlah wilayah yang akan diperkirakan menjadi incaran konsumen pada 2022 yakni Kecamatan Cipondoh dan Karang Tengah menjadi dua wilayah yang paling prospektif di Kota Tangerang tahun ini. (Yetede)
Powell: The Fed Fokus Tangani Inflasi
Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell menyoroti upaya bank sentral untuk menangani inflasi dan mentasbilkan ekonomi AS. Powell menjelaskan itu dalam sidang konfirmasinya dalam masa jabatan kedua dihadapan Komite Perbankan Senat AS di Washington, Selasa (11/1). Kesaksian Powel pada Selasa didepan Komite Perbankan dilakukan setelah Presiden AS Joe Biden menominasikannya untuk jabatan kedua. Ia kembali memipin bank sentral saat ekonomi AS berurusan dengan gelombang rekor inflasi tinggi yang mendorong para kritikus menuduh The Fed berpuas diri. The Fed pada Oktober 2021 mengumumkan aturan investasi yang lebih ketat setelah muncul kontroversi terkait aktivitas perdagangan Powell dan dua pejabat senior lainnya, yang akhirnya mengundurkan diri. (Yetede)
AS Akan Menuju Ekonomi Terbaik
Chief Executive Officer (CEO) dan Chairman JPMorgan Chase Jamie Dimon mengatakan, AS sedang menuju pertumbuhan ekonomi terbaik dalam beberapa dekade. "Kita akan memiliki pertumbuhan terbaik yang pernah dialami tahun ini, saya pikir mungkin sejak beberapa saat setelah peristiwa Depresi Besar (Great Depression). Tahun depan juga akan cukup bagus," ujar dia kepada Bertha Coobms dari CNBC, dalam acara "40th Annual J.P.Morgan Healthcare Conference" yang digelar secara virtual karena penyebaran varian virus corona Covid-19, Omicron, Senin (10/1) waktu setempat. Menurut Dimon kepercayaannya berasal dari neraca konsumen Amerika yang kuat. Dimon mengungkapkan, pertumbuhan akan terjadi bahkan disaat The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan lebih banyak dari yang diharapkan investor. "Ada kemungkinan inflasi lebih buruk dari yang dipikirkan orang. Saya sendiri akan terkejut jika hanya empat kali kenaikan," tambahnya. (Yetede)
Warung Migo ke 1000 Dihadirkan di JakTim
Migo, jaringan offline pertama di dunia yang mendistribusikan konten digital dengan cara yang terjangkau, mengumumkan kehadiran jaringan Warung Migo ke-1.000 yang berlokasi di Kramat Jati, Jakarta Timur. Langkah tersebut merupakan bukti konkret kemajuan bisnis Migo dan realisasi dari visinya dalam memperluas jangkauan digital keseluruh lapisan masyarakat di Tanah Air melalui warung konvensional. Direktur Utama Migo Indonesia Dan Connor mengatakan, jutaan masyarakat Indonesia mengunjungi warung setiap hari untuk memenuhi kebutuhan makan, belanja, berkumpul dan seterusnya, Sejak kehadirannya tahun 2020, Migo telah meluaskan jangakauan kemitraan Warung Migo hingga kebeberapa kota besar di area kota Jakarta, provinsi Banten, hingga Jawa Barat. Kehadiran Warung Migo yang strategis ditengah permukiman penduduk dapat menjadi medium yang tepat untuk menjangkau lapisan masyarakat yang masih memiliki keterbatasan dalam menikmati konten digital. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









