;

Pengelolaan Ekowisata Belum Optimal

Ekonomi Yoga 10 Jan 2022 Kompas
Pengelolaan Ekowisata
Belum Optimal

Indonesia memiliki SDA besar untuk ekowisata, namun pengelolaannya belum optimal, sementara wisatawan makin cerdas menilai keseriusan pengelolanya. Deputi Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan Kemenparekraf Rizki Handayani berkata, produk wisata ekologi yang dulu terbatas pada taman nasional kini beragam, turis kini menilai konsep wisata ekologi menyeluruh, termasuk desa wisata. Desa wisata Nglanggeran di Patuk, Gunungkidul, DIY, misalnya, termasuk kawasan Geopark Global Gunung Sewu dan menawarkan aneka atraksi yang menghidupi warga lokal, bukan hanya situs gunung api purba. Prinsipnya, ekowisata terdiri dari konservasi alam dan budaya, ekonomi berkelanjutan, dan edukasi

Manajer Program Indonesia Ecotourism Network Wita Simatupang mengatakan, ekowisata di Indonesia dimulai sebelum 2002. Komunitas masyarakat Kepulauan Togean, Sulteng, mengembangkannya sejak 1996 dan komunitas masyarakat di Tangkahan, Sumut sejak 1999. Chairperson Global Network Ecotourism Glenn Jampol menilai, kini semakin banyak pelaku usaha jasa pariwisata menerapkan ekowisata. Hasil studi Booking.com menunjukkan, 83 % konsumen global berharap perusahaan jasa wisata yang mencatatkan laba, harus punya dampak positif pada lingkungan dan masyarakat lokal. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :