Ekonomi
( 40554 )Selama 4 Hari, Dana Asing Hengkang Rp 8,56 Triliun
Dana investor asing yang hengkang keluar Indonesia masih terjadi. Kondisi tersebut masih terus berlangsung hingga pekan kedua Juli 2022.
Berdasarkan data transaksi yang dihimpun Bank Indonesia (BI) untuk periode 11 Juli 2022 hingga 14 Juli 2022, nonresiden di pasar keuangan domestik terjadi jual neto hingga Rp 8,56 triliun.
Mata Uang Pilihan di Tengah Ancaman Resesi Ekonomi AS
Dollar Amerika Serikat (AS) kini menjadi mata uang paling perkasa. Namun, para analis menyebut, dollar AS bukan mata uang yang tepat dipegang dalam jangka menengah panjang.
Jumat (15/7) lalu, indeks dollar AS berada di level 107,98, naik 16,72% secara tahunan. Menurut Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures Nanang Wahyudin, saat ini dollar AS menguat karena investor mengkhawatirkan prospek aset berisiko, seiring ketidakpastian kondisi ekonomi. Di sisi lain, kebutuhan dollar AS memang naik.
Nanang yakin, kurs dollar AS masih akan menguat terhadap rupiah. Dollar AS bisa kembali ke Rp 15.000. Jika bisa bertahan di atas level tersebut, dollar AS bisa menuju Rp 15.275. Padahal, ekonomi AS dibayangi ancaman resesi karena kenaikan bunga yang agresif, tanpa diimbangi pertumbuhan ekonomi.
Kinerja Bank-Bank Besar Semakin Kokoh
Kinerja industri perbankan semakin cerah. Pertumbuhan laba bank besar hingga Mei 2022 naik dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya. Beberapa bank memproyeksikan kinerja kuartal II tahun ini akan lebih baik dari triwulan pertama.
Namun, performa saham-saham bank besar justru melempem sejak akhir Mei 2022. Berdasarkan data RTI, saham Bank Central Asia Tbk (BBCA) misalnya terkoreksi 0,3% pada penutupan perdagangan Jumat (15/7) ke level Rp 7.000. Dalam tiga bulan terakhir, saham bank sudah terkoreksi 9,1%.
RISIKO KENAIKAN INFLASI : KEMISKINAN PERLU PERHATIAN
Meski jumlah penduduk miskin secara nasional turun, tetapi sejumlah daerah masih mengalami kenaikan per Maret 2022. Kondisi ini perlu upaya ekstra dari pemangku kebijakan untuk menekan risiko peningkatan kemiskinan di sisa tahun ini, menyusul potensi kenaikan inflasi.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dipublikasikan Jumat (15/7) menunjukkan sebanyak 9 provinsi mengalami peningkatan jumlah penduduk miskin pada Maret 2022 dibandingkan September 2021.Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) misalnya. Meski mengalami penurunan jumlah penduduk miskin secara tahunan, tetapi jika dibandingkan pada September 2021, jumlah penduduk miskin di wilayah ini naik tipis menjadi 777.440 jiwa pada Maret 2022.Kepala BPS Sulsel Suntono mengungkapkan sejumlah faktor yang menyebabkan penduduk miskin di Sulsel berkurang jika dibanding Maret 2021 karena ekonomi Sulsel pada kuartal I/2022 mengalami pertumbuhan sebesar 4,27% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Suntono menjelaskan peranan komoditas makanan di Sulsel ternyata masih jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditas bukan makanan. Menurutnya, besarnya sumbangan Garis Kemiskinan Makanan (GKM) terhadap Garis Kemiskinan (GK) pada Maret 2022 sebesar 74,90%. Pada Maret 2022, komoditas makanan yang memberikan sumbangan terbesar pada GK, baik di perkotaan maupun di perdesaan, pada umumnya hampir sama.
Menanti Integrasi Transportasi Publik di DKI
Perbaikan pelayanan transportasi publik belum optimal dalam mendorong masyarakat meninggalkan kendaraan pribadi untuk beraktivitas di DKI Jakarta. Hal ini menjadi salah satu faktor yang turut menyumbang problem kemacetan. Salah satu upaya adalah perbaikan pelayanan angkutan umum massal yang mendapat apresiasi warga. Namun, di balik apresiasi tersebut, warga masih merasakan persoalan kemacetan belum teratasi sepenuhnya. Dari hasil jajak pendapat Kompas medio Juni 2022. Ada 17,4 % warga menyatakan masalah kemacetan dan transportasi adalah persoalan mendesak kedua yang harus diselesaikan di DKI Jakarta setelah masalah-masalah sosial. Enam dari sepuluh responden menyebutkan, kemacetan masih menjadi pemandangan rutin di Jakarta.
Meski demikian, 30 % warga Jakarta merasakan kemacetan sudah berkurang, selaras dengan hasil TomTom Traffic Index. Berdasarkan pantauan lembaga asal Inggris yang menilai tingkat kemacetan lalu lintas kota-kota di dunia, tahun 2021 Jakarta sudah keluar dari 10 kota termacet di dunia. Posisi Jakarta turun ke peringkat ke-46 dan tingkat kemacetan terlihat menurun menjadi 34 %. Data menunjukkan waktu perjalanan rata-rata berkurang 2 menit per hari. Tak dapat dimungkiri, faktor pandemi berdampak pada berkurangnya tingkat kemacetan di Jakarta versi TomTom Traffic Index. Di samping itu, upaya Pemprov DKI memperbaiki dan menata transportasi publik massal, seperti bus Transjakarta dan KRL yang dioperasikan PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ), turut mendorong warga bepergian menggunakan moda transportasi umum sehingga mengurangi kemacetan.
Meski animo masyarakat memanfaatkan transportasi publik membaik, kendaraan pribadi masih mendominasi jalanan Ibu Kota, khususnya sepeda motor. Menurut data Polri, ada 16,1 juta sepeda motor di DKI Jakarta tahun 2020 atau naik 97 % dari 8,2 juta unit pada 2019. Demikian pula mobil pribadi, yang jumlahnya terus naik. Meski sudah dibatasi dengan kebijakan ganjil genap, kemacetan masih terjadi. Untuk mendekatkan dan memudahkan masyarakat mengakses transportasi umum massal yang ada. Integrasi aneka angkutan umum dengan biaya terjangkau menjadi salah satu solusi. Untuk mengoptimalkan layanan transportasi publik, pada 15 Juni 2022 Transjakarta bersama KCJ berkolaborasi dalam sistem integrasi antar moda, pengembangan usaha transportasi terpadu, dan pengembangan kawasan berorientasi transit. Kepuasan mayoritas warga (64,7 %) atas upaya Pemprov DKI membenahi transportasi publik menjadi semangat untuk meningkatkan layanan transportasi publik yang semakin baik. (Yoga)
Bertaruh Satu Kaki pada NFT
Awal kemunculannya NFT lebih banyak ditekuni para seniman visual. Belakangan, banyak musisi yang akhirnya mengarungi arus deras NFT. Dokumentasi transaksi yang transparan, kontrol penuh atas aset karya, dan pembagian keuntungan penjualan yang fair adalah hal-hal yang menjadikan NFT begitu cepat mencuri hati para musisi. Sejak 2018, jutaan karya musik dalam berbagai bentuk mengaliri lokapasar NFT. Dilansir dari Reuters, penjualan NFT selama tahun 2021 mencapai 25 biliun USD. Namun kalimat yang lazim diucapkan musisi yang baru memulai: ”Bikin NFT itu tidak mudah!”
Sebelum memasuki semesta NFT, seorang musisi (solo atau grup), harus membuat e-wallet (Indodax, Blockchain, Binance, Tokocrypto, Pintu, dsb), yang menjadi tempat menukarkan dananya menjadi mata uang kripto, seperti Ethereum,Tezos, Polygon, dan Solana, yang merupakan alat tukar dalam dunia NFT. Setelah itu, kreator membuat akun lokapasar NFT, seperti Opensea, HEN, Solana, Objkt, dan Netra. Setiap lokapasar memiliki persyaratan dan ketentuan yang berbeda. Selanjutnya, bisa memulai proses minting (mengunggah) karya. Umumnya, proses minting dikenai biaya (commission fee) yang bervariasi, tergantung dari ketentuan dari lokapasar NFT. Setelah karya NFT terunggah ke dalam lokapasar, musisi bisa mulai mempromosikan karyanya kepada rekan komunitasnya.
Menurut Thoma, bassist band Mocca: ”Membuat NFT itu hanya rumit diproses awal. Setelah semua persyaratan teknis terpenuhi, tinggal mengulang proses yang lebih sederhana. Kalau semua karyanya sudah siap, tinggal mengatur waktu untuk proses minting dan promoting,” ujarnya. Sebuah karya yang akan didistribusikan dalam format NFT harus terlebih dulu disesuaikan formatnya sehingga lebih NFT-able. Dalam dunia NFT, sebuah lagu tak hanya bisa didistribusikan secara utuh, tetapi bisa dibuat versi pendeknya, dipisah menjadi pecahan instrumen musik (audio stems), atau bahkan dikombinasikan dengan artwork, animasi dan video. Jadi, dari sebuah lagu saja bisa berkembang menjadi banyak aset digital yang memiliki nilai ekonomi yang akan melipat gandakan keuntungan bagi kreator lagu tersebut.
Setiap transaksi tercatat secara digital dan terenkripsi dalam rantai blok (blockchain) yang bisa diakses dan dimonitor secara langsung oleh sang kreator tanpa perantara. Yang lebih keren lagi, apabila sebuah karya NFT musik dijual kembali oleh holder kepada holder lain dengan harga lebih tinggi, musisi creator tetap mendapatkan pembagian dari hasil penjualan tersebut sesuai dengan ketentuan dari lokapasar. (Yoga)
Waspadai Kemiskinan Lebih Dalam
Ikhtiar menekan angka kemiskinan tahun ini dibayangi tren kenaikan harga kebutuhan pokok yang semakin tinggi dari waktu ke waktu. Tanpa perbaikan serius pada sisi sasaran dan keterjangkauan distribusi bantuan sosial, kemiskinan diperkirakan bisa kembali meningkat, khususnya di daerah perdesaan. Angka kemiskinan Maret 2022 yang dirilis BPS Jumat (15/7) memang menunjukkan penurunan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kondisi ini bersamaan kembali menggeliatnya perekonomian seiring pandemi yang makin dapat dikendalikan dan tercapainya pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,01 % pada triwulan I-2022 ini. BPS mencatat, pada Maret 2022, angka kemiskinan 9,54 % total penduduk atau 26,12 juta orang, menurun 0,17 % dibandingkan September 2021, yakni 9,71 % atau 26,50 juta orang.
Kendati menurun secara tahunan, jumlah orang miskin per Maret 2022 masih lebih banyak dibandingkan dengan kondisi sebelum pandemi. Pada September 2019, sebelum pandemi, angka kemiskinan tercatat 9,22 % atau 24,68 juta orang. Kepala BPS Margo Yuwono menjelaskan, penurunan angka kemiskinan itu menunjukkan pemulihan ekonomi pasca pandemi terus berlanjut. Meski demikian, jalur pemulihan itu dibayangi tantangan dalam bentuk krisis pangan dan energi global yang kini berdampak pada kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok di masyarakat. Tren kenaikan inflasi yang cepat itu terutama berdampak pada kelompok masyarakat miskin yang rentan terhadap guncangan ekonomi. (Yoga)
10.000 Kuota Wirausaha Muda Disediakan
Program Wirausaha Merdeka yang diluncurkan Jumat (15/7) menyediakan kuota 10.000 mahasiswa. Peserta akan berkesempatan mengasah jiwa kewirausahaan serta keterampilan nonteknis dan manajerial. Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim berharap, mahasiswa bisa mendirikan perusahaan dan membuka banyak lapangan kerja di Indonesia. (Yoga)
Minyak Rusia dan Manuver Absurd G7
Dalam upaya terakhir melumpuhkan Rusia, AS dan sekutu sepakat mendorong penerapan batas atas terhadap harga (price cap) ekspor minyak Rusia di pasar global. Suatu langkah absurd yang diyakini sia-sia. Sebagian besar analis meyakini gagasan yang diinisiasi Menkeu AS Janet Yellen ini akan menemui kegagalan. Sebaliknya, justru berpotensi memicu pukulan balik berupa kian meroketnya harga minyak mentah dunia dan inflasi global. Jika ini terjadi, akan kian membahayakan ekonomi global yang di ambang stagflasi akibat tingginya inflasi dan ancaman resesi serta kian memicu gelombang kebangkrutan negara-negara.
Berdasarkan skenario terakhir ini, AS mengajak negara lain hanya membeli minyak dari Rusia, pada batas harga tertentu (di bawah harga internasional yang ada saat ini). Gagasan Yellen mengasumsikan AS dan sekutunya bisa mengatur harga minyak Rusia. Sementara kita tahu selama ini struktur pasar minyak dunia adalah pasar oligopoli di bawah kendali kartel OPEC+, termasuk Rusia di dalamnya. Tak ada jaminan semua negara mendukung jika manuver ini justru berdampak negatif ke ekonomi domestiknya. Organisasi penghasil dan pengekspor minyak, OPEC, menegaskan tak mampu mengisi kekosongan akibat embargo minyak Rusia.
UE yang selama ini sangat bergantung pada pasokan migas Rusia baru setuju mengakhiri sepenuhnya impor minyak dari Rusia akhir 2022. Sanksi internasional selama ini tak efektif karena meski ekspor minyak Rusia ke AS, Kanada, dan Inggris turun, ke China, India, dan negara lain justru melonjak. Kepentingan dalam negeri negara masing-masing membuat sanksi dan embargo terhadap Rusia bagai macan ompong. Ini juga yang diyakini akan terjadi pada manuver terakhir G7 ini. Serangkaian sanksi ekonomi yang dimaksudkan untuk menstop penerimaan ekspor Rusia yang bisa dipakai untuk membiayai perang bukannya membuat Rusia lumpuh, melainkan justru makin kuat. Rusia menikmati lonjakan petrodollar secara eksponensial sebab dengan biaya produksi yang hanya 3-4 USD, Rusia menikmati harga minyak global yang jauh di atas 100 USD akibat embargo internasional. (Yoga)
Tokopedia Gelar Konferensi Teknologi
Tokopedia menggelar konferensi teknologi START Summit pada Sabtu (16/7) secara daring dengan tema ”Driving Innovation at Scale”. Menurut Co-Founder and Vice Chairman Tokopedia Leontinus Alpha Edison dalam siaran pers, Jumat (15/7), pada konferensi ini, Tokopedia akan berbagi pengalaman mendorong inovasi dalam skala besar untuk menjawab berbagai tantangan, khususnya pandemi Covid-19. ”Berbagai inovasi Tokopedia tidak lepas dari kolaborasi bersama para mitra strategis,” katanya. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









