Ekonomi
( 40554 )Banyak Sekali Kendaraan Tidak Bayar Pajak, Santunan Kecelakaan Terus Keluar
PT Jasa Raharja mencatat terdapat 40 juta kendaraan atau 39% dari total kendaraan yang belum melakukan pembayaran pajak kendaraan bermotor (PKB). Meskipun banyak kendaraan yang tidak membayar pajak, santunan kecelakaan tetap harus dibayarkan. Jika selama ini para pemilik kendaraan bermotor tidak disiplin membayar PKB, sementara dana santunan terus keluar sering meningkatnya jumlah kecelakaan lalu lintas, maka Jasa Raharja bisa kesulitan keuangan. Dampaknya, untuk menyantuni korban laka lantas terpaksa mendapatkan subsidi atau menyertakan modal negara (PMN) dari APBN atau santunan tidak terbayarkan. Direktur Utama Jasa Raharja Rivan A Purwantono menyatakan, dengan melakukan registrasi ulang kendaraan bermotor, pemilik kendaraan sekaligus membayar Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Angkutan Jalan (SWDKLLJ). "Meski tertera dengan jelas di STNK. tetapi sampai saat ini masih banyak pemilik kendaraan bermotor yang masih belum paham manfaat penting SWDKLLJ," ungkap Rivan dalam keterangannya, dikutip. (Yetede)
Bola Salju Kematin Josua
Lebih dari sepekan, penyelidikan terhadap kematian Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat tak kunjung membuahkan hasil yang terang. Kasus yang menurut versi polisi dilatar belakangi pelecehan seksual oleh Brigadir Yosua ini sekarang menggelinding balik ke laporan dugaan pembunuhan berencana terhadap pria berusia 28 tahun tersebut. Laporan dugaan pembunuhan berencana tersebut dilayangkan keluarga Brigadir Yosua ke badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian RI, kemarin. Keluarga Brigadir Yosua memberikan surat kuasa kepada tim pengacara yang dikoordinasi Kamaruddin Simanjuntak. Mereka melampirkan segepok dokumen sebagai bukti awal bahwa Yosua tewas karena dibunuh. Foto kondisi jenazah Josua yang diabadikan keluarga menjadi satu diantara bukti tersebut. Keluarga mendapati belasan luka di tubuh Yosua, dari luka bekas tembakan, luka yang diduga sayatan benda tajam, hingga lebam yang ditengarai akibat pukulan benda tumpul. (Yetede)
Resesi sebagai ”ObatKeras” Inflasi Global
Bank sentral Amerika Serikat atau The Fed menaikkan suku bunga acuannya pada 15 Juni 2022. The Fed mencoba mengendalikan inflasi AS yang mencapai 8,6 % pada Mei, tertinggi sejak 1994.Banyak pihak khawatir kebijakan ini overdosis, akan membawa AS ke jurang resesi lebih dalam, karena masalahnya adalah sisi produksi dunia yang terganggu perang Rusia-Ukraina. Resep standar untuk menurunkan inflasi adalah ”meresesikan” ekonomi dengan menurunkan sisi permintaan masyarakat. Caranya, mengurangi ekspansi jumlah uang beredar, menaikkan suku bunga acuan bank sentral atau instrumen lain untuk memperketat likuiditas. Dengan begitu, masyarakat, baik konsumen maupun perusahaan, menurunkan belanja. Namun, resesi ada biayanya, yakni kenaikan pengangguran. Ini perlu dicarikan strategi untuk meminimalkannya (Okun, 1978).
Dengan tingkat inflasi setinggi itu, The Fed bersikeras menaikkan suku bunga acuan. Kesan sebagai ”obat keras” terlihat dari besaran kenaikan yang mencapai 75 basis poin. Suku bunga acuan The Fed juga mungkin naik lagi pada Juli karena inflasi Juni mencapai 9,1 %. Alasan kenaikan suku bunga setinggi ini : Pertama, masalah kredibilitas dan reputasi (Persson dan Tabellini, 1994). The Fed ingin memperbaiki citranya dengan respons lebih galak (hawkish) terhadap inflasi. Kedua, daya beli konsumen yang menurun. Survei oleh CNBC AS menyebutkan, pelemahan permintaan masyarakat sudah terlihat, 65 % responden prihatin dengan inflasi tinggi sehingga mengubah perilaku, 77 % mengurangi makan di luar rumah, 69 % mengurangi mencari hiburan di luar, 63 % mengurangi perjalanan wisata. (Yoga)
Risiko Ekstra di Tahun Politik
Ancaman resesi global dan kenaikan inflasi di tingkat produsen bukan satu-satunya kendala yang harus dihadapi pelaku usaha. Tahun politik yang datang lebih awal dinilai turut membawa ketidakpastian yang berpotensi melambatkan kinerja investasi. Meskipun pemungutan suara Pemilu 2024 baru dilakukan 19 bulan lagi pada 14 Februari 2024, belakangan ini suhu politik mulai menghangat. Manuver sejumlah elite politik membuat tahun politik seolah datang lebih cepat. Situasi itu menambah rumit iklim berusaha di tengah ancaman resesi global. Dalam Forum Afternoon Tea Kompas Collaboration Forum (KCF), Jumat (15/7), sejumlah pelaku usaha menyampaikan kecemasannya dalam menghadapi perkembangan situasi politik ini.
Direktur Corporate Affairs PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia Bob Azam mengatakan, di samping ancaman resesi global dan inflasi di tingkat produsen (cost-push inflation) yang saat ini mulai memberatkan pelaku usaha, risiko terbesar yang akan dihadapi dunia usaha dalam waktu dekat adalah tahun politik dengan segala ketidakpastiannya. Menurut Bob, menjelang pemilu, berbagai kebijakan yang sifatnya populis di mata masyarakat biasanya akan lebih mendominasi. Padahal, kebijakan itu kerap berbanding terbalik dengan kebutuhan sektor riil. Potensi munculnya kebijakan populis di tahun politik itu dinilai akan melambatkan kinerja investasi. (Yoga)
Eropa Berjibaku Mencari Gas
Negara-negara Eropa terus berjibaku mencukupi kebutuhan gas yang kian mendesak. Selain untuk kebutuhan industri, gas juga diperlukan untuk memenuhi kebutuhan saat musim dingin. Untuk memastikan pasokan gas bagi Eropa terpenuhi, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen turun tangan, termasuk melakukan perjalanan ke Baku, Azerbaijan, Senin (18/7). Von der Leyen mengatakan, Uni Eropa ingin menggandakan impor gasnya dari Azerbaijan. Nota kesepahaman yang ditandatangani Von der Leyen dan Presiden Azerbaijan menyepakati, negara itu akan meningkatkan pasokan gas dari 8,1 miliar kubik meter (bcm) pada 2021 menjadi 12 miliar kubik meter pada tahun 2022. Angka itu akan terus berlipat ganda hingga tahun 2027, yaitu 20 bcm.
Komisi Eropa mengusulkan kepada semua negara anggota UE untuk melakukan kesepakatan dengan Azerbaijan. Untuk itu, seluruh negara yang bersepakat harus mendukung perluasan jaringan pipa yang akan mengalirkan gas dari Azerbaijan ke setiap negara. Aliyev, dikutip dari laman Euronews, menyebutkan, sejumlah negara Eropa telah mendekati mereka dan meminta agar Baku juga ikut memasok kebutuhan gas ke negara-negara itu. Selama ini Azerbaijan menjadi pemasok gas bagi Turki, Yunani, Bulgaria, Georgia, dan Italia. (Yoga)
10 Saham Unggulan Berpotensi Naik Diatas 20%
Sebanyak 10 saham unggulan (blue chip) yang direkomendasikan sejumlah analis berpotensi mencatatkan kenaikan hingga di atas 20% pada semester kedua 2022. Saham-saham tersebut layak dikoleksi karena emitennya dinilai memiliki fundamental bagus, bisnisnya lancar, meraih laba, dan harga saham masih rendah. Ke-10 saham unggulan tersebut yakin Bank Rakyat Indonesia (BRI (persero) Tbk (BBRI), Banks Central Asia Tbk (BBCA), Adaro Energy Indonesia Tbk (ASII), Telkom Indonesia (persero) Tbk (TLKM), Aneka Tambang Tbk (ANTM), Bukit Asam Tbk (PTBA), Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), dan Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). Head of Investment PT Reswara Gian Investasi Kiswoyo optimis Adi Joe optimis, saham-saham pilihan tersebut masih sangat berpeluang untuk terus melaju di tengah gempuran kenaikan suku bunga the Fed, ancaman resesi di berbagai negara, dan sentimen negatif lainnya. (Yetede)
Kelas Dunia, BRI Jadi Bank Terbaik di Indonesia versi The Banker
Kinerja apik PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk kembali mendapatkan mengakuan dunia internasional. Media perbankan dan ekonomi ternama dunia yang bermarkas di London, The Banker menobatkan BRI sebagai bak terbaik di Indonesia dalam daftar Top 1000 Worlds Bank 2022. Adapun secara global, media (The Banker) yang telah menjadi sumber informasi perbankan yang kredibel sejak tahun 1926 tersebut menempatkan BRI pada peringkat ke-104, dimana peringkat tersebut naik signifikan dari pencapaian tahun lalu yang berada di posisi ke -131 dunia. "Kami berterima kasih kepada The Banker karena telah menilai kinerja kami secara objektif dan transparan. Hal ini membuktikan BRI berhasil dan mampu secara konsisten menjaga fundamental kinerja tetap dapat tumbuh secara sehat, kuat, dan berkelanjutan ditengah kondisi krisis ekonomi. Tak lupa, saya katakan bahwa prestasi ini berkat kerja keras seluruh Insan BRIlian (pekerja BRI) yang ajan menjadi suntikan semangat untuk selalu memberi makna bagi Indonesia," ujar Direktur Utama BRI Sunarso. (Yetede)
Luhut: Audit Perkebunan Bantu Perbaiki Tata Kelola Industri Sawit
Pemerintah melakukan audit perkebunan sawit dalam rangka memperbaiki tata kelola sawit nasional. Audit tata kelola sawit akan membantu melengkapi data dan informasi dari hulu hingga hilir, sehingga pembuatan kebijakan menjadi lebih akurat. Hal ini disampaikan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan saat memberikan pengarahan pada Orientasi Pembangunan Desa Berkelanjutan yang diselenggarakan oleh Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) dan Asosaiasi Kabupaten Penghasil Sawit Indonesia. "Tata kelola sawit kompleks dan melibatkan banyak stakeholders. Berbagai target di sisi hulu dan hilir harus dapat diseimbangkan karena terdapat trade off antara target satu dan yang lain," ucap Luhut dalam keterangan tertulisnya, yang dikutip pada Minggu. Berdasarkan paparannya, dia menjelaskan realisasi ekspor perlahan mulai meningkat seiring dengan perbaikan kondisi logistik. (Yetede)
Dorong Investasi Berkualitas
Kondisi perekonomian global yang sedang tidak menentu dan tingginya inflasi di tingkat produsen membawa tantangan berat bagi iklim berusaha di Indonesia. Investasi yang lebih berkualitas dan memberdayakan UMKM dibutuhkan untuk menjawab tantangan serta mengatasi ekses kesenjangan sosial yang kian tajam. Kajian Litbang Kompas menunjukkan, kondisi perekonomian global yang rapuh saat ini mulai membebani dunia usaha, terlihat dari tren kenaikan inflasi di Indonesia yang lebih signifikan terjadi di sisi produsen. Per triwulan I-2022, inflasi produsen secara tahunan mencapai 9,06 %, sementara inflasi konsumen 2,64 %. Kondisi itu menunjukkan beban kenaikan harga akibat melejitnya biaya input bahan baku masih lebih banyak ditanggung oleh produsen demi menekan inflasi di tingkat konsumen dan menjaga daya beli masyarakat.
Beban di tingkat produsen tergambar dalam tren Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang terus menurun. Terakhir, per Juni 2022, PMI Manufaktur Indonesia berada di level 50,2, melambat dibandingkan bulan sebelumnya dan makin mendekati arah zona kontraksi meski secara teknis masih di zona ekspansi. Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia dalam Forum Afternoon Tea Kompas Collaboration Forum (KCF), Jumat (15/7) mengatakan, pemerintah optimistis dengan realisasi investasi yang sejauh ini sesuai target. Namun, ia mengakui, kondisi perekonomian global sedang tak baik-baik saja dan ke depan sektor riil akan merasakan pukulan berat. Bahlil pun berharap pihak swasta dapat mengajukan solusi konkret untuk ditindak lanjuti oleh pemerintah. (Yoga)
Muatan Tol Pelni Naik 117%
PT Pelayaran Nasional/Pelni (persero) mencatat muatan tol laut pada semester I-2022 mencapai 7.122 twenty-foot equivalent units (TEUs), naik 117% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebanyak 6.060 TEUs. "Masih banyak potensi muatan yang bisa diambil. Kami sudah mempersiapkan beberapa rencana strategis untuk mendongkrak kinerja muatan tol laut di semester kedua," kata Yosianis dalam pernyataan, Kontribusi Pelni atas angkutan tol laut nasional menunjukkan kenaikan yang signifikan dalam tiga tahun terakhir. Pada 2019, kinerja produksi Pelni mencapai 3,593 TEUs atau 27,23% dari capaian nasional sebesar 11.773 TEUs. "Kontribusi tersebut sangat positif dan kami yakin akan terus meningkat. Di tahun ini, trayek yang ditugaskan kepada Pelni sebesar 11 trayek, atau 33% dari total 33 trayek yang diberikan pemerintah kepada BUMN dan swasta melalui skema lelang terbuka. Kami berterimakasih kepada BUMN dan swasta kepada pemerintah yang masih mempercayakan PT Pelni untuk mengoperasikan trayek tol laut dan memenuhi kebutuhan masyarakat akan angkutan barang yang andal dan terjadwal dan terjadwal untuk daerah 3TP," terang Yossianis. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









