Waspadai Kemiskinan Lebih Dalam
Ikhtiar menekan angka kemiskinan tahun ini dibayangi tren kenaikan harga kebutuhan pokok yang semakin tinggi dari waktu ke waktu. Tanpa perbaikan serius pada sisi sasaran dan keterjangkauan distribusi bantuan sosial, kemiskinan diperkirakan bisa kembali meningkat, khususnya di daerah perdesaan. Angka kemiskinan Maret 2022 yang dirilis BPS Jumat (15/7) memang menunjukkan penurunan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kondisi ini bersamaan kembali menggeliatnya perekonomian seiring pandemi yang makin dapat dikendalikan dan tercapainya pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,01 % pada triwulan I-2022 ini. BPS mencatat, pada Maret 2022, angka kemiskinan 9,54 % total penduduk atau 26,12 juta orang, menurun 0,17 % dibandingkan September 2021, yakni 9,71 % atau 26,50 juta orang.
Kendati menurun secara tahunan, jumlah orang miskin per Maret 2022 masih lebih banyak dibandingkan dengan kondisi sebelum pandemi. Pada September 2019, sebelum pandemi, angka kemiskinan tercatat 9,22 % atau 24,68 juta orang. Kepala BPS Margo Yuwono menjelaskan, penurunan angka kemiskinan itu menunjukkan pemulihan ekonomi pasca pandemi terus berlanjut. Meski demikian, jalur pemulihan itu dibayangi tantangan dalam bentuk krisis pangan dan energi global yang kini berdampak pada kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok di masyarakat. Tren kenaikan inflasi yang cepat itu terutama berdampak pada kelompok masyarakat miskin yang rentan terhadap guncangan ekonomi. (Yoga)
Tags :
#EkonomiPostingan Terkait
Menakar Daya Tahan Momentum Elektrifikasi
Prospek Perbaikan Ekonomi di Paruh Kedua Tahun
Benahi Masalah Fundamental
Perjuangan Jakarta untuk Tumbuh 6% di 2026
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023