Ekonomi
( 40512 )Ditopang Ekspor dan Konsumsi, Ekonomi Bisa Tumbuh 5%-6%
Ekonomi pada kuartal III-2022 diyakini tumbuh lebih tinggi, bahkan bisa menyentuh angka 6% year on year (yoy). Penyebabnya konsumsi rumah tangga dan ekspor yang moncer, serta basis produk domestik bruto (PDB) yang rendah pada periode sama tahun lalu. Danareksa Research Institute (DRI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal III-2022 sebesar 5,65% yoy, atau melampaui angka pertumbuhan ekonomi kuartal II-2022 yang sebesar 5,44% yoy. Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia Teuku Riefky memperkirakan, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2022 di kisaran 5,77%-5,86% yoy.
Harga Melonjak Tinggi, Tiga Saham Emiten Disuspensi
Pada awal bulan November ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah memberikan suspensi terhadap tiga emiten saham. Penghentian sementara perdagangan dilakukan lantaran terjadi
unsual market activity (UMA).
Pada Selasa (1/11), PT Jaya Swarasa Agung Tbk (TAYS) kena suspensi lantaran terjadi peningkatan harga kumulatif yang signifikan. Saham TAYS melesat 22,22% ke Rp 660. Dalam seminggu, terjadi lonjakan 30,69%, mengakumulasi penguatan 270,79% sejak awal tahun 2022.
Dengan alasan yang sama, dua emiten Mayapada Grup kepunyaan Dato Sri Tahir juga kena suspensi. Mereka adalah PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) dan PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ). Saham MPRO melonjak 24,91% ke harga Rp 1.755 Rabu (2/11). Lalu, saham SRAJ mengakumulasi kenaikan 55,12% dalam seminggu.
Tren Bunga Acuan Naik, Kupon ST009 Bakal Lebih Tinggi
Penggemar investasi surat utang pemerintah bisa mulai merapat kembali. Akhir pekan ini, pemerintah akan mulai melepas sukuk tabungan seri ST009.
Ini adalah surat berharga negara (SBN) ritel seri terakhir yang ditawarkan oleh pemerintah sebelum tutup tahun 2022. Rencananya, ST009 ditawarkan selama 20 hari, mulai 11 November hingga 30 November 2022.
Research & Consulting Manager Infovesta Utama Nicodimus Kristiantoro mengatakan, bagi investor SBN ritel, seri ST009 akan menguntungkan, terutama dari sisi tingkat imbal hasil yang ditawarkan. Dia bahkan yakin minat investor akan lebih tinggi dibandingkan saat penawaran ST007 dan ST008 yang masing-masing menawarkan bunga 5,5% dan 4,8%. Pasalnya, ST009 berpotensi memberi kupon lebih tinggi.
Nicodimus memperkirakan, bunga yang ditawarkan seri ST009 ini bisa lebih tinggi dari kupon seri ORI022, yang sebesar 5,95%. Ini karena bunga acuan Bank Indonesia BI 7-day-RR pada Oktober lalu naik 50 bps menjadi 4,75%.
Bankir Mewaspadai Likuiditas Valuta Asing
Kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat alias The Fed dikabarkan membuat likuiditas valuta asing (valas) perbankan mengetat. Bahkan, ada kabar perbankan mulai menghentikan penyaluran kredit dalam bentuk valas.
Namun, bank-bank besar menepis isu ini dan menyatakan masih memiliki likuiditas valas memadai. Sebab, penyaluran kredit menggunakan valas bukanlah inti bisnis bank namun sebagai pelengkap layanan saja.
Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan, kredit valas perbankan tumbuh 16,71% yoy menjadi Rp 932,61 triliun per Agustus 2022. Sedangkan secara total, kredit perbankan tumbuh 10,3% yoy menjadi Rp 6,160,0 triliun.
Bank Rakyat Indonesia (BRI) menyatakan penyaluran kredit valas masih tumbuh terjaga hingga dobel digit per September 2022. Sekretaris Perusahaan BRI, Aestika Oryza Gunarto menyatakan, permintaan kredit terbesar di sektor agribisnis, infrastruktur, transportasi, minyak dan gas, serta energi dan pertambangan. "Komposisinya mencapai 66,17% dari total kredit valas BRI,” ujar Aestika kepada KONTAN Jumat (4/11).
Bank Mandiri menyalurankan kredit valas tumbuh 15,55% year to date (ytd). Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri, Rudi As Aturridha menyatakan, DPK valas tumbuh 12% ytd per September 2022.
PERFORMA PRIMA EKONOMI RI
Soal pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III/2022, sejumlah kalangan enggan mengendurkan optimisme. Bahkan, laju ekonomi pada kuartal III/2022 diestimasi terus mendaki melampaui realisasi kuartal II/2022 yang sebesar 5,44% (year-on-year/YoY). Alasannya, kinerja investasi belakangan terus menanjak. Performa ekspor juga tak kalah gemilang. Kekhawatiran mengenai melambatnya konsumsi akibat penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pun perlahan terkikis. Tangguhnya konsumsi terefleksi dalam data inflasi yang menunjukkan penurunan pada bulan kedua tarif BBM baru yang menandai masih kuatnya daya beli masyarakat. Pemerintah memperkirakan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2022 berada pada rentang 5,5%—5,7%. Pun dengan estimasi ekonom yang masih berada dalam kisaran sasaran pemerintah itu. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, mengatakan soliditas ekonomi pada kuartal III/2022 menjadi amunisi bagi pemerintah untuk menghadapi kuartal IV/2022. Sri Mulyani menuturkan, mayoritas indikator ekonomi pada kuartal III/2022 berada pada teritorial positif. Pertama, menurunnya scarring effect pandemi Covid-19 seiring dengan pelonggaran mobilitas masyarakat. Kedua, konsumsi dan dunia bisnis yang makin menggeliat, tecermin dari kinerja perpajakan yang telah melampaui realisasi sepanjang 2021. Ketiga, aktivitas investasi dan ekspor sebagai sektor utama penopang produk domestik bruto (PDB) juga mencatatkan performa yang cukup ciamik.
VISI TOP 10 GLOBAL ISLAMIC BANK Wapres : Saatnya BSI Mengarungi Samudra
PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BSI) didorong agar dapat mengembangkan layanannya lebih dalam di luar negeri dan tumbuh lebih cepat hingga menjadi Top 10 Global Islamic Bank. Hal itu disampaikan Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin saat meninjau Kantor Perwakilan BSI di Gate District 3, DIFC, Sheikh Zayed Road, Dubai, Uni Emirat Arab (UEA) akhir pekan lalu. Ma’ruf juga berharap agar BSI dapat menjadikan Indonesia sebagai kiblat industri syariah dan ekosistem halal dunia.
Menurutnya, hubungan baik yang terjalin antara Indonesia dan UEA dapat menjadi batu loncatan bagi BSI untuk terus mengembangkan bisnis, khususnya di area Timur Tengah dan Afrika Utara. Apalagi Indonesia dan UEA sudah memiliki perjanjian kerjasama United Arab Emirates Comprehensive Economic Partnership Agreement (IUAE–CEPA).Direktur Utama BSI Hery Gunardi mengatakan BSI sangat berterimakasih atas dukungan penuh pemerintah kepada perseroan dalam mewujudkan visi menjadi Top 10 Islamic Bank 2025.
Prospek Landai Emiten Rokok
Keputusan pemerintah menaikkan tarif cukai hasil tembakau rata-rata 10% pada 2023 dan 2024 bakal kian menekan kinerja laba emiten rokok. Tahun ini saja, laba sejumlah produsen rokok yang melantai di Bursa Efek Indonesia sudah anjlok lebih dari 30% secara agregat. Seperti diketahui, usai rapat bersama Presiden Joko Widodo di Istana Bogor pekan lalu, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengumumkan keputusan presiden untuk menaikkan tarif rata-rata tertimbang cukai hasil tembakau. Penaikan tarif cukai pun ditetapkan berbeda untuk setiap golongan rokok. Tarif cukai untuk sigaret kretek mesin I dan II naik rata-rata antara 11,5%—11,75%. Adapun, tarif cukai untuk sigaret putih mesin I dan II naik sekitar 11%, serta sigaret kretek tangan rata-rata naik hingga 5%. Terlebih, kinerja emiten rokok tahun ini pun tengah melesu. Hingga kuartal III/2022, dua raksasa emiten rokok yakni PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) dan PT Gudang Garam Tbk. mencatatkan penurunan laba yang relatif tajam. Dalam laporan keuangan perusahaan, laba bersih HMSP tercatat senilai Rp4,9 triliun per 30 September 2022 atau anjlok 11,75% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp5,5 triliun. Sementara itu, nasib yang lebih buruk melanda GGRM. Produsen rokok yang berbasis di Kediri Jawa Timur itu membukukan penurunan laba bersih sampai dengan 63,77% hingga kuartal ketiga tahun ini. Laba bersih perusahaan hanya mencapai Rp1,49 triliun, padahal tahun lalu di periode yang sama mampu menghimpun Rp4,13 triliun.
ULASAN SEKTORAL : EMITEN KESEHATAN JAGA ‘KEBUGARAN’
Sejumlah emiten sektor kesehatan mampu mengamankan laba bersih lebih tinggi pada 9 bulan 2022 dibandingkan dengan periode yang sama sebelum pandemi Covid-19. Inovasi produk, perluasan jaringan distribusi, pengendalian biaya, dan ruang penyesuaian harga menjadi siasat untuk menjaga tingkat margin keuntungan. Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, delapan dari 12 emiten kesehatan yang telah menyampaikan laporan keuangan per September 2022 mengalami penurunan laba bersih dibandingkan dengan periode yang sama 2021. Bahkan, dua emiten tercatat berbalik rugi. Meski begitu, PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) dan PT Phapros Tbk. (PEHA) menjadi dua perusahaan sektor kesehatan yang masih mampu mencetak pertumbuhan pendapatan dan laba dalam 9 bulan 2022. Bahkan, laba bersih KLBF konsisten bertumbuh sejak periode yang sama 2019. Chief Financial Officer Kalbe Farma Bernadus Karmin Winata memaparkan pertumbuhan pendapatan dan laba tak terlepas dari langkah perseroan terus memperhatikan pentingnya pengelolaan atas peningkatan biaya bahan baku melalui kebijakan kenaikan harga, pengelolaan portofolio, dan pengelolaan efisiensi biaya operasional. Pada 2022, KLBF mempertahankan target penjualan dan laba bersih tumbuh sekitar 11% hingga 15%.
Kendati mayoritas emiten mengalami koreksi secara tahunan, sebagian besar masih mampu mencetak keuntungan yang lebih tinggi dari 9 bulan 2019 atau prapandemi. Beberapa di antaranya, ialah PT Medikaloka Hermina Tbk. (HEAL) Rp245,52 miliar pada 9 bulan 2022 dari Rp210,05 miliar pada 9 bulan 2019. Selain HEAL, PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA) yang juga mengelola rumah sakit membukukan laba bersih Rp744,18 miliar pada 9 bulan 2022 atau lebih tinggi dari realisasi laba bersih Rp531,79 miliar pada 9 bulan 2019. Analis Henan Putihrai Sekuritas Jono Syafei mengatakan saat ini pergerakan saham sektor rumah sakit memang terkoreksi. Hal ini berbanding terbalik dari tahun lalu saat lonjakan pandemi dengan kapasitas rumah sakit yang masih lebih terbatas dibanding sekarang.
PHK Massal Dipertanyakan
Kabar mengenai PHK massal di industry padat karya akhir-akhir ini kencang berembus. Kendati tetap mewaspadai potensi tekanan yang muncul di sektor riil, pemerintah mempertanyakan keputusan perusahaan melakukan PHK di tengah kondisi industri yang sebenarnya sedang tumbuh pesat. Pantauan Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu (BKF Kemenkeu) terhadap kinerja ekspor dan keuangan sejumlah perusahaan yang melantai di bursa saham menunjukkan, kondisi industri baik-baik saja, bahkan masih bisa tumbuh pesat di tengah gejolak ekonomi global. Selama Januari-Agustus 2022, ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) secara tahunan masih tumbuh 20,21 persen. Laju ekspor memang menurun untuk dua produk TPT, yaitu kain (-2,5 %) dan berbagai produk tekstil (-5,76 %). Namun, produk TPT lainnya meningkat, bahkan tumbuh hingga dua digit. Dari kinerja keuangan, pendapatan penjualan industri tekstil terpantau tumbuh di atas 10 %, lebih tinggi dibandingkan dengan industri manufaktur yang pertumbuhan penjualannya 5 %.
”Jadi, ini sebenarnya agak membingungkan kalau sampai terjadi PHK,” kata Plt Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro (PKEM) BKF Kemenkeu Abdurohman akhir pekan lalu di Bogor, Jabar. Ia mengatakan, selain industri tekstil, kondisi sektor manufaktur secara umum juga masih baik-baik saja. Ada dua indikator yang dipakai untuk menakar kondisi perusahaan. Pertama, pendapatan perusahaan. Kedua, interest coverage ratio (ICR) atau kemampuan perusahaan membayar suku bunga pinjaman dengan menggunakan laba yang dihasilkan. Pemerintah tetap akan mengantisipasi dan mencermati potensi rambatan risiko global yang mulai berdampak pada PHK di sejumlah sector padat karya, seperti disampaikan Menkeu Sri Mulyani dalam konferensi pers hasil rapat berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) IV, Kamis (3/11). (Yoga)
Selamat Datang Generasi Alfa
Belum selesai membahas generasi Y dan Z, kita sudah harus mengamati kehadiran generasi Alfa. Mereka tentu belum masuk ke dunia kerja karena lahir antara 2011 dan 2025. Namun, sudah mulai masuk ke pasar sebagai konsumen. Mark McCrindle, pendiri perusahaan konsultasi tentang generasi di Australia bernama McCrindle, mendefinisikan generasi Alfa sebagai generasi yang paling berlimpah materi, paling paham teknologi yang pernah ada, dan menikmati usia hidup yang lebih lama daripada generasi sebelumnya. Tambahan lain, mereka akan mengenyam pendidikan lebih lama, mulai mendapatkan penghasilan bertahun-tahun kemudian, dan tinggal di rumah bersama orangtua lebih lama daripada generasi Y dan Z. Kemungkinan besar generasi ini akan tinggal di rumah hingga akhir usia 20-an.
Meski ada perdebatan soal kriteria itu, kita melihat kenyataan bahwa generasi ini sejak lahir sudah mengenal perangkat teknologi digital, terbiasa mengakses internet serta terpapar berbagai kultur, nilai, dan budaya. Mereka merupakan pasar masa depan dunia bisnis. Menurut Direktur Pemasaran MarketerHire Tracey Wallace dalam salah satu tulisannya, jutaan anggota generasi Alfa akan lahir, sementara generasi mereka sudah berjumlah 2,2 miliar pada 2024. Saat ini mereka adalah kelompok di bawah usia 12 tahun yang pada 2030 akan menjadi 11 % angkatan kerja. Untuk itu, pemilik merek perlu paham siapa generasi Alfa. Semua ciri yang melekat jadi bahan prediksi tentang bagaimana kelompok ini akan berbelanja, bekerja, dan lain- lain. Pengeluaran orangtua tak sedikit didorong oleh keinginan anak. Dalam konteks ini, generasi Alfa akan menjadi salah satu faktor penentu pengeluaran rumah tangga. Merek perlu kreatif membuat dan memasarkan produk dengan mengingat karakter mereka. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









