;
Kategori

Ekonomi

( 40789 )

Investor Kakap Siap Menebat Duit di IKN

10 Jan 2023

Memasuki tahun politik, proyek Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara masih menarik perhatian investor. Tak hanya investor lokal, sejumlah proyek yang bakal dikembangkan di IKN juga membetot perhatian para investor asing. Merujuk ke klaim pemerintah, ada banyak negara asal investor yang kepincut dengan IKN. Sebut saja investor asal Korea Selatan, China, Uni Emirat Arab, Rusia dan India. Memang, kebanyakan dari para pebisnis mancanegara ini masih memberikan komitmen investasi. Tapi, yang pasti, jumlah investor asing yang ingin menanamkan modalnya di IKN Nusantara terus bertambah. Salah satunya datang dari negeri tetangga, Malaysia. Para investor Malaysia itu telah meneken 11 letter of intent (LoI) atau dokumen awal berbisnis di IKN Nusantara. Tapi nilai kesepakatan proyek tersebut tidak disebut. Yang pasti, dokumen awal tersebut sudah diserahkan ke Otoritas IKN Nusantara. Adapun 11 dokumen awal bisnis tersebut mencakup beragam sektor. Mulai dari sektor elektronik, kesehatan, pengelolaan limbah, konstruksi dan properti.

Dana Kelolaan INA Mencapai US$ 31 Miliar

10 Jan 2023

Investasi berbagai lembaga pada Lembaga Pengelola Investasi alias Indonesia Investment Authority (INA) terus berjalan. Saat ini, total dana kelolaan alias asset under management (AUM) INA telah mencapai US$ 31 miliar. Juru bicara INA Masyita Cyrstallin memperinci, dana kelolaan INA itu, pertama, berasal dari anak usaha Abu Dhabi Investment Authority (ADIA), Caisse de dépôt et placement du Québec (CDPQ), dan APG Asset Management (APG) dengan total US$ 3 miliar. Kedua, dari Abu Dhabi Growth Fund (ADG) sebesar US$ 10 miliar. Ketiga, Dubai Ports World (DP World Dubai) sebesar US$ 7,5 miliar. Dana tersebut salah satunya digunakan untuk sejumlah proyek badan usaha milik negara (BUMN). Antara lain empat ruas tol milik PT Waskita Karya (Persero) Tbk, pelabuhan, bandara, infrastruktur digital, kesehatan, energi tradisional, energi terbarukan, kawasan industri, dan terakhir pertanian perkebunan. Keempat, Investment Fund for Developing Countries (IFU) dari Kerajaan Denmark untuk menjajaki peluang investasi transisi energi hijau dan pembangunan sosial yang inklusif di Indonesia. Nilai investasi yang diberikan sebesar US$ 500 juta. Kelima, dana sebesar US$ 2 miliar dari Contemporary Amperex Technology Co., Limited (CATL) dan CMB International untuk pengembangan kendaraan berbasis listrik atau electric vehicle (EV). Keenam, Silk Road Fund (SRF) dari China yang menyuntikkan dana sebesar US$ 3 miliar untuk investasi di sektor healthcare dan digital.


Meningkat, Penyaluran DAK Fisik Capai 90% dari Pagu

10 Jan 2023

Kementerian Keuangan (Kemkeu) mencatat, realisasi penyaluran dana alokasi khusus (DAK) fisik mencapai Rp 54,81 triliun per akhir Desember 2022. Angka itu setara 90% dari pagu yang sebesar Rp 60,9 triliun. Persentase penyaluran DAK fisik di tahun 2022 juga lebih tinggi dari persentase 2021 yang hanya 87,5% dari pagu Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2021 yang sebesar Rp 65,2 triliun. Direktur Jenderal (Dirjen) Perimbangan Keuangan Kemkeu, Luky Alfirman, mengatakan, meningkatnya persentase penyaluran DAK fisik tahun 2022 lantaran kinerja pemerintah daerah lebih baik dalam pemenuhan dan penyampaian syarat salur DAK fisik. Terutama, dalam bidang pendidikan dan infrastruktur. Kedua bidang ini juga memiliki pagu alokasi yang besar.

Strategi MI Kelola Reksadana Saat IHSG Loyo di Awal Tahun

10 Jan 2023

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan kinerja negatif di awal 2023 dengan penurunan 2,37% ke level 6.688,26 per Senin (9/1). Meskipun begitu, para manajer investasi optimistis reksadana saham tetap menjadi pilihan investasi menarik di tahun ini. Investment Specialist Sucorinvest Asset Management Caroline Hanni mengatakan, IHSG akan bergerak stabil cenderung naik. Ini didukung posisi Indonesia yang masih diuntungkan harga komoditas dan meningkatnya konsumsi domestik. Caroline melihat, harga komoditas energi masih bertahan pada level tinggi karena disrupsi pasokan. Melihat situasi ini, Caroline menyebut, Sucorinvest AM akan lebih defensif dalam mengelola portofolio reksadana saham dan campuran. Pasalnya, sentimen negatif global mendorong aksi jual investor asing, sehingga meningkatkan volatilitas pasar saham. Tahun ini, Sucorinvest AM akan menerapkan strategi active indexing dengan fokus pada saham bluechip dari sektor energi, perbankan, telekomunikasi, dan infrastruktur. Caroline memperkirakan, imbal hasil reksadana saham tahun ini sedikit lebih rendah dari 2022, yakni sekitar 5%-8%. Ini sejalan dengan target IHSG di akhir 2023 di 7.300-7.400. Di 2022 lalu, reksadana saham Sucorinvest, seperti Sucorinvest Equity Fund dan Sucorinvest Maxi Fund, masing-masing memberi

Salurkan KUR Rp 36,5 T, BNI Incar Sektor Produksi

10 Jan 2023

PT Bank Negara Indonesia Tbk (Bank BNI) mendapat mandat mengalokasikan kredit usaha rakyat (KUR) senilai Rp 36,5 triliun di tahun 2023. BNI akan fokus menyalurkan kredit murah itu pada sektor produksi. Sekretaris Perusahaan Bank BNI, Okki Rushartomo mengungkapkan, BNI berupaya mendorong ekosistem UMKM Go Global dengan melakukan penyaluran kredit secara klaster. "Tahun ini, KUR akan tetap kami dorong untuk dapat terus membantu UMKM naik kelas sekaligus mendorong go global, ujar Okki secara tertulis pada Senin (9/1). Klaster-klaster baru tersebut antara lain pembiayaan taksi alat dan mesin pertanian, perkebunan, perikanan, pasar, ekonomi kreatif dan kerajinan.

Kerjasama Investasi, LPEI Gandeng Mexim Malaysia

10 Jan 2023

Guna meningkatkan kerja sama bidang investasi dan keuangan lintas negara, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) menandatangani Nota Kesepahaman dengan The Export-Import Bank of Malaysia (Mexim). Kerja sama ini untuk meningkatkan kapasitas kedua pihak. Sehingga Indonesia dan Malaysia untuk membuka akses pasar yang lebih luas. Kedua negara ini juga akan bekerjasama untuk membuka pasar dengan negara-negara lain.

PR SULIT PENGHILIRAN BAUKSIT

10 Jan 2023

Larangan ekspor bijih bauksit tak lama lagi bakal berlaku. Namun, pemerintah dan pelaku usaha masih memiliki setumpuk pekerjaan rumah, antara lain menggenjot ekosistem penghiliran komoditas mineral tersebut. Faktanya, hingga kini baru ada tiga smelter bauksit yang beroperasi dengan total kapasitas input sekitar 5,06 juta ton bijih bauksit. Ketiga smel­ter itu pun menghasilkan produk yang berbeda, yakni smelter grade alu­mina (SGA), chemical grade alumina (CGA), serta aluminium ingot dan billet. Tak pelak, sejumlah kalangan pun khawatir, penyetopan ekspor bauksit mulai Juni mendatang bakal kontraproduktif jika tak diimbangi dengan kehadiran ekosistem yang mendukung. Kapasitas minim input bijih bauksit di ketiga smelter tersebut dinilai dapat mengancam keberlanjutan industri hulu pertambangan, khususnya komoditas bauksit. Namun, untuk membangun smelter juga tidak mudah, karena kendala pendanaan yang dihadapi oleh pelaku industri. Saat ini, pengusaha kesulitan mendapatkan akses pendanaan karena perbankan dan lembaga pembiayaan lainnya mulai mengurangi portofolio yang berbasis energi fosil. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif pun sempat dibuat kaget ketika menemui fakta di lapangan bahwa ada perkembangan proyek smelter yang tidak sesuai dengan harapan. Padahal, kebijakan penghiliran bauksit menjadi salah satu hal strategis yang diupayakan pemerintah untuk menggerakkan perekonomian nasional. Otoritas energi dan mineral melaporkan, terdapat tujuh proyek pembangunan smelter yang mengalami kendala serius dengan capaian konstruksi di bawah 50%. Malah, sebagian besar komitmen proyek pa­brik pemurnian itu belum menunjukkan aktivitas konkret di lapangan. “Iya memang ada beberapa yang ini, pokoknya kita lagi diskusikan lah, ada yang di bawah 50%, tiga di antaranya sudah jadi yang jelas,” kata Direktur Pembinaan Program Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Ing Tri Winarno, Senin (9/1).

Sinyal Resesi Dangkal di AS

10 Jan 2023

Pekan lalu, Managing Director IMF Kristalina Georgieva menyatakan, sepertiga dunia akan mengalami resesi di tahun 2023. Penyebabnya, konflik Rusia-Ukraina yang masih berlangsung, tingginya harga komoditas, resurgensi Covid-19 di China, dan tingkat bunga di AS yang tinggi. Lokomotif perekonomian dunia, AS, Eropa, dan China, akan melambat. Negara-negara lain yang tidak mengalami resesi akan merasakan dampak melalui rantai pasokan global dalam bentuk perlambatan ekspor dan/atau kenaikan biaya impor. Pernyataan di atas disambut pasar minyak dunia dengan anjloknya harga minyak West Texas Intermediate dari 80 USD ke 73 USD per barel. Melihat inkonsistensi data makro AS, resesi 2023 diperkirakan akan seluas lautan, tetapi sedalam lutut atau mata kaki (shallow recession). Resesi di AS diperkirakan berjalan tidak terlalu lama, terutama karena perubahan perilaku permintaan agregat masyarakat. Hal ini akan berdampak global karena AS masih merupakan lokomotif perekonomian dunia.

Menurut Alan Greenspan, mantan Ketua Bank Sentral AS (The Fed) 1987-2006, resesi tetap akan terjadi. Penyebabnya adalah The Fed ingin memperbaiki kredibilitasnya dalam mengendalikan inflasi yang sebelumnya terlalu lambat menaikkan suku bunga acuan. Anjuran agar The Fed memoderasikan tingkat kenaikan suku bunga acuan untuk menghindari resesi mengandung risiko untuk dipenuhi karena akan terlihat sebagai usaha untuk melindungi pasar modal saja. Tidak terhindarkan lagi pasar modal AS akan terdampak. Menjelang pertemuan The Fed berikutnya pada 31 Januari-1 Februari, ekspektasi ini terkonfirmasi. Indeks DOW turun 300 poin, mengantisipasi The Fed yang tetap hawkish karena data penciptaan kesempatan kerja terkini AS masih baik. Survei Reuters terhadap 48 ekonom terkemuka di AS pada Desember 2022 memberi pandangan menarik. Mayoritas responden, 35 dari 48 orang, menyebutkan bahwa resesi akan berlangsung relatif pendek dan dangkal. Lembaga finansial Moody menamakan fenomena ini slowcession, bukan recession. Dalam skenario ini, pertumbuhan mungkin lambat. Tekanan inflasi turun, tetapi masih tinggi di atas angka ideal 2 per tahun. (Yoga)


Asumsi Resesi Barat pada 2023 Tetap Kuat

10 Jan 2023

Asumsi bahwa resesi akan berlangsung di negara-negara Barat, khususnya AS, pada tahun ini tetap kuat. Dasarnya adalah inflasi 7,1 % di AS yang masih terlalu tinggi dan jauh dari target 2 %. Artinya, suku bunga inti di AS tetap harus dinaikkan dari level sekarang sebesar 4,25-4,5 %. Perihal inflasi terlalu tinggi itu dinyatakan para petinggi bank sentral AS, Federal Reserve, Sabtu (7/1). Presiden Federal Reserve Minneapolis, Neel Kashkari, misalnya, menyatakan, inflasi masih tinggi, bahkan sangat mengakar kuat. Gary Clyde Hufbaue dari Peterson Institute for International Economics, di situs East Asia Forum, 25 Desember 2022, menuliskan, inflasi memiliki akar kuat. Fed memasok pasar uang beredar sebesar 5 triliun USD selama periode Desember 2019-Desember 2021. Pasokan ini menambah uang beredar, dari 4 triliun USD menjadi 9 triliun USD. ”Pasokan uang beredar tersebut masih ditambah lagi dengan stimulus fiskal 2 triliun dollar AS pada akhir 2020 dan awal 2021,” katanya. Penambahan uang beredar tanpa pertambahan barang dipadu dengan gangguan pasokan global membuat akar inflasi di AS menguat dan berefek ke seluruh dunia.

Defisit anggaran Pemerintah AS yang ditutup dengan utang akan menambah tekanan inflasi. ”Kenaikan suku bunga sejauh ini telah berdampak pada penurunan permintaan, tetapi kenaikan suku  bunga lanjut masih terus diperlukan,” kata Presiden Federal Reserve Kansas City, Esther George.Pada akhir 2022, Asia sudah merasakan kelesuan permintaan Barat sebagai efek kenaikan suku bunga. Jika biasanya China menikmati peningkatan ekspor akhir tahun, hal itu tidak terjadi pada 2022. Sheng Hetai, President Sinosure (perusahaan asuransi), dikutip China Daily, 28 Desember 2022, mengatakan, konflik Ukraina, situasi Eropa, dan tekanan geopolitik dari AS terhadap China meningkatkan risiko bagi investasi China di luar negeri. Keadaan ini juga terbukti telah menurunkan merger dan akuisisi di seluruh dunia, termasuk di Asia. Aksi merger dan akuisisi merupakan salah satu bentuk aliran investasi asing. (Yoga)


Perdagangan Antarwilayah Cenderung Menurun

10 Jan 2023

Dalam tiga tahun terakhir, nilai perdagangan antarwilayah di Indonesia turun. Padahal, perdagangan tersebut diperlukan sebagai motor penggerak ekonomi nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global yang diperkirakan makin meningkat tahun ini. Untuk itu, pemerintah pusat dan daerah diharapkan menggeliatkan kembali perdagangan antarwilayah. Dalam publikasi BPS tentang Perdagangan antar wilayah Indonesia 2022 yang dirilis 19 Desember 2022, nilai perdagangan antarwilayah 2021 sebesar Rp 1.129,52 triliun. Capaian itu lebih rendah dari 2020, 2019, dan 2018 yang masing-masing Rp 1.196,98 triliun, Rp 1.628 triliun, dan Rp 2.099,91 triliun. Peneliti Institute for Development of Economics and Finance Rusli Abdullah, Senin (9/1) mengatakan, faktor utama penyebab penurunan nilai perdagangan antarwilayah itu adalah terbatasnya pergerakan barang disebabkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) untuk menekan tingkat kasus Covid-19. Perdagangan antarwilayah perlu dipulihkan dan digeliatkan kembali untuk memperkuat perekonomian nasional di tengah makin tidak menentunya ekonomi global.

Peningkatan perdagangan tersebut diharapkan tidak hanya mencakup pangan dan energi, tetapi juga produk usaha dan industri kecil menengah. ”Hal itu bisa dilakukan melalui pengembangan sistem rantai pasok antarwilayah atau pulau berbasis industri dan substitusi impor, diversifikasi pangan, mitigasi risiko cuaca buruk, dan perkuatan usaha atau industri, terutama di wilayah timur RI,” ujar Rusli ketika dihubungi di Jakarta. Pengembangan sistem rantai pasok berbasis industri dan substitusi impor diperlukan karena perdagangan antarwilayah masih didominasi komoditas mentah. Selain itu, selama ini, sejumlah industri nasional, terutama di Pulau Jawa, masih bergantung pada komoditas impor. Ia mencontohkan, meskipun Indonesia merupakan negara produsen kakao terbesar dunia, Indonesia masih mengimpor kakao. Pemerintah juga berencana menyubstitusi gandum impor dengan sorgum dan sagu yang dihasilkan sejumlah daerah di Indonesia. Dari tiga komoditas itu saja, Indonesia sebenarnya dapat meningkatkan perdagangan antarwilayah sekaligus menggeliatkan perekonomian daerah dengan membangun rantai pasok kedua komoditas tersebut untuk bahan baku industri makanan dan minuman sekaligus menyubstitusi impor. (Yoga)