Ekonomi
( 40789 )Sinergi untuk Perkuat Pasar Produk UMKM
Kemendag bersinergi dengan lembaga pembiayaan memperkuat modal usaha mikro, kecil, dan menengah untuk mengembangkan pasar bagi produknya. ”Kemendag akan menggandeng perbankan nasional membantu pembiayaan UMKM melalui program kredit usaha rakyat. Kemendag juga menjalin komunikasi dengan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia,” ujar Mendag Zulkifli Hasan, Sabtu (7/1) di Bandar Lampung. (Yoga)
KERJA SAMA RI-KOREA SELATAN : Ekspor Dibidik Tumbuh 7%
Kementerian Perdagangan menargetkan ekspor nonmigas Indonesia ke Korea Selatan dapat tumbuh 7% sejalan dengan berlakunya Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA) per 1 Januari 2023. “Kami targetkan tahun ini sebesar 3,5%-4,7% peningkatan nonmigas secara umum. Jadi pasti di antara itu peningkatan ekspor ke Korea, tetapi diharapkan bisa lebih bisa 5%-7%,” kata Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan, Didi Sumedi, Jumat (6/1). Adapun, komoditas yang diproyeksi akan meningkat ekspornya ke Korea Selatan, antara lain besi baja, elektronik dan produk karet yang umumnya dibutuhkan dalam keperluan industri otomotif. Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan mengatakan IK-CEPA ini juga menjadi momentum bagi kedua negara untuk memperkuat hubungan ekonomi, khususnya, perdagangan dan investasi.
Harga Pangan Dunia Terus Naik
Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mengeluarkan indeks pangan dunia.Perkiraannya, harga pangan global pada 2023 masih terus meningkat, setidaknya untuk setengah tahun pertama. Krisis energi dan hambatan rantai pasok menjadi penyebab paling berpengaruh. Laporan dirilis FAO secara daring di kantor utama di Roma, Italia, Jumat (6/1). FAO membagi pangan menjadi lima kategori, yaitu daging, susu beserta produk turunannya, gandum beserta biji-bijian, minyak goreng, dan gula. FAO mencatat harga pangan dunia tahun 2022 naik 14,3 % dibandingkan tahun 2021. FAO menjelaskan, di pertengahan tahun 2022 kenaikan harga drastis akibat pengaruh perang Rusia dengan Ukraina yang menyebabkan krisis energi di Eropa dan krisis pangan di negara-negara Afrika serta sejumlah negara di Asia. Apalagi, keran ekspor gandum, pupuk, dan minyak biji bunga matahari dari Rusia dan Ukraina sempat terhenti karena jalur Laut Hitam ditutup.
PBB dan Turki berusaha melobi dan menjembatani permasalahan ini sehingga menjelang akhir tahun 2022 ekspor gandum dan pupuk kembali berjalan. Berkat terbukanya keran ekspor ini, harga minyak goreng, gandum, dan beberapa jenis daging menurun. Namun, harga gula dan susu beserta produk turunannya naik. ”Di tengah inflasi ini, sungguh penting kesadaran setiap negara untuk memastikan ketahanan pangan global. Kita harus saling membantu memenuhi kebutuhan pangan, terutama bahan makanan pokok,” kata Ekonom Utama FAO Maximo Torero, dikutip The Wall Street Journal. (Yoga)
PHK Global Masih Berlanjut
Pada 2023 PHK terjadi karena ekonomi makro dan harus menjadi dominan di pasar. Salah satu raksasa digital, Amazon, mengumumkan hendak memecat lagi setidaknya 18.000 pekerjanya. Inflasi dan perlambatan ekonomi menjadi alasan pengambilan keputusan tersebut. Dirut Amazon Andy Jassy menyampaikan kebijakan tersebut di markas utama Amazon di Seattle, Negara Bagian Washington, Rabu (4/1) malam waktu setempat atau Kamis (5/1) WIB. ”Keputusan ini berlaku sejak 18 Januari. Divisi e-dagang dan sumber daya manusia akan terdampak,” kata Jassy (Kompas.id, 5/1). Sebelum pengumuman itu, perusahaan teknologi di bidang pengelolaan relasi dengan konsumen Salesforce sudah mengumumkan PHK sehari sebelumnya. Mereka hendak memecat 8.000 karyawan. Perusahaan teknologi lain yang diperkirakan akan kembali memangkas karyawannya, antara lain, Twitter, Tesla, Shopify, Microsoft, dan Netflix.
Sepanjang 2022, perusahaan teknologi di AS telah memecat total 150.000 pekerja. Pada umumnya mereka menyatakan, perekrutan dalam jumlah besar saat pandemi menyebabkan beban bagi mereka karena ternyata permintaan ketika pandemi mereda, sudah tidak sebesar saat pandemi. Kondisi ekonomi makro berupa inflasi dan ancaman resesi menyebabkan dana segar sulit didapat sehingga mereka harus memotong biaya tenaga kerja. Akibat situasi yang mengimpit, mereka akan terus melakukan konsolidasi dengan mengefisienkan berbagai biaya. Salah satu alasan konsolidasi, mereka harus dominan di pasar. Dominasi di pasar ini akan menyelamatkan mereka dari masalah bisnis. Perusahaan teknologi akan kembali sehat ketika mereka bisa mengendalikan pasar lebih baik lagi. (Yoga)
Menadah Gula-Gula Dividen Interim dari Bank-Bank Besar
SAHAM bank-bank besar menjadi salah satu satu saham yang membuat IHSG tengkurap dua hari terakhir. Padahal, kinerja perbankan 2022 mentereng. Bahkan laba bank lokal melampaui bank di Asia.
Ini pula yang membuat sejumlah bank besar memutuskan membagi dividen interim untuk pemegang sahamnya. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) memutuskan akan membagi dividen interim sebesar Rp 8,63 triliun atau Rp 57 per saham.
Sementara
cum date
di pasar tunai dan
recording date
hingga 11 Januari 2023 dan pembayaran dividen 27 Januari 2023. Direktur Keuangan BRI, Viviana Dyah Ayu Retno bilang, dari Rp 8,63 triliun itu, sebanyak Rp 4,59 triliun masuk ke kas negara, sisanya ke investor publik. Dividen ini komitmen BRI memberikan
economic value
ke para
stakeholders,
terutama ke penerimaan negara," kata Viviana, Kamis (5/1).
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sudah membagi dividen interim tunai Rp 4,31 triliun atau Rp 35 per saham Desember 2022. BCA konsisten membagi dividen interim beberapa tahun ini. Pada 2021, BCA membagi dividen interim Rp 3,08 triliun atau Rp 25 per saham.
Berburu Diskon Besar Saham Big Caps
Belum juga sepekan tahun 2023 berjalan, langkah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sudah tersendat. Dalam dua hari terakhir, IHSG tersungkur cukup dalam.
Kemarin (5/1), IHSG ambles 2,34% ke level 6.653,84. Di hari sebelumnya, IHSG juga tengkurap 1,10% karena penurunan saham-saham energi. Kemarin, koreksi IHSG disebabkan turunnya saham-saham big caps, terutama saham perbankan dan batubara.
Analis Phintraco Sekuritas Rio Febrian mengatakan, beberapa sentimen global menjadi penekan utama IHSG.
Pertama, risalah terbaru Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve. The Fed yang kemungkinan masih akan tetap mempertahankan suku bunga acuan di level tinggi, sebelum terjadi sinyal penurunan inflasi di AS yang konsisten. Bahkan dengan proyeksi inflasi AS 3,1%, bunga acuan bisa di level 5% di 2023.
Kedua, kondisi Covid-19 di China yang dikhawatirkan menekan permintaan global. Ini tercermin dari keputusan pemerintah China untuk menaikkan kuota ekspor minyak, yang mengindikasikan lemahnya permintaan domestik China. Selain itu, sektor batubara juga tengah dibayangi rencana China yang mempertimbangkan untuk melonggarkan larangan impor batubara dari Australia.
Saham-saham berkapitalisasi pasar besar alias big caps,
terkoreksi cukup dalam dan dilepas asing. Saham-saham perbankan dan batubara menjadi saham penggerus IHSG paling besar pada perdagangan kemarin.
PMN Belum Mampu Dongkrak BUMN
Pemerintah terus menyuntik modal badan usaha milik negara (BUMN) melalui penyertaan modal negara (PMN). Bahkan, nilai anggaran PMN yang dikucurkan pemerintah terus meningkat setiap tahunnya.
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati bilang, pemerintah telah menyuntik dana senilai Rp 106,8 triliun kepada perusahaan pelat merah, termasuk lembaga negara sepanjang 2022.
"Beberapa BUMN yang hampir bangkrut kami injeksi dana. Seperti Garuda Indonesia, yang kami kasih tambahan modal Rp 7,5 triliun," ujar Menkeu Sri Mulyani di paparan APBN KiTa, (3/1).
BUMN yang paling besar mendapat alokasi PMN adalah PT Hutama Karya yang disuntik modal Rp 31,4 triliun. Kemudian PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dengan injeksi modal Rp 5 triliun, PT Kereta Api Indonesia (KAI) Rp 3,2 triliun, PT Waskita Karya Tbk Rp 3,0 triliun, dan PT Adhi Karya Tbk Rp 2,0 triliun.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menilai, suntikan dana pemerintah kepada BUMN belum sebanding dengan kontribusi dari BUMN kepada perekonomian negara.
Arus Keluar Tinggi, Cadev 2022 Bisa Turun US$ 10 M
Cadangan devisa (cadev) berpotensi bertambah pada periode Desember 2022 bila dibandingkan dengan November 2022.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan, cadangan devisa pada Desember 2022 naik sekitar US$ 500 juta hingga US$ 1 miliar menjadi US$ 134,5 miliar hingga US$ 135 miliar. Adapun cadangan devisa di periode November 2022 tercatat US$ 134 miliar.
"Ini seiring dengan adanya arus modal asing yang masuk ke pasar keuangan, terutama di pasar obligasi," kata Josua kepada KONTAN, Kamis (5/1).
Sepanjang tahun 2022, cadangan devisa Indonesia diperkirakan turun sekitar US$ 10,9 miliar seiring dengan tingginya arus keluar investor asing di pasar obligasi.
AKRA Bidik Laba Bersih Tumbuh 15% di Tahun Ini
PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) menargetkan pertumbuhan laba bersih hingga dua digit pada tahun ini. Direktur dan Sekretaris Perusahaan AKRA Suresh Vembu optimistis, laba bersih AKRA bisa tumbuh 14%-15% dari tahun 2022.
Target ini berkaca dari proyeksi kinerja AKRA tahun lalu yang diperkirakan bisa mencapai Rp 2 triliun, lebih tinggi daripada proyeksi konsensus analis. Pendorong kinerja AKRA berasal dari bisnis distribusi bahan kimia dan bahan bakar minyak (BBM) yang tumbuh positif, berkat kenaikan harga komoditas dan pemulihan ekonomi. "Selain
business to business, AKRA juga punya gerai untuk konsumen ritel, sehingga bisa mendorong penjualan BBM tahun ini, kata dia. Penjualan BBM AKRA diharapkan bisa tumbuh 5% sampai 8% pada tahun ini.
Untuk mencapai target tersebut, AKRA menyiapkan belanja modal alias
capital expenditure
(capex) senilai Rp 200 miliar sampai Rp 250 miliar. Sebagian dana capex ini akan digunakan untuk ekspansi bisnis stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) BP-AKR yang merupakan
joint venture
antara AKRA dengan BP. Saat ini, SPBU BP-AKR memiliki 36 gerai. AKRA berencana menambah sekitar 15-20 SPBU lagi, sehingga bisa mencapai minimal 50 gerai SPBU di tahun ini.
Baru 58 Fintech Lending Penuhi Aturan Permodalan
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penyelenggara fintech
lending
yang memenuhi ekuitas minimal Rp 12,5 miliar baru sekitar 58 penyelenggara. Peraturan OJK (POJK) Nomor 10 Tahun 2022 yang menyebutkan penyelenggara wajib setiap saat memiliki ekuitas paling sedikit Rp 12,5 miliar dan waktu yang diberikan hingga tiga tahun setelah peraturan tersebut terbit.
"Saat ini yang sudah mencapai di atas Rp 12,5 miliar sudah 58 tapi masih ada waktu dua tahun untuk memenuhi ekuitas minimal," ujar Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) OJK, Ogi Prastomiyono, belum lama ini.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









