;
Kategori

Ekonomi

( 40707 )

Minim Animo Aset Kripto

13 Jul 2023

Momentum peluncuran bursa kripto dinilai sudah lewat. Musababnya, saat ini animo publik terhadap aset kripto sedang lesu. Karena itu, para pelaku investasi dan ekonom berharap peluncuran bursa kripto tak lagi ditunda. "Momen bursa kripto ini sebenarnya sudah lewat. Semestinya sudah diluncurkan satu-dua tahun lalu," ujar praktisi investasi Desmond Wira kepada Tempo, kemarin, 12 Juli 2023. Ia mengatakan saat ini belum ada sentimen positif yang mengerek aset digital tersebut. Buktinya, nilai transaksi kripto kian menurun dalam beberapa waktu terakhir. Bappebti rencananya meluncurkan bursa kripto pada bulan ini. Namun pasar kripto saat ini tengah lesu. Pada Juni 2023, Bappebti mencatat nilai transaksi perdagangan fisik aset kripto sebesar Rp 8,97 triliun. Apabila dibanding nilai transaksi pada Mei yang sebesar Rp 8,21 triliun, nilai transaksi pada bulan ini naik 9,3 persen. Namun angka tersebut masih di bawah nilai transaksi pada April yang mencapai Rp 10,77 triliun. Total nilai transaksi dari awal tahun sampai Juni 2023 tercatat sebesar Rp 66,44 triliun, turun 68,65 persen dibanding pada periode Juni 2022 yang sebesar Rp 211,96 triliun. 

Sementara itu, jumlah pelanggan aset kripto terdaftar sampai Juni 2023 tercatat sebesar 17,54 juta pelanggan. Bappebti menyebutkan ada pertambahan 141,8 ribu pelanggan, dengan rata-rata kenaikan jumlah pelanggan terdaftar sebesar 490,8 ribu pelanggan per bulan. Desmond mengatakan peluncuran bursa kripto belum tentu bisa meningkatkan minat masyarakat untuk bertransaksi kripto. Musababnya, pergerakan aset kripto sangat bergantung pada kondisi kripto di pasar global, yang juga masih lesu karena berbagai sentimen negatif. Terlebih harga Bitcoin masih berkutat di kisaran US$ 30 ribu per koin. Harga Bitcoin tersebut sudah jauh lebih tinggi ketimbang pada awal tahun ini yang berada di kisaran US$ 16 ribu per koin. Namun harga koin digital tersebut masih jauh di bawah harga pada beberapa tahun belakangan. "Ini kan masih rendah. Ada kemungkinan masih banyak investor lama yang nyangkut sehingga relatif lesu. Sedangkan investor baru hendak masuk pun ragu-ragu karena minim sentimen positif," ujar Desmond. (Yetede)

BI : Biaya QRIS Agar Ekosistem Digitalisasi Berkembang

13 Jul 2023

JAKARTA,ID-Bank Indonesia (BI) memberikan klarifikasi seputar polemik pengenaan biaya sebesar 0,3% bagi pedagang katagori usaha mikro (UMi) yang bertransaksi menggunakan Quick Response Indonesia Standard (QRIS). BI menegaskan, kebijakan itu dimaksudkan agar  ekosistem digital terus berkembang. Persentase biaya yang juga dikenal  sebagai merchant discount (MDR) itu pun tak lebih dari persentase tarif keekonomian yang mencapai 0,7%. Menurut BI, tidak ada niatan dari bank sentral  untuk membebani masyarakat, terutama pada pedagang UMi yang terdaftar sebagai merchant QRIS. "Ini bukannya kita tidak peka dengan kebutuhan UMi, tapi 0,3% itu sudah jauh dari keekonomian  yang seharusnya 0,7%. BI enggak terima apa-apa," ujar Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI, Dicky Kartikoyono di Jakarta, Rabu. Dicky memaparkan, Setidaknya ada lima manfaat yang didapat dari penyesuaian  MDR QRIS UMi tersebut. Pertama, percepatan disbursement dana ke merchant menjadi H0 dari sebelumnya H+1 hingga H+3. Kedua, keberlangsungan  penyelenggaraan layananan QRIS lebih terjamin. (Yetede)

Kemendag Permudahkan Ekspor Ke Jepang Dengan SKA Elektronik

13 Jul 2023

JAKARTA,ID-Kementerian Perdagangan (Kemendag) mempermudah fasilitas ekspor ke Jepang melalui Surat Keterangan Asal (SKA) Elektronik (e-form). Fasilitas itu dituangkan dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 20 tahun 2023 tentang Ketentuan Asal Barang Indonesia Ketentuan Penerbitan Surat Keterangan Asal Indonesia Berdasarkan Persetujuan Antara Republik Indonesia  dan Jepang mengenai Suatu Kemitraan Ekonomi (Agreement Between The Republic of Indonesia  and Japan for an Economic Partnership). Permendag tersebut diterbitkan atas tinjauan umum (general review) dari IJEPA. Permendag 20 Tahun 2023 ditetapkan dan diberlakukan mulai 26 Juni 2023. Penerbitan Permendag ini sejalan dengan upaya peningkatan fasilitasi ekspor dalam hubungan perdagangan bilateral Indonesia dan Jepang, "Permendag ini diterbitkan sebagai komitmen bersama antara Indonesia dan Jepang untuk pemberlakuan SKA Elektronik IJEPA mulai 26 Juni 2023. Indonesia optimistis hubungan baik kedua negara dapat ditingkatkan, terutama dengan perjanjian bilateral  IJEPA untuk saling mempererat  hubungan ekonomi di tengah di tengah situasi ekonomi global saat ini," kata Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan dalam keterangan resminya, Rabu (12/07/2023). (Yetede)

Asing Kembali Borong Saham Bank Besar

13 Jul 2023

JAKARTA,ID-Pemodal asing kembali memborong saham empat bank besar pada pekan ini, setelah sebelumnya mencetak net sell Rp 2,3 triliun selama 1 Juni hingga 7 Juli 2023. Seiring dengan itu, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI)  naik 0,17% ke level 6.808, kemarin, tertinggi sejak 11 Mei 2023 atau dalam dua bulan terakhir. Kemarin, dari total net buy asing Rp 545 miliar, sebesar Rp340 miliar mengalir  kedua bank besar, yakni PT Bank Central Asia (BCA/BBCA) Rp340,05 miliar dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (TLKM) sebesar Rp 64,25 miliar, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) Rp37,19 miliar, dan PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GPTO) senilai Rp31,15 miliar. BCA dan BRI adalah emiten dengan market cap nomor satu dan dua di BEI, masing-masing Rp1.120 triliun dan Rp 818 triliun per Rabu (12/7/2023). Selain BCA dan BRI, dua bank dengan markep cap  besar adalah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT bank Mandiri Indonesia (BNI/BBNI) RP490 triliun dan Rp 166 triliun. Keempat bank itu masuk Top 10 emiten dengan market cap besar di BEI. Dengan demikian, pergerakan empat saham bank itu menentukan kinerja IHSG, (Yetede)

Tower Bersama Rampungkan Emisi Obligasi Berkelanjutan Rp 20 Triliun

13 Jul 2023

JAKARTA,ID-PT Tower bersama Infrastructure Tbk (TBIG) menyelesaikan penerbitan Obligasi Berkelanjutan IV Tower bersama  Infrastructure Tahap I Tahun 2023 dalam program obligasi baru senilai Rp 20 triliun. Obligasi TBIG VI tahap I dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 12 Juli 2023. "Total penerbitan Obligasi TBIG VI Tahap I sebesar Rp1,5 triliun terdiri atas Rp 1 triliun dengan tingkat bunga tetap 5,9% bertenor 370 hari Rp 500 miliar dengan tingkat bunga tetap 6,25% bertenor tiga tahun," tutur Chief Financial Officer (CFO) Tower bersama Infrastructure, Helmy Yusan Santoso dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (12/7/2023). Helmy menjelaskan, obligasi tersebut  setara kewajiban senior tanpa jaminan khusus dari TBIG dan memiliki pembayaran bunga setiap kuartal. "Setelah dikurangi biaya penerbitan, dana dari penawaran itu akan digunakan untuk pembayaran sebagian kewajiban finansial dari entitas anak perseroan, khususnya fasilitas pinjaman revolving US$ 325 juta dari credit facilities yang ada," papar dia. Dia menambahkan, per 31 Maret 2023, total pinjaman dalam dolar AS yang telah dilindungi  nilai diukur menggunakan kurs lindungi nilainya, adalah sebesar Rp 26,51 triliun. Sedangkan total pinjaman senior (gross senior debt) sebesar Rp3,33 triliun. (Yetede)

Daya Beli Masyarakat Masih Perlu Dijaga

13 Jul 2023

Indikasi melemahnya konsumsi rumah tangga mulai terlihat. Daya beli masyarakat harus tetap dijaga agar ke depan tak makin melemah lantaran konsumsi rumah tangga menjadi tumpuan utama ekonomi Indonesia. Pelemahan konsumsi kali ini tampak pada hasil Survei Penjualan Eceran yang dilakukan Bank Indonesia (BI). Indeks Penjualan Riil (IPR) pada Juni 2023 diperkirakan sebesar 223,2, turun 0,1% dibandingkan IPR Mei 2023 yang sebesar 223,5. Menurut Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, penurunan penjualan pada Juni 2023 tak sedalam bulan sebelumnya. Sebab di bulan Mei, IPR justru melorot 8% month on month (mom). Erwin bilang, perbaikan penurunan itu didorong penjualan subkelompok sandang. Meski menurun 1,7% mom, kinerja subkelompok sanding tak lebih dalam dibanding kontraksi Mei yang mencapai 26,7% mom. Selain itu, sejumlah kelompok penjualan ritel berbalik tumbuh positif, setelah pada Mei menyusut. Misalnya kelompok perlengkapan rumah tangga, barang budaya dan rekreasi, serta bahan bakar kendaraan bermotor. Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja (APPBI) Alphonzus Widjaja mengatakan, penurunan belanja masyarakat sejalan dengan pola musiman pasca Idul Fitri yang jatuh pada Mei 2023. "Setelah Idul Fitri, maka pusat perbelanjaan di Indonesia akan memasuki low season (musim pengunjung lebih sedikit)," tutur dia kepada KONTAN, Rabu (12/7). Dia tetap berharap pemulihan ekonomi dan konsumsi masyarakat terus bergulir dan terjaga. Terutama menjelang tahun politik pada 2024. Namun, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengungkapkan, penurunan penjualan ritel bulan lalu didorong oleh masyarakat yang menahan belanja pasca Idul Fitri. Bukan hanya itu, masyarakat lebih selektif dalam melakukan konsumsi dengan memprioritaskan belanja yang penting.

Investor Domestik Belum Bertuah

13 Jul 2023

Investor domestik masih merajai perdagangan bursa saham Indonesia. Hal ini terlihat dari komposisi nilai perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang tahun ini. Per 12 Juli 2023 investor domestik menyumbang 62% dari total nilai transaksi bursa saham. Sedangkan investor asing hanya sebesar 38%. Hal ini tak lepas dari pertumbuhan investor domestik dalam beberapa tahun terakhir. Dari data BEI, per 31 Mei 2023, jumlah investor pasar modal mencapai 11,06 juta atau tumbuh 7% dari akhir 2022 di 10,31 juta. Dari jumlah tersebut, sebanyak 4,75 juta orang merupakan investor saham. Sebagian besar investor saham merupakan investor institusi. Porsinya sebesar 34,2%. Lalu sisanya sebesar 16,9% merupakan investor ritel. Dari nilai tersebut, investor domestik berkontribusi sebesar Rp 6,8 triliun atau 65% dari rata-rata nilai transaksi harian bursa yang sekitar Rp 10,5 triliun. Sedangkan komposisi institusi asing mencapai Rp 3,7 triliun, yang setara dengan 35%. Direktur Infovesta Utama Parto Kawito mengatakan, saat ini investor domestik sudah tak terlalu mengekor investor asing. Bahkan, kerap kali saham-saham yang dibuang asing banyak ditadah oleh investor domestik. Praktisi Pasar Modal Hans Kwee mengatakan, tahun lalu, Indonesia memang mendapat keuntungan dari kenaikan harga komoditas. Tapi sejak akhir 2022, dana asing cenderung keluar dari bursa saham emerging market dan masuk ke pasar China. Hal itu seiring dengan pembukaan kembali ekonomi China. Sentimen global ini tak cuma menekan minat investasi asing, tapi juga sempat membuat investor domestik turut wait and see.

Laju Saham Dipacu Harga Komoditas

13 Jul 2023

Setelah jadi indeks paling longsor di sepanjang semester pertama tahun ini, saham-saham di sektor energi dan barang baku mulai bangkit di awal semester II-2023. Hingga penutupan perdagangan Juni, IDX Sector Energy turun paling dalam dibandingkan sektor lainnya, yakni ambles -23,76%. IDX basic materials membuntuti dengan koreksi mencapai -18,35%. Nah, kemarin (12/7), gerak kedua sektor tersebut lebih apik. Penurunan indeks sektor energi tersisa -19,24% dan indeks barang baku susut jadi -14,73% sejak awal tahun ini. Equity Research Analyst Panin Sekuritas, Felix Darmawan menyebut, saham sektor energi terpapar sentimen positif dari kenaikan harga komoditas karena ekspektasi meningkatnya permintaan. Sementara Research Analyst Reliance Sekuritas Ayu Dian melihat kenaikan saham barang baku lebih didorong menguatnya sektor industri semen, kertas, dan nikel. Sejumlah katalis penopang sektor bahan baku antara lain, pengembangan industri kendaraan listrik, penjualan semen yang berpotensi meningkat, serta ekspor kertas yang berpeluang naik.

Masih Kokoh Berkat Proyek IKN

13 Jul 2023

Kinerja PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) berjalan positif di semester II tahun 2023. Harga jual semen yang kompetitif dan potensi permintaan yang lebih tinggi dari pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara akan mendukung kinerja SMGR. Research Analyst Panin Sekuritas Aqil Triyadi menjelaskan, permintaan semen akan membaik terutama pada segmen semen curah (bulk) karena pembangunan di beberapa daerah khususnya IKN. "Ke depan, kinerja SMGR bakal terus meningkat didukung posisinya sebagai pemimpin pasar dan potensi permintaan dari proyek pembangunan strategis nasional yang kembali berjalan setelah pelonggaran PPKM," kata Aqil, Rabu (12/7). Analis Sucor Sekuritas Clara Nathania dalam riset 10 Juli 2023 menjelaskan, pemulihan volume penjualan terlihat dari penjualan hingga Mei 2023 yang naik 30,2% secara year on year (yoy) menjadi 2,6 juta ton. "Pembangunan Ibu Kota Baru (IKN) diperkirakan menyerap tambahan penjualan semen curah sebesar 1 juta ton per tahun," terang dia. Sementara volume ekspor berkontribusi 15% dari total penjualan, tumbuh 21,1% yoy. Karena itu, Clara memperkirakan, total volume penjualan SMGR akan tumbuh 4,6% di 2023 dan 5% di 2024. Dia menambahkan, para pemain tier 2 secara bertahap telah meningkatkan harga jual rata-rata alias average selling price (ASP) menanggapi strategi SMGR menaikkan harga. Tapi analis Samuel Sekuritas Indonesia Daniel A. Widjaja menyebut, hingga awal Juni 2023, harga jual semen SMGR di Jakarta dengan merek Semen Gresik masih lebih mahal 17%-26% dibandingkan pemain tingkat 2 seperti merek Conch (Garuda Conch) dan Grobogan. Untungnya, SMGR membuat Semen Padang sebagai fighting brand yang harganya tidak jauh berbeda dengan kompetitornya. "Maka, SMGR mampu meraih pangsa pasar lebih tinggi didukung merek yang kuat," ujar Daniel dalam riset 19 Juni 2023.

Penyaluran KUR Bank Masih Jauh dari Target

13 Jul 2023

Perubahan pedoman penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) lewat Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Permenko Perekonomian Nomor 1 Tahun 2023 tentang Perubahan Pedoman Pelaksanaan KUR mulai berdampak. Aturan yang merupakan perubahan atas Permenko Perekonomian Nomor 1 Tahun 2022 dan berlaku sejak Januari 2023 itu mempengaruhi strategi sejumlah bank dalam kredit usaha mikro dan kecil ini. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) menjadi salah satunya yang terdampak. Bank berkode saham BBNI ini berniat merevisi target penyaluran KUR tahun ini. BNI mengajukan revisi target penyaluran KUR, yakni hanya 60% dari target awal alokasi KUR yang dimandatkan pemerintah kepada BNI. Ini artinnya, dari alokasi KUR yang dimandatkan Rp 36,5 triliun, BNI hanya akan menyalurkan KUR Rp 22 triliun hingga akhir 2023. Salah satu pemicunya, aturan penyaluran KUR yang baru yang lebih ketat. Misalnya saja dalam penyesuaian terhadap pasal 19 beleid ini. Dalam aturan yang baru, ada perubahan pada pasal yang antara lain mengatur mengenai calon penerima KUR super mikro tersebut. Efeknya, kata General Manager Divisi Bisnis Usaha Kecil BNI Sunarna Eka Nugraha, ketentuan ini membuat bank ini sulit menyalurkan KUR. Sementara PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang fokus memberikan pembiayaan pada segmen usaha mikro kecil menengah (UMKM) mendapat alokasi penyaluran KUR sebesar Rp 270 triliun tahun ini. Hingga Juni 2023 penyaluran KUR masih Rp 64,45 triliun kepada 1,4 juta debitur. Namun, Corporate Secretary BRI Aestika Oryza Gunarto menyebut, BRI akan terus mendorong penyaluran kredit hingga mencapai 85% dari total penyaluran kredit BRI.