;
Kategori

Teknologi

( 1200 )

Kinerja Industri Telekomunikasi - Operator Makin Sulit Kembangkan Basis Pelanggan

16 May 2020

Perusahaan-perusahaan operator telekomunikasi kian kesulitan mengatrol pendapatan dari basis pelanggan baru selama pandemi Covid-19. Head of Corporate Communication PT XL Axiata Tbk. Tri Wahyuningsih menjelaskan saat ini terjadi penurunan daya beli masyarakat yang berbanding lurus dengan stagnasi pendapatan rata-rata per pelanggan (average revenue per user/ ARPU) operator seluler pada kuartal I/2020. Guna melebarkan basis pelanggan baru pada periode selanjutnya, Tri mengatakan XL Axiata tengah berupaya meningkatkan kualitas jaringan dan menyediakan berbagai pilihan layanan data yang sesuai kebutuhan pelanggan dengan tarif yang terjangkau. 

Senasib dengan XL Axiata, PT Indosat Tbk. mencatatkan kemerosotan basis pelanggan pada kuartal I/2020 menjadi 56,2 juta pelanggan dari torehan sebanyak 59,3 juta pelanggan pada kuartal sebelumnya. Namun, secara tahunan, ARPU emiten berkode ISAT pada kuartal perdana tahun berjalan meningkat.

Di lain pihak, Wakil Direktur Utama PT Hutchison 3 Indonesia Danny Buldansyah mengungkapkan daya beli masyarakat yang menurun dan adanya peralihan prioritas [belanja]—seperti ke makanan—ditambah dengan banyaknya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) berdampak pada pertumbuhan basis pelanggan dan memengaruhi ARPU operator.

Menanggapi laporan kinerja kuartal I/2020, pengamat telekomunikasi dari Institut Teknologi Bandung Ian Joseph Matheus Edward menilai operator perlu memonetisasi layanan digital bernilai tambah yang berbeda dengan kompetitornya, serta lebih memahami kebutuhan pasar.

BCA Danai XL Axiata Rp 1

12 May 2020

JAKARTA – PT XL Axiata Tbk (EXCL) menandatangani fasilitas pinjaman senilai Rp 1,5 triliun dengan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Kredit anyar ini memiliki jangka waktu lima tahun sejak tanggal penarikan. Sekretaris Perusahaan XL Axiata Ranty Astari Rachman mengatakan, fasilitas pinjaman dari BCA akan digunakan perseroan untuk pengadaan barang modal dan investasi. Serta pembiayaan kembali bank atau obligasi, serta pembayaran kewajiban umum lainnya.

Baru-baru ini, Direktur Keuan gan XL Axiata Mohamed Adlan mengatakan, ekspansi pembangunan jaringan telekomunikasi termasuk base transceiver station (BTS) masih berjalan sesuai rencana hingga kuartal I2020. Saat ini, perseroan juga belum berniat melakukan penyesuaian terhadap target belanja modal selama 2020 yang direncanakan sekitar Rp 7,5 triliun. XL meyakini penggunaan layanan data internet masih terus bertumbuh tahun ini. Bahkan, terjadi lonjakan trafik data saat pandemi Covid-19. Namun, kata Adlan, pertumbuhan industri telekomunikasi juga tergantung dari seberapa lama pandemi Covid-19 bisa teratasi.  Dari sisi ekspansi, perseroan terus melanjutkan pengembangan jaringan serat optik (faberisasi). XL menargetkan mencapai cakupan 50% jaringan serat optik di semua titik operasional pada 2020 dan 6070% pada akhir 2022. Melalui inisiatif ini, persreroan ingin memastikan XL Axiata siap menyambut revolusi teknologi jaringan 5G.

Industri Broadband Internet Berkibar di Tengah Covid

10 May 2020

Pandemi Covid-19 yang mengharuskan masyarakat bekerja dan belajar dari  rumah telah mendorong permintaan yang tinggi  terhadap broadband internet dan layanan televisi  berbayar (pay TV). Itulah sebabnya, jumlah pelanggan di industri ini justru melonjak dengan diberlakukannya kebijakan jaga jarak dan pembatasan  sosial berskala besar (PSBB) Maret-April lalu.

Menurut CEO & President Director PT Link Net Tbk Marlo Budiman, potensi broadband internet  di Indonesia masih sangat besar.  Mengacu data Media Partner Asia  (MPA). Menurutnya, Link Net  terus konsisten melakukan roll-out  jaringan, khususnya ke kota-kota  potensial di Jawa, dengan mengoptimalkan infrastruktur Java backbone  yang dimiliki.  Marlo Budiman optimistis target  pasar yang dicanangkan pada tahun  ini akan tercapai dan akan menjalankan ekspansi ke lima kota, yakni Solo, Semarang, Serang, Cilegon, serta Bali karena didukung juga populasi dan daya beli yang tinggi

Yang menarik, kata Marlo, bisnis  internet service provider (ISP), atau fix  broadband dan pay TV, berbeda dengan industri telekomunikasi seluler.  Jika di industri seluler diwarnai perang  tarif (price war) dan harga layanan  cenderung  turun, di bisnis ISP harga  layanan justru naik setiap tahun.    Tapi yang pasti, operator broadband  internet lebih mengutamakan produk  dan kualitas layanan. Kenaikkan harga ini karena pengaruh konten yang dibeli  dalam dolar AS dan dijual ke rupiah serta impor equipment dari  Tiongkok yang juga menggunakan  dolar AS.

Dihubungi terpisah, President Director & CEO Indosat Ooredoo, Ahmad  Al-Neama, menyatakan, selama masa  pandemi Covid-19, Indosat Ooredoo  telah mengambil langkah proaktif  dan progresif untuk mendukung  karyawan, pelanggan, dan komunitas. Alhasil, kinerjanya tetap positif.

Hal yang sama juga disampaikan  oleh General Manager Corporate  Communication PT XL Axiata Tbk  Tri Wahyuningsih, yang memastikan  rencana bisnisnya sesuai target meski  negeri ini dilanda Covid-19. Dia menuturkan, XL Axiata tidak  menargetkan pertumbuhan jumlah  pelanggan yang signifikan. Tetapi,  pihaknya menargetkan untuk menggapai pelanggan yang memiliki kategori produktif. Dan tahun ini, XL Axiata masih fokus  pada strategi untuk mendorong dan  meningkatkan bisnis layanan data, sehingga bisa menjadi penyedia layanan  data terdepan.

Adapun VP Corporate Communication Telkom Arif Prabowo menjelaskan, Telkom mengalokasikan capex  sekitar 25% dari pendapatan perseroan  tahun ini. Belanja modal akan dimanfaatkan untuk penguatan seluruh lini  bisnis baik mobile maupun fixed line. Sebagian besar  capex terutama digunakan untuk pembangunan BTS 4G serta penguatan  sistem IT, pembangunan jaringan akses dan  backbone berbasis fiber, tower, data  center, serta modernisasi jaringan. Ia menambahkan sejak kebijakan Work From Home dan PSBB, konsumsi bandwidth layanan data oleh konsumen  Tel komGroup mengalami lonjakan  khu susnya untuk segmen home service  melalui produk IndiHome dan segmen  per sonal service dari Telkomsel. Menurutnya Telkom saat ini tengah ber transformasi menjadi perusahaan  telekomunikasi digital dengan semakin fokus pada pengembangan  bisnis dan layanan digital dalam tiga  aspek, yakni digital connectivity, digital  platform, dan digital services.  


Link Net Tetap Ekspansif

10 May 2020

PT Link Net Tbk  dengan merek dagang First Media, pemimpin industri pay TV  dan fixed cable broadband internet  di Indonesia, tetap ekspansif di  tengah pandemi Covid-19. Tahun ini, perseroan menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) Rp 2 triliun untuk penetrasi sebagaimana dikonfirmasi CEO & President Director PT Link Net Tbk Marlo Budiman.

Marlo mengungkapkan dalam Media Visit ke Beritasatu  Media Holdings melalui konferensi  video, broadband internet saat ini sudah merupakan  utilitas primer rumah tangga di Indonesia, setara air dan listrik.  Apalagi selama masa pandemi  Covid-19 yang diharuskan untuk  belajar dari rumah dan bekerja dari  rumah (work from home/WFH).

Hadir juga pada kesempatan tersebut jajaran manajemen Link Net,  yakni Deputy CEO & Chief Operating  Officer Link Net Victor Indajang,  Enterprise Sales Director Link  Net Agung Satya Wiguna, dan  Deputy Chief Marketing Officer  Link Net Santiwati Basuki. Di  jajaran manajemen dan redaksi  grup Beritasatu Media Holdings  (BSMH), hadir CEO BSMH  Nicky Hogan,Chief Operating  Officer BSMH Anthony Wonsono,  dan News Director BSMH Primus  Dorimulu.

Sementara itu, menurut Santiwati  Basuki, pandemi Covid-19 menimbulkan dampak berbeda antara bisnis  layanan residensial dan enterprise Link  Net. Residensial justru tumbuh pesat  karena WFH, sedangkan pertumbuhan segmen enterprise cenderung flat.

Pada kesempatan yang sama, Victor Indajang menambahkan, perusahaan  memastikan layanan Link Net tetap  berjalan sebagaimana mestinya di  masa wabah Covid-19. Link Net membagi kapasitas untuk karyawan yang  harus bekerja di lapangan (work from  field), bekerja dari rumah (WFH),  dan bekerja dari kantor (work from  office/WFO).

Di lain sisi, Marlo mengatakan,  untuk menunjang WFH, Link Net  memanjakan pelanggan dengan memberikan harga dan layanan promosi  sejak pertengahan Maret hingga akhir  Mei. Pada Maret-April, perseroan telah membuka channel baru serta memberikan diskon yang sangat tinggi 50% bagi pelanggan untuk melakukan upgrade paket dan upgrade speed termasuk diskon untuk online e-learning school. Sedangkan untuk pelanggan baru juga dimanjakan dengan diskon tambahan dengan bonus berlangganan Cathplay 3 bulan, free channel tiga bulan. Selanjutnya, dari perolehan pelanggan baru, Link menyisihkan Rp 10.000 untuk donasi bagi tenaga medis.

Selain  itu, sebagai bagian mendukung WFH, Link Net sudah meluncurkan solusi study from home  (STH), First Klaz, produk e-learning  management system yang bisa dipakai  untuk sekolah, guru, kepala sekolah,  dan administrator. Bahkan, solusi ini  juga bisa dipakai oleh orang tua murid  untuk kegiatan belajar-mengajar. “Guru-guru bisa meng-upload materi-materi studi dan bisa meng-upload  video-video pengajaran. Orang tua  juga bisa mendapatkan login, sehingga  bisa memantau belajar anak-anaknya”  ujar Marlo.


Menilik Dark Web Tempat Jualan Data Hingga Kokain

10 May 2020

Data Pribadi, mulai dari nama, alamat surat elektronik atau e-mail, nomor telepon, hingga tanggal lahir dari 91 juta akun pengguna Tokopedia telah diretas. Kini, tumpukan data itu dijual di ”dark web” alias jaringan gelap internet. Satrio Pangarso Wisanggeni arian Kompas, Senin (4/5/2020), mengunjungi dark web yang menggunakan jaringan Tor untuk menilik langsung sebuah situs marketplace bernama Empire Market yang disebut oleh si peretas sebagai tempat ia menjual basis data (database) Tokopedia tersebut. Melalui fitur pencarian cepat (quick search) di situs Empire Market, ditemukan item bernama ”Tokopedia 91M” yang dijual oleh akun bernama ShinyHunters seharga harga 5.000 dollar AS atau sekitar Rp 75,7 juta.

Membaca keterangannya, basis data Tokopedia ini dipasang di Empire Market sejak Minggu (3/5/2020). Sudah ada tiga orang yang membeli basis data tersebut hingga Senin malam (4/5). ShinyHunters tak hanya menjual basis data hasil retasan Tokopedia. Melalui lamannya, dapat dilihat bahwa pada hari Minggu lalu, akun itu juga menjual empat basis data hasil retasan di sejumlah situs.

Ia menjual 20 juta akun pengguna Unacademy, sebuah layanan edukasi digital yang populer di India. Basis data ini dijual dengan harga 2.000 dollar AS atau Rp 30,2 juta. Selain itu, ShinyHunters juga menjual basis data akun dari situs pencetakan buku foto di Amerika Serikat, Chatbooks. Tumpukan berisi 15 juta akun ini dijual dengan harga yang sama dengan akun pengguna Unacademy, yakni 2.000 dollar AS. Situs web milik media juga tak lepas dari aksi ShinyHunters. Ia menjual data 3 juta akun yang terdaftar di situs The Daily Chronicle dengan harga 1.500 dollar AS atau sekitar Rp 22 juta. Adapun 15 juta data dari layanan manajemen pelanggan (customer relationship management/CRM) real estat dan properti Knock dijual 1.200 dollar AS (Rp 18 juta). Meski demikian, tidak bisa dipastikan apakah basis data yang dijual tersebut dapat benar-benar dikonfirmasi isinya.

Semua transaksi di Empire Market menggunakan tiga mata uang kripto: bitcoin (BTC), litecoin (LTC), dan monero (XMR). Pengguna dapat bertransaksi dengan memasukkan bitcoin ke dalam deposit di Empire Market. Berdasarkan situs forum dark web, Dread, Empire Market adalah situs jual-beli paling populer dalam jaringan Tor. Empire Market memang menjual barang-barang yang ilegal. Di laman utamanya, terlihat sejumlah featured listings atau barang-barang yang mendapat lokasi tampilan utama. Barang-barang itu antara lain bibit ganja, minyak tetrahydrocannabinol yang didapatkan dari daun mariyuana, kokain, obat Adderall, hingga heroin. Sebanyak 2 gram kokain asal sebuah negara di Amerika Selatan dijual dengan harga 169 dollar AS atau sekitar Rp 2,5 juta.

Apabila masuk lebih dalam, pengunjung juga bisa melihat bahwa barang ilegal yang dijual di Empire Market tidak hanya narkoba, tetapi juga uang palsu, dari dollar AS hingga euro. Suratizin mengemudi palsu dari sejumlah negara hingga kunci TSA untuk membuka tas di bandara juga dijual. Beberapa basis data hasil peretasan pun dijual di Empire Market. Informasi dari 164 juta akun Linkedin yang dibobol pada 2016 dijual dengan harga 9,99 dollar AS. Basis data yang berisis 49 juta data kependudukan warga Turki yang bocor pada 2016 pun terlihat masih tersedia di Empire Market, juga dengan banderol 9,99 dollar AS.

Empire Market adalah situs dark web yang berada dalam jaringan Tor, kependekan dari The Onion Router. Ketua Indonesia Cyber Security Forum Ardi Sutedja mengatakan, Tor adalah jaringan dark web yang paling populer. ”Selain Tor, ada I2P dan banyak lainnya,” kata Ardi saat dihubungi Kompas.

Menurut Ardi, ada tiga jenis jaringan internet. Ia menggambarkannya sebagai sebuah gunung es. Bagian pertama adalah bagian gunung es yang tampak berada di atas permukaan laut. Ardi menyebut bagian ini sebagai internet biasa; yang terlihat oleh mesin pencari, Google misalnya. Bagian kedua adalah deep web. Bagian ini mengacu pada konten atau situs dalam jaringan internet yang harus diakses menggunakan en kripsi atau password. Kaspersky mengatakan, 90 persen internet adalah deep web, yang tidak selalu bersifat berbahaya.

Adapun bagian ketiga disebut dark web. Di area ini, situs tidak terdeteksi oleh mesin pencari dan harus menggunakan aplikasi perambah (browser) khusus. Situs-situs dalam dark web bersifat anonim. ”Nah, area ini menjadi tempat aktivitas ilegal, kegiatan kriminal,” kata Ardi. Tor merupakan salah satu jaringan yang berada dalam kategori dark web.

Operation Onymous, operasi pembongkaran jaringan Tor yang digawangi oleh Europol, FBI, pada November 2014 berhasil membongkar 410 situs marketplace ilegal. Sebanyak 17 vendor dan administrator ditangkap. Otoritas juga menyita bitcoin senilai 1 juta dollar AS dan 180.000 euro dalam bentuk narkoba serta logam mulia. Operation Notarise yang digelar oleh National CrimeAgency (NCA) Inggris pada 2014-2015 juga dilaporkan BBC telah berhasil menangkap 746 paedofil yang berada di dalam dark web.

Dalam jaringan Tor, identitas pengguna dan server mengalami proses anonimisasi sehingga tak bisa dimonitor. Hal ini dilakukan dengan melewatkan jaringan pengguna melewati ribuan lapis titik pengguna.

Berdasarkan dokumentasi resmi Tor, per 3 Mei 2020, ada 6.780 lapisan relay. Karakteristik berlapis inilah yang menjadi alasan mengapa disebut onion atau bawang. Seluruh alamat dalam Tor menggunakan .onion sebagai domainnya. Berdasarkan dokumentasi resmi Tor, kini terdapat 193.750 situs yang berada dalam jaringan Tor.

Alamat dalam jaringan Tor tidak sesederhana dalam jaringan internet biasa.Alamat situs dalam jaringan Tor berisi kombinasi huruf dan angka yang panjang. Alamat Empire Market yang diakses Kompas pada Senin malam terdiri dari kombinasi angka dan huruf yang acak sepanjang 56 digit.

Tor bermula pada 1990-an ketika sejumlah pakar komputer di Pusat Riset Angkatan Laut Amerika Serikat memikirkan cara untuk membuat jaringan internet anonim. Pada 2006, proyek Tor menjadi sebuah yayasan nonprofit. Yayasan ini dibiayai donasi pribadi dari puluhan ribu orang hingga sejumlah instansi dan organisasi besar dunia.

Perusahaan teknologi seperti Google, Reddit, sejumlah perguruan tinggi, organisasi nonprofit seperti Human Rights Watch, hingga instansi pemerintahan dari sejumlah negara pernah menjadi donatur Tor. Salah satu sponsor aktif Tor saat ini adalah Biro Demokrasi, Ketenagakerjaan dan HAM Kementerian Dalam Negeri AS.

Sejumlah media ikut membuat situs dalam jaringan dark web, seperti New York Times, BBC, dan Propublica. Platform media sosial Facebook juga menyediakan situs dalam jaringan Tor sejak 2014.

”Konten BBC World Service kini tersedia di jaringan Tor untuk melayani pemirsa yang berada di negara-negara yang menutup akses terhadap BBC. Hal ini segaris dengan misi BBC World Service untuk menyediakan berita tepercaya di seluruh dunia,” ungkap BBC pada 23 Oktober 2019.

Sebagian Anggaran untuk Komisi Mitra Daring

30 Apr 2020

Ditengah pandemi dan keterbatasan anggaran untuk penanganan dampak Covid-19, desakan meniadakan kelas-kelas pelatihan daring yang tidak relevan kian menguat apalagi perusahaan platform digital selaku mitra diketahui boleh mendapat komisi dari biaya pelatihan program berdasarkan Pasal 52 Peraturan Menteri Koordinator Perekonomian Nomor 3 Tahun 2020. Hal ini turut dikonfirmasi Direktur Kemitraan dan Komunikasi Manajemen Pelaksana Kartu Prakerja Panji W Ruky yang dikonfirmasi, Senin (27/4/2020), Dari anggaran Rp 20 triliun Kartu Prakerja, sebanyak Rp 5,6 triliun dialokasikan untuk biaya pelatihan daring. Ada delapan perusahaan platform digital yang menjadi mitra Program Kartu Prakerja, Delapan mitra itu adalah Tokopedia, Ruangguru, Mau Belajar Apa, Bukalapak, Pintaria, Sekolahmu, Pijar Mahir, dan Sistem Informasi Ketenagakerjaan (Sisnaker) Kementerian Ketenagakerjaan.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah mengatakan, sumber persoalan Kartu Prakerja adalah kelas-kelas pelatihan daring yang tidak efektif dan tidak relevan di tengah pandemi Covid-19 dan cara terbaik untuk menyudahi polemik Kartu Prakerja adalah menghapus kelas-kelas pelatihan itu. Sekretaris Eksekutif Labor Institute Indonesia Andi W Sinaga setuju dengan pendapat tersebut dan mengatakan Kartu Prakerja terbukti tidak membantu perekonomian, ia berpendapat bantuan tunai lebih dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidup pekerja

Lahirnya Profesi-Profesi Digital Baru

29 Apr 2020

Co- founder Creative 360 Labs yang berbasis di Portland, Oregon, Thomas Hayden, mengungkapkan, kemajuan teknologi memang telah datang. Namun, akses mendapatkannya menjadi masalah yaitu, pembuatan gear yang lambat dan poin harga yang terlalu tinggi. Ketika ia melihat teknologi ini seperti 15 tahun yang lalu, ia melihat peluang untuk menjadi pemandu sungai digital. Sekarang, Hayden senang bisa membawa lebih banyak orang untuk perjalanan digital daripada yang pernah ia lakukan secara fisik di Colorado Plateau.

Produser video luar ruangan lainnya, Tim Kemple, mengatakan, rasanya cukup menarik ketika memiliki kemampuan untuk membawa orang bertualang. Kemple mengakui, hal tersebut tidak cukup hanya dengan memandang ponsel dan laptop. Headset akan membuat pengalaman tersebut menjadi ideal. Musim gugur yang lalu, Colorado Parks and Wildlife mengadopsi konsep yang selama ini diterapkan Pokemon Go dan bermitra dengan aplikasi Agents of Discovery.  Seorang administrator taman, Jeanette Lara, mengungkapkan, begitu banyak anak- anak muda yang selama ini sudah telanjur terpaku pada layar atau gim video.Pemanfaatan teknologi, menurutnya, akan bisa menjembatani kesenjangan itu.

WFH Poles Emiten Telekomunikasi

21 Apr 2020

Kebijakan work from home (WFH) dan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) telah mendorong kenaikan trafik data seluler yang disediakan emiten telekomunikasi. Direktur Utama PT XL Axiata Tbk. (EXCL) Dian Siswarini mengatakan selama kedua kebijakan itu diterapkan telah terjadi peningkatan trafik data sekitar 15% dibandingkan hari normal. Layanan XL Home juga naik 20% setelah WFH dan PSBB. Kenaikan lalu lintas data juga dialami entitas usaha PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (TLKM) yakni PT Telkomsel. Dirut Telkomsel Setyanto Hantoro mengatakan layanan broadband meningkat 16%.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Lee Young Jun me ngatakan compound annual growth rate trafik data akan meningkat 60% pada 2019-2022 seiring naiknya pengguna smartphone dan konsumsi data konten video. Di antara tiga operator, Jun memilih TLKM karena pendapatan yang stabil dari perusahaan, infrastruktur yang kuat, basis pelanggan yang besar, dan pemimpin pasar yang tak tertandingi. Tim Riset JP Morgan menjagokan emiten yang sama. Pasalnya, ISAT dan EXCL dinilai mengurangi investasi di Jawa sebagai pasar utama 

Penggunaan Internet Melonjak karena WFH

08 Apr 2020

Endy Kurniawan, praktisi digital di Open Parliament Institute, pada keterangannya di Jakarta pada Sabtu (4/4), mengingatkan operator telekomunikasi Tanah Air perlu mengantisipasi kendala terkait dengan masalah laten konektivitas di Indonesia, yaitu reliabilitas untuk transmisi konten yang sifatnya interaktif.

Meningkatnya layanan data/internet yang tinggi (high data internet) terutama dari pemanfaatan aplikasi remote working dan distance learning yang menjadi kebanjiran pengguna, hal ini seiring dengan imbauan agar masyarakat bekerja dan belajar dari rumah (work from home / WFH) sebagai akibat diberlakukannya aturan jaga jarak fisik (physical distancing) sampai isolasi wilayah (lockdown) di beberapa negara akibat pandemi corona (Covid-19)

Lonjakan terjadi di beberapa kategori, diantaranya :

  1. Aplikasi untuk rapat virtual (Zoom, Cisco-Webex, Google Meeting & Hangout, Skype, Apple Facetime, dan juga Microsoft Team)
  2. Platform penyedia pembelajaran jarak jauh (Ruang Guru, Great Edu, Coursera dan Udemy)
  3. Media sosial dan komunikasi (Whatsapp, Instagram, Facebook, Game Elektronik)

Aplikasi video konferensi Zoom misalnya, hampir 200 juta orang melakukan rapat virtual jarak jauh pada tahun 2020 ini dibanding akhir 2019 yang berkisar hanya 10 jutaan pengguna saja.


Tren Saat Pembatasan Sosial, Konferensi Video, Awas Data Dilego

03 Apr 2020

Imbauan pembatasan interaksi fisik membuat aplikasi konferensi video menjadi primadona bagi nyaris semua kalangan masyarakat untuk tetap menjalin komunikasi di tengah pandemi COVID-19. Dilansir Statqo Analytics, saat ini penggunaan aplikasi rapat secara daring meningkat setiap pekannya. Hingga pekan keempat Maret, peningkatan yang sangat signifikan diraih oleh aplikasi Zoom dengan kenaikan penggunaan hingga 183%. Namun, hal yang sering kali luput dari perhatian masyarakat adalah faktor keamanan dari aplikasi konferensi video. Saat ini yang sedang ramai menjadi pembicaraan adalah keamanan Zoom yang berbagi data dengan Facebook. Zoom menggunakan enkripsi TLS, standar yang sama dengan yang digunakan perambah situs jejaring untuk mengamankan situs HTTPS. Dalam praktiknya, data dienkripsi antara pengguna dan server Zoom, mirip dengan konten Gmail atau Facebook. Namun, istilah enkripsi E2E biasanya mengacu pada perlindungan konten sepenuhnya di antara pengguna, tanpa akses perusahaan sama sekali, mirip dengan yang dilakukan Whatsapp. Di sisi lain, Zoom tidak menawarkan tingkat enkripsi itu. Zoom mengklaim tidak menjual data pengguna dalam bentuk apa pun. Namun, ada kemungkinan perusahaan dipaksa menyerahkan rekaman pertemuan jika terjadi proses hukum.

Banyak hal yang sering luput dari perhatian masyarakat soal keamanan data. Padahal, tanpa disadari, manusia tengah menghadapi fase hidup yang makin terpengaruh oleh dunia dalam jaringan. Pelaku kejahatan siber bisa memanfaatkan, mengeksploitasi dan menyusup melalui pintu masuk yang berbeda, seperti Wifi, jaringan tanpa enkripsi, penggunaan kata sandi yang lemah, dan izin aplikasi yang buruk atau diabaikan. Pada prinsipnya risiko konferensi video sama dengan risiko aktivitas lain yang melibatkan transmisi data. Data tersebut bisa disadap di tengah jalan atau jika perangkat terinfeksi malware, data bisa disadap dari perangkat yang terinfeksi. Selain itu, jika data disimpan, juga rentan untuk disadap. Untuk itu, harus ada perlindungan yang baik atas data tersebut.

Pada saat seperti inilah Indonesia sangat perlu memiliki undang-undang tegas soal perlindungan data pribadi. Pemerintah pun perlu mewajibkan perusahaan yang mengendalikan dan memproses data harus berbadan hukum Indonesia. Jika tidak, perlindungan data pribadi masyarakat akan tumpul, terlebih di tengah ketergantungan yang makin tinggi terhadap layanan daring.