;
Kategori

Teknologi

( 1206 )

Angin Segar Industri Pangkalan Data Nasional

20 Jun 2020

Pelaku industri pangkalan data optimistis akan adanya peluang untuk lebih ekspansif pada tahapan pembukaan kembali perekonomian pascapandemi Covid-19. 

CEO Telkomsigma Sihmirmo Adi menyatakan era kenormalan baru membuka pintu cuan bagi bisnis pangkalan data (data center), seiring dengan keyakinan akan terjadinya pergeseran tren pola bisnis di Indonesia yang bakal lebih mengedepankan penggunaan layanan digital yang andal. 

Menurutnya, antisipasi pemetaan bisnis yang dipilih oleh Telkomsigma saat ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu jangka panjang dengan membangun beberapa pangkalan data serta antisipasi terhadap pasar global, dan untuk jangka pendek akan menambah space serta variasi ketersediaan produk.

Selain itu, dia mengatakan agar pangkalan data lokal dapat bersaing pada masa depan, pelaku industri harus terus memberikan pelatihan kepada sumber daya manusia (SDM). 

President Asosiasi Data Center Indonesia (IDPRO) Hendra Suryakusuma menilai penyedia pangkalan data lokal secara kapasitas, kualitas, dan kemanan sudah sangat siap untuk mendukung ekosistem digital Indonesia. Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi juga mengatakan pangkalan data penting untuk menopang segala macam transaksi serta akses digital yang bakal melonjak semasa pandemi dan pascapandemi.

Negosiasi Antara Telkom dan Netflix Mengerucut pada Kesepakatan

20 Jun 2020

Direktur Utama Telkom Ririek Adriansyah mengatakan, pihaknya sedang berupaya agar bisa segera ada titik temu antara Netflix dengan Telkom Group. Dengan demikian, akses ke layanan Netflix pada Telkom dan Telkomsel dapat segera dibuka setelah sebelumnya Telkom bekerjasama dengan Iflix (Malaysia) dan Hooq (Singapura).

Sebelumnya, Ririek menjelaskan, pertumbuhan mobile broadband di masa mendatang masih berpotensi meningkat cukup besar sejalan dengan semakin tingginya pengguna mobile data.Di segmen bisnis consumer, IndiHome menjadi pendorong pertumbuhan Telkom. IndiHome mencatat kenaikan pendapatan signifikan sebesar 28,1% menjadi Rp 18,3 triliun pada 2019. Jumlah pelanggan IndiHome tumbuh 37,2% jika dibanding akhir 2018 menjadi 7 juta pelanggan pada akhir 2019. EBITDA margin IndiHome mencapai 33,9%, mendekati standar profitabilitas global.

Sementara itu, Telkomsel masih menjadi operator dengan basis pelanggan terbesar di Indonesia, yaitu 171,1 juta pelanggan dengan pengguna mobile data tercatat sebanyak 110,3 juta pelanggan pada akhir 2019. pendapatan bisnis digital Telkomsel tumbuh cukup signifikan sebesar 23,1% pada tahun lalu. Pertumbuhan bisnis digital tersebut tercatat sebagai pertumbuhan tertinggi secara industri pada 2019 sehingga pendapatan bisnis digital Telkomsel menjadi Rp 58,24 triliun

Sektor CPO dan Telekomunikasi Cetak Kinerja Terbaik

14 Jun 2020

Sebanyak 135 emiten telah merilis laporan keuangan kuartal I-2020 terlihat sejumlah sektor tertekan pandemi korona. Meski begitu, sejumlah sektor masih mampu mencatatkan pertumbuhan tinggi di tiga bulan pertama tahun ini bahkan mencatat pertumbuhan laba bersih rata-rata hingga mencapai dua digit, yaitu sektor perkebunan serta sektor telekomunikasi.

Perkebunan mencapai pertumbuhan pendapatan 18,1% year on year (yoy) dan bahkan laba bersih 136,2% yoy yang ditopang utamanya oleh PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dengan laba bersih AALI naik 891,9%. Emiten sektor telekomunikasi dan menara telekomunikasi mencatatkan rata-rata pertumbuhan pendapatan 13,8% yoy dan rata-rata pertumbuhan laba bersih sebesar 361,4% yoy. EXCL mencetak pertumbuhan laba bersih tertinggi di sektor ini, mencapai 2.557,2% secara yoy.

Analis Jasa Utama Capital Sekuritas Chris Apriliony menilai, kenaikan kinerja pada sektor agrikultur terdorong peningkatan harga jual CPO. Akan tetapi, sepanjang 2020, Chris melihat, kinerja emiten CPO bisa kembali turun. Sementara kinerja emiten sektor telekomunikasi terdongkrak efek kebijakan physical distancing. Kebijakan ini membuat interaksi online meningkat sehingga mendorong penggunaan data.

Sementara sektor aneka industri mencetak rata-rata penurunan pendapatan terdalam, yakni mencapai 26,5% yoy. Sedangkan penurunan rata-rata laba bersih terdalam ditorehkan sektor pariwisata dan perhotelan, yakni 1.934,40% yoy. PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS) mencetak lonjakan rugi bersih hingga 7.611,5% yoy, dari Rp 51,57 juta pada kuartal I-2019 menjadi Rp 3,98 miliar pada kuartal I-2020.

Kepala Riset MNC Sekuritas Thendra Crisnanda bahkan memprediksi, laba bersih emiten sektor yang tertekan pandemi Covid-19 masih bisa terus turun tahun ini. Secara rata-rata, penurunan laba bersih bisa mencapai 30%. Tapi Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilanus Nico Demus menyebut, investor juga bisa melirik saham perbankan seperti BBNI, BBRI, BBCA dan BMRI yang mampu menjaga stabilitas meski kinerjanya juga terpengaruh kredit bermasalah akibat pandemi.

Normal Baru Mempercepat Disrupsi Dunia Kerja

23 May 2020

Bekerja dari rumah bukan hal baru. Namun, situasi pandemi memaksa sebagian besar perusahaan menerapkan pola kerja tersebut. Pandemi kemudian menjadi ujian bagi kesiapan berbagai perusahaan dan individu dalam menerapkan sistem bekerja dari rumah atau sistem kerja jarak jauh (remote working). Meski terdengar sederhana, bekerja dari rumah atau kerja jarak jauh memiliki landasan konsep dan sistem yang berbeda dengan kerja harian di kantor secara konvensional.

Dalam artikel jurnal berjudul ”The Option to Work at Home: Another Privilege for the Favoured Few?” (2002), pertimbangan bekerja dari rumah dititikberatkan pada kondisi pekerja dengan melibatkan berbagai aspek. Preferensi atau kecenderungan bekerja dari rumah disandingkan dengan faktor keseimbangan kehidupan kerja atau work life balance.

Ada beberapa pertimbangan penting, misalnya terkait status dan jenis kelamin pekerja. Perihal status, penting untuk diketahui bahwa pekerja tersebut masih lajang, sudah menikah, memiliki anak, hingga memiliki tanggungan anggota keluarga (orangtua, saudara, dan anak). Aspek lain yang harus dimasukkan pertimbangan adalah sejauh mana perusahaan mampu menyediakan kebutuhan karyawan untuk bekerja. Selain itu, perlu ada dukungan teknologi, seperti listrik, internet, dan komputer, serta kebutuhan perlengkapan lainnya, misalnya alat tulis, buku, dan akses jurnal.

Di atas kertas, biaya listrik, internet, konsumsi, dan lainnya yang biasa diberikan oleh perusahaan bagi para karyawan di kantor dapat diminimalkan dengan penerapan kerja jarak jauh. Akan tetapi, perusahaan juga patut mempertimbangkan risiko terkait kepegawaian dan produktivitas sehingga sepatutnya merancang regulasi tersendiri (peraturan perusahaan) sebelum menerapkan sistem kerja dari rumah guna mengantisipasi konflik internal di kemudian hari.

Sistem kerja jarak jauh atau kerja dari rumah sudah dan sedang diterapkan oleh sejumlah perusahaan di dunia, terlebih perusahaan multinasional. Sejumlah pengalaman, tantangan, dan peluang pola kerja ini dapat ditemukan, antara lain, dalam survei yang dilakukan perusahaan teknologi OWL Labs berjudul ”State of Remote Work 2019”. Survei ditujukan bagi pekerja di Amerika Serikat kepada 1.202 orang pekerja dengan proporsi 62 persen pekerja jarak jauh (remote workers) dan 38 persen pekerja di kantor (on-site workers). Semua responden berusia 22 tahun hingga 65 tahun dengan jabatan berbeda-beda,. Dari segi persepsi, keinginan para pekerja untuk dapat bekerja jarak jauh terlihat masih besar dibandingkan dengan bekerja di ruangan kantor. Alasan cukup beragam, mayoritas menyeimbangkan kehidupan kerja (work life balance), lainnya lebih fokus bekerja, menghindari mobilitas atau kemacetan, dan mengurangi stress.

Lebih lanjut para responden juga menyoroti beberapa hal yang patut diperhatikan oleh perusahaan ketika menerapkan sistem kerja jarak jauh seperti jaminan kesehatan serta kompensasi dasar seperti listrik, konsumsi, internet, dan sebagainya termasuk terkait aturan liburan atau cuti dan kompensasi kinerja (reward) yang diperoleh.

Survei tersebut menemukan pula keterkaitan antara rasa bahagia dan loyalitas kepada perusahaan. Sebanyak 71 persen pekerja jarak jauh merasa bahagia dengan pola kerja ini dan menyatakan akan bertahan di perusahaan tersebut setidaknya sampai lima tahun ke depan

Survei oleh OWL Labs tak hanya menggali persepsi dari segi pekerja di tingkat karyawan, tetapi juga di tingkat manajer. Temuan mendapati bahwa pelatihan bagi para manajer terkait sistem jarak jauh sangat perlu diberikan sebelum diterapkan ke anggota tim mereka. Manajer yang belum memiliki pelatihan memiliki perhatian atau kekhawatiran lebih besar ketimbang mereka yang sudah mendapatkan pelatihan. Dimana dari segi tantangan masih berpusat pada isu penurunan produktivitas dan fokus pada kerja karyawan atau anggota tim dimana adanya penurunan keterlibatan karyawan dalam tim dan pekerjaan yang berhasil dituntaskan anggota mereka.

Jika disarikan, temuan dari survei menekankan pentingnya persiapan oleh perusahaan, pemimpin tim kerja, dan para pekerja. Perusahaan perlu menimbang aspek modal, tantangan, dan peluang ke depan. Selain itu, perusahaan juga perlu memberikan pelatihan khusus bagi manajer dan karyawan sebelum menerapkan sistem ini.

Menurut survei lainnya dari US Census Bureau American Community Survey di AS, pola kerja jarak jauh mengalami peningkatan mulai tahun 2008 hingga 2018 meski jumlah tidak drastis secara persentase dan diprediksi hingga 2025 dan seterusnya, tren ini akan meningkat. Bagi masyarakat AS, mahalnya harga properti untuk menyewa gedung perkantoran dapat disiasati dengan menerapkan sistem ini. Adapun sistem kerja jarak jauh setidaknya dilakukan lima kali dalam sebulan atau tidak sepenuhnya kerja jarak jauh.

Kendati saat ini belum ada survei terkait sistem kerja jarak jauh di kalangan perusahaan dan pekerja di Indonesia, ada asumsi yang dapat digunakan. Asumsi itu ialah sistem kerja ini diterapkan oleh banyak perusahaan rintisan yang jumlahnya juga meningkat setiap tahun. Hingga 19 Januari 2020, ada 2.218 perusahaan rintisan.

Dalam publikasi Kementerian Keuangan RI pada Mei 2020, konsep sistem kerja jarak jauh dikenal juga dengan The New Thinking of Working (NTOW) atau perwujudan konsep bekerja di era modern yang berdampak positif pada produktivitas kerja. Konsep ini memungkinkan masyarakat lebih fleksibel terkait waktu, tempat, dan ruangan bekerja, berkat dukungan teknologi informasi. Dalam menerapkan budaya kerja yang cukup baru di Indonesia itu, aspek kematangan organisasi dan individu pekerja menjadi hal yang perlu diutamakan. Dua hal ini merupakan aspek di luar regulasi perusahaan dan hal-hal teknis.

Penilaian lain dikemukakan oleh Hadiyando, Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan, dalam wawancara di publikasi tersebut. Menurut dia, transformasi institusi harus segera diwujudkan agar dapat beradaptasi di tengah disrupsi. Ada paradigma kerja yang perlu diubah dan disesuaikan, apalagi pandemi Covid-19 ”memaksa” sejumlah institusi mulai terbiasa menerapkan sistem ini. Penerapannya selama PSBB dapat dijadikan momentum uji coba dan evaluasi. Bagi pekerja, tentu harus menimbang dengan baik semua persiapan dan kematangan secara individu

Penjualan Ponsel Pintar Turun

17 May 2020

Penjualan telepon seluler pintar secara global turun 11,7 persen pada kuartal pertama 2020. Tahun ini, jumlah pengiriman 275,8 juta unit dalam tiga bulan pertama, turun dari 312,3 juta pada tahun sebelumnya. Hal ini dipengaruhi oleh penurunan pasar Cina yang mencapai 20 persen akibat wabah virus Corona.

WFH Dongkrak Pendapatan XL Axiata Jadi Rp 6,5 Triliun

17 May 2020

PT XL Axiata Tbk (EXCL) berhasil meraih peningkatan pendapatan sebesar 9% menjadi Rp 6,5 triliun pada kuartal I-2020 dibandingkan periode sama tahun lalu yang hanya tumbuh 1,3%. Presiden Direktur & CEO XL Axiata Dian Siswarini mengatakan, peningkatan pendapatan ini didorong oleh kenaikan penetrasi penggunaan smartphone mencapai 86% pada akhir kuartal pertama, sehingga berdampak pada kenaikan pendapatan data sebesar 17%.

Perseroan juga berhasil mencetak kenaikan EBITDA perseroan yang meningkat sebesar 40% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini didorong oleh pertumbuhan revenue, efisiensi biaya dan implementasi IFRS16, sehingga laba bersih perseroan juga terangkat menjadi Rp 1,5 triliun. Adapun beban usaha perseroan menurun 10% YoY karena beberapa hal diantaranya beban biaya infrastruktur yang lebih rendah sebagai hasil dari adopsi IFRS 16, biaya interkoneksi dan biaya lainnya turun karena menurunnya interkoneksi dari trafik layanan voice serta biaya pemasaran juga turun karena terjadinya pergeseran pengeluaran ke digital.

Dian menambahkan, neraca perseroan saat ini dalam kondisi sehat dengan saldo kas yang lebih tinggi setelah proses penjualan menara. Sementara itu, total trafik hingga kuartal I-2020 meningkat 41% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya secara YoY yang dinilai disebabkan oleh dampak kebijakan pemerintah terkait ‘Kerja dari Rumah’ atau Work From Home. Pihaknya juga menekankan Meskipun pandemi Covid-19 instalasi jaringan terus berjalan sesuai rencana tanpa gangguan.


Kinerja Industri Telekomunikasi - Operator Makin Sulit Kembangkan Basis Pelanggan

16 May 2020

Perusahaan-perusahaan operator telekomunikasi kian kesulitan mengatrol pendapatan dari basis pelanggan baru selama pandemi Covid-19. Head of Corporate Communication PT XL Axiata Tbk. Tri Wahyuningsih menjelaskan saat ini terjadi penurunan daya beli masyarakat yang berbanding lurus dengan stagnasi pendapatan rata-rata per pelanggan (average revenue per user/ ARPU) operator seluler pada kuartal I/2020. Guna melebarkan basis pelanggan baru pada periode selanjutnya, Tri mengatakan XL Axiata tengah berupaya meningkatkan kualitas jaringan dan menyediakan berbagai pilihan layanan data yang sesuai kebutuhan pelanggan dengan tarif yang terjangkau. 

Senasib dengan XL Axiata, PT Indosat Tbk. mencatatkan kemerosotan basis pelanggan pada kuartal I/2020 menjadi 56,2 juta pelanggan dari torehan sebanyak 59,3 juta pelanggan pada kuartal sebelumnya. Namun, secara tahunan, ARPU emiten berkode ISAT pada kuartal perdana tahun berjalan meningkat.

Di lain pihak, Wakil Direktur Utama PT Hutchison 3 Indonesia Danny Buldansyah mengungkapkan daya beli masyarakat yang menurun dan adanya peralihan prioritas [belanja]—seperti ke makanan—ditambah dengan banyaknya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) berdampak pada pertumbuhan basis pelanggan dan memengaruhi ARPU operator.

Menanggapi laporan kinerja kuartal I/2020, pengamat telekomunikasi dari Institut Teknologi Bandung Ian Joseph Matheus Edward menilai operator perlu memonetisasi layanan digital bernilai tambah yang berbeda dengan kompetitornya, serta lebih memahami kebutuhan pasar.

BCA Danai XL Axiata Rp 1

12 May 2020

JAKARTA – PT XL Axiata Tbk (EXCL) menandatangani fasilitas pinjaman senilai Rp 1,5 triliun dengan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Kredit anyar ini memiliki jangka waktu lima tahun sejak tanggal penarikan. Sekretaris Perusahaan XL Axiata Ranty Astari Rachman mengatakan, fasilitas pinjaman dari BCA akan digunakan perseroan untuk pengadaan barang modal dan investasi. Serta pembiayaan kembali bank atau obligasi, serta pembayaran kewajiban umum lainnya.

Baru-baru ini, Direktur Keuan gan XL Axiata Mohamed Adlan mengatakan, ekspansi pembangunan jaringan telekomunikasi termasuk base transceiver station (BTS) masih berjalan sesuai rencana hingga kuartal I2020. Saat ini, perseroan juga belum berniat melakukan penyesuaian terhadap target belanja modal selama 2020 yang direncanakan sekitar Rp 7,5 triliun. XL meyakini penggunaan layanan data internet masih terus bertumbuh tahun ini. Bahkan, terjadi lonjakan trafik data saat pandemi Covid-19. Namun, kata Adlan, pertumbuhan industri telekomunikasi juga tergantung dari seberapa lama pandemi Covid-19 bisa teratasi.  Dari sisi ekspansi, perseroan terus melanjutkan pengembangan jaringan serat optik (faberisasi). XL menargetkan mencapai cakupan 50% jaringan serat optik di semua titik operasional pada 2020 dan 6070% pada akhir 2022. Melalui inisiatif ini, persreroan ingin memastikan XL Axiata siap menyambut revolusi teknologi jaringan 5G.

Industri Broadband Internet Berkibar di Tengah Covid

10 May 2020

Pandemi Covid-19 yang mengharuskan masyarakat bekerja dan belajar dari  rumah telah mendorong permintaan yang tinggi  terhadap broadband internet dan layanan televisi  berbayar (pay TV). Itulah sebabnya, jumlah pelanggan di industri ini justru melonjak dengan diberlakukannya kebijakan jaga jarak dan pembatasan  sosial berskala besar (PSBB) Maret-April lalu.

Menurut CEO & President Director PT Link Net Tbk Marlo Budiman, potensi broadband internet  di Indonesia masih sangat besar.  Mengacu data Media Partner Asia  (MPA). Menurutnya, Link Net  terus konsisten melakukan roll-out  jaringan, khususnya ke kota-kota  potensial di Jawa, dengan mengoptimalkan infrastruktur Java backbone  yang dimiliki.  Marlo Budiman optimistis target  pasar yang dicanangkan pada tahun  ini akan tercapai dan akan menjalankan ekspansi ke lima kota, yakni Solo, Semarang, Serang, Cilegon, serta Bali karena didukung juga populasi dan daya beli yang tinggi

Yang menarik, kata Marlo, bisnis  internet service provider (ISP), atau fix  broadband dan pay TV, berbeda dengan industri telekomunikasi seluler.  Jika di industri seluler diwarnai perang  tarif (price war) dan harga layanan  cenderung  turun, di bisnis ISP harga  layanan justru naik setiap tahun.    Tapi yang pasti, operator broadband  internet lebih mengutamakan produk  dan kualitas layanan. Kenaikkan harga ini karena pengaruh konten yang dibeli  dalam dolar AS dan dijual ke rupiah serta impor equipment dari  Tiongkok yang juga menggunakan  dolar AS.

Dihubungi terpisah, President Director & CEO Indosat Ooredoo, Ahmad  Al-Neama, menyatakan, selama masa  pandemi Covid-19, Indosat Ooredoo  telah mengambil langkah proaktif  dan progresif untuk mendukung  karyawan, pelanggan, dan komunitas. Alhasil, kinerjanya tetap positif.

Hal yang sama juga disampaikan  oleh General Manager Corporate  Communication PT XL Axiata Tbk  Tri Wahyuningsih, yang memastikan  rencana bisnisnya sesuai target meski  negeri ini dilanda Covid-19. Dia menuturkan, XL Axiata tidak  menargetkan pertumbuhan jumlah  pelanggan yang signifikan. Tetapi,  pihaknya menargetkan untuk menggapai pelanggan yang memiliki kategori produktif. Dan tahun ini, XL Axiata masih fokus  pada strategi untuk mendorong dan  meningkatkan bisnis layanan data, sehingga bisa menjadi penyedia layanan  data terdepan.

Adapun VP Corporate Communication Telkom Arif Prabowo menjelaskan, Telkom mengalokasikan capex  sekitar 25% dari pendapatan perseroan  tahun ini. Belanja modal akan dimanfaatkan untuk penguatan seluruh lini  bisnis baik mobile maupun fixed line. Sebagian besar  capex terutama digunakan untuk pembangunan BTS 4G serta penguatan  sistem IT, pembangunan jaringan akses dan  backbone berbasis fiber, tower, data  center, serta modernisasi jaringan. Ia menambahkan sejak kebijakan Work From Home dan PSBB, konsumsi bandwidth layanan data oleh konsumen  Tel komGroup mengalami lonjakan  khu susnya untuk segmen home service  melalui produk IndiHome dan segmen  per sonal service dari Telkomsel. Menurutnya Telkom saat ini tengah ber transformasi menjadi perusahaan  telekomunikasi digital dengan semakin fokus pada pengembangan  bisnis dan layanan digital dalam tiga  aspek, yakni digital connectivity, digital  platform, dan digital services.  


Link Net Tetap Ekspansif

10 May 2020

PT Link Net Tbk  dengan merek dagang First Media, pemimpin industri pay TV  dan fixed cable broadband internet  di Indonesia, tetap ekspansif di  tengah pandemi Covid-19. Tahun ini, perseroan menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) Rp 2 triliun untuk penetrasi sebagaimana dikonfirmasi CEO & President Director PT Link Net Tbk Marlo Budiman.

Marlo mengungkapkan dalam Media Visit ke Beritasatu  Media Holdings melalui konferensi  video, broadband internet saat ini sudah merupakan  utilitas primer rumah tangga di Indonesia, setara air dan listrik.  Apalagi selama masa pandemi  Covid-19 yang diharuskan untuk  belajar dari rumah dan bekerja dari  rumah (work from home/WFH).

Hadir juga pada kesempatan tersebut jajaran manajemen Link Net,  yakni Deputy CEO & Chief Operating  Officer Link Net Victor Indajang,  Enterprise Sales Director Link  Net Agung Satya Wiguna, dan  Deputy Chief Marketing Officer  Link Net Santiwati Basuki. Di  jajaran manajemen dan redaksi  grup Beritasatu Media Holdings  (BSMH), hadir CEO BSMH  Nicky Hogan,Chief Operating  Officer BSMH Anthony Wonsono,  dan News Director BSMH Primus  Dorimulu.

Sementara itu, menurut Santiwati  Basuki, pandemi Covid-19 menimbulkan dampak berbeda antara bisnis  layanan residensial dan enterprise Link  Net. Residensial justru tumbuh pesat  karena WFH, sedangkan pertumbuhan segmen enterprise cenderung flat.

Pada kesempatan yang sama, Victor Indajang menambahkan, perusahaan  memastikan layanan Link Net tetap  berjalan sebagaimana mestinya di  masa wabah Covid-19. Link Net membagi kapasitas untuk karyawan yang  harus bekerja di lapangan (work from  field), bekerja dari rumah (WFH),  dan bekerja dari kantor (work from  office/WFO).

Di lain sisi, Marlo mengatakan,  untuk menunjang WFH, Link Net  memanjakan pelanggan dengan memberikan harga dan layanan promosi  sejak pertengahan Maret hingga akhir  Mei. Pada Maret-April, perseroan telah membuka channel baru serta memberikan diskon yang sangat tinggi 50% bagi pelanggan untuk melakukan upgrade paket dan upgrade speed termasuk diskon untuk online e-learning school. Sedangkan untuk pelanggan baru juga dimanjakan dengan diskon tambahan dengan bonus berlangganan Cathplay 3 bulan, free channel tiga bulan. Selanjutnya, dari perolehan pelanggan baru, Link menyisihkan Rp 10.000 untuk donasi bagi tenaga medis.

Selain  itu, sebagai bagian mendukung WFH, Link Net sudah meluncurkan solusi study from home  (STH), First Klaz, produk e-learning  management system yang bisa dipakai  untuk sekolah, guru, kepala sekolah,  dan administrator. Bahkan, solusi ini  juga bisa dipakai oleh orang tua murid  untuk kegiatan belajar-mengajar. “Guru-guru bisa meng-upload materi-materi studi dan bisa meng-upload  video-video pengajaran. Orang tua  juga bisa mendapatkan login, sehingga  bisa memantau belajar anak-anaknya”  ujar Marlo.