Teknologi
( 1193 )Normal Baru Mempercepat Disrupsi Dunia Kerja
Bekerja dari rumah bukan hal baru. Namun, situasi pandemi memaksa sebagian besar perusahaan menerapkan pola kerja tersebut. Pandemi kemudian menjadi ujian bagi kesiapan berbagai perusahaan dan individu dalam menerapkan sistem bekerja dari rumah atau sistem kerja jarak jauh (remote working). Meski terdengar sederhana, bekerja dari rumah atau kerja jarak jauh memiliki landasan konsep dan sistem yang berbeda dengan kerja harian di kantor secara konvensional.
Dalam artikel jurnal berjudul ”The Option to Work at Home: Another Privilege for the Favoured Few?” (2002), pertimbangan bekerja dari rumah dititikberatkan pada kondisi pekerja dengan melibatkan berbagai aspek. Preferensi atau kecenderungan bekerja dari rumah disandingkan dengan faktor keseimbangan kehidupan kerja atau work life balance.
Ada beberapa pertimbangan penting, misalnya terkait status dan jenis kelamin pekerja. Perihal status, penting untuk diketahui bahwa pekerja tersebut masih lajang, sudah menikah, memiliki anak, hingga memiliki tanggungan anggota keluarga (orangtua, saudara, dan anak). Aspek lain yang harus dimasukkan pertimbangan adalah sejauh mana perusahaan mampu menyediakan kebutuhan karyawan untuk bekerja. Selain itu, perlu ada dukungan teknologi, seperti listrik, internet, dan komputer, serta kebutuhan perlengkapan lainnya, misalnya alat tulis, buku, dan akses jurnal.
Di atas kertas, biaya listrik, internet, konsumsi, dan lainnya yang biasa diberikan oleh perusahaan bagi para karyawan di kantor dapat diminimalkan dengan penerapan kerja jarak jauh. Akan tetapi, perusahaan juga patut mempertimbangkan risiko terkait kepegawaian dan produktivitas sehingga sepatutnya merancang regulasi tersendiri (peraturan perusahaan) sebelum menerapkan sistem kerja dari rumah guna mengantisipasi konflik internal di kemudian hari.
Sistem kerja jarak jauh atau kerja dari rumah sudah dan sedang diterapkan oleh sejumlah perusahaan di dunia, terlebih perusahaan multinasional. Sejumlah pengalaman, tantangan, dan peluang pola kerja ini dapat ditemukan, antara lain, dalam survei yang dilakukan perusahaan teknologi OWL Labs berjudul ”State of Remote Work 2019”. Survei ditujukan bagi pekerja di Amerika Serikat kepada 1.202 orang pekerja dengan proporsi 62 persen pekerja jarak jauh (remote workers) dan 38 persen pekerja di kantor (on-site workers). Semua responden berusia 22 tahun hingga 65 tahun dengan jabatan berbeda-beda,. Dari segi persepsi, keinginan para pekerja untuk dapat bekerja jarak jauh terlihat masih besar dibandingkan dengan bekerja di ruangan kantor. Alasan cukup beragam, mayoritas menyeimbangkan kehidupan kerja (work life balance), lainnya lebih fokus bekerja, menghindari mobilitas atau kemacetan, dan mengurangi stress.
Lebih lanjut para responden juga menyoroti beberapa hal yang patut diperhatikan oleh perusahaan ketika menerapkan sistem kerja jarak jauh seperti jaminan kesehatan serta kompensasi dasar seperti listrik, konsumsi, internet, dan sebagainya termasuk terkait aturan liburan atau cuti dan kompensasi kinerja (reward) yang diperoleh.
Survei tersebut menemukan pula keterkaitan antara rasa bahagia dan loyalitas kepada perusahaan. Sebanyak 71 persen pekerja jarak jauh merasa bahagia dengan pola kerja ini dan menyatakan akan bertahan di perusahaan tersebut setidaknya sampai lima tahun ke depan
Survei oleh OWL Labs tak hanya menggali persepsi dari segi pekerja di tingkat karyawan, tetapi juga di tingkat manajer. Temuan mendapati bahwa pelatihan bagi para manajer terkait sistem jarak jauh sangat perlu diberikan sebelum diterapkan ke anggota tim mereka. Manajer yang belum memiliki pelatihan memiliki perhatian atau kekhawatiran lebih besar ketimbang mereka yang sudah mendapatkan pelatihan. Dimana dari segi tantangan masih berpusat pada isu penurunan produktivitas dan fokus pada kerja karyawan atau anggota tim dimana adanya penurunan keterlibatan karyawan dalam tim dan pekerjaan yang berhasil dituntaskan anggota mereka.
Jika disarikan, temuan dari survei menekankan pentingnya persiapan oleh perusahaan, pemimpin tim kerja, dan para pekerja. Perusahaan perlu menimbang aspek modal, tantangan, dan peluang ke depan. Selain itu, perusahaan juga perlu memberikan pelatihan khusus bagi manajer dan karyawan sebelum menerapkan sistem ini.
Menurut survei lainnya dari US Census Bureau American Community Survey di AS, pola kerja jarak jauh mengalami peningkatan mulai tahun 2008 hingga 2018 meski jumlah tidak drastis secara persentase dan diprediksi hingga 2025 dan seterusnya, tren ini akan meningkat. Bagi masyarakat AS, mahalnya harga properti untuk menyewa gedung perkantoran dapat disiasati dengan menerapkan sistem ini. Adapun sistem kerja jarak jauh setidaknya dilakukan lima kali dalam sebulan atau tidak sepenuhnya kerja jarak jauh.
Kendati saat ini belum ada survei terkait sistem kerja jarak jauh di kalangan perusahaan dan pekerja di Indonesia, ada asumsi yang dapat digunakan. Asumsi itu ialah sistem kerja ini diterapkan oleh banyak perusahaan rintisan yang jumlahnya juga meningkat setiap tahun. Hingga 19 Januari 2020, ada 2.218 perusahaan rintisan.
Dalam publikasi Kementerian Keuangan RI pada Mei 2020, konsep sistem kerja jarak jauh dikenal juga dengan The New Thinking of Working (NTOW) atau perwujudan konsep bekerja di era modern yang berdampak positif pada produktivitas kerja. Konsep ini memungkinkan masyarakat lebih fleksibel terkait waktu, tempat, dan ruangan bekerja, berkat dukungan teknologi informasi. Dalam menerapkan budaya kerja yang cukup baru di Indonesia itu, aspek kematangan organisasi dan individu pekerja menjadi hal yang perlu diutamakan. Dua hal ini merupakan aspek di luar regulasi perusahaan dan hal-hal teknis.
Penilaian lain dikemukakan oleh Hadiyando, Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan, dalam wawancara di publikasi tersebut. Menurut dia, transformasi institusi harus segera diwujudkan agar dapat beradaptasi di tengah disrupsi. Ada paradigma kerja yang perlu diubah dan disesuaikan, apalagi pandemi Covid-19 ”memaksa” sejumlah institusi mulai terbiasa menerapkan sistem ini. Penerapannya selama PSBB dapat dijadikan momentum uji coba dan evaluasi. Bagi pekerja, tentu harus menimbang dengan baik semua persiapan dan kematangan secara individu
Penjualan Ponsel Pintar Turun
Penjualan telepon seluler pintar secara global turun 11,7 persen pada kuartal pertama 2020. Tahun ini, jumlah pengiriman 275,8 juta unit dalam tiga bulan pertama, turun dari 312,3 juta pada tahun sebelumnya. Hal ini dipengaruhi oleh penurunan pasar Cina yang mencapai 20 persen akibat wabah virus Corona.
WFH Dongkrak Pendapatan XL Axiata Jadi Rp 6,5 Triliun
PT XL Axiata Tbk (EXCL) berhasil meraih peningkatan pendapatan sebesar 9% menjadi Rp 6,5 triliun pada kuartal I-2020 dibandingkan periode sama tahun lalu yang hanya tumbuh 1,3%. Presiden Direktur & CEO XL Axiata Dian Siswarini mengatakan, peningkatan pendapatan ini didorong oleh kenaikan penetrasi penggunaan smartphone mencapai 86% pada akhir kuartal pertama, sehingga berdampak pada kenaikan pendapatan data sebesar 17%.
Perseroan juga berhasil mencetak kenaikan EBITDA perseroan yang meningkat sebesar 40% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini didorong oleh pertumbuhan revenue, efisiensi biaya dan implementasi IFRS16, sehingga laba bersih perseroan juga terangkat menjadi Rp 1,5 triliun. Adapun beban usaha perseroan menurun 10% YoY karena beberapa hal diantaranya beban biaya infrastruktur yang lebih rendah sebagai hasil dari adopsi IFRS 16, biaya interkoneksi dan biaya lainnya turun karena menurunnya interkoneksi dari trafik layanan voice serta biaya pemasaran juga turun karena terjadinya pergeseran pengeluaran ke digital.
Dian menambahkan, neraca perseroan saat ini dalam kondisi sehat dengan saldo kas yang lebih tinggi setelah proses penjualan menara. Sementara itu, total trafik hingga kuartal I-2020 meningkat 41% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya secara YoY yang dinilai disebabkan oleh dampak kebijakan pemerintah terkait ‘Kerja dari Rumah’ atau Work From Home. Pihaknya juga menekankan Meskipun pandemi Covid-19 instalasi jaringan terus berjalan sesuai rencana tanpa gangguan.
Kinerja Industri Telekomunikasi - Operator Makin Sulit Kembangkan Basis Pelanggan
Perusahaan-perusahaan operator telekomunikasi kian kesulitan mengatrol pendapatan dari basis pelanggan baru selama pandemi Covid-19. Head of Corporate Communication PT XL Axiata Tbk. Tri Wahyuningsih menjelaskan saat ini terjadi penurunan daya beli masyarakat yang berbanding lurus dengan stagnasi pendapatan rata-rata per pelanggan (average revenue per user/ ARPU) operator seluler pada kuartal I/2020. Guna melebarkan basis pelanggan baru pada periode selanjutnya, Tri mengatakan XL Axiata tengah berupaya meningkatkan kualitas jaringan dan menyediakan berbagai pilihan layanan data yang sesuai kebutuhan pelanggan dengan tarif yang terjangkau.
Senasib dengan XL Axiata, PT Indosat Tbk. mencatatkan kemerosotan basis pelanggan pada kuartal I/2020 menjadi 56,2 juta pelanggan dari torehan sebanyak 59,3 juta pelanggan pada kuartal sebelumnya. Namun, secara tahunan, ARPU emiten berkode ISAT pada kuartal perdana tahun berjalan meningkat.
Di lain pihak, Wakil Direktur Utama PT Hutchison 3 Indonesia Danny Buldansyah mengungkapkan daya beli masyarakat yang menurun dan adanya peralihan prioritas [belanja]—seperti ke makanan—ditambah dengan banyaknya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) berdampak pada pertumbuhan basis pelanggan dan memengaruhi ARPU operator.
Menanggapi laporan kinerja kuartal I/2020, pengamat telekomunikasi dari Institut Teknologi Bandung Ian Joseph Matheus Edward menilai operator perlu memonetisasi layanan digital bernilai tambah yang berbeda dengan kompetitornya, serta lebih memahami kebutuhan pasar.
BCA Danai XL Axiata Rp 1
JAKARTA – PT XL Axiata Tbk (EXCL) menandatangani fasilitas pinjaman senilai Rp 1,5 triliun dengan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Kredit anyar ini memiliki jangka waktu lima tahun sejak tanggal penarikan. Sekretaris Perusahaan XL Axiata Ranty Astari Rachman mengatakan, fasilitas pinjaman dari BCA akan digunakan perseroan untuk pengadaan barang modal dan investasi. Serta pembiayaan kembali bank atau obligasi, serta pembayaran kewajiban umum lainnya.
Baru-baru ini, Direktur Keuan gan XL Axiata Mohamed Adlan mengatakan, ekspansi pembangunan jaringan telekomunikasi termasuk base transceiver station (BTS) masih berjalan sesuai rencana hingga kuartal I2020. Saat ini, perseroan juga belum berniat melakukan penyesuaian terhadap target belanja modal selama 2020 yang direncanakan sekitar Rp 7,5 triliun. XL meyakini penggunaan layanan data internet masih terus bertumbuh tahun ini. Bahkan, terjadi lonjakan trafik data saat pandemi Covid-19. Namun, kata Adlan, pertumbuhan industri telekomunikasi juga tergantung dari seberapa lama pandemi Covid-19 bisa teratasi. Dari sisi ekspansi, perseroan terus melanjutkan pengembangan jaringan serat optik (faberisasi). XL menargetkan mencapai cakupan 50% jaringan serat optik di semua titik operasional pada 2020 dan 6070% pada akhir 2022. Melalui inisiatif ini, persreroan ingin memastikan XL Axiata siap menyambut revolusi teknologi jaringan 5G.
Industri Broadband Internet Berkibar di Tengah Covid
Pandemi Covid-19 yang mengharuskan masyarakat bekerja dan belajar dari rumah telah mendorong permintaan yang tinggi terhadap broadband internet dan layanan televisi berbayar (pay TV). Itulah sebabnya, jumlah pelanggan di industri ini justru melonjak dengan diberlakukannya kebijakan jaga jarak dan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) Maret-April lalu.
Menurut CEO & President Director PT Link Net Tbk Marlo Budiman, potensi broadband internet di Indonesia masih sangat besar. Mengacu data Media Partner Asia (MPA). Menurutnya, Link Net terus konsisten melakukan roll-out jaringan, khususnya ke kota-kota potensial di Jawa, dengan mengoptimalkan infrastruktur Java backbone yang dimiliki. Marlo Budiman optimistis target pasar yang dicanangkan pada tahun ini akan tercapai dan akan menjalankan ekspansi ke lima kota, yakni Solo, Semarang, Serang, Cilegon, serta Bali karena didukung juga populasi dan daya beli yang tinggi
Yang menarik, kata Marlo, bisnis internet service provider (ISP), atau fix broadband dan pay TV, berbeda dengan industri telekomunikasi seluler. Jika di industri seluler diwarnai perang tarif (price war) dan harga layanan cenderung turun, di bisnis ISP harga layanan justru naik setiap tahun. Tapi yang pasti, operator broadband internet lebih mengutamakan produk dan kualitas layanan. Kenaikkan harga ini karena pengaruh konten yang dibeli dalam dolar AS dan dijual ke rupiah serta impor equipment dari Tiongkok yang juga menggunakan dolar AS.
Dihubungi terpisah, President Director & CEO Indosat Ooredoo, Ahmad Al-Neama, menyatakan, selama masa pandemi Covid-19, Indosat Ooredoo telah mengambil langkah proaktif dan progresif untuk mendukung karyawan, pelanggan, dan komunitas. Alhasil, kinerjanya tetap positif.
Hal yang sama juga disampaikan oleh General Manager Corporate Communication PT XL Axiata Tbk Tri Wahyuningsih, yang memastikan rencana bisnisnya sesuai target meski negeri ini dilanda Covid-19. Dia menuturkan, XL Axiata tidak menargetkan pertumbuhan jumlah pelanggan yang signifikan. Tetapi, pihaknya menargetkan untuk menggapai pelanggan yang memiliki kategori produktif. Dan tahun ini, XL Axiata masih fokus pada strategi untuk mendorong dan meningkatkan bisnis layanan data, sehingga bisa menjadi penyedia layanan data terdepan.
Adapun VP Corporate Communication Telkom Arif Prabowo menjelaskan, Telkom mengalokasikan capex sekitar 25% dari pendapatan perseroan tahun ini. Belanja modal akan dimanfaatkan untuk penguatan seluruh lini bisnis baik mobile maupun fixed line. Sebagian besar capex terutama digunakan untuk pembangunan BTS 4G serta penguatan sistem IT, pembangunan jaringan akses dan backbone berbasis fiber, tower, data center, serta modernisasi jaringan. Ia menambahkan sejak kebijakan Work From Home dan PSBB, konsumsi bandwidth layanan data oleh konsumen Tel komGroup mengalami lonjakan khu susnya untuk segmen home service melalui produk IndiHome dan segmen per sonal service dari Telkomsel. Menurutnya Telkom saat ini tengah ber transformasi menjadi perusahaan telekomunikasi digital dengan semakin fokus pada pengembangan bisnis dan layanan digital dalam tiga aspek, yakni digital connectivity, digital platform, dan digital services.
Link Net Tetap Ekspansif
PT Link Net Tbk dengan merek dagang First Media, pemimpin industri pay TV dan fixed cable broadband internet di Indonesia, tetap ekspansif di tengah pandemi Covid-19. Tahun ini, perseroan menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) Rp 2 triliun untuk penetrasi sebagaimana dikonfirmasi CEO & President Director PT Link Net Tbk Marlo Budiman.
Marlo mengungkapkan dalam Media Visit ke Beritasatu Media Holdings melalui konferensi video, broadband internet saat ini sudah merupakan utilitas primer rumah tangga di Indonesia, setara air dan listrik. Apalagi selama masa pandemi Covid-19 yang diharuskan untuk belajar dari rumah dan bekerja dari rumah (work from home/WFH).
Hadir juga pada kesempatan tersebut jajaran manajemen Link Net, yakni Deputy CEO & Chief Operating Officer Link Net Victor Indajang, Enterprise Sales Director Link Net Agung Satya Wiguna, dan Deputy Chief Marketing Officer Link Net Santiwati Basuki. Di jajaran manajemen dan redaksi grup Beritasatu Media Holdings (BSMH), hadir CEO BSMH Nicky Hogan,Chief Operating Officer BSMH Anthony Wonsono, dan News Director BSMH Primus Dorimulu.
Sementara itu, menurut Santiwati Basuki, pandemi Covid-19 menimbulkan dampak berbeda antara bisnis layanan residensial dan enterprise Link Net. Residensial justru tumbuh pesat karena WFH, sedangkan pertumbuhan segmen enterprise cenderung flat.
Pada kesempatan yang sama, Victor Indajang menambahkan, perusahaan memastikan layanan Link Net tetap berjalan sebagaimana mestinya di masa wabah Covid-19. Link Net membagi kapasitas untuk karyawan yang harus bekerja di lapangan (work from field), bekerja dari rumah (WFH), dan bekerja dari kantor (work from office/WFO).
Di lain sisi, Marlo mengatakan, untuk menunjang WFH, Link Net memanjakan pelanggan dengan memberikan harga dan layanan promosi sejak pertengahan Maret hingga akhir Mei. Pada Maret-April, perseroan telah membuka channel baru serta memberikan diskon yang sangat tinggi 50% bagi pelanggan untuk melakukan upgrade paket dan upgrade speed termasuk diskon untuk online e-learning school. Sedangkan untuk pelanggan baru juga dimanjakan dengan diskon tambahan dengan bonus berlangganan Cathplay 3 bulan, free channel tiga bulan. Selanjutnya, dari perolehan pelanggan baru, Link menyisihkan Rp 10.000 untuk donasi bagi tenaga medis.
Selain itu, sebagai bagian mendukung WFH, Link Net sudah meluncurkan solusi study from home (STH), First Klaz, produk e-learning management system yang bisa dipakai untuk sekolah, guru, kepala sekolah, dan administrator. Bahkan, solusi ini juga bisa dipakai oleh orang tua murid untuk kegiatan belajar-mengajar. “Guru-guru bisa meng-upload materi-materi studi dan bisa meng-upload video-video pengajaran. Orang tua juga bisa mendapatkan login, sehingga bisa memantau belajar anak-anaknya” ujar Marlo.
Menilik Dark Web Tempat Jualan Data Hingga Kokain
Data Pribadi, mulai dari nama, alamat surat elektronik atau e-mail, nomor telepon, hingga tanggal lahir dari 91 juta akun pengguna Tokopedia telah diretas. Kini, tumpukan data itu dijual di ”dark web” alias jaringan gelap internet. Satrio Pangarso Wisanggeni arian Kompas, Senin (4/5/2020), mengunjungi dark web yang menggunakan jaringan Tor untuk menilik langsung sebuah situs marketplace bernama Empire Market yang disebut oleh si peretas sebagai tempat ia menjual basis data (database) Tokopedia tersebut. Melalui fitur pencarian cepat (quick search) di situs Empire Market, ditemukan item bernama ”Tokopedia 91M” yang dijual oleh akun bernama ShinyHunters seharga harga 5.000 dollar AS atau sekitar Rp 75,7 juta.
Membaca keterangannya, basis data Tokopedia ini dipasang di Empire Market sejak Minggu (3/5/2020). Sudah ada tiga orang yang membeli basis data tersebut hingga Senin malam (4/5). ShinyHunters tak hanya menjual basis data hasil retasan Tokopedia. Melalui lamannya, dapat dilihat bahwa pada hari Minggu lalu, akun itu juga menjual empat basis data hasil retasan di sejumlah situs.
Ia menjual 20 juta akun pengguna Unacademy, sebuah layanan edukasi digital yang populer di India. Basis data ini dijual dengan harga 2.000 dollar AS atau Rp 30,2 juta. Selain itu, ShinyHunters juga menjual basis data akun dari situs pencetakan buku foto di Amerika Serikat, Chatbooks. Tumpukan berisi 15 juta akun ini dijual dengan harga yang sama dengan akun pengguna Unacademy, yakni 2.000 dollar AS. Situs web milik media juga tak lepas dari aksi ShinyHunters. Ia menjual data 3 juta akun yang terdaftar di situs The Daily Chronicle dengan harga 1.500 dollar AS atau sekitar Rp 22 juta. Adapun 15 juta data dari layanan manajemen pelanggan (customer relationship management/CRM) real estat dan properti Knock dijual 1.200 dollar AS (Rp 18 juta). Meski demikian, tidak bisa dipastikan apakah basis data yang dijual tersebut dapat benar-benar dikonfirmasi isinya.
Semua transaksi di Empire Market menggunakan tiga mata uang kripto: bitcoin (BTC), litecoin (LTC), dan monero (XMR). Pengguna dapat bertransaksi dengan memasukkan bitcoin ke dalam deposit di Empire Market. Berdasarkan situs forum dark web, Dread, Empire Market adalah situs jual-beli paling populer dalam jaringan Tor. Empire Market memang menjual barang-barang yang ilegal. Di laman utamanya, terlihat sejumlah featured listings atau barang-barang yang mendapat lokasi tampilan utama. Barang-barang itu antara lain bibit ganja, minyak tetrahydrocannabinol yang didapatkan dari daun mariyuana, kokain, obat Adderall, hingga heroin. Sebanyak 2 gram kokain asal sebuah negara di Amerika Selatan dijual dengan harga 169 dollar AS atau sekitar Rp 2,5 juta.
Apabila masuk lebih dalam, pengunjung juga bisa melihat bahwa barang ilegal yang dijual di Empire Market tidak hanya narkoba, tetapi juga uang palsu, dari dollar AS hingga euro. Suratizin mengemudi palsu dari sejumlah negara hingga kunci TSA untuk membuka tas di bandara juga dijual. Beberapa basis data hasil peretasan pun dijual di Empire Market. Informasi dari 164 juta akun Linkedin yang dibobol pada 2016 dijual dengan harga 9,99 dollar AS. Basis data yang berisis 49 juta data kependudukan warga Turki yang bocor pada 2016 pun terlihat masih tersedia di Empire Market, juga dengan banderol 9,99 dollar AS.
Empire Market adalah situs dark web yang berada dalam jaringan Tor, kependekan dari The Onion Router. Ketua Indonesia Cyber Security Forum Ardi Sutedja mengatakan, Tor adalah jaringan dark web yang paling populer. ”Selain Tor, ada I2P dan banyak lainnya,” kata Ardi saat dihubungi Kompas.
Menurut Ardi, ada tiga jenis jaringan internet. Ia menggambarkannya sebagai sebuah gunung es. Bagian pertama adalah bagian gunung es yang tampak berada di atas permukaan laut. Ardi menyebut bagian ini sebagai internet biasa; yang terlihat oleh mesin pencari, Google misalnya. Bagian kedua adalah deep web. Bagian ini mengacu pada konten atau situs dalam jaringan internet yang harus diakses menggunakan en kripsi atau password. Kaspersky mengatakan, 90 persen internet adalah deep web, yang tidak selalu bersifat berbahaya.
Adapun bagian ketiga disebut dark web. Di area ini, situs tidak terdeteksi oleh mesin pencari dan harus menggunakan aplikasi perambah (browser) khusus. Situs-situs dalam dark web bersifat anonim. ”Nah, area ini menjadi tempat aktivitas ilegal, kegiatan kriminal,” kata Ardi. Tor merupakan salah satu jaringan yang berada dalam kategori dark web.
Operation Onymous, operasi pembongkaran jaringan Tor yang digawangi oleh Europol, FBI, pada November 2014 berhasil membongkar 410 situs marketplace ilegal. Sebanyak 17 vendor dan administrator ditangkap. Otoritas juga menyita bitcoin senilai 1 juta dollar AS dan 180.000 euro dalam bentuk narkoba serta logam mulia. Operation Notarise yang digelar oleh National CrimeAgency (NCA) Inggris pada 2014-2015 juga dilaporkan BBC telah berhasil menangkap 746 paedofil yang berada di dalam dark web.
Dalam jaringan Tor, identitas pengguna dan server mengalami proses anonimisasi sehingga tak bisa dimonitor. Hal ini dilakukan dengan melewatkan jaringan pengguna melewati ribuan lapis titik pengguna.
Berdasarkan dokumentasi resmi Tor, per 3 Mei 2020, ada 6.780 lapisan relay. Karakteristik berlapis inilah yang menjadi alasan mengapa disebut onion atau bawang. Seluruh alamat dalam Tor menggunakan .onion sebagai domainnya. Berdasarkan dokumentasi resmi Tor, kini terdapat 193.750 situs yang berada dalam jaringan Tor.
Alamat dalam jaringan Tor tidak sesederhana dalam jaringan internet biasa.Alamat situs dalam jaringan Tor berisi kombinasi huruf dan angka yang panjang. Alamat Empire Market yang diakses Kompas pada Senin malam terdiri dari kombinasi angka dan huruf yang acak sepanjang 56 digit.
Tor bermula pada 1990-an ketika sejumlah pakar komputer di Pusat Riset Angkatan Laut Amerika Serikat memikirkan cara untuk membuat jaringan internet anonim. Pada 2006, proyek Tor menjadi sebuah yayasan nonprofit. Yayasan ini dibiayai donasi pribadi dari puluhan ribu orang hingga sejumlah instansi dan organisasi besar dunia.
Perusahaan teknologi seperti Google, Reddit, sejumlah perguruan tinggi, organisasi nonprofit seperti Human Rights Watch, hingga instansi pemerintahan dari sejumlah negara pernah menjadi donatur Tor. Salah satu sponsor aktif Tor saat ini adalah Biro Demokrasi, Ketenagakerjaan dan HAM Kementerian Dalam Negeri AS.
Sejumlah media ikut membuat situs dalam jaringan dark web, seperti New York Times, BBC, dan Propublica. Platform media sosial Facebook juga menyediakan situs dalam jaringan Tor sejak 2014.
”Konten BBC World Service kini tersedia di jaringan Tor untuk melayani pemirsa yang berada di negara-negara yang menutup akses terhadap BBC. Hal ini segaris dengan misi BBC World Service untuk menyediakan berita tepercaya di seluruh dunia,” ungkap BBC pada 23 Oktober 2019.Sebagian Anggaran untuk Komisi Mitra Daring
Ditengah pandemi dan keterbatasan anggaran untuk penanganan dampak Covid-19, desakan meniadakan kelas-kelas pelatihan daring yang tidak relevan kian menguat apalagi perusahaan platform digital selaku mitra diketahui boleh mendapat komisi dari biaya pelatihan program berdasarkan Pasal 52 Peraturan Menteri Koordinator Perekonomian Nomor 3 Tahun 2020. Hal ini turut dikonfirmasi Direktur Kemitraan dan Komunikasi Manajemen Pelaksana Kartu Prakerja Panji W Ruky yang dikonfirmasi, Senin (27/4/2020), Dari anggaran Rp 20 triliun Kartu Prakerja, sebanyak Rp 5,6 triliun dialokasikan untuk biaya pelatihan daring. Ada delapan perusahaan platform digital yang menjadi mitra Program Kartu Prakerja, Delapan mitra itu adalah Tokopedia, Ruangguru, Mau Belajar Apa, Bukalapak, Pintaria, Sekolahmu, Pijar Mahir, dan Sistem Informasi Ketenagakerjaan (Sisnaker) Kementerian Ketenagakerjaan.
Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah mengatakan, sumber persoalan Kartu Prakerja adalah kelas-kelas pelatihan daring yang tidak efektif dan tidak relevan di tengah pandemi Covid-19 dan cara terbaik untuk menyudahi polemik Kartu Prakerja adalah menghapus kelas-kelas pelatihan itu. Sekretaris Eksekutif Labor Institute Indonesia Andi W Sinaga setuju dengan pendapat tersebut dan mengatakan Kartu Prakerja terbukti tidak membantu perekonomian, ia berpendapat bantuan tunai lebih dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidup pekerja
Lahirnya Profesi-Profesi Digital Baru
Co- founder Creative 360 Labs yang berbasis di Portland, Oregon, Thomas Hayden, mengungkapkan, kemajuan teknologi memang telah datang. Namun, akses mendapatkannya menjadi masalah yaitu, pembuatan gear yang lambat dan poin harga yang terlalu tinggi. Ketika ia melihat teknologi ini seperti 15 tahun yang lalu, ia melihat peluang untuk menjadi pemandu sungai digital. Sekarang, Hayden senang bisa membawa lebih banyak orang untuk perjalanan digital daripada yang pernah ia lakukan secara fisik di Colorado Plateau.
Produser video luar ruangan lainnya, Tim Kemple, mengatakan, rasanya cukup menarik ketika memiliki kemampuan untuk membawa orang bertualang. Kemple mengakui, hal tersebut tidak cukup hanya dengan memandang ponsel dan laptop. Headset akan membuat pengalaman tersebut menjadi ideal. Musim gugur yang lalu, Colorado Parks and Wildlife mengadopsi konsep yang selama ini diterapkan Pokemon Go dan bermitra dengan aplikasi Agents of Discovery. Seorang administrator taman, Jeanette Lara, mengungkapkan, begitu banyak anak- anak muda yang selama ini sudah telanjur terpaku pada layar atau gim video.Pemanfaatan teknologi, menurutnya, akan bisa menjembatani kesenjangan itu.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









