Politik dan Birokrasi
( 6583 )PMN Yang Tak Lagi Jor-joran
JAKARTA,ID-Pemerintah tahun depan tak lagi jor-joran dalam mengucurkan penyertaan modal negara (PMN) ke BUMN. RAPBN 2024 hanya menyediakan anggaran PMN sebesar Rp18,6 triliun atau 40,6% dari total anggaran tahun ini yang mencapai Rp45,8 trliun. Anggaran itu juga jauh di bawah proposal PMN Kementerian BUMN yang tercatat Rp57,9 triliun. Dari total PMN sebanyak Rp18,6 triliun tersebut, Rp12,5 triliun bakal disuntikkan ke BUMN PT Hutama Karya (Persero), Rp1,9 triliun ke PT Sarana Multigriya Finansial atau SMF (Persero), dan PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia atau BPUI (Persero) sebesar Rp3,6 triliun. Di luar ketiga BUMN itu, pemerintah juga berencana untuk melakukan PMN nontunai ke PT Len Industri (Persero) senilai Rp0,6 triliun. "(Pembiayaan Investasi), selain untuk berbagai belanja infrastruktur seperti LMAN (Lembaga manajemen Aset Negara), juga untuk Tapera dan PMN beberapa BUMN karya yang tetap akan menjalankan fungsi pembangunan, namun kondisi kesehatan, keuangannya makin harus diperbaiki," ujar Menteri keuangan Sri Mulyani Indrawati saat menyampaikan paparan Nota Keuangan dan RAPBN 2024 di Jakarta, pekan lalu. (Yetede)
REVISI FORMULA HBA : Keadilan untuk Pemerintah dan Perusahaan
Formula baru tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 227.K/MB.01/MEM.B/2023 tentang Pedoman Penetapan Harga Patokan Untuk Penjualan Komoditas Batubara yang ditetapkan pada 11 Agustus 2023. Penerbitan beleid itu menimbang bahwa Kepmen ESDM Nomor 41/K/MB.01/MEM.B/2023 belum sepenuhnya menggambarkan transaksi aktual dan terdapat transaksi pada rentang kalori rendah yang belum terakomodir sehingga perlu mengatur kembali mengenai formula harga batu bara acuan dan harga patokan batu bara. Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Irwandy Arif mengatakan, dalam revisi formula HBA, digunakan rata-rata harga jual batu bara terkait 1 bulan sebelumnya untuk menentukan harga batu bara acuan atau HBA bulan berjalan. “Nanti fungsi dari harga 1 bulan sebelumnya saja, kalau dulu kan fungsi dari 2 bulan sebelumnya,” kata Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Irwandy Arif saat ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (18/8/2023). Nantinya, harga jual 1 bulan sebelumnya itu bakal dihimpun dari realisasi sistem elektronik Penerimaan Negara Bukan Pajak atau e-PNBP setiap bulannya. Penghimpunan e-PNBP itu dilakukan untuk menghitung persentase harga jual riil batu bara yang diterima perusahaan. Sebelumnya, lewat Kepmen ESDM Nomor 41/K/MB.01/MEM.B/2023 tentang Pedoman Penetapan Harga Patokan Untuk Penjualan Komoditas Batu Bara, HBA dihitung menggunakan rata-rata harga penjualan 2 bulan sebelumnya. Lewat keputusan itu, Menteri ESDM, Arifin Tasrif, menghapus formula awal HBA yang bertumpu pada rata-rata indeks domestik dan internasional seperti Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC) dan Platt’s 5900 pada bulan sebelumnya.
RAPBN Terakhir Jokowi
RAPBN 2024 menjadi RAPBN terakhir pemerintahan Jokowi, yang pelaksanaannya juga bertepatan dengan tahun politik. Pelaksanaan RAPBN 2024 juga dibayang-bayangi ketidakpastian ekonomi global dan pelemahan ekonomi negara mitra dagang penting, seperti AS dan China. Dalam situasi tersebut, penetapan target pertumbuhan ekonomi dan beberapa target lain, seperti penurunan kemiskinan ekstrem, tengkes, dan rasio gini; yang oleh beberapa pihak dinilai terlalu ambisius dan mungkin akan sulit dicapai. Sebagai RAPBN tahun terakhir, kita memahami ada tuntutan untuk mengukuhkan dan meninggalkan legacy positif. Termasuk penyelesaian atau jaminan keberlanjutan berbagai proyek mercusuar yang menjadi pertaruhan Presiden, seperti infrastruktur, hilirisasi, mobil listrik, dan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Target ambisius juga diperlukan untuk mengejar beberapa target makroekonomi yang belum dicapai. Jika belum tercapai, penting bagi pemerintah memastikan pijakan kuat capaian yang ada sekarang akan dilanjutkan. Termasuk mengamankan visi Indonesia Emas 2045 untuk mengantar Indonesia menuju negara maju, yang selama ini menjadi concern Presiden. Itu mengapa dalam berbagai kesempatan, ditekankan pentingnya isu keberlanjutan, terutama dengan banyak fondasi yang sudah dibangun saat ini dan juga momentum bonus demografi yang hanya terjadi sekali. Dalam istilah Presiden, RAPBN 2024 didesain untuk menjawab tantangan saat ini sekaligus di masa yang akan datang. Untuk itu, ditekankan RAPBN 2024 harus mampu mempercepat transformasi ekonomi, menjaga momentum pertumbuhan yang berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan, melindungi daya beli masyarakat, dan menjaga postur APBN tetap sehat dan berkelanjutan pada jangka menengah-panjang. (Yoga)
RAPBN 2024, Tantangan Rumit Mengerek Penerimaan Pajak
Upaya mencapai target penerimaan perpajakan tahun 2024 bakal menghadapi tantangan rumit secara domestik dan global. Di tengah dinamika tahun politik, usaha mendongkrak pendapatan lewat terobosan kebijakan yang reformatif juga lebih kompleks karena perlu dinavigasi secara berhati-hati. Dalam RAPBN 2024, pemerintah memasang target penerimaan perpajakan Rp 2.307,8 triliun atau tumbuh 8,9 % dibandingkan proyeksi (outlook) di APBN 2023 di Rp 2.118,3 triliun, yang terdiri dari target penerimaan pajak Rp 1.986,8 triliun (tumbuh 9,3 % dari tahun 2023) serta penerimaan kepabeanan dan cukai pada RAPBN 2024 yang diproyeksikan Rp 320,9 triliun (tumbuh 7,0 % dari tahun 2023).
Meski demikian, upaya mencapai target penerimaan perpajakan tahun 2024 itu tidak mudah. Dalam Buku Nota Keuangan RAPBN 2024, pemerintah memetakan sejumlah tantangan yang berpotensi menahan capaian pendapatan perpajakan. Pertama, ketidakpastian kondisi ekonomi global akibat konflik geopolitik dan berlanjutnya pengetatan kebijakan moneter. Volatilitas harga komoditas yang muncul di tengah ketidakpastian itu berpotensi menekan pendapatan negara, seperti yang sudah terjadi dengan tren melambatnya laju penerimaan pajak. Kedua, meningkatnya informalitas ekonomi domestik dan ekonomi bayangan (shadow economy) yang berpotensi mempersempit basis perpajakan, mengurangi kepatuhan, dan menekan potensi penerimaan, karena sektor informal belum sepenuhnya teridentifikasi dan terdata dalam sistem perpajakan.
Ketiga, efek samping pemberian insentif perpajakan yang cukup masif digelontorkan pemerintah sejak pandemi juga bisa mengurangi penerimaan perpajakan. Menurut peneliti Center for Indonesia Taxation Analysis, Fairy Akbar, target penerimaan pajak yang dipasang pemerintah tahun depan sebenarnya masih masuk akal. ”Penerimaan perpajakan tahun depan bukan tanpa tantangan. Di sisi makro, kita dihadapkan pada ekonomi dunia yang terfragmentasi dengan adu kebijakan AS dan China. Itu akan berdampak pada ekonomi kita yang sangat bergantung pada China dalam hal perdagangan internasional,” kata Fairy saat dihubungi, Jumat (18/8/2023). (Yoga)
APBN 2024, Target Dirancang untuk Kejar Kualitas
Kebijakan APBN terakhir bagi pemerintahan Jokowi dirancang untuk mengejar kualitas pertumbuhan ekonomi dengan sasaran target yang ambisius. Di tengah ketidakpastian iklim ekonomi global dan keterbatasan ruang gerak fiskal, cita-cita itu perlu dibuktikan melalui terobosan kebijakan serta belanja yang berkualitas. Arah kebijakan ekonomi pemerintah tahun depan tergambar dalam desain APBN 2024 yang disampaikan Presiden Jokowi dalam Pidato Penyampaian Keterangan Pemerintah atas RUU tentang APBN 2024 beserta Nota Keuangannya, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (16/8). Dalam RUU APBN 2024, pemerintah merancang desain kebijakan fiskal untuk mempercepat transformasi ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. ”APBN tahun 2024 didesain untuk menjawab tantangan saat ini sekaligus di masa yang akan datang,” kata Presiden Jokowi saat berpidato di hadapan Sidang Paripurna DPR.
Hal itu akan ditempuh lewat dua strategi utama dengan target yang menantang. Pertama, strategi jangka pendek untuk mempercepat penghapusan kemiskinan ekstrem dari 1,12 % menjadi 0 %, menurunkan prevalensi tengkes atau stunting dari 21,6 % ke 14 %, mengendalikan inflasi dari kisaran 3 % ke 2,8 %, dan meningkatkan investasi. Kedua, strategi jangka menengah yang difokuskan pada lima agenda, yaitu mewujudkan SDM unggul lewat peningkatan kualitas pendidikan, sistem kesehatan, serta reformasi sistem perlindungan sosial dan penguatan pelindungan pekerja migran Indonesia. Pemerintah memasang target pembangunan ekonomi yang tinggi, tingkat kemiskinan ditekan ke 6,5-7,5 % dari posisi terakhir 9,36 % (Maret 2023), tingkat pengangguran terbuka ditekan ke 5,0-5,7 % dari level 5,45 % (Februari 2023), dan rasio gini ditargetkan 0,374-0,377 dari sebelumnya 0,388 (Maret 2023). (Yoga)
Anggaran untuk Optimalkan SDM Guru
Pemerintah menyiapkan anggaran pendidikan sebesar Rp 660,8 triliun dalam RAPBN 2024. Anggaran besar itu diharapkan dioptimalkan untuk meningkatkan kompetensi guru dan memangkas disparitas kualitas pendidikan. Anggaran pendidikan tahun depan yang setara 20 % APBN tersebut disampaikan Presiden Jokowi dalam pidato kenegaraan RUU APBN Tahun Anggaran 2024 beserta nota keuangannya di Gedung Nusantara MPR/ DPR/DPD, Jakarta, Rabu (16/8). Anggaran itu digunakan untuk mewujudkan sumber daya manusia (SDM) unggul, berintegritas, dan berdaya saing.
Anggaran itu tecermin dari alokasi belanja pemerintah pusat Rp 237,3 triliun, transfer ke daerah Rp 346,6 triliun, dan pembiayaan investasi Rp 77 triliun. Menurut Presiden, upaya peningkatan kualitas SDM Indonesia ditekankan pada peningkatan kompetensi guru dan tenaga kependidikan. Selain itu, pemerataan kualitas pendidikan diwujudkan dengan meningkatkan kualitas sarana dan prasarana penunjang kegiatan pendidikan di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI) Danang Hidayatullah mengatakan, pernyataan Presiden tersebut merupakan sinyal pada sejumlah pihak untuk bergotong royong meningkatkan kompetensi guru. (Yoga)
UJIAN ARSITEKTUR FISKAL 2024
Arah kebijakan fiskal pemerintah tahun depan kini terang-benderang, setelah Presiden Joko Widodo memaparkan Asumsi Dasar dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2024, Rabu (16/8). Jika dicermati, RAPBN 2024 agaknya memiliki tugas yang jauh lebih berat ketimbang postur fiskal pada warsa sebelumnya. Pasalnya, APBN 2024 dituntut lebih dinamis dan fleksibel dalam mengantisipasi gejolak eksternal, mulai dari inflasi, penanggulangan ekonomi dunia, hingga tren pengetatan suku bunga acuan. Penguatan daya beli pun terus dilakukan untuk mengantisipasi risiko bahaya konsumsi yang masih menjadi mesin utama penggerak ekonomi. Terlebih lagi, target asumsi dasar terbilang cukup sulit, yakni pertumbuhan ekonomi 5,2% dan inflasi 2,8%. Pada saat yang sama, postur fiskal 2024 juga patut menjawab seluruh tantangan pembangunan yang menjadi puncak dari program jangka menengah nasional. Presiden Joko Widodo, ketika membacakan Nota Keuangan dan RAPBN 2024 di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Rabu (16/8), menegaskan bahwa APBN harus mampu menjawab tantangan global dan nasional. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, menegaskan APBN 2024 telah merefleksikan disiplin fiskal yang nyata, ditandai dengan pertumbuhan penerimaan negara yang cukup akseleratif diiringi defisit yang makin rendah. Adapun, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, mengatakan pemerintah terus mewaspadai pergeseran geopolitik yang menciptakan terkotak-kotaknya kerja sama internasional serta menghambat perdagangan dan investasi. Badan Kebijakan Moneter dan Jasa Keuangan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Ajib Hamdani, mengatakan 2024 adalah puncak dari kontestasi politik di Tanah Air. Oleh sebab itu, stabilitas ekonomi amat bergantung pada stabilitas politik. Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet, menilai Indonesia mampu menangkal gejolak inflasi global karena pasar dalam negeri yang besar, sehingga peluang untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi cukup terbuka.
Anggaran Jumbo Mini Manfaat
Presiden Joko Widodo telah menyampaikan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) beserta Nota Keuangan 2024, Rabu (16/8). Indikator jumbo mewarnai rencana anggaran, tetapi manfaat yang dihasilkan terhadap ekonomi masih mini. Pemerintah mengajukan anggaran total Rp3.304 triliun pada 2024. Pada APBN terakhir itu, Jokowi menargetkan pendapatan negara sebesar Rp2.781,3 triliun. Sumber pendapatan dari pungutan pajak Rp2.307,9 triliun, pendapatan negara bukan pajak Rp473 triliun, dan hibah Rp0,4 triliun. Belanja negara dialokasikan Rp3.304,1 triliun. Belanja pemerintah pusat mendominasi, yakni Rp2.446,5 triliun, sedangkan transfer ke daerah Rp857,6 triliun. Selisih anggaran yang akan ditambal dari utang sebesar Rp522,8 triliun. Pemerintah menargetkan pembiayaan utang yang bersumber dari Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp666,44 triliun. Penerbitan SBN lebih besar dari defisit, karena termasuk pelunasan utang jatuh tempo dan pembayaran bunga berjalan. Penerbitan SBN ini melesat 83,6% jika dibandingkan dengan outlook APBN 2023 sebesar Rp362,93 triliun. Semula pemerintah menargetkan penerbitan SBN pada tahun ini sebesar Rp712,9 triliun, tetapi dipangkas 50% karena performa pendapatan dinilai positif. Proyeksi ini melambat jika dibandingkan dengan target pertumbuhan ekonomi 2023 di angka 5,3%. Pemerintah lebih memilih menjaga stabilitas makro dibandingkan dengan jor-joran memacu mesin-mesin ekonomi. Terlebih lagi pada 2024 adalah tahun pemilihan umum di tengah ketidakpastian ekonomi dunia. Apabila ditilik lebih dalam, postur anggaran pemerintahan Jokowi pada 2024, masih berorientasi pada proyek mercusuar, yakni infrastruktur. Pemerintah mengalokasikan anggaran infrastruktur pada 2024 sebesar Rp422,7 triliun, naik 5,8% dari tahun ini. Anggaran infrastruktur ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pos kesehatan. Anggaran kesehatan 2024 dialokasikan Rp186,4 triliun, naik tipis dari tahun ini sebelumnya Rp172,5 triliun.
Putar Otak Cari Tambahan Pajak
JAKARTA,ID-Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) 2024 menargetkan penerimaan perpajakan Rp 2.307,9 triliun, 8,9% lebih besar dari outlook penerimaan perpajakan 2023 yang sebesar Rp2.118,3 triliun. Karena itu, penerimaan perpajakan tahun depan bakal digenjot dengan laju atau kecepatan kenaikan dua kali lipat lebih dibandingkn laju tahun ini yang diperkirakan hanya naik 4,1%. Pada saat bersamaan, perekonomian hanya ditargetkan tumbuh 5,2% atau 3,7% poin dibawah laju target pertambahan penerimaan pajak. Kalangan pelaku usaha berharap, upaya pencapaiaan target peneriman perpajakan yang tinggi tahun depan disertai dengan konsistensi penerapan regulasi-regulasi reformasi perpajakan, khususnya perluasan basis pajak. Menteri keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, target penerimaan perpajakan yang lebih tinggi dari pertumbuhan perekonomian tersebut akan membawa konsekuansi pada tax ratio yang lebih tinggi. "Kita targetkan peneriamaan perpajakan tumbuh 5,2%. Artinya, tax ratio-nya diharapkan akan terus meningkat," ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers Nota Keuangan dan RAPBN 2024 di Jakarta, Rabu (16/08/2023). (Yetede)
APBN 2024 Fokus Wujudkan SDM Unggul
JAKARTA,ID-Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan bahwa strategi APBN 2024 yang tetap didesain ekspansif di antaranya akan difokuskan untuk mewujudkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul, inovatif, berintegritas, dan berdaya saing. Ini dimaksudkan agar Indonesia mampu menjawab tantangan, baik saat ini sekaligus di masa mendatang. "APBN tahun 2024 didesain untuk menjawab tantangan saat ini sekaligus di masa yang akan datang, maka ujar kebijakan APBN tahun 2024 diarahkan untuk 'Mempercepat Transformasi Ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan," ujar Presiden Joko Widodo dalam pidato pengantar RAPBN 2024 dan nota keuangannnya di depan Rapat Paripurna DPR di Parlemen Senayan, jakarta, Rabu (16/08/2023). Untuk menghadirkan SDM yang sehat dan produktif, anggaran kesehatan direncanakan sebesar Rp 186,4 triliun atau 5,6% dari APBN. "Ini termasuk untuk mempercepat penurunan prevalensi stunting agar mencapai 14% di tahun 2024 yang dilakukan melalui perluasan cakupan seluruh kabupaten/kota di Indonesia, dengan penguatan sinergi berbagai institusi," kata Jokowi. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









