Lingkungan Hidup
( 5820 )Harga Emas yang Menanjak dan Terus Mencatatkan Rekor Baru
Harga emas yang menanjak dan terus mencatatkan rekor baru, membawa angin segar pada saham-saham komoditas tersebut di lantai bursa. Saham-saham emas seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT United Tractors Tbk (UNTR), dan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) kompak menguat pada perdagangan Rabu (5/2/2025), di saat harga komoditas logam mulia kembali memecah rekor tertinggi sepanjang masa di US$ 2.869 per troi ons. Tercatat, saham ANTM menguat 3,57% ke level Rp1.450, disusul AMMN melesat 5,07% ke posisi Rp7.250, BRMS menanjak 3,19% ke Rp388, dan UNTR naik 0,6% ke Rp25.150, dan HRTA melonjak 7,31% ke Rp 470.
Kinerja positif saham-saham itu terjadi ditengah memerahnya IHSG sepanjang perdagangan kemarin, yang akhirnya ditutup turun 0,7% ke level 7.024. "Penguatan sebagian besar saham emas tersebut sebagai dampak dari kenaikan harga komoditasnya," kata Senior Market Charist Mirea Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama kepada Investor Daily. Nafan memperkirakan, harga komoditas emas masih akan terius menanjak hingga US$ 3.000 per trai ons di tahun ini. Reli emas yang berkelanjutan disebabkan oleh kuatnya permintaan produk safe haven ini. Ditengah ketidakpastian kebijakan perdaangan Trump, ketegangan geopolitik yang terus berlanjut di Timur Tengah, dan konflik Rusia-Ukraina yang berkepanjangan. (Yetede)
Harga Batubara Anjlok, Kinerja Tertekan
Biang Masalah Penyaluran Subsidi Elpiji Kisruh
Pemerintah Menetapkan Pengecer LPG 3 Kilogram menjadi Subpenyalur Resmi Pertamina
Perbankan Lokal Gencar Biayai Proyek EBT
Pembayaran Klaim Rumah Sakit Oleh BPJS Kesehatan yang Tertunda
Harga Emas Antam Melesat, Kini di Angka Rp1,65 Juta Per Gram
Inflasi Berisiko Naik Usai Rekor Deflasi
Polemik Pengadaan Beras, Bulog Jadi Sorotan
Periode panen raya padi diperkirakan akan segera dimulai, dengan produksi padi pada Maret—Mei 2025 diperkirakan melimpah. Produksi pada periode panen raya biasanya mencapai 60%-65% dari total produksi tahunan, sedangkan sisanya dihasilkan pada musim panen gadu dan paceklik. Namun, fluktuasi harga gabah yang terjadi akibat ketergantungan pada iklim dan musim panen yang tidak merata menyebabkan petani dan konsumen sering menghadapi ketidakpastian harga. Petani memiliki daya tawar yang rendah, terutama karena surplus produksi yang harus segera dijual dan kualitas gabah yang dipengaruhi cuaca.
Dalam kondisi pasar yang monopsonistik, pemerintah, melalui Bulog, berperan penting untuk menstabilkan harga dengan menyerap gabah dari petani. Pemerintah juga menetapkan harga pembelian pemerintah (HPP) untuk menjaga kestabilan harga gabah. Tahun ini, produksi beras diperkirakan mengalami surplus, yang memungkinkan Bulog tidak perlu melakukan impor beras. Namun, tantangan bagi Bulog adalah penyerapan gabah domestik yang masih rendah dalam lima tahun terakhir, serta terbatasnya kapasitas penggilingan dan dryer yang dimiliki.
Untuk mengatasi hal ini, Bulog berencana menggandeng mitra penggilingan swasta untuk mengoptimalkan penyerapan gabah. Meskipun langkah ini akan meningkatkan harga pokok beras Bulog, diharapkan dapat memperbaiki likuiditas swasta dan mengurangi persaingan langsung di pasar. Namun, kualitas beras produksi Bulog yang lebih rendah dibandingkan beras impor dapat memengaruhi persepsi konsumen. Meskipun demikian, konsumen diharapkan menghargai produk lokal yang segar dan cocok dengan selera Indonesia, serta mendukung keberlanjutan usaha tani lokal.
Bapanas Minta Impor Daging Sapi untuk Kebutuhan Ramadan Tapi Pemerintah Belum mengeluarkan Izin
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









